Sejak manusia pertama kali menjejakkan kaki di Bulan pada misi Apollo 11 tahun 1969, misi ini menjadi tonggak penting dalam sejarah eksplorasi antariksa dan menandai kemampuan manusia menembus batas teknologi pada masanya.
Neil Armstrong, komandan misi Apollo 11, menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki di permukaan Bulan, diikuti oleh Buzz Aldrin sebagai pilot modul Bulan, sementara Michael Collins tetap menjaga modul komando di orbit. Pendaratan bersejarah ini bukan sekadar pencapaian teknis, tetapi juga lambang tekad manusia untuk menembus batasnya sendiri, sekaligus memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi dan kerja sama internasional mampu membawa manusia mencapai wilayah yang sebelumnya dianggap mustahil.
Setelah misi pendaratan berawak ke-6 dan terakhir dari program Apollo NASA ke Bulan yakni, misi Apollo 17 pada tahun 1972, perjalanan berawak ke Bulan terhenti lebih dari lima dekade. Selama 50 tahun lamanya, tidak ada lagi misi berawak ke Bulan karena berbagai faktor teknis, ekonomi, dan kebijakan antariksa. Biaya misi berawak ke Bulan sangat tinggi, sehingga setelah program Apollo, anggaran dialihkan ke proyek lain seperti misi luar angkasa rendah Bumi atau Low Earth Orbit (LEO), pengembangan Space Shuttle, dan penelitian ilmiah di orbit Bumi untuk memahami kondisi kehidupan di luar atmosfer.
Selain itu, risiko keselamatan tetap menjadi pertimbangan serius; pendaratan dan kehidupan di Bulan menuntut teknologi yang lebih maju agar misi lebih aman dan berkelanjutan. Tantangan teknis mencakup pengembangan sistem pendaratan presisi, modul kehidupan yang mendukung awak untuk jangka waktu lebih lama, serta perlindungan dari radiasi luar angkasa. Kondisi tersebut membuat eksplorasi berawak ke Bulan tertunda hingga teknologi dan perencanaan misi dinilai lebih siap untuk dijalankan kembali (Muhaimin, 2026).

Kembalinya Manusia ke Orbit Bulan melalui Artemis II
Kini, setelah lebih dari setengah abad, manusia bersiap menandai babak baru dalam penjelajahan antariksa melalui misi Artemis II. Misi ini bukan sekadar ulangan sejarah, tetapi langkah maju untuk menantang batas teknologi dan pengetahuan manusia. Empat astronot yang akan melakukan penerbangan mengelilingi Bulan adalah Reid Wiseman sebagai komandan misi, Victor Glover sebagai pilot, serta Christina Koch dan Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada (CSA).
Misi ini diharapkan menjadi fondasi bagi eksplorasi masa depan, termasuk misi ke Mars, sekaligus membuka era baru di mana manusia dapat memperluas pemahaman dan kehadirannya di luar Bumi serta membuka peluang eksplorasi antariksa yang lebih berkelanjutan di masa depan.
Misi Artemis II dijadwalkan berlangsung selama sepuluh hari, dimulai dari 1 April 2026 saat lepas landas dari Kennedy Space Center di Florida hingga pendaratan kembali di Samudra Pasifik di lepas pantai San Diego, California pada sekitar 10 April 2026. Dalam rentang waktu ini, fokus utama misi adalah penerbangan berawak mengelilingi Bulan serta pengujian sistem pesawat Orion yang akan digunakan pada misi pendaratan berikutnya.
Para astronot akan menguji kinerja pesawat, sistem komunikasi, dan prosedur keselamatan dalam kondisi antariksa jauh dari Bumi, sehingga setiap fase penerbangan, mulai dari lepas landas, masuk orbit translunar, mengelilingi Bulan, hingga kembali ke Bumi, menjadi ujian kesiapan teknologi dan manusia dalam menghadapi tantangan ekstrem luar angkasa (Low, 2026).

Perjalanan ke orbit Bulan membawa kru melewati area dengan radiasi lebih tinggi dibandingkan orbit Bumi rendah. Ini menjadi ujian penting bagi sistem pelindung pesawat dan modul kehidupan yang mendukung keselamatan awak. Selama misi, awak bertanggung jawab untuk memantau semua instrumen kritis, menjalankan eksperimen ilmiah, dan memastikan prosedur navigasi dan manuver berjalan sesuai rencana. Keempat astronot bekerja sama dengan pusat kendali misi di Bumi, menjadikan koordinasi dan komunikasi sebagai elemen vital dalam kesuksesan misi (Mosher et al., 2026).
Dalam situasi antariksa yang penuh risiko tersebut, empat astronot Artemis II menjalani misi selama sepuluh hari dengan serangkaian tugas yang terjadwal ketat, mulai dari pengujian sistem pesawat Orion, pemantauan navigasi selama lintasan translunar, hingga pengamatan kondisi pesawat saat mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi. Dalam misi tersebut, mereka akan mengevaluasi kinerja sistem komunikasi, daya tahan modul kehidupan, serta prosedur darurat yang akan menjadi acuan bagi misi pendaratan Artemis berikutnya.
Setiap hari di dalam kapsul Orion diisi dengan pemantauan instrumen, dokumentasi perjalanan, serta koordinasi rutin dengan pusat kendali misi untuk memastikan seluruh tahap penerbangan berjalan aman dan sesuai rencana. Rangkaian aktivitas ini menjadikan perjalanan sepuluh hari Artemis II bukan sekadar penerbangan mengelilingi Bulan, melainkan kisah kerja sama empat astronot dalam menguji kesiapan manusia dan teknologi untuk kembali membuka jalur eksplorasi antariksa yang lebih jauh.
Sepuluh hari perjalanan Artemis II pada akhirnya bukan sekadar uji teknologi misi ke Bulan, melainkan langkah nyata kembalinya manusia ke jalur eksplorasi antariksa setelah lebih dari 50 tahun. Kisah empat astronot dalam misi ini menjadi penanda bahwa penelitian dan penjelajahan luar angkasa terus berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan. Harapan besar pun tertuju pada keberhasilan mereka untuk kembali ke Bumi dengan selamat serta membawa data dan pengalaman penting bagi misi Artemis berikutnya. Dari perjalanan mengelilingi Bulan ini, langkah baru eksplorasi antariksa kembali dibuka, menjadi fondasi bagi penelitian yang lebih luas dan perjalanan manusia menuju ruang angkasa yang semakin jauh di masa depan. (*)
