Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

5 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)

Bagi anak muda Bandung yang hari ini asyik nongkrong di pelataran Dago, berselancar di media sosial, atau bebas mengkritik kebijakan negara lewat zine dan diskusi kolektif, ruang aman ini mungkin terasa seperti udara segar yang gratis untuk dihirup. Namun, jangan lupa: ruang bersuara yang kita nikmati hari ini dibeli dengan harga yang teramat mahal.

Kebebasan ini ditebus oleh keringat, darah, dan nyawa kawan-kawan mahasiswa serta warga yang turun ke jalan demi meruntuhkan 32 tahun keangkuhan Orde Baru. Tepat 21 Mei, hampir tiga dekade lalu, rezim otoriter itu tumbang dan menandai lahirnya era Reformasi.

Hak bersuara dan kebebasan pers yang kita pegang hari ini adalah buah dari pengorbanan kolektif sebuah generasi yang memilih bertaruh nyawa demi masa depan kita. Sebuah kemewahan sejarah yang patut kita syukuri dan rawat habis-habisan.

Titik Didih Gerakan Mahasiswa

Di masa lalu, momentum berdarah ini tidak lahir dari ruang hampa politik. Semua bermula dari ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinan rezim Presiden Soeharto yang akhirnya mencapai titik didih. Gerakan yang awalnya digerakkan oleh elite politik dan cendekiawan, dengan cepat diambil alih oleh gelombang mahasiswa di berbagai kota yang bergerak atas nama moral.

Kampus-kampus seketika menjelma menjadi mimbar bebas. Mereka menggalang kemarahan kolektif untuk menggugat ketidakadilan, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta pembungkaman hak sipil yang mencengkeram bangsa selama tiga dekade lamanya. Pada Mei 1998, ribuan mahasiswa dari segala penjuru mengalir, menjebol, dan menduduki Gedung DPR/MPR RI. Sementara itu, jalanan dipenuhi amarah rakyat yang tak lagi bisa dibendung.

Tekanan massa yang begitu masif akhirnya memaksa sang diktator tak punya pilihan lain selain menyerah. Tepat pada 21 Mei 1998, Soeharto resmi membacakan pernyataan mundur dari jabatannya. Momen runtuhnya otoritarianisme itulah yang membuka fajar demokrasi baru—sebuah titik balik yang menjamin kebebasan pers, memangkas absolutisme eksekutif, dan mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat.

Sebab itu, setiap kali kalender mendekati tanggal 21 Mei, kita tidak sedang memperingati hari libur biasa. Tanggal tersebut adalah Hari Peringatan Reformasi Nasional, sebuah cara untuk merawat ingatan atas seluruh darah dan pengorbanan yang tumpah demi demokrasi hari ini.

Bayang-bayang kelam Krisis Moneter 1998 yang meruntuhkan Orde Baru kembali menghantui rakyat kecil hari ini. (Sumber: Gemini AI Generated.)
Bayang-bayang kelam Krisis Moneter 1998 yang meruntuhkan Orde Baru kembali menghantui rakyat kecil hari ini. (Sumber: Gemini AI Generated.)

Dejavu Kelam Krisis Moneter

Namun, upacara ingatan ini tidak boleh berhenti pada romantisme belaka. Kita harus menolak lupa bahwa pemicu paling brutal yang meruntuhkan Orde Baru saat itu adalah krisis moneter 1998, di mana rupiah babak belur hingga melumpuhkan ekonomi rakyat Indonesia. Ironisnya, tepat di Hari Peringatan Reformasi tahun ini, masa lalu itu seperti sedang berjalan pulang kembali kepada kita.

Kebebasan berbicara yang kita miliki sekarang terasa menghantam logika kita sendiri. Ruang bersuara ini justru terpaksa kita gunakan untuk meneriakkan kecemasan yang sama persis: menyaksikan nilai tukar rupiah yang kian hari kian melorot tajam.

Di gang-gang sempit Kota Bandung, dari lapak pedagang Pasar Baru hingga dapur mahasiswa kos-kosan, warga kembali menjerit akibat imbas ekonomi makro yang mencekik leher kelas pekerja. Ini adalah sebuah dejavu yang kelam dan menyakitkan bagi rakyat.

Merosotnya nilai tukar rupiah hari ini, 18 Mei, telah menembus Rp17.653 per USD. Padahal, saat krisis moneter '98 silam, posisi paling tinggi "hanya" menyentuh Rp16.650 per USD. Angka tersebut bukan sekadar angka mati yang berkedip di layar bursa saham, melainkan pukulan telak yang efek dominonya merayap hingga ke dapur-dapur rakyat di pelosok daerah.

Keoknya mata uang kita juga dipicu oleh faktor eksternal yang agresif. Mulai dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang terus mempertahankan suku bunga tinggi, hingga ketidakpastian geopolitik global yang membuat para investor asing berbondong-bondong menarik modalnya keluar dari Indonesia.

Logikanya sederhana: saat rupiah keok terhadap dolar, biaya impor bahan baku seketika meroket. Akibatnya, sektor perdesaan yang menjadi penyangga pangan kita adalah pihak pertama yang paling babak belur. Kenaikan harga barang modal seperti pupuk, pakan ternak, hingga logistik, langsung mencekik para petani dan peternak kecil yang modalnya pas-pasan. Melemahnya rupiah ini pada akhirnya memicu inflasi barang pokok di tingkat lokal, menurunkan daya beli, dan memperlebar jurang kemiskinan di wilayah perdesaan.

Sentilan Logika untuk Penguasa

Namun, di tengah jeritan masyarakat yang mulai kesulitan membeli kebutuhan pokok akibat efek domino global tersebut, kita justru disuguhi tontonan politik yang nihil empati. Alih-alih memberikan kepastian regulasi, langkah pencegahan yang konkret, atau sekadar jaminan rasa aman, pemimpin negara Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya justru mengeluarkan pernyataan yang menggelitik nalar publik.

Dengan nada meremehkan, beliau menyebut bahwa pelemahan rupiah tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan karena rakyat Indonesia bertransaksi menggunakan rupiah, bukan dolar AS.

Pernyataan ini jelas memperlihatkan betapa berjaraknya pemikiran elite penguasa dengan realita yang dihadapi kelas pekerja di lapangan. Pemerintah seolah menutup mata bahwa baju yang kita pakai, gandum untuk mi instan yang dikonsumsi mahasiswa kos-kosan, hingga kedelai untuk tahu-tempe di pasar-pasar tradisional Bandung, semuanya diproduksi dari bahan baku impor yang harus dibeli dengan dolar yang makin mahal. Ujung-ujungnya, beban modal yang membengkak itu dilemparkan ke rakyat dalam bentuk lonjakan harga barang yang tak lagi masuk akal.

Mengatakan rakyat tidak terdampak dolar hanya karena mereka tidak memegang lembaran uang tersebut adalah sebuah kesesatan berpikir yang berbahaya. Ini adalah bentuk pengingkaran atas kegagalan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pola penyangkalan seperti ini melempar ingatan kita kembali pada sikap bebal rezim Orde Baru sesaat sebelum tumbang pada 1998 lalu.

Ketika penguasa mulai menganggap remeh inflasi dan menganggap jeritan rakyat sebagai angin lalu, saat itulah krisis kepercayaan mulai memuncak. Sungguh sebuah ironi yang paripurna, setelah 28 tahun Reformasi berjalan, kebebasan bersuara yang susah payah kita rebut hari ini justru kembali kita gunakan untuk menggedor pintu kesadaran para penguasa yang sedang tertidur lelap di atas penderitaan ekonomi rakyatnya sendiri.

Pada akhirnya, pernyataan santai tersebut muncul karena penguasa tidak pernah merasakan penderitaan rakyat. Elite negara bisa tidur nyenyak tanpa perlu memeras otak apakah esok hari mereka masih bisa makan, sementara kelas pekerja harus pontang-panting menghadapi inflasi.

Mengurus negara tidak bisa sekadar dengan omongan manis yang menafikan realita di atas piring makan rakyat. Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali. (*)

REFERENSI

  • Al Arif, M. N. R. (2026). Pelemahan Rupiah dan Ekonomi di Perdesaan. UIN Jakarta.

  • BBC News Indonesia. (2026). Masalah di balik pernyataan Presiden Prabowo 'rakyat di desa enggak pakai dolar'.

  • KPU RI. (2026). Sejarah Reformasi Indonesia: Perjalanan Bangsa Menuju Demokrasi.

  • Sahabat Pengadaian. (2026). Kenapa Nilai Rupiah Melemah? Ini Fakta yang Perlu Diketahui!.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)
Wisata & Kuliner 05 Jul 2026, 17:23

Cara Berkunjung ke Suku Baduy Banten, Semua yang Wajib Diketahui Sebelum Datang ke Kanekes

Berencana ke Baduy? Ketahui rute menuju Ciboleger, larangan di Baduy Dalam, masa Kawalu, penginapan rumah warga, dan tips perjalanan sebelum berangkat.

Pemukiman di Desa Knekes, Banten, yang popular dengan sebutan Baduy. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 17:10

Merebut Simpati Masyarakat Desa dalam Ketahanan Pangan Bergizi

Ketercapaian pemerintah dapat dilihat ketika masyarakat di desa antusias untuk mempertahankan pangan yang aman dan amanah. 

Program makan bergizi gratis (MBG). (Sumber: kebumenkab.go.id)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 13:22

Sering Dianggap Lemah, Sains Buktikan Perempuan Lebih Kuat Tahan Rasa Sakit

Ungkap fakta sains tentang mekanisme proteksi saraf unik pada tubuh perempuan.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)