Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

5 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Selasa 19 Mei 2026, 15:27 WIB
Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)

Bagi anak muda Bandung yang hari ini asyik nongkrong di pelataran Dago, berselancar di media sosial, atau bebas mengkritik kebijakan negara lewat zine dan diskusi kolektif, ruang aman ini mungkin terasa seperti udara segar yang gratis untuk dihirup. Namun, jangan lupa: ruang bersuara yang kita nikmati hari ini dibeli dengan harga yang teramat mahal.

Kebebasan ini ditebus oleh keringat, darah, dan nyawa kawan-kawan mahasiswa serta warga yang turun ke jalan demi meruntuhkan 32 tahun keangkuhan Orde Baru. Tepat 21 Mei, hampir tiga dekade lalu, rezim otoriter itu tumbang dan menandai lahirnya era Reformasi.

Hak bersuara dan kebebasan pers yang kita pegang hari ini adalah buah dari pengorbanan kolektif sebuah generasi yang memilih bertaruh nyawa demi masa depan kita. Sebuah kemewahan sejarah yang patut kita syukuri dan rawat habis-habisan.

Titik Didih Gerakan Mahasiswa

Di masa lalu, momentum berdarah ini tidak lahir dari ruang hampa politik. Semua bermula dari ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinan rezim Presiden Soeharto yang akhirnya mencapai titik didih. Gerakan yang awalnya digerakkan oleh elite politik dan cendekiawan, dengan cepat diambil alih oleh gelombang mahasiswa di berbagai kota yang bergerak atas nama moral.

Kampus-kampus seketika menjelma menjadi mimbar bebas. Mereka menggalang kemarahan kolektif untuk menggugat ketidakadilan, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta pembungkaman hak sipil yang mencengkeram bangsa selama tiga dekade lamanya. Pada Mei 1998, ribuan mahasiswa dari segala penjuru mengalir, menjebol, dan menduduki Gedung DPR/MPR RI. Sementara itu, jalanan dipenuhi amarah rakyat yang tak lagi bisa dibendung.

Tekanan massa yang begitu masif akhirnya memaksa sang diktator tak punya pilihan lain selain menyerah. Tepat pada 21 Mei 1998, Soeharto resmi membacakan pernyataan mundur dari jabatannya. Momen runtuhnya otoritarianisme itulah yang membuka fajar demokrasi baru—sebuah titik balik yang menjamin kebebasan pers, memangkas absolutisme eksekutif, dan mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat.

Sebab itu, setiap kali kalender mendekati tanggal 21 Mei, kita tidak sedang memperingati hari libur biasa. Tanggal tersebut adalah Hari Peringatan Reformasi Nasional, sebuah cara untuk merawat ingatan atas seluruh darah dan pengorbanan yang tumpah demi demokrasi hari ini.

Bayang-bayang kelam Krisis Moneter 1998 yang meruntuhkan Orde Baru kembali menghantui rakyat kecil hari ini. (Sumber: Gemini AI Generated.)
Bayang-bayang kelam Krisis Moneter 1998 yang meruntuhkan Orde Baru kembali menghantui rakyat kecil hari ini. (Sumber: Gemini AI Generated.)

Dejavu Kelam Krisis Moneter

Namun, upacara ingatan ini tidak boleh berhenti pada romantisme belaka. Kita harus menolak lupa bahwa pemicu paling brutal yang meruntuhkan Orde Baru saat itu adalah krisis moneter 1998, di mana rupiah babak belur hingga melumpuhkan ekonomi rakyat Indonesia. Ironisnya, tepat di Hari Peringatan Reformasi tahun ini, masa lalu itu seperti sedang berjalan pulang kembali kepada kita.

Kebebasan berbicara yang kita miliki sekarang terasa menghantam logika kita sendiri. Ruang bersuara ini justru terpaksa kita gunakan untuk meneriakkan kecemasan yang sama persis: menyaksikan nilai tukar rupiah yang kian hari kian melorot tajam.

Di gang-gang sempit Kota Bandung, dari lapak pedagang Pasar Baru hingga dapur mahasiswa kos-kosan, warga kembali menjerit akibat imbas ekonomi makro yang mencekik leher kelas pekerja. Ini adalah sebuah dejavu yang kelam dan menyakitkan bagi rakyat.

Merosotnya nilai tukar rupiah hari ini, 18 Mei, telah menembus Rp17.653 per USD. Padahal, saat krisis moneter '98 silam, posisi paling tinggi "hanya" menyentuh Rp16.650 per USD. Angka tersebut bukan sekadar angka mati yang berkedip di layar bursa saham, melainkan pukulan telak yang efek dominonya merayap hingga ke dapur-dapur rakyat di pelosok daerah.

Keoknya mata uang kita juga dipicu oleh faktor eksternal yang agresif. Mulai dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang terus mempertahankan suku bunga tinggi, hingga ketidakpastian geopolitik global yang membuat para investor asing berbondong-bondong menarik modalnya keluar dari Indonesia.

Logikanya sederhana: saat rupiah keok terhadap dolar, biaya impor bahan baku seketika meroket. Akibatnya, sektor perdesaan yang menjadi penyangga pangan kita adalah pihak pertama yang paling babak belur. Kenaikan harga barang modal seperti pupuk, pakan ternak, hingga logistik, langsung mencekik para petani dan peternak kecil yang modalnya pas-pasan. Melemahnya rupiah ini pada akhirnya memicu inflasi barang pokok di tingkat lokal, menurunkan daya beli, dan memperlebar jurang kemiskinan di wilayah perdesaan.

Sentilan Logika untuk Penguasa

Namun, di tengah jeritan masyarakat yang mulai kesulitan membeli kebutuhan pokok akibat efek domino global tersebut, kita justru disuguhi tontonan politik yang nihil empati. Alih-alih memberikan kepastian regulasi, langkah pencegahan yang konkret, atau sekadar jaminan rasa aman, pemimpin negara Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya justru mengeluarkan pernyataan yang menggelitik nalar publik.

Dengan nada meremehkan, beliau menyebut bahwa pelemahan rupiah tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan karena rakyat Indonesia bertransaksi menggunakan rupiah, bukan dolar AS.

Pernyataan ini jelas memperlihatkan betapa berjaraknya pemikiran elite penguasa dengan realita yang dihadapi kelas pekerja di lapangan. Pemerintah seolah menutup mata bahwa baju yang kita pakai, gandum untuk mi instan yang dikonsumsi mahasiswa kos-kosan, hingga kedelai untuk tahu-tempe di pasar-pasar tradisional Bandung, semuanya diproduksi dari bahan baku impor yang harus dibeli dengan dolar yang makin mahal. Ujung-ujungnya, beban modal yang membengkak itu dilemparkan ke rakyat dalam bentuk lonjakan harga barang yang tak lagi masuk akal.

Mengatakan rakyat tidak terdampak dolar hanya karena mereka tidak memegang lembaran uang tersebut adalah sebuah kesesatan berpikir yang berbahaya. Ini adalah bentuk pengingkaran atas kegagalan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pola penyangkalan seperti ini melempar ingatan kita kembali pada sikap bebal rezim Orde Baru sesaat sebelum tumbang pada 1998 lalu.

Ketika penguasa mulai menganggap remeh inflasi dan menganggap jeritan rakyat sebagai angin lalu, saat itulah krisis kepercayaan mulai memuncak. Sungguh sebuah ironi yang paripurna, setelah 28 tahun Reformasi berjalan, kebebasan bersuara yang susah payah kita rebut hari ini justru kembali kita gunakan untuk menggedor pintu kesadaran para penguasa yang sedang tertidur lelap di atas penderitaan ekonomi rakyatnya sendiri.

Pada akhirnya, pernyataan santai tersebut muncul karena penguasa tidak pernah merasakan penderitaan rakyat. Elite negara bisa tidur nyenyak tanpa perlu memeras otak apakah esok hari mereka masih bisa makan, sementara kelas pekerja harus pontang-panting menghadapi inflasi.

Mengurus negara tidak bisa sekadar dengan omongan manis yang menafikan realita di atas piring makan rakyat. Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali. (*)

REFERENSI

  • Al Arif, M. N. R. (2026). Pelemahan Rupiah dan Ekonomi di Perdesaan. UIN Jakarta.

  • BBC News Indonesia. (2026). Masalah di balik pernyataan Presiden Prabowo 'rakyat di desa enggak pakai dolar'.

  • KPU RI. (2026). Sejarah Reformasi Indonesia: Perjalanan Bangsa Menuju Demokrasi.

  • Sahabat Pengadaian. (2026). Kenapa Nilai Rupiah Melemah? Ini Fakta yang Perlu Diketahui!.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)