Swipe, Match, Ghosting: Cerita Mahasiswa Bandung Mencari Cinta di Aplikasi Kencan

Aditya Bayu Nugroho
Ditulis oleh Aditya Bayu Nugroho diterbitkan Senin 25 Agu 2025, 07:58 WIB
Anak muda sedang menggunakan aplikasi kencan (Sumber: pexels.com | Foto: cottonbro studio)

Anak muda sedang menggunakan aplikasi kencan (Sumber: pexels.com | Foto: cottonbro studio)

Selain populer sebagai destinasi wisata favorit, Bandung juga lekat dengan identitasnya sebagai kota pendidikan, tempat ribuan mahasiswa dari berbagai daerah menimba ilmu. Perpaduan ini membuat Bandung selalu hidup dengan dinamika anak mudanya.

Namun, di balik ramainya sudut-sudut kota, kedai kopi, dan kampus, ada ruang pergaulan baru yang samar-samar tidak terlihat, yakni aplikasi kencan.

Kehadiran aplikasi kencan kini menjadi medium baru anak muda Bandung untuk mencari pertemanan, memperluas relasi, bahkan menemukan pasangan. Seperti yang dialami oleh MFA (21), seorang mahasiswa yang kini sedang menempuh pendidikan di Bandung bercerita kalau dia mencoba aplikasi kencan untuk memperluas pertemanan.

"Awalnya iseng untuk bermain aplikasi ini, tapi ternyata seru juga karena bisa kenal orang dari kampus lain. Lumayan dapat temen baru untuk hangout sambil bertukar cerita."

Cerita yang dialami oleh MFA bukanlah kasus tunggal. Banyak mahasiswa Bandung lainnya yang mengaku juga menggunakan aplikasi kencan entah untuk mengobrol ringan selepas kuliah, mencari teman hangout untuk coba cafe baru di Dago, atau menjalin hubungan serius.

Self-Disclosure

Salah satu hal menarik dari aplikasi kencan adalah bagaimana para mahasiswa ini menampilkan dirinya. Dalam kajian Ilmu Komunikasi, konsep ini disebut self-disclosure, yaitu keterbukaan diri yang biasanya terjadi saat orang berbagi informasi pribadi.

Di aplikasi kencan, self-disclosure dilakukan dengan cara mengunggah beberapa foto menarik, usia, lokasi, hobi atau olahraga favorit, sampai ke selera musik. Mahasiswi berinisial MI (23) mengakui bahwa foto dan profil singkat pengguna lain menjadi tolok ukur pertama sebelum memutuskan untuk swipe.

"Yang paling awal dilihat itu foto dan bio-nya. Dari situ kita bisa melakukan screening awal terhadap personality seseorang. Biasanya aku tertarik sama yang hobi atau selera musiknya sama, jadi ngobrolnya jadi lebih nyambung."

Artinya, kesan pertama kini tidak hanya tercipta melalui tatap muka dan obrolan pertama, tetapi bisa lewat kurasi digital yang disusun semenarik mungkin untuk menciptakan kesan pertama yang baik.

Lebih Nyaman Curhat Lewat Chat?

Pengalaman mahasiswa Bandung menunjukkan, komunikasi digital kadang terasa lebih nyaman daripada interaksi secara tatap muka. Fenomena ini bisa dijelaskan lewat teori Computer-Mediated Communication (CMC) yang menjelaskan bahwa meski tanpa ekspresi wajah atau nada suara, percakapan daring tetap bisa terasa intim.

Salah seorang mahasiswi berinisial L (20) mengaku lebih mudah terbuka saat ngobrol dengan orang baru di aplikasi.

"Aku pernah secara tidak sadar curhat sama orang yang baru aku kenal beberapa hari. Tapi aku merasa lebih nyaman, karena kan gak ketemu langsung, jadi gak ada pressure pas lagi cerita, gak awkward juga."

Keterbukaan semacam ini memperlihatkan bagaimana aplikasi kencan memberi ruang baru bagi anak muda untuk bercerita apapun, bahkan ke orang yang baru dikenal.

Hubungan Dekat di Chat, Hilang di Dunia Nyata?

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)

Menurut teori Social Information Processing (SIP) dari Josep Walther, hubungan melalui digital bisa berkembang sama kuatnya, bahkan lebih dekat dibanding dengan tatap muka. Alasannya, pengguna punya waktu lebih banyak dalam memilih kata, menyusun pesan, dan menampilkan sisi terbaik dirinya.

Hal inilah yang membuat beberapa mahasiswa merasa cepat cocok dengan lawan bicara di aplikasi. Namun, kedekatan yang intens juga bisa berubah menjadi cepat jenuh atau bahkan bisa ditinggalkan secara tiba-tiba tanpa sebab, fenomena ini lebih dikenal dengan ghosting.

PFL (25), seorang mahasiswi yang sedang menempuh pascasarjana di Bandung menceritakan pengalamannya yang pernah mengalami ghosting. "Sedih bukan karena di-ghosting, tapi lebih ke overthinking kenapa selalu merasa gagal untuk menjalin hubungan. Apa ada yang salah sama aku ya?"

Fenomena ghosting menjadi sisi lain dari cinta digital yang tidak bisa dihindari. Di satu sisi, aplikasi kencan memudahkan bertemu orang baru. Di sisi lain, hubungan yang tidak punya landasan kuat bisa hilang begitu saja.

Dampak Psikososial

Meski penuh risiko emosional, mahasiswa ini juga mengaku merasakan dampak positif dari aplikasi kencan. Banyak yang merasa lebih percaya diri setelah terbiasa membuka diri lewat profil dan percakapan daring.

Seorang mahasiswi berinisial AA (22) bercerita, awalnya merasa tidak percaya diri karena masalah penampilan. Namum interaksi di aplikasi justru mengubah pandangannya.

"Awalnya sempat insecure karena wajah lagi break out. Tapi setelah ketemu orang lewat aplikasi, ternyata mereka gak mempermasalahkan itu. Malah bikin aku lebih percaya diri, karena tidak hanya memandang fisik, tapi obrolan yang berkualitas."

Bukan hanya soal mencari pasangan, aplikasi kencan juga membantu dalam memperluas lingkaran sosial, menambah teman diskusi, teman nongkrong, atau sekadar tempat berbagi cerita.

Jadi, di tengah ramainya kota Bandung yang dikenal sebagai kota wisata dan pendidikan, aplikasi kencan hadir sebagai peluang sekaligus tantangan bagi anak muda. Dari self-disclosure lewat profil hingga fenomena ghosting, cinta digital menawarkan kemudahan mengenal orang baru, tetapi juga membawa risiko manipulasi dan ekspektasi yang tak realistis.

Karena itu, penting bagi pengguna untuk berhati-hati, tahu batasan, dan bijak berinteraksi. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah perantara, yang menentukan bertahan atau tidaknya sebuah hubungan tetaplah niat, tujuan, dan usaha dari kedua belah pihak. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Aditya Bayu Nugroho
Praktisi Public Relations yang sedang mengejar gelar magister komunikasi di Universitas Padjadjaran. Belajar membiasakan diri menulis untuk dibaca orang lain.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Mar 2026, 19:56

Mudik kepada 'Basa Lemes'

Perubahan gaya bahasa ini bukan sekadar soal kosakata, melainkan perubahan kerangka relasi sosial.

Ilustrasi mudik. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 02 Mar 2026, 17:43

Rahasia Bacang Jando Anne Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Bahan Baku

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau.

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 16:07

Pentas Buku Foto 2026 Ngabuburit Sambil Menyelami Narasi Visual di Red Raws Center

Di tempat yang dikenal sebagai ruang pertemuan para pegiat seni, buku, dan barang antik ini, digelar Pentas Buku Foto 2026.

Suasana pengunjung pada pameran Pentas Buku Foto 2026. Kegiatan ini banyak menarik minat generasi muda yang datang untuk melihat, membaca, dan berdiskusi seputar buku foto. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 02 Mar 2026, 14:47

Wali Kota Bandung Ultimatum PT BII Bereskan Proyek Galian Jalanan Kota Bandung Sebelum 5 Maret

Proyek galian ducting atau kabel bawah tanah belakangan menjadi sorotan karena dinilai memicu kemacetan hingga kecelakaan di sejumlah titik jalan.

Wali kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 14:31

Syawal dan Arus Kehidupan Baru: Perkotaan Indonesia di Uji Zaman

Syawal menjadi fase transisi perkotaan Indonesia. Pasca-Lebaran, migrasi musiman, perubahan konsumsi, dan tekanan ekonomi global menguji ketahanan sosial-ekonomi kota.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 13:15

Mencari Hening di Tengah Ramadhan

“Melalui api itu akan membakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam jalan dan cita-citamu.” - Jalaluddin Rumi

Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 11:31

Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

Bila di Surabaya menghadirkan skala besar, puluhan ribu warga menerima zakat, Bandung menghadirkan kedekatan menjadi ruang (pertemuan) kecil yang mempersatukan beragam manusia dalam satu saf berbuka.

Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 09:19

Drama Spiritual Ramadan di Pasar Dadakan: Cingunguk pun Serupa Kurma Premium yang Terbang!

Hari ketiga berpuasa? Kepala pening, penglihatan ganda, dan semua benda kecil cokelat mendadak terlihat seperti kurma premium impor Madinah.

Ilustrasi Pasar dadakan puasa Ramadan (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 18:12

Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan: Tema Ayo Netizen Maret 2026

Maret 2026 ini adalah salah satu bulan paling dinamis dalam kalender sosial, tradisi, dan ekonomi warga Bandung Raya.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 16:34

Dua Cara Pandang Menempatkan Ramadan, Antara Penumpang dan Pengemudi

Ramadan hadir setiap tahun dengan rangkaian ibadah yang terstruktur—shaum, tarawih, tilawah, zakat, hingga i'tikaf.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Mar 2026, 15:08

Dari Sisa Stok Menjadi Signature, Begini Perjuangan Derry Kustiadihardjo Membangun Imperium Kopi Makmur Jaya

Makmur Jaya Coffee & Roastery adalah cermin dari wajah UMKM Indonesia yang tangguh, adaptif terhadap teknologi, berani berinovasi di tengah himpitan, dan memiliki integritas terhadap kualitas.

Pemilik Makmur Jaya Coffee & Roastery, Derry Kustiadihardjo. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 13:33

Kamus Gaul Ramadan: 10 Akronim Sosial yang Populer Saat Ini

Akronim sosial paling populer di bulan suci, plus beberapa kata lokal yang mungkin belum pernah kamu dengar.

Ilustrasi anak pesantren. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Adil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 09:28

Antara Kurma dan Bala-Bala

Berbuka dengan kurma itu sunah, tapi berbuka dengan bala-bala itu wajib.

kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 28 Feb 2026, 07:56

Di Mata Pengendara Ojol, Jalanan Kota Bandung Bukan Sekadar Aspal, Tapi Taruhan Keselamatan

Di sisi lain, aspal yang mengelupas, lubang menganga, tambalan tak rata, hingga penerangan jalan yang redup menjadi bagian dari keseharian para pengemudi roda dua.

Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 27 Feb 2026, 18:09

12 Tahun Menjaga Rasa, Kisah Jatuh Bangun Reza Firmanda Membesarkan Ayam-Ayaman

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan.

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. (Sumber: instagram.com/ayamayamanbdg)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 17:12

13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan

Berikut 15 abreviasi (baik itu singkatan ataupun akronim) yang paling sering muncul sepanjang bulan suci

Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Bandung 27 Feb 2026, 15:21

Melompati Sekat Tradisional, Ambisi Besar UMKM Kuliner Bandung Mengejar Kasta 'Naik Kelas' Lewat Revolusi 5 Menit

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital.

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 14:17

Bandung, Kota Kelahiran Media Kritis dan Visioner

Dalam sejarah pers Indonesia, Bandung menempati posisi istimewa.

Majalah Aktuil terbitan 1970-an, pelopor majalah musik modern di Indonesia. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 12:10

Dari Bukber sampai ZISWAF: Pembentukan Kamus Singkatan Ramadan Orang Indonesia

Bahasa pun dipadatkan. Maka lahirlah “bukber”, “kultum”, “sanlat”, hingga “ZISWAF”.

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 09:15

Puasa Ayakan

Anak-anak mengajarkan soal puasa (cacap, bedug, ayakan) bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan menerima keadaan.

Umat Islam saat buka puasa dengan kurma, air zam zam dan roti di Masjidil Haram, Mekkah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)