Merawat Kebersamaan

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Minggu 04 Jan 2026, 09:11 WIB
Berkunjung ke Kampung Kawangi bukan sekadar perjalanan kuliner biasa. (Sumber: Istimewa | Foto: Amang Kawangian)

Berkunjung ke Kampung Kawangi bukan sekadar perjalanan kuliner biasa. (Sumber: Istimewa | Foto: Amang Kawangian)

Pagi hari yang diawali dengan menengadah dan mengucap syukur, alhamdulillah, kepada Allah SWT atas segala nikmat yang tak pernah putus mengalir dalam keluarga kecil tercinta. Pada Jumat yang berkah dan cerah ini, suasana kebahagiaan, kebersamaan, dan tasyakuran terasa begitu kuat seiring bertambahnya usia anak kedua kami, Aa Akil, yang kini genap berusia 11 tahun.

Empat ribu delapan belas hari, sembilan puluh enam ribu empat ratus tiga puluh dua jam, lima juta tujuh ratus delapan puluh lima ribu sembilan ratus dua puluh menit, atau tiga ratus empat puluh tujuh juta seratus lima puluh lima ribu dua ratus detik yang lalu. Tepat pada 11 Rabiul Awal 1436 Hijriah, lahirlah seorang bayi laki-laki mungil menjelang waktu Jumatan di Klinik Mitra Mulya, yang terletak tepat di depan SD Cibiru.

Persalinan berlangsung secara normal, tanpa operasi caesar, meskipun ketuban telah pecah pada pukul 06.45 WIB. Berkat kesigapan tim medis, perawat dan bidan di klinik, proses persalinan pervaginam berjalan dengan lancar.

Sesaat setelah bayi lahir, dilakukan tradisi azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri. Kebiasaan ini bertujuan agar kalimat tauhid menjadi suara pertama yang didengar bayi, sebagai doa, perlindungan spiritual, dan pengusir gangguan setan.

Aa Akil yang kecil dalam pelukan, besar dalam harapan (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil yang kecil dalam pelukan, besar dalam harapan (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Anak kedua ini beri nama Faraz Mutawakil, laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi, rendah hati dan senantiasa berserah diri kepada Tuhan yang dititipkan harapan dan doa di dalamnya. Terlahir dengan berat 2.600 gram dan panjang 47 sentimeter. Ya kecil dalam pelukan, besar dalam harapan.

Alhamdulillah telah lahir anak ke-2 kami, laki-laki, pukul 10.50 WIB dengan berat badan 2.600 gram dan panjang badan 47 cm. Terima kasih atas segala doanya,” tulis pun bojo di media sosial Facebook kala itu.

Sebelas tahun kemudian, waktu subuh menjadi saksi. Pada pukul 04.13 WIB, bocah kelas lima itu dibangunkan dari tidurnya. Dalam pelukan hangat ibunya, doa-doa dilangitkan

Semoga tumbuh sehat, saleh, rajin belajar, dan teguh dalam ibadah. “Kadonya nanti ya, Aa,” ucapnya pelan, seraya menyimpan kejutan dalam senyum.

Dari layar kecil WhatsApp, sepenggal kisah dan potongan waktu diputar ulang, foto demi foto sejak lahir hingga hari ini hadir sambil diiringi kalimat sederhana yang sarat cinta dan makna. “Happy milad anak saleh. Bunda nggak kerasa bayi kecil Bunda sudah 11 tahun.”

Kebahagiaan hari itu terasa utuh. Anak pertama, Kakak Fia pulang dari Pondok Pesantren Al-Kamil membawa cerita liburan, anak ketiga, Kakang, menambah riuh tawa di rumah. Berkumpul, saling menatap, menyadari pentingnya kebersamaan. Waktu boleh berlari, tetapi cinta dalam keluarga ini perlu dirawat, dipupuk dan dijaga agar selalu tumbuh, setia menemani setiap usia yang bertambah.

Wilujeng Sumping di Kampung Kawangi (Sumber: https://www.instagram.com/rakakunnomama | Foto: Istimewa)
Wilujeng Sumping di Kampung Kawangi (Sumber: https://www.instagram.com/rakakunnomama | Foto: Istimewa)

Kampung Kawangi, Mengobati Rindu Menggebu

Sejak awal, memang memilih untuk tidak merayakan ulang tahun secara berlebihan. Tidak ada pesta, undangan khusus bagi teman sepermainan maupun teman sekolah. Justru lebih memilih kesederhanaan dengan berkumpul bersama keluarga, memanjatkan doa, menikmati hidangan bersama sebagai bentuk syukur atas limpahan rahmat Allah SWT.

Pada kesempatan ini, tempat tasyakuran sederhana dilaksanakan di Rumah Makan Kampung Kawangi yang berlokasi di Kampung Talun, RT 02/03, Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat.

Pemilihan tempat ini dilandasi keinginan untuk menikmati kebersamaan di tengah hamparan sawah dengan pemandangan alam yang indah, sembari mengenang dan mengobati rindu akan kampung halaman di Garut Pakidulan, Bungbulang. Dengan harapan kebersamaan ini senantiasa membawa keberkahan dan mempererat tali silaturahmi keluarga.

Bada Jumat itu, perjalanan dimulai dari SD Cibiru menuju Kampung Kawangi. Dengan menggunakan kendaraan roda empat yang dipesan melalui aplikasi menjemput tepat di depan Golden Sata Digital Printing. Pukul 12.50 WIB, perjalanan sepanjang 17,3 kilometer ditempuh hanya dalam 45 menit. Jalanan lengang, jauh dari kemacetan yang biasa ditemui.

Sepanjang perjalanan, obrolan ringan mengalir. Cerita sederhana, tawa kecil, dan ocehan anak ketiga yang sibuk menghafal surat-surat pendek. Namun baru memasuki Cileunyi, suasana mendadak sunyi. Diam seribu bahasa, ternyata Kakang tidur terlelap. Ngaguher, ngerek!

Menu paket kontan dan paket kasbon menjadi favorit pengunjung. (Sumber: Istimewa | Foto: Kaka Fia)
Menu paket kontan dan paket kasbon menjadi favorit pengunjung. (Sumber: Istimewa | Foto: Kaka Fia)

Sekitar pukul 13.35 WIB tiba di Kampung Kawangi. Sambutan hangat datang dari tukang parkir, disusul pemandangan khas mulai dari penjual es kelapa, aneka jus, dan mainan anak-anak yang berjajar di pintu masuk. Hamparan sawah membentang luas, dengan latar gunung yang menjulang tenang. Tanaman jagung, labu, tomat, dan mentimun tumbuh subur, menegaskan suasana pedesaan yang asri. Endah pisan!

Istri segera menuju kasir untuk memastikan pesanan yang telah dibooking sehari sebelumnya. Menu-menu andalan telah siap. Setelah dicek, dipersilakan menunggu hidangan di area Kawangi 24. Sekitar 30 menit kemudian, sajian datang. Seperti biasa, sebelum doa dipanjatkan, foto diambil untuk mengabadikan momen sederhana yang kelak menjadi kenangan berharga.

Pengunjung dapat bersantap di saung-saung bambu yang tersebar di perkampungan. Dari sana, mata dimanjakan oleh hamparan sawah hijau yang luas, berpadu dengan panorama Gunung Geulis dan Gunung Cijambu di kejauhan. Suasana tenang ini menjadi pelengkap sempurna bagi hidangan yang tersaji.

Salah satu daya tarik utama Kampung Kawangi adalah keberadaan pawon, dapur tradisional dengan hawu, tungku kayu bakar yang masih aktif digunakan. Proses memasak dengan kayu bakar ini dipercaya menghadirkan cita rasa khas, berbeda dari masakan modern yang serba instan. Asap tipis yang mengepul seakan membawa aroma masa lalu.

Bagi banyak pelancong kuliner, makan bukan semata soal rasa. Pemandangan, suasana, dan kenangan yang dihidupkan sering kali menjadi alasan utama memilih sebuah tempat. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, restoran bernuansa tradisional dengan lanskap alami menawarkan pengalaman yang lebih personal dan membekas.

Suasana sawah, panorama Gunung di kejauhan semakin menambah keindahan alam sekitar. (Sumber: https://www.instagram.com/kampung.kawangi | Foto: Istimewa)
Suasana sawah, panorama Gunung di kejauhan semakin menambah keindahan alam sekitar. (Sumber: https://www.instagram.com/kampung.kawangi | Foto: Istimewa)

Di Kabupaten Sumedang, pengalaman itu hadir di Kampung Kawangi. Berdiri di tengah sawah, rumah makan ini bukan sekadar tempat bersantap, melainkan ruang untuk berhenti sejenak dan merasakan denyut kehidupan pedesaan.

Kampung Kawangi lahir pada tahun 2020, di tengah pandemi covid-19 yang membatasi banyak aktivitas dan mengguncang perekonomian. Dedi Rasidi, sang pemilik, awalnya tidak pernah merencanakan membuka usaha kuliner. Hanya ingin membangun rumah sederhana di tengah sawah sebagai tempat beristirahat. Namun kecintaannya pada dunia memasak perlahan mengubah rumah itu menjadi ruang berbagi rasa dan cerita.

Tanpa ekspektasi besar, Dedi mulai menyajikan masakan kepada para tamu. Respons positif datang di luar dugaan. Dari percobaan sederhana itulah Kampung Kawangi tumbuh dan dikenal sebagai rumah makan tradisional yang kini ramai dikunjungi.

Setiap hari, pukul 10.00 hingga 17.00 WIB, Kampung Kawangi menyajikan hidangan khas Sunda yang dimasak dengan cara-cara lama. Paket kontan dan paket kasbon menjadi favorit. Nasi merah, oseng genjer, ikan asin, gurame, bakakak ayam kampung, hingga kolak labu tersaji sederhana, tapi kaya rasa yang menggoda lidah. Maknyus!

Zaman dahulu, masyarakat menggunakan tungku untuk memasak. Tungku, yang dalam Bahasa Sunda disebut 'Hawu', mulai ditinggalkan setelah kompor minyak tanah digunakan masyarakat. Bahkan, masyarakat kini sudah menggunakan kompor gas hingga elektronik. (Sumber: https://www.instagram.com/kbz.photograph | Foto: Istimewa)
Zaman dahulu, masyarakat menggunakan tungku untuk memasak. Tungku, yang dalam Bahasa Sunda disebut 'Hawu', mulai ditinggalkan setelah kompor minyak tanah digunakan masyarakat. Bahkan, masyarakat kini sudah menggunakan kompor gas hingga elektronik. (Sumber: https://www.instagram.com/kbz.photograph | Foto: Istimewa)

Keistimewaan Kampung Kawangi tidak hanya pada menu, termasuk pada proses memasaknya. Di pawon, tungku kayu bakar terus menyala. Cara memasak ini bukan sekadar teknik, melainkan bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur yang turun temurun dijaga dan dilestarikan bersama.

Dalam sebulan, ribuan porsi hidangan keluar dari dapur sederhana ini. Harga yang terjangkau menjadikan Kampung Kawangi tempat berkumpul lintas kalangan mulai dari warga sekitar hingga pengunjung dari Bandung, Garut, dan daerah lainnya. Semua duduk bersama di saung-saung bambu, menghadap sawah yang menghijau.

Rumah panggung kuno dengan perabotan jadul yang terawat menghadirkan suasana tempo dulu yang hangat. Tak sedikit pengunjung mengabadikan momen, menjadikan Kampung Kawangi sebagai latar cerita dalam bingkai foto mereka.

Moto Kampung Kawangi, “Tuangen raos seer di kota, raosen tuang di Kawangi,” terasa hidup. Makan di sini bukan soal kemewahan, melainkan tentang rasa, suasana, dan kebersamaan.

Kini, Kampung Kawangi dikelola dengan bantuan 13 karyawan yang seluruhnya berasal dari warga sekitar. Kehadirannya tidak hanya menghidupkan kembali cita rasa masakan Sunda, justru memberi dampak sosial bagi lingkungan sekitarnya.

Siapa yang abis liat ini jadi kangen rumah Nenek???😋 Yuk ke Kampung Kawangi (Sumber: https://www.instagram.com/kampung.kawangi | Foto: Istimewa)
Siapa yang abis liat ini jadi kangen rumah Nenek???😋 Yuk ke Kampung Kawangi (Sumber: https://www.instagram.com/kampung.kawangi | Foto: Istimewa)

Saat berkunjung ke Kampung Kawangi bukan sekadar perjalanan kuliner, melainkan momentum perjalanan pulang, menuju ingatan tentang kampung halaman, kehangatan pedesaan, dan kearifan lokal yang bertahan di tengah perubahan zaman arus modernitas. (Republika, 30 Mei 2024, 09.30 WIB; RRI, 17 Juni 2025, 18.08 WIB)

Selesai makan, Aa, Kakang, larut dalam keceriaan permainan tradisional. Bakiak menjadi pilihan, didahului ayunan yang berderit pelan. Egrang tidak dicoba, takut jatuh. Rasanya tak afdol berkunjung ke tempat wisata tanpa mengabadikan momen berharga.

Saatnya berfoto di sudut-sudut Instagramable Kampung Kawangi, tulisan besar berlatar hamparan sawah dan pegunungan, termasuk jembatan bambu di tengah kolam yang tak pernah sepi peminat.

Suasana ramai, pengunjung silih berganti. Untuk berfoto di tempat asyik, harus belajar satu hal sederhana soal bersabar dan membudayakan antre. Kakang, dengan segala rasa ingin tahunya, terus merengek ingin menangkap ikan-ikan warna-warni di kolam. “Bah, ayo mancing? Tangkap ikan?” ucapnya penuh harap.

Usai makan, keling-keling, bermain tradisional, dan jalan santai, tibalah waktunya untuk kembali ke Cibiru. Di sepanjang jalan, deretan pedagang mainan, ikan cupang, dan anak ayam berwarna-warni menggoda mata. Kakang akhirnya memilih dua ekor kelomang sebagai oleh-oleh kecil dari perjalanan hari bersejarah ini.

Jembatan bambu di Kampung Kawangi memancarkan keindahan dan kehangatan alam pedesaan (Sumber: Istimewa | Foto: Ibi Kawangian)
Jembatan bambu di Kampung Kawangi memancarkan keindahan dan kehangatan alam pedesaan (Sumber: Istimewa | Foto: Ibi Kawangian)

Setelah menunggu pesanan dari aplikasi di saung dekat area parkir, pukul 15.20 WIB melaju meninggalkan Kampung Kawangi. Perjalanan menuju Cibiru harus berakhir di area kampus UIN Bandung menghindari zona merah aplikasi di daerah Manisi. Sepanjang jalan, Kakang tak henti bertanya tentang kelomang: apa makannya, minumnya, dan harus disimpan di mana?

Kaka Fia terlelap pulas, kelelahan oleh keriangan, efek kamerekaan. Aa diam seribu bahasa, menikmati pemandangan pepohonan yang berlari pelan di balik kaca. Istri asyik berbincang dengan sopir, mendengar cerita tentang kuliner dan tempat wisata yang sedang naik daun di sekitar Tanjungsari, Sumedang, Ciherang, Citengah, hingga Angkasa Buah.

Pukul 16.05 WIB tiba di depan Gedung Rektorat, setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit. Jalanan dilalui perlahan, tenang, deretan kenangan diam-diam tumbuh dan menetap di hati sanubari.

Sebab perjalanan ke Kampung Kawangi ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan ikhtiar merayakan waktu kebersamaan tentang tumbuh, rasa syukur, dan merawat cinta kasih yang terus belajar dewasa bersama usia.

Indahnya Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Indahnya Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hakikat Demi Masa, Jangan Sia-siakan Waktu

Dalam buku Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk dijelaskan soal hakikat waktu yang dengan iseng-iseng mencoba menghitung, berapa tahun, hari, jam, dan detik waktu yang telah dihabiskan mulai lahir hingga hari ini. Ternyata tak singkat. Baru enam hari yang lalu usianya tepat dua puluh tiga tahun.

Jika dikonversi ke hari, hari ini telah menghabiskan jatah umur selama 8401 hari. Jika dikonversi ke jam, menit, dan detik, masing-masing menunjukkan angka: 201.744 jam, 12.104.640 menit, dan 726.278.400 detik.

Astaghfirullah. Ternyata sudah lama singgah di planet bumi ini. Telah lama berjalan memungut detik demi detik sisa usia. Detik demi detik itu adalah perjalanan menuju titik ajal.

Saudaraku, Tuhan kita memang Mahaadil. Setiap manusia di muka bumi ini diberikan jumlah waktu yang sama oleh Tuhan, yaitu 60 menit setiap jam, dan 24 jam setiap hari, di tempat mana pun di dunia ini. Amerika 24 jam sehari. Singapura 24 jam per hari, Papua 24 jam per hari, Malaysia 60 menit per jam, Tegal 60 menit per jam, semuanya sama.

Suasana malam di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Suasana malam di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pegawai kantor, presiden, pedagang kaki lima, pengangguran, dokter, ustaz, mahasiswa, pelajar, para pimpinan perusahaan, karyawan, dan pengangguran kelas berat sekali pun jatah waktunya tetap sama 24 jam per hari. Seorang bintang kelas yang biasa saja, atau yang tidak naik kelas sekali pun tetap 24 jam per hari 60 menit per jam.

Jelas sudah bahwa yang menjadi masalah bukan jumlah waktunya, tapi bagaimananya. Ada yang dalam waktu 24 mampu mengurus negara, jutaan orang, atau memanfaatkan waktu perusahaan raksasa dengan ratusan ribu pegawai, tapi a yang dalam 24 jam mengurus diri saja tidak mampu.

Waktu adalah esensi hidup kita. Waktu yang kita miliki itulah hidup kita, itulah usia kita, yang dengannya kita diberi pilihan, mengisinya dengan aktivitas kosong, atau mengisinya dengan taburan produktivitas.

Malik bin Nabi dalam bukunya Syuruth An-Nahdhah memulai uraiannya dengan mengutip satu ungkapan yang dinilai oleh sebagian ulama sebagai hadis Nabi saw., "Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru, 'Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat'."

Begitulah hakikat waktu bagi makhluk, memiliki sifat yang misterius: tidak dapat kembali, cepat berlalu, dan momen yang berlalu belum tentu dapat terulang. Sehingga terkadang penyesalan datang pada manusia yang telah menyiakan waktunya dengan hal-hal yang mubadzir, bahkan dengan keburukan.

Sebelum melangkah menuju Kampung Kawangi, istri menghadiahkan sebuket bunga kepada Aa Akil, mengiringi perjalanan dengan kasih dan doa. (Sumber: Istimewa | Foto: Kaka Fia)
Sebelum melangkah menuju Kampung Kawangi, istri menghadiahkan sebuket bunga kepada Aa Akil, mengiringi perjalanan dengan kasih dan doa. (Sumber: Istimewa | Foto: Kaka Fia)

"Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari)

Saudaraku, waktu kita terbatas. Setiap detik adalah perjalanan menuju alam kubur, setiap saat adalah tahapan berkurangnya usia dan semakin mendekat kepada kematian. Sehingga hamba yang beruntung, ia akan memanfaatkan waktunya untuk kebaikan, dan tidak ada saat untuk melakukan kesia-siaan dalam waktunya. Sedetik pun. (Ahmad Rifa`i Rif`an, 2013:229-231).

Saat di Kampung Kawangi, Jumat (2/1/2026) kebersamaan dirayakan dengan cara yang paling sederhana sekaligus paling purba, makan bareng, botram, balakecrakan. Nasi (merah, putih) yang mengepul, lauk (asin, ayam, belut, jengkol, genjer, tahu, tempe) yang berpindah tangan untuk dimakan, gelak tawa yang saling bersahut, bersuka ria menjadi ikhtiar kecil untuk menengok waktu asali ulang tahun Aa yang ke-11.

Ingat, yang diulang bukan semata hitungan kosmik. Apalagi deretan angka yang berputar setiap tahun, melainkan rasa awal saat hidup pertama kali disambut oleh sesama ke bumi. Di tikar yang dibentangkan, tubuh-tubuh duduk sejajar, usia melebur, waktu terasa melingkar. Ada masa lalu yang hadir sebagai kenangan, masa kini sebagai syukur, dan masa depan jadi sumber energi pohon harapan yang diam-diam dirajut, ditata, dipupuk, dirawat agar tidak mudah laku sebelum berkembang.

Perayaan milad di Kampung Kawangi bukanlah nostalgia yang berhenti pada asal-usul hirup, justru usaha mengaktualisasikan keselarasan hidup dengan alam, lingkungan, sesama makhluk dan sang pencipta. Ya perjalanan dari lahir menuju hidup yang lebih baik, bermanfaat dan beradab. Pasalnya, setiap suap adalah pelajaran tentang berbagi, memberi, dari tatapan menjadi pengakuan soal tumbuh berarti yang berelasi bukan sensasi.

Dari Aa Akil yang beranjak sebelas tahun, terus tumbuh kampung belajar abadi tentang makna kedewasaan dan kesederhanaan.

Bukan sekadar bertambah umur, tetapi menumbuhkan sikap dan perilaku beradab. Tidak hanya ada, tetapi hadir dan memberikan manfaat bagi yang lain. Di situlah ulang tahun menemukan martabatnya. Sebagai laku hidup yang berusaha menata kembali dunia yang bermakna, kehidupan bersahaja, terutama dari yang paling dekat, saat makan berjamaah yang mulai dilupakan diganti dengan orderan sendiri-sendiri. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)