Di era tahun 90-an, terutama di Bungbulang Garut Pakidulan, yang berjarak sekitar 73 Km dari Kota Dodol ke arah barat daya melalui jalur Cikajang belok kanan ke arah Cibuluh. Ya sekitar 130 Km dari Bandung dengan jarak tempuh 5-6 jam menggunakan kendaraan umum (bis legen Eka Jaya yang sekarang tinggal cerita dan kenangan, elf Aldy Aldo).
Tradisi bersih-bersih menjelang Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan semata. Pasalnya, aktivitas warga ini syarat peristiwa sosial, kultural, spiritual yang membekas kuat dalam ingatan masa kecil.
Ibu-ibu opsih (operasi bersih-bersih), kerja bakti dari jalan Pasarlama sampai Pasantren. Bapak-bapak ngecet pager sekitar Masjid. Anak-anak nyeuseuh karpet Masjid di sungai, mata air, proyek, bendungan buatan. Sungguh ritual sederhana yang menyatukan ajengan, aceng, barudak, sungai, sawah, dan kebersamaan.

Bersih-bersih Masjid, Jalan, Cat Pagar dan Nyuci Karpet
Semua warga terlibat, dengan perannya masing-masing, bergerak seirama tanpa perlu aba-aba. Sungguh indah, guyub kehidupan kampung yang rukun, damai, ramai, dan penuh rasa memiliki.
Seminggu (dua minggu) menjelang Ramadan, biasanya selepas ngaji subuh di hari Ahad, Masjid Darussalam dan sekitarnya mulai dipenuhi aktivitas. Sebelumnya, Ajengan mengumpulkan barudak, dan membagi tugas masing-masing.
Ada yang disuruh membawa sapu, lap, ember, parang, congkrang, nyere, sabun, sikat. Tak ketinggalan yang mengurusi bekal, amunisi isi perut di sawah, wahangan. Mulai dari beras secangkir, kastrol, asin, sambel, lalaban, kacang panjang. Dulu tugas-tugas kecil itu dianggap terasa berat. Padahal sangat penting untuk menghadirkan dan menyantap hidangan alakadarnya. Ngaronyok euy!
Sekitar pukul enam, Mang Ase biasa disapa, pengurus DKM ngabewarakeun dari toa Masjid.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mangrupikeun pangumuman… Ka sadaya pala wargi, bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda-pemudi nu aya di bumi. Rehna dinten ayeuna bade diayekun opsih atanapi kerja bakti. Waktos na ti tabuh 7 énjing dugi ka rengsé. Tempatna di Masjid Darussalam, sabudeureun Jalan Pasarlama dugi ka Pasantren. Ku kituna, dipiharep ka sadaya pala wargi tiasa ulubiung. Sakitu pangumumanana. Hatur nuhun kana sadaya perhatosanana. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Masjid dibersihkan dari dalam hingga luar. Lantai disapu dan dipel, kaca dilap sampai bening, kinclong mengkilap, bedug diganti kulitnya dengan kulit munding yang baru, masih terasa hanyir, bau amis khasnya. Halaman disapu, sampah dibuang ke jarian, WC dan tempat wudu disikat sampai bersih.

Nah, ini waktu yang ditunggu anak-anak. Karpet masjid yang sudah digulung dan dipanggul ramai-ramai untuk dibawa ke Sungai Cibalubur Loa, Cibalubur Sasak, Proyek, Cek Dam (bendungan, irigasi) untuk dicuci dan disikat sampai bersih.
Di saat yang sama, ibu-ibu sudah lebih dulu turun tangan. Sejak pagi mereka membersihkan jalan sepanjang Pasarlama menuju Pesantren. Dengan perhatian utama pada jalanan depan Masjid Darussalam. Sapu lidi bergerak beriringan, debu dan daun kering disingkirkan, rumput liar dicabut, selokan kecil dikorek agar air lancar dan tidak tersumbat. Banjir ci leuncang!
Selalu ada yang unik, di sela-sela pekerjaan terdengar obrolan ringan, sesekali tawa kecil, dan saling sapa. Jalan kampung yang biasa dilewati sehari-hari, saat itu terasa lebih bersih, nyaman, endah dan bermakna yang seolah-olah ikut disucikan jelang menyambut Ramadan.
Tak jauh dari situ, bapak-bapak sibuk mengecet pagar masjid. Ember berisi kapur, cet putih dari apu berjejer di halaman. Dengan kuas sederhana yang terbuat dari injuk, rumput ilalang, eurih, pagar yang kusam perlahan berubah cerah. Bodas nyacas!
Kadang tangan, baju, bahkan wajah mereka penuh bercak putih. Tak ada yang mengeluh. Malahan yang ada justru rasa bangga, syukur dan terharu. Pagar masjid tampak bersih dan terang, seakan menyambut bulan suci dengan wajah dan semangat baru.
Bagi barudak, bagian paling ditunggu tentu saat karpet sudah sampai di sungai yang melewati sawah, menerobos sedikit menanjak dan turun berkelok ke Cangkudu Astana Anyar. Setelah disikat dan dibilas, giliran ngojay di air Cibalubur yang jernih dan dingin.
Botram dilakukan di pinggiran sungai (pematang sawah) antara sungai dan serang. Makan sederhana, tapi nikmatnya luar biasa. Kadang dilengkapi ikan hasil mancing dadakan. Ada beunteur, bogo, lubang, yang terlihat jelas berenang di dasar sungai.
Peci dan sarung tak pernah tertinggal. Sarung diselempangkan bak Kabayan Saba Kota. Awalnya untuk salat, lalu berubah fungsi jadi alat berenang, permainan babalonan, drum sarung, eentogan.
Setelah Salat Zuhur, (sebelum waktu lohor) tiba, permainan makin ramai dan tambah seru. Ada rarakitan dari gebog cau, ada ngaruru, saling membersihkan badan dengan batu lonjong yang halus. Anak-anak berbaris, antre, kadang membentuk lingkaran untuk membersihkan punggung satu sama lain. Semua itu dilakukan sambil belajar sabar, belajar giliran, dan belajar indahnya kebersamaan.
Terkadang suasana makin riuh yang berakibat rusuh, tapi tidak sampai ribut. Lempar tanah, pasir, petak umpet di antara bebatuan dan pepohonan mewarnai aktivitas nyeuseuh karpet. A Ipan, anak Ua, sering bikin deg-degan. Dengan naik ke pohon Loa, menghilang lama, lalu tiba-tiba loncat dari ketinggian lima sampai sepuluh meter, mencebur ke sungai. Air muncrat, tawa pecah. Sungai terasa hidup, ada ragam ikan terlihat jelas di air yang bening.

Jaga Tradisi, Ramadan Suci
Rupanya di tengah semua keriuhan itu, ada batas yang tak pernah dilanggar. Waktu salat tetap dijaga dan diperhatikan. Menjalankan ibadah di bebatuan sungai menjadi aktivitas luar biasa dan tak bisa dilupakan. Bisi pamali, doraka! Jadi ungkapan yang bukan sekadar larangan, tapi penanda nilai.
Bermain boleh, bersenang-senang mesti, tapi hubungan dengan Gusti Allah tidak boleh terputus. Di sanalah harmonisasi budaya Sunda dan Islam hadir secara alami yang ditanamkan sejak dini oleh orangtua dan ajengan, tanpa ceramah panjang lebar yang langsung dipraktikan secara bersama-sama dalam kehidupan sehari-hari.
Menjelang siang, kampung terasa berubah. Masjid bersih, pagar putih berkilau, jalan kampung rapi, sungai tetap jernih. Anak-anak terlihat lelah tapi bahagia, ibu-ibu puas melihat jalan bersih, bapak-bapak tersenyum memandangi pagar masjid. Semua lelah berbuah berkah agar hidup tetap terarah.
Dalam buku Ramadhan di Priangan (Tempo Doele) dijelaskan sebulan sebelum memasuki bulan Ramadan, secara gotong royong warga kampung menata dan membersihkan perkuburan sekaligus menziarahi makam para leluhur dan handai tolan.
Walhasil, diteruskan dengan gotong royong "bersih-bersih desa" yang meliputi perbaikan lorong, jalan kampung, membersihkan selokan, mengecat (mengapur) pagar, bagunan dan membersihkan halaman dan lingkungan kampung.
Baca Juga: Tanda-Tanda Ramadan dan Berkah di Bulan Suci
Jadi tidak seperti sekarang orang mengapur bangunan dan membersihkan lingkungan bila menyambut perayaan 17 Agustus. Tapi dulu, hal itu dilakukan orang dalam rangkaian menyambut bulan suci (bersih) Ramadan. (Haryoto Kunto, 1996:25)
Dalam kontek sekarang, untuk di daerah Babakan Dangdeur Pasirbiru, aktivitas bersih-bersih biasanya dilakukan seminggu sebelum Ramadan pada hari Ahad mulai dari gang RW 4 sampai Masjid Ar Rohman. Tentunya dikomandoi langsung oleh Pa RT 1. Selesai beres-beres halaman rumah, jalan gang, tibalah saatnya botram di serambi Masjid dengan balakecrakan.
Ingat, berbagai tradisi bersih-bersih jelang Ramadan ini sungguh indah dan berkah. Ya bukan hanya tentang membersihkan karpet, jalan, pagar, melainkan ikhtiar bersama untuk membersihkan diri, merawat kebersamaan, dan menyiapkan jiwa-jiwa arif saat menyambut bulan suci.
Dengan demikian, tradisi kampung bau lisung yang terkadang dianggap sederhana, kolot, justru syarat makna yang terdalam. Bersama kenangan yang terus dijaga, dirawat agar terus hidup, tumbuh berkembang, meski zaman terus berubah. (*)
