Penjual Dompet Sukaregang Garut ‘Nyelip’ di Tengah Penjual Oleh-Oleh Yogyakarta

Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan Jumat 02 Jan 2026, 10:16 WIB
Penjual itu namanya Mang Tarsa (55 tahun). Ia mengaku dari Sukaregang, Garut. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Penjual itu namanya Mang Tarsa (55 tahun). Ia mengaku dari Sukaregang, Garut. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

YOGYAKARTA adalah kota yang benar-benar sebagai kota wisata. Kota yang bersejarah bagi Indonesia itu ternyata banyak menyimpan destinasi wisata, seperti Keraton, Malioboro, Pasar Beringharjo, Sentra Batik, daster, kaus khas Yogya, Pengrajin Perak Kota Gede, Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, hingga wisata kulinernya: Gudeg, Bakpia, Salak, Bakmi Jawa, Wingko, Jenang, dll.

Di masa liburan ini kota yang ngangenin ini “marema” dari wisatawan baik itu wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara. Tempat-tempat wisata dipenuhi pengunjung. Hotel, homestay, losmen penuh dengan pelancong yang akan menghabiskan liburan dan uangnya di kota ini.

Puluhan bus setiap harinya datang dan pergi silih berganti mengantar wisatawan ke tempat wisata di kota ini. Misalnya di daerah Pathuk, tempat bakpia khas Yogya dibuat di pabriknya. Bus baru tiba saja di parkiran, wisatawan baru keluar, para pedagang asongan langsung menyerbu wisatawan. Ada penjual salak, bakpia, wingko, beureum, camilan, bajuk, gantungan kunci, dan lain-lain. Para pedagang itu dengan agresif menawarkan dagangannya. 

“Ayo, salak Rp35 ribu per 5 kg”; “Bakpia ini lebih murah daripada di pabriknya”; “Wingko Rp50 ribu 6 bungkus”; dll. Tapi, di antara pedagang oleh-oleh Yogya itu, terselip seorang pedagang dompet, ikat pinggang, gantungan kunci kulit, dan tas pinggang yang berjualan pakai motor. Ia terdengar berbeda dengan yang lain--berbahasa Sunda.

Ini rombongan dari Bandung? Ti mana Bandungna? Abdi ti Sukaregang Garut. Ini dari kulit sapi asli. Dijujal murah, Rp175 ribu,” katanya sambil memperlihatkan tas pinggang hitam. “Nu ieu dompet imitasi. Imitasi. Abdi mah jujur. Dari kulit dari kulit, imitasi imitasi. Moal ngabohong.”

Penjual itu namanya Mang Tarsa (55 tahun). Ia mengaku dari Sukaregang, Garut. Jauh-jauh dari Garut jualan di Yogyakarta di tengah-tengah penjual oleh-oleh khas Yogyakarta. Ia merasa bangga dengan produk Sukaregang yang menurutnya kualitasnya tidak memalukan, tapi justru membanggakan. “Produk Sukaregang laku di sini,” katanya bersemangat.

Ya, iyalah membanggakan karena kerajinan kulit Sukaregang Garut kini resmi ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Jawa Barat tahun 2025. Penetapan bersejarah ini melibatkan proses seleksi ketat yang melibatkan berbagai pihak ahli budaya dan tokoh masyarakat lokal.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat saat itu, masih Benny Bachtiar, yang bersama Tim WBTB Jawa Barat pada Januari 2025 secara resmi mengumumkan penetapan ini dalam acara khusus yang dihadiri para pengrajin dan tokoh masyarakat Garut.

Kawasan Sukaregang yang berlokasi strategis di Kecamatan Garut Kota kini menjadi sorotan nasional sebagai pusat kerajinan kulit berkualitas tinggi yang telah bertahan selama puluhan dekade.

Baca Juga: Orang Bandung Bermalam di Yogya, Pagi-Pagi Sarapan ‘Bubur Kerecek’

Kawasan Sukaregang di Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, telah tersohor sebagai sentra kerajinan kulit yang sudah melegenda sejak era kolonial Belanda dan terus berkembang hingga kini menjadi industri rumahan yang menghasilkan produk berkualitas ekspor.

Sejarah panjang kerajinan kulit ini tidak terlepas dari keahlian turun-temurun para pengrajin lokal yang mempertahankan teknik tradisional namun tetap mengikuti perkembangan zaman.

Keunggulan kerajinan kulit Sukaregang tidak hanya terletak pada teknik pembuatan yang diwariskan secara turun-temurun. Tetapi juga pada kualitas bahan baku kulit pilihan dan desain yang mampu bersaing di pasar internasional dengan produk-produk dari berbagai negara. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dudung Ridwan
Tentang Dudung Ridwan
Jurnalis dan Pengamat Bulutangkis

Berita Terkait

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)