Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

5 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)

Bagi mereka yang tumbuh besar dengan koran Kompas di atas meja makan, nama "Nyonya Rumah" adalah sebuah legenda yang melekat dalam ingatan. Ia bukan sekadar pengisi kolom resep mingguan, melainkan sosok "ibu" yang membimbing tangan jutaan perempuan Indonesia meracik bumbu di dapur. Namun, tahukah Anda siapa sosok di balik nama pena legendaris tersebut?

Ia adalah Julie Sutarjana. Lahir pada tahun 1922 di Lasem—kota pesisir yang dijuluki "Tiongkok Kecil"—Julie tumbuh di tengah aroma malam dan lilin dari bengkel batik milik orang tuanya, Purnomo Wignyopranoto dan Imas Tjandra.

Kepekaan indrawinya telah terasah sejak usia 10 tahun, saat ia terpaku melihat adonan carabikang warna-warni mekar di atas tungku. Inilah awal mula perjalanan seorang perempuan tangguh yang kelak dijuluki "Gastronom Tiga Zaman"—seorang legenda yang pengabdian kulinernya melampaui hiruk-pikuk politik dari era Orde Lama hingga Reformasi.

Di Balik Nama "Nyonya Rumah"

Ada paradoks menarik dalam sejarah kuliner kita. Salah satu nama paling terkenal di Indonesia justru lahir karena sang pemilik nama enggan menjadi pesohor. Saat Julie mulai membukukan resep-resepnya melalui penerbit KengPo/Kinta di era 1950-an, ia bersikeras menggunakan nama samaran.

Pilihannya jatuh pada istilah "Nyonya Rumah" yang merupakan terjemahan langsung dari kata bahasa Belanda, huisvrouw. Di masa transisi budaya pasca-kemerdekaan tersebut, nama ini memberikan kesan hangat sekaligus otoritatif.

Julie ingin karyanya yang berbicara, bukan sosok pribadinya. Namun, kerendahhatian ini justru membuatnya menjadi sosok universal. Dengan tetap anonim di balik nama pena, Julie berhasil menjadi "milik bersama", sebuah identitas kolektif bagi setiap perempuan yang berdaulat di dapur mereka sendiri.

Perjalanan Julie menjadi penulis resep profesional dimulai pada tahun 1951 bukan karena ambisi, melainkan karena rasa gemas. Sebagai pembaca setia tabloid Star Weekly, ia seringkali kecewa saat mempraktikkan resep-resep yang dimuat karena instruksinya tidak jelas dan hasilnya sering gagal.

Didorong oleh suaminya, Satia Sutardjana, Julie memberanikan diri mengirimkan proof exemplar (resep percobaan) ke redaksi Star Weekly. Resepnya meledak. Ia langsung mendapatkan honorarium sebesar Rp 75,00.

Untuk memberikan gambaran betapa dihargainya keahlian Julie saat itu: upah memberi les privat seminggu sekali selama satu bulan penuh hanya dihargai Rp 15,00. Artinya, satu kiriman resep Julie setara dengan lima kali lipat pendapatan bulanan seorang pengajar privat. Hal ini menjadi bukti awal bahwa ketelitian dan kejujurannya dalam menulis resep memiliki nilai yang tak ternilai harganya.

Ketangguhan di Balik Sepeda Onthel

Di balik kemapanannya di masa tua, Julie pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung. Bersama suaminya, ia pernah tinggal di sebuah paviliun sederhana berdinding bilik bambu. Demi menyambung hidup, Julie mengajar di sekolah rakyat dan membuat kue untuk dijual setelah jam sekolah usai.

Karena tak punya peralatan memadai, ia menumpang memanggang adonan di sebuah toko roti lokal. Dengan penuh harapan, ia mengemas kue spritsjes (semprit) buatannya. Dengan dibonceng sepeda onthel oleh suaminya, ia berkeliling menawarkan kue tersebut dari toko ke toko. Alih-alih pesanan, ia justru menerima cemoohan; pemilik toko mencela kuenya tidak enak dan meramal tidak akan laku.

Namun, semangat Julie tidak layu. Ia mencoba bangkit dengan membuat ananas koekjes (kue nanas), camilan favoritnya sejak masa sekolah. Kue inilah yang menjadi penyelamat, diterima oleh pasar, dan perlahan mengubah nasib keluarganya. Fase pahit ini menjadi fondasi karakter Julie bahwa sebuah resep tidak hanya butuh takaran yang pas, tapi juga mental yang tangguh.

Menulis Resep Melintasi Tiga Era Politik

Gelar "Gastronom Tiga Zaman" bukanlah sekadar pujian kosong, melainkan bentuk penghormatan atas dedikasi Julie Sutarjana yang secara resmi diakui oleh MURI pada tahun 2009 sebagai Penulis dan Pencipta Resep Masakan dan Kue Tertua.

Konsistensinya yang luar biasa tergambar jelas melalui kiprahnya yang melintasi berbagai dekade, dimulai dari mengasuh rubrik "Rahasia Dapur" di mingguan Star Weekly (1951–1961), berlanjut ke rubrik "Seni Dapur" di mingguan Jaya (1961–1971), hingga akhirnya menjadi penulis tetap resep masakan di koran Kompas selama setengah abad penuh (1971–2021), sebuah potret loyalitas yang nyaris mustahil ditiru di era modern.

Totalitasnya melahirkan 50 judul buku dalam kurun waktu 50 tahun. Namun, kontribusinya tak hanya di atas kertas. Pada tahun 1999, ia mendirikan Kedai Nyonya Rumah di Jalan Naripan, Bandung. Luar biasanya, hingga usia 97 tahun, Julie masih aktif turun ke dapur kedainya setidaknya tiga kali seminggu untuk memastikan setiap hidangan—mulai dari Lontong Komplit hingga Java Steak—tetap terjaga kualitasnya.

Dua tahun sebelum wafat pada usia 99 tahun pada tahun 2021, Julie merilis karya pamungkas berjudul 68 Tahun Berkarya, Hidangan Legendaris Gastronom 3 Zaman. Buku setebal 359 halaman ini boleh dikata merupakan "album emas" yang merangkum 250 resep pilihan dari buku-buku legendarisnya seperti Pandai Masak 1 & 2 serta Belajar Memasak.

Berbeda dengan buku masak teknis lainnya, karya ini ditulis secara autobiografis, seolah ia ingin mengajak pembaca duduk di dapurnya dan mendengarkan cerita hidupnya. Dalam pengantarnya, Julie menuliskan pesan yang sangat menyentuh:

"Saya merasa, mungkin inilah buku saya yang terakhir… dan tak seperti buku-buku saya lainnya, buku ini bukanlah sekedar resep, melainkan dilengkapi dengan cerita tentang perjalanan hidup yang penuh asam garam perjuangan…"

Buku ini bukan sekadar panduan dapur, melainkan wasiat tentang bagaimana seni kuliner bisa menjadi cara untuk bertahan hidup dan mencintai keluarga.

Julie Sutarjana alias "Nyonya Rumah" adalah bukti bahwa dedikasi yang dilakukan dengan cinta akan melampaui usia biologis pelakunya. Dari pesisir Lasem hingga menjadi maestro kuliner di Bandung, ia mengajarkan kita bahwa masakan yang lezat bermula dari kejujuran dalam takaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian.

Meski sang Gastronom telah berpulang, warisannya tetap hidup setiap kali seseorang menyalakan kompor dan membuka catatan resepnya. Aroma mentega dari kue spritsjes dan kehangatan masakan Indonesia yang ia tuliskan tetap menjadi jembatan yang menghubungkan memori lintas generasi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)
Wisata & Kuliner 05 Jul 2026, 17:23

Cara Berkunjung ke Suku Baduy Banten, Semua yang Wajib Diketahui Sebelum Datang ke Kanekes

Berencana ke Baduy? Ketahui rute menuju Ciboleger, larangan di Baduy Dalam, masa Kawalu, penginapan rumah warga, dan tips perjalanan sebelum berangkat.

Pemukiman di Desa Knekes, Banten, yang popular dengan sebutan Baduy. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 17:10

Merebut Simpati Masyarakat Desa dalam Ketahanan Pangan Bergizi

Ketercapaian pemerintah dapat dilihat ketika masyarakat di desa antusias untuk mempertahankan pangan yang aman dan amanah. 

Program makan bergizi gratis (MBG). (Sumber: kebumenkab.go.id)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 13:22

Sering Dianggap Lemah, Sains Buktikan Perempuan Lebih Kuat Tahan Rasa Sakit

Ungkap fakta sains tentang mekanisme proteksi saraf unik pada tubuh perempuan.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)