Kisah Alun-alun Cicendo yang Masih Ramai oleh Harapan tapi Minim Perhatian

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Jumat 06 Feb 2026, 07:26 WIB
Anak-anak bermain di Alun-alun Cicendo yang kondisinya memprihatinkan karena tidak dirawat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Anak-anak bermain di Alun-alun Cicendo yang kondisinya memprihatinkan karena tidak dirawat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID – Fahri (14), pelajar SMP, sore itu menggiring bola di tengah lapangan Alun-alun Cicendo, Kota Bandung. Bersama beberapa temannya, ia memanfaatkan ruang yang kini terasa lebih lengang. Sepinya alun-alun justru memberi ruang bermain yang lebih bebas bagi anak-anak seusianya.

“Sekarang mah sepi, jadi bisa main bola. Dulu rame banget, enggak bisa main soalnya banyak orang,” kata Fahri. Namun, ia menilai kondisi alun-alun saat ini juga menyimpan risiko. “Sekarang tuh banyak sampah, banyak coretan di mana-mana. Lantainya juga ada yang coplok, jadi bahaya kalau lari-larian. Pernah juga dimarahin waktu main ayunan, padahal pengin main doang,” ujarnya.

Fahri membandingkan kondisi Alun-alun Cicendo hari ini dengan ingatannya beberapa tahun lalu. Menurutnya, dulu alun-alun terasa lebih hidup dan terawat.

“Dulu mah bagus, ada kolam renang, lampunya banyak. Sekarang kolamnya enggak ada. Kalau malam juga rada serem, suka ada yang mabuk,” katanya.

Suasana Alun-alun Cicendo yang tak terawat, usang, dan banyak sampah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Suasana Alun-alun Cicendo yang tak terawat, usang, dan banyak sampah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Meski demikian, ia tetap memilih bermain di alun-alun karena keterbatasan ruang bermain di lingkungan sekitar. Cerita Fahri menjadi gambaran bagaimana anak-anak masih memanfaatkan Alun-alun Cicendo sebagai ruang bermain, meski rasa aman dan kenyamanan tak sepenuhnya mereka rasakan.

Perubahan itu juga dirasakan oleh pengunjung lain. Alif Muhammad Al Fatah (18), yang hampir setiap hari bermain skateboard di Alun-alun Cicendo, menyebut suasana alun-alun kini jauh berbeda dibanding awal pembukaannya. “Dulu tuh lebih rame. Selain skate, ada komunitas basket, ada juga yang ngedance,” ujarnya.

Menurut Alif, persoalan utama terletak pada minimnya perawatan fasilitas.

“Bowl skateboard-nya enggak keurus. Sampai kita sendiri yang semen pakai uang patungan anak-anak,” katanya. Ia juga menilai desain area skate sejak awal terkesan setengah-setengah. “Tangga ada, tapi buat drop enggak bisa. Jadi kalau mau main maksimal susah,” ujarnya.

Anak-anak bermain skateboard di Alun-alun Cicendo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Anak-anak bermain skateboard di Alun-alun Cicendo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Selain itu, aktivitas bermain hingga malam kerap mendapat penertiban. “Kadang kalau main sampai malam suka dibubarin polisi,” kata Alif. Meski demikian, ia tetap bertahan menggunakan alun-alun sebagai ruang berkumpul. “Ini satu-satunya tempat yang dekat dan sudah jadi tempat kumpul komunitas,” ujarnya, seraya berharap fasilitas alun-alun bisa diperbaiki dan dikelola lebih serius.

Tak hanya anak-anak dan komunitas, dampak kondisi alun-alun juga dirasakan pedagang di sekitarnya. Wida Widyaningsih (31), pedagang yang telah berjualan di sekitar Alun-alun Cicendo sejak 2018, mengingat betul masa-masa awal alun-alun dibuka. “Awalnya rame banget. Anak-anak sekolah, yang olahraga, pada jajan ke sini,” ujarnya.

Menurut Wida, kondisi alun-alun yang kini terlihat kotor dan kurang terawat turut memengaruhi jumlah pengunjung. “Sekarang mah agak sepi, enggak seramai dulu,” katanya. Meski begitu, ia menilai penurunan pengunjung juga dipengaruhi faktor lain. “Kalau yang baru mah emang dikejar. Kalau sudah lama, orang bosan,” ujarnya.

Wida Widyaningsih pedagang setempat merasakan dampak sepinya pengunjung di Alun-alun Cicendo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wida Widyaningsih pedagang setempat merasakan dampak sepinya pengunjung di Alun-alun Cicendo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Sebagai pedagang, Wida memilih bertahan di tengah kondisi yang fluktuatif. “Namanya dagang mah enggak tentu. Kadang rame, kadang sepi. Tapi tetap disyukuri,” katanya. Ia berharap pengelolaan alun-alun ke depan bisa lebih diperhatikan. “Ini kan aset bersama, harusnya dijaga bareng-bareng,” ujarnya.

Alun-alun Cicendo diresmikan pada 31 Desember 2017 oleh Pemerintah Kota Bandung sebagai bagian dari upaya menghadirkan ruang terbuka publik di kawasan permukiman padat. Dalam peresmian tersebut, alun-alun ini dirancang sebagai ruang bermain, ruang hijau, dan ruang berkumpul warga, sekaligus mendukung aktivitas komunitas dan ekonomi kecil di sekitarnya.

Berdasarkan data awal Pemkot Bandung, pembangunan Alun-alun Cicendo menggunakan anggaran sekitar Rp10 miliar dari APBD Kota Bandung. Fasilitas yang disiapkan antara lain lapangan terbuka, area bermain, skate park, serta ruang aktivitas warga lainnya. Pemerintah saat itu menekankan pentingnya partisipasi warga dalam menjaga kebersihan dan keberlanjutan fungsi ruang publik tersebut.

Namun, hampir satu dekade berselang, kondisi di lapangan menunjukkan tantangan klasik ruang publik perkotaan: perawatan yang tertinggal setelah euforia peresmian berlalu. Anak-anak masih bermain, komunitas masih bertahan dengan cara swadaya, dan pedagang kecil tetap menggantungkan penghidupan. Di sisi lain, fasilitas rusak, sampah, dan minimnya pengawasan perlahan menggerus fungsi sosial alun-alun.

Cerita Fahri, Alif, dan Wida memperlihatkan bahwa Alun-alun Cicendo masih hidup, tetapi tak sepenuhnya sehat. Ruang publik ini berada di persimpangan antara tujuan awal sebagai ruang bersama warga dan realitas pengelolaan yang belum konsisten.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Linimasa 05 Mar 2026, 21:19

UIN Bandung Sebelum dan Sesudah Magrib Saat Ramadan

Setiap Ramadan, kawasan UIN Sunan Gunung Djati Bandung berubah ramai oleh mahasiswa yang ngabuburit dan berburu takjil.

Suasana menjelang magrib saat Ramadan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)