Dari Bumi ke Bulan: Kisah Empat Astronot dalam Misi Artemis 2

Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Jumat 03 Apr 2026, 18:39 WIB
Empat astronot misi Artemis II yang akan mengelilingi Bulan dalam program eksplorasi NASA. (Sumber: NASA)

Empat astronot misi Artemis II yang akan mengelilingi Bulan dalam program eksplorasi NASA. (Sumber: NASA)

Sejak manusia pertama kali menjejakkan kaki di Bulan pada misi Apollo 11 tahun 1969, misi ini menjadi tonggak penting dalam sejarah eksplorasi antariksa dan menandai kemampuan manusia menembus batas teknologi pada masanya.

Neil Armstrong, komandan misi Apollo 11, menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki di permukaan Bulan, diikuti oleh Buzz Aldrin sebagai pilot modul Bulan, sementara Michael Collins tetap menjaga modul komando di orbit. Pendaratan bersejarah ini bukan sekadar pencapaian teknis, tetapi juga lambang tekad manusia untuk menembus batasnya sendiri, sekaligus memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi dan kerja sama internasional mampu membawa manusia mencapai wilayah yang sebelumnya dianggap mustahil.

Setelah misi pendaratan berawak ke-6 dan terakhir dari program Apollo NASA ke Bulan yakni, misi Apollo 17 pada tahun 1972, perjalanan berawak ke Bulan terhenti lebih dari lima dekade. Selama 50 tahun lamanya, tidak ada lagi misi berawak ke Bulan karena berbagai faktor teknis, ekonomi, dan kebijakan antariksa. Biaya misi berawak ke Bulan sangat tinggi, sehingga setelah program Apollo, anggaran dialihkan ke proyek lain seperti misi luar angkasa rendah Bumi atau Low Earth Orbit (LEO), pengembangan Space Shuttle, dan penelitian ilmiah di orbit Bumi untuk memahami kondisi kehidupan di luar atmosfer.

Selain itu, risiko keselamatan tetap menjadi pertimbangan serius; pendaratan dan kehidupan di Bulan menuntut teknologi yang lebih maju agar misi lebih aman dan berkelanjutan. Tantangan teknis mencakup pengembangan sistem pendaratan presisi, modul kehidupan yang mendukung awak untuk jangka waktu lebih lama, serta perlindungan dari radiasi luar angkasa. Kondisi tersebut membuat eksplorasi berawak ke Bulan tertunda hingga teknologi dan perencanaan misi dinilai lebih siap untuk dijalankan kembali (Muhaimin, 2026).

Artemis II yang membawa manusia kembali menuju Bulan. (Sumber: NASA)
Artemis II yang membawa manusia kembali menuju Bulan. (Sumber: NASA)

Kembalinya Manusia ke Orbit Bulan melalui Artemis II

Kini, setelah lebih dari setengah abad, manusia bersiap menandai babak baru dalam penjelajahan antariksa melalui misi Artemis II. Misi ini bukan sekadar ulangan sejarah, tetapi langkah maju untuk menantang batas teknologi dan pengetahuan manusia. Empat astronot yang akan melakukan penerbangan mengelilingi Bulan adalah Reid Wiseman sebagai komandan misi, Victor Glover sebagai pilot, serta Christina Koch dan Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada (CSA).

Misi ini diharapkan menjadi fondasi bagi eksplorasi masa depan, termasuk misi ke Mars, sekaligus membuka era baru di mana manusia dapat memperluas pemahaman dan kehadirannya di luar Bumi serta membuka peluang eksplorasi antariksa yang lebih berkelanjutan di masa depan.

Misi Artemis II dijadwalkan berlangsung selama sepuluh hari, dimulai dari 1 April 2026 saat lepas landas dari Kennedy Space Center di Florida hingga pendaratan kembali di Samudra Pasifik di lepas pantai San Diego, California pada sekitar 10 April 2026. Dalam rentang waktu ini, fokus utama misi adalah penerbangan berawak mengelilingi Bulan serta pengujian sistem pesawat Orion yang akan digunakan pada misi pendaratan berikutnya.

Para astronot akan menguji kinerja pesawat, sistem komunikasi, dan prosedur keselamatan dalam kondisi antariksa jauh dari Bumi, sehingga setiap fase penerbangan, mulai dari lepas landas, masuk orbit translunar, mengelilingi Bulan, hingga kembali ke Bumi, menjadi ujian kesiapan teknologi dan manusia dalam menghadapi tantangan ekstrem luar angkasa (Low, 2026).

Perjalanan ke orbit Bulan membawa kru melewati area dengan radiasi lebih tinggi dibandingkan orbit Bumi rendah. Ini menjadi ujian penting bagi sistem pelindung pesawat dan modul kehidupan yang mendukung keselamatan awak. Selama misi, awak bertanggung jawab untuk memantau semua instrumen kritis, menjalankan eksperimen ilmiah, dan memastikan prosedur navigasi dan manuver berjalan sesuai rencana. Keempat astronot bekerja sama dengan pusat kendali misi di Bumi, menjadikan koordinasi dan komunikasi sebagai elemen vital dalam kesuksesan misi (Mosher et al., 2026).

Dalam situasi antariksa yang penuh risiko tersebut, empat astronot Artemis II menjalani misi selama sepuluh hari dengan serangkaian tugas yang terjadwal ketat, mulai dari pengujian sistem pesawat Orion, pemantauan navigasi selama lintasan translunar, hingga pengamatan kondisi pesawat saat mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi. Dalam misi tersebut, mereka akan mengevaluasi kinerja sistem komunikasi, daya tahan modul kehidupan, serta prosedur darurat yang akan menjadi acuan bagi misi pendaratan Artemis berikutnya.

Setiap hari di dalam kapsul Orion diisi dengan pemantauan instrumen, dokumentasi perjalanan, serta koordinasi rutin dengan pusat kendali misi untuk memastikan seluruh tahap penerbangan berjalan aman dan sesuai rencana. Rangkaian aktivitas ini menjadikan perjalanan sepuluh hari Artemis II bukan sekadar penerbangan mengelilingi Bulan, melainkan kisah kerja sama empat astronot dalam menguji kesiapan manusia dan teknologi untuk kembali membuka jalur eksplorasi antariksa yang lebih jauh.

Sepuluh hari perjalanan Artemis II pada akhirnya bukan sekadar uji teknologi misi ke Bulan, melainkan langkah nyata kembalinya manusia ke jalur eksplorasi antariksa setelah lebih dari 50 tahun. Kisah empat astronot dalam misi ini menjadi penanda bahwa penelitian dan penjelajahan luar angkasa terus berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan. Harapan besar pun tertuju pada keberhasilan mereka untuk kembali ke Bumi dengan selamat serta membawa data dan pengalaman penting bagi misi Artemis berikutnya. Dari perjalanan mengelilingi Bulan ini, langkah baru eksplorasi antariksa kembali dibuka, menjadi fondasi bagi penelitian yang lebih luas dan perjalanan manusia menuju ruang angkasa yang semakin jauh di masa depan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:18

Membaca di Kota yang Sibuk

Selama Hari Buku Nasional terus diperingati setiap tahun, budaya membaca justru perlahan semakin tersingkir di tengah kehidupan kota yang serba cepat.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 19:00

Demi Anak dan Istri, Setiap Hari Mang Amir Ngegas Motornya ‘Membelah Subuh’ Jualan Bubur Ayam

Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek.

Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 18:20

Menelusuri Jejak Gastronomi Legendaris di Kota Bandung

Metamorfosis Bandung menjadi pusat kuliner bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan simfoni akulturasi yang telah berjalan selama lebih dari satu abad.

Suasana Kopi Purnama yang jadi tempat ngopi legendaris di Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)
Wisata & Kuliner 18 Mei 2026, 17:43

Jelajah Gunung Lembu Purwakarta, Jalur Batu Purba dengan View Waduk Jatiluhur

Jelajahi Gunung Lembu Purwakarta, monolit batu purba dengan jalur berbatu curam dan panorama Waduk Jatiluhur.

Pemandangan Waduk Jatiluhur dari Gunung Lembu, Purwakarta.
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 13:18

Dari 'Teknik' ke 'Rekayasa: Sekadar Ganti Nama atau Perubahan Paradigma?

Perubahan nomenklatur “Teknik” menjadi “Rekayasa” memunculkan diskusi tentang internasionalisasi, identitas keilmuan, dan arah pendidikan engineering di Indonesia.

Kemendiktisaintek tetapkan perubahan nama prodi "teknik" jadi "rekayasa". (Foto: Istimewa)
Wisata & Kuliner 18 Mei 2026, 11:36

Wisata Bukit Gronggong, Lanskap Kota Cirebon dari Koridor Perbukitan Selatan

Bukit Gronggong di Cirebon menawarkan panorama kota dari ketinggian, lengkap dengan kafe, kuliner, dan suasana malam dengan gemerlap lampu urban.

Bukit Gronggong, Cirebon. (Sumber: Pemkab Cirebon)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 11:14

Semula, Ada Pandai Kuningan di Sayang dan di Bojongsayang

Di Jawa Barat, banyak toponim yang memakai kata sayang.

Contoh bokor yang dibuat dari kuningan. Tempat pembuatannya disebut sayang. (Sumber: Istimewa)
Beranda 18 Mei 2026, 10:43

Saat Manusia Asing dengan Tanahnya Sendiri dan Nama Tempat Tinggalnya

T. Bachtiar menjelaskan bagaimana nama tempat menyimpan jejak alam dan budaya, sekaligus mengungkap krisis ingatan manusia terhadap ruang hidupnya.

Pemandangan kota Bandung, jembatan Pasupati dengan latar belakang Gunung Tangkuban Parahu, Rabu 20 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Biz 18 Mei 2026, 10:05

Cikopi Mang Eko dan Jalan Panjang ‘UMKM Naik Kelas’

Mang Eko hampir menjual segala jerih payahnya. Lalu iseng membuka Instagram Rumah BUMN Bandung; dan nasib bisnisnya berubah.

Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 18 Mei 2026, 09:21

Antapani, Jalur yang Menghabiskan Umur Warga Kota Bandung

Jalan Terusan Jakarta di Antapani kerap dipenuhi antrean kendaraan akibat banjir, persimpangan padat, dan arus permukiman.

Situasi Jalan Ahmad Yani di kawasan Antapani Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 09:19

Di Serambi Masjid, Warga Bandung Belajar Arti Berkorban Melalui Donor Darah

Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan.

 Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)