Kisah Alun-alun Cicendo yang Masih Ramai oleh Harapan tapi Minim Perhatian

3 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Anak-anak bermain di Alun-alun Cicendo yang kondisinya memprihatinkan karena tidak dirawat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Anak-anak bermain di Alun-alun Cicendo yang kondisinya memprihatinkan karena tidak dirawat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID – Fahri (14), pelajar SMP, sore itu menggiring bola di tengah lapangan Alun-alun Cicendo, Kota Bandung. Bersama beberapa temannya, ia memanfaatkan ruang yang kini terasa lebih lengang. Sepinya alun-alun justru memberi ruang bermain yang lebih bebas bagi anak-anak seusianya.

“Sekarang mah sepi, jadi bisa main bola. Dulu rame banget, enggak bisa main soalnya banyak orang,” kata Fahri. Namun, ia menilai kondisi alun-alun saat ini juga menyimpan risiko. “Sekarang tuh banyak sampah, banyak coretan di mana-mana. Lantainya juga ada yang coplok, jadi bahaya kalau lari-larian. Pernah juga dimarahin waktu main ayunan, padahal pengin main doang,” ujarnya.

Fahri membandingkan kondisi Alun-alun Cicendo hari ini dengan ingatannya beberapa tahun lalu. Menurutnya, dulu alun-alun terasa lebih hidup dan terawat.

“Dulu mah bagus, ada kolam renang, lampunya banyak. Sekarang kolamnya enggak ada. Kalau malam juga rada serem, suka ada yang mabuk,” katanya.

Suasana Alun-alun Cicendo yang tak terawat, usang, dan banyak sampah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Suasana Alun-alun Cicendo yang tak terawat, usang, dan banyak sampah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Meski demikian, ia tetap memilih bermain di alun-alun karena keterbatasan ruang bermain di lingkungan sekitar. Cerita Fahri menjadi gambaran bagaimana anak-anak masih memanfaatkan Alun-alun Cicendo sebagai ruang bermain, meski rasa aman dan kenyamanan tak sepenuhnya mereka rasakan.

Perubahan itu juga dirasakan oleh pengunjung lain. Alif Muhammad Al Fatah (18), yang hampir setiap hari bermain skateboard di Alun-alun Cicendo, menyebut suasana alun-alun kini jauh berbeda dibanding awal pembukaannya. “Dulu tuh lebih rame. Selain skate, ada komunitas basket, ada juga yang ngedance,” ujarnya.

Menurut Alif, persoalan utama terletak pada minimnya perawatan fasilitas.

“Bowl skateboard-nya enggak keurus. Sampai kita sendiri yang semen pakai uang patungan anak-anak,” katanya. Ia juga menilai desain area skate sejak awal terkesan setengah-setengah. “Tangga ada, tapi buat drop enggak bisa. Jadi kalau mau main maksimal susah,” ujarnya.

Anak-anak bermain skateboard di Alun-alun Cicendo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Anak-anak bermain skateboard di Alun-alun Cicendo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Selain itu, aktivitas bermain hingga malam kerap mendapat penertiban. “Kadang kalau main sampai malam suka dibubarin polisi,” kata Alif. Meski demikian, ia tetap bertahan menggunakan alun-alun sebagai ruang berkumpul. “Ini satu-satunya tempat yang dekat dan sudah jadi tempat kumpul komunitas,” ujarnya, seraya berharap fasilitas alun-alun bisa diperbaiki dan dikelola lebih serius.

Tak hanya anak-anak dan komunitas, dampak kondisi alun-alun juga dirasakan pedagang di sekitarnya. Wida Widyaningsih (31), pedagang yang telah berjualan di sekitar Alun-alun Cicendo sejak 2018, mengingat betul masa-masa awal alun-alun dibuka. “Awalnya rame banget. Anak-anak sekolah, yang olahraga, pada jajan ke sini,” ujarnya.

Menurut Wida, kondisi alun-alun yang kini terlihat kotor dan kurang terawat turut memengaruhi jumlah pengunjung. “Sekarang mah agak sepi, enggak seramai dulu,” katanya. Meski begitu, ia menilai penurunan pengunjung juga dipengaruhi faktor lain. “Kalau yang baru mah emang dikejar. Kalau sudah lama, orang bosan,” ujarnya.

Wida Widyaningsih pedagang setempat merasakan dampak sepinya pengunjung di Alun-alun Cicendo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wida Widyaningsih pedagang setempat merasakan dampak sepinya pengunjung di Alun-alun Cicendo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Sebagai pedagang, Wida memilih bertahan di tengah kondisi yang fluktuatif. “Namanya dagang mah enggak tentu. Kadang rame, kadang sepi. Tapi tetap disyukuri,” katanya. Ia berharap pengelolaan alun-alun ke depan bisa lebih diperhatikan. “Ini kan aset bersama, harusnya dijaga bareng-bareng,” ujarnya.

Alun-alun Cicendo diresmikan pada 31 Desember 2017 oleh Pemerintah Kota Bandung sebagai bagian dari upaya menghadirkan ruang terbuka publik di kawasan permukiman padat. Dalam peresmian tersebut, alun-alun ini dirancang sebagai ruang bermain, ruang hijau, dan ruang berkumpul warga, sekaligus mendukung aktivitas komunitas dan ekonomi kecil di sekitarnya.

Berdasarkan data awal Pemkot Bandung, pembangunan Alun-alun Cicendo menggunakan anggaran sekitar Rp10 miliar dari APBD Kota Bandung. Fasilitas yang disiapkan antara lain lapangan terbuka, area bermain, skate park, serta ruang aktivitas warga lainnya. Pemerintah saat itu menekankan pentingnya partisipasi warga dalam menjaga kebersihan dan keberlanjutan fungsi ruang publik tersebut.

Namun, hampir satu dekade berselang, kondisi di lapangan menunjukkan tantangan klasik ruang publik perkotaan: perawatan yang tertinggal setelah euforia peresmian berlalu. Anak-anak masih bermain, komunitas masih bertahan dengan cara swadaya, dan pedagang kecil tetap menggantungkan penghidupan. Di sisi lain, fasilitas rusak, sampah, dan minimnya pengawasan perlahan menggerus fungsi sosial alun-alun.

Cerita Fahri, Alif, dan Wida memperlihatkan bahwa Alun-alun Cicendo masih hidup, tetapi tak sepenuhnya sehat. Ruang publik ini berada di persimpangan antara tujuan awal sebagai ruang bersama warga dan realitas pengelolaan yang belum konsisten.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)