Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

5 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan Selasa 19 Mei 2026, 13:44 WIB
Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)

Bagi mereka yang tumbuh besar dengan koran Kompas di atas meja makan, nama "Nyonya Rumah" adalah sebuah legenda yang melekat dalam ingatan. Ia bukan sekadar pengisi kolom resep mingguan, melainkan sosok "ibu" yang membimbing tangan jutaan perempuan Indonesia meracik bumbu di dapur. Namun, tahukah Anda siapa sosok di balik nama pena legendaris tersebut?

Ia adalah Julie Sutarjana. Lahir pada tahun 1922 di Lasem—kota pesisir yang dijuluki "Tiongkok Kecil"—Julie tumbuh di tengah aroma malam dan lilin dari bengkel batik milik orang tuanya, Purnomo Wignyopranoto dan Imas Tjandra.

Kepekaan indrawinya telah terasah sejak usia 10 tahun, saat ia terpaku melihat adonan carabikang warna-warni mekar di atas tungku. Inilah awal mula perjalanan seorang perempuan tangguh yang kelak dijuluki "Gastronom Tiga Zaman"—seorang legenda yang pengabdian kulinernya melampaui hiruk-pikuk politik dari era Orde Lama hingga Reformasi.

Di Balik Nama "Nyonya Rumah"

Ada paradoks menarik dalam sejarah kuliner kita. Salah satu nama paling terkenal di Indonesia justru lahir karena sang pemilik nama enggan menjadi pesohor. Saat Julie mulai membukukan resep-resepnya melalui penerbit KengPo/Kinta di era 1950-an, ia bersikeras menggunakan nama samaran.

Pilihannya jatuh pada istilah "Nyonya Rumah" yang merupakan terjemahan langsung dari kata bahasa Belanda, huisvrouw. Di masa transisi budaya pasca-kemerdekaan tersebut, nama ini memberikan kesan hangat sekaligus otoritatif.

Julie ingin karyanya yang berbicara, bukan sosok pribadinya. Namun, kerendahhatian ini justru membuatnya menjadi sosok universal. Dengan tetap anonim di balik nama pena, Julie berhasil menjadi "milik bersama", sebuah identitas kolektif bagi setiap perempuan yang berdaulat di dapur mereka sendiri.

Perjalanan Julie menjadi penulis resep profesional dimulai pada tahun 1951 bukan karena ambisi, melainkan karena rasa gemas. Sebagai pembaca setia tabloid Star Weekly, ia seringkali kecewa saat mempraktikkan resep-resep yang dimuat karena instruksinya tidak jelas dan hasilnya sering gagal.

Didorong oleh suaminya, Satia Sutardjana, Julie memberanikan diri mengirimkan proof exemplar (resep percobaan) ke redaksi Star Weekly. Resepnya meledak. Ia langsung mendapatkan honorarium sebesar Rp 75,00.

Untuk memberikan gambaran betapa dihargainya keahlian Julie saat itu: upah memberi les privat seminggu sekali selama satu bulan penuh hanya dihargai Rp 15,00. Artinya, satu kiriman resep Julie setara dengan lima kali lipat pendapatan bulanan seorang pengajar privat. Hal ini menjadi bukti awal bahwa ketelitian dan kejujurannya dalam menulis resep memiliki nilai yang tak ternilai harganya.

Ketangguhan di Balik Sepeda Onthel

Di balik kemapanannya di masa tua, Julie pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung. Bersama suaminya, ia pernah tinggal di sebuah paviliun sederhana berdinding bilik bambu. Demi menyambung hidup, Julie mengajar di sekolah rakyat dan membuat kue untuk dijual setelah jam sekolah usai.

Karena tak punya peralatan memadai, ia menumpang memanggang adonan di sebuah toko roti lokal. Dengan penuh harapan, ia mengemas kue spritsjes (semprit) buatannya. Dengan dibonceng sepeda onthel oleh suaminya, ia berkeliling menawarkan kue tersebut dari toko ke toko. Alih-alih pesanan, ia justru menerima cemoohan; pemilik toko mencela kuenya tidak enak dan meramal tidak akan laku.

Namun, semangat Julie tidak layu. Ia mencoba bangkit dengan membuat ananas koekjes (kue nanas), camilan favoritnya sejak masa sekolah. Kue inilah yang menjadi penyelamat, diterima oleh pasar, dan perlahan mengubah nasib keluarganya. Fase pahit ini menjadi fondasi karakter Julie bahwa sebuah resep tidak hanya butuh takaran yang pas, tapi juga mental yang tangguh.

Menulis Resep Melintasi Tiga Era Politik

Gelar "Gastronom Tiga Zaman" bukanlah sekadar pujian kosong, melainkan bentuk penghormatan atas dedikasi Julie Sutarjana yang secara resmi diakui oleh MURI pada tahun 2009 sebagai Penulis dan Pencipta Resep Masakan dan Kue Tertua.

Konsistensinya yang luar biasa tergambar jelas melalui kiprahnya yang melintasi berbagai dekade, dimulai dari mengasuh rubrik "Rahasia Dapur" di mingguan Star Weekly (1951–1961), berlanjut ke rubrik "Seni Dapur" di mingguan Jaya (1961–1971), hingga akhirnya menjadi penulis tetap resep masakan di koran Kompas selama setengah abad penuh (1971–2021), sebuah potret loyalitas yang nyaris mustahil ditiru di era modern.

Totalitasnya melahirkan 50 judul buku dalam kurun waktu 50 tahun. Namun, kontribusinya tak hanya di atas kertas. Pada tahun 1999, ia mendirikan Kedai Nyonya Rumah di Jalan Naripan, Bandung. Luar biasanya, hingga usia 97 tahun, Julie masih aktif turun ke dapur kedainya setidaknya tiga kali seminggu untuk memastikan setiap hidangan—mulai dari Lontong Komplit hingga Java Steak—tetap terjaga kualitasnya.

Dua tahun sebelum wafat pada usia 99 tahun pada tahun 2021, Julie merilis karya pamungkas berjudul 68 Tahun Berkarya, Hidangan Legendaris Gastronom 3 Zaman. Buku setebal 359 halaman ini boleh dikata merupakan "album emas" yang merangkum 250 resep pilihan dari buku-buku legendarisnya seperti Pandai Masak 1 & 2 serta Belajar Memasak.

Berbeda dengan buku masak teknis lainnya, karya ini ditulis secara autobiografis, seolah ia ingin mengajak pembaca duduk di dapurnya dan mendengarkan cerita hidupnya. Dalam pengantarnya, Julie menuliskan pesan yang sangat menyentuh:

"Saya merasa, mungkin inilah buku saya yang terakhir… dan tak seperti buku-buku saya lainnya, buku ini bukanlah sekedar resep, melainkan dilengkapi dengan cerita tentang perjalanan hidup yang penuh asam garam perjuangan…"

Buku ini bukan sekadar panduan dapur, melainkan wasiat tentang bagaimana seni kuliner bisa menjadi cara untuk bertahan hidup dan mencintai keluarga.

Julie Sutarjana alias "Nyonya Rumah" adalah bukti bahwa dedikasi yang dilakukan dengan cinta akan melampaui usia biologis pelakunya. Dari pesisir Lasem hingga menjadi maestro kuliner di Bandung, ia mengajarkan kita bahwa masakan yang lezat bermula dari kejujuran dalam takaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian.

Meski sang Gastronom telah berpulang, warisannya tetap hidup setiap kali seseorang menyalakan kompor dan membuka catatan resepnya. Aroma mentega dari kue spritsjes dan kehangatan masakan Indonesia yang ia tuliskan tetap menjadi jembatan yang menghubungkan memori lintas generasi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)