YOGYAKARTA adalah kota yang benar-benar sebagai kota wisata. Kota yang bersejarah bagi Indonesia itu ternyata banyak menyimpan destinasi wisata, seperti Keraton, Malioboro, Pasar Beringharjo, Sentra Batik, daster, kaus khas Yogya, Pengrajin Perak Kota Gede, Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, hingga wisata kulinernya: Gudeg, Bakpia, Salak, Bakmi Jawa, Wingko, Jenang, dll.
Di masa liburan ini kota yang ngangenin ini “marema” dari wisatawan baik itu wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara. Tempat-tempat wisata dipenuhi pengunjung. Hotel, homestay, losmen penuh dengan pelancong yang akan menghabiskan liburan dan uangnya di kota ini.
Puluhan bus setiap harinya datang dan pergi silih berganti mengantar wisatawan ke tempat wisata di kota ini. Misalnya di daerah Pathuk, tempat bakpia khas Yogya dibuat di pabriknya. Bus baru tiba saja di parkiran, wisatawan baru keluar, para pedagang asongan langsung menyerbu wisatawan. Ada penjual salak, bakpia, wingko, beureum, camilan, bajuk, gantungan kunci, dan lain-lain. Para pedagang itu dengan agresif menawarkan dagangannya.
“Ayo, salak Rp35 ribu per 5 kg”; “Bakpia ini lebih murah daripada di pabriknya”; “Wingko Rp50 ribu 6 bungkus”; dll. Tapi, di antara pedagang oleh-oleh Yogya itu, terselip seorang pedagang dompet, ikat pinggang, gantungan kunci kulit, dan tas pinggang yang berjualan pakai motor. Ia terdengar berbeda dengan yang lain--berbahasa Sunda.
“Ini rombongan dari Bandung? Ti mana Bandungna? Abdi ti Sukaregang Garut. Ini dari kulit sapi asli. Dijujal murah, Rp175 ribu,” katanya sambil memperlihatkan tas pinggang hitam. “Nu ieu dompet imitasi. Imitasi. Abdi mah jujur. Dari kulit dari kulit, imitasi imitasi. Moal ngabohong.”
Penjual itu namanya Mang Tarsa (55 tahun). Ia mengaku dari Sukaregang, Garut. Jauh-jauh dari Garut jualan di Yogyakarta di tengah-tengah penjual oleh-oleh khas Yogyakarta. Ia merasa bangga dengan produk Sukaregang yang menurutnya kualitasnya tidak memalukan, tapi justru membanggakan. “Produk Sukaregang laku di sini,” katanya bersemangat.
Ya, iyalah membanggakan karena kerajinan kulit Sukaregang Garut kini resmi ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Jawa Barat tahun 2025. Penetapan bersejarah ini melibatkan proses seleksi ketat yang melibatkan berbagai pihak ahli budaya dan tokoh masyarakat lokal.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat saat itu, masih Benny Bachtiar, yang bersama Tim WBTB Jawa Barat pada Januari 2025 secara resmi mengumumkan penetapan ini dalam acara khusus yang dihadiri para pengrajin dan tokoh masyarakat Garut.
Kawasan Sukaregang yang berlokasi strategis di Kecamatan Garut Kota kini menjadi sorotan nasional sebagai pusat kerajinan kulit berkualitas tinggi yang telah bertahan selama puluhan dekade.
Baca Juga: Orang Bandung Bermalam di Yogya, Pagi-Pagi Sarapan ‘Bubur Kerecek’
Kawasan Sukaregang di Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, telah tersohor sebagai sentra kerajinan kulit yang sudah melegenda sejak era kolonial Belanda dan terus berkembang hingga kini menjadi industri rumahan yang menghasilkan produk berkualitas ekspor.
Sejarah panjang kerajinan kulit ini tidak terlepas dari keahlian turun-temurun para pengrajin lokal yang mempertahankan teknik tradisional namun tetap mengikuti perkembangan zaman.
Keunggulan kerajinan kulit Sukaregang tidak hanya terletak pada teknik pembuatan yang diwariskan secara turun-temurun. Tetapi juga pada kualitas bahan baku kulit pilihan dan desain yang mampu bersaing di pasar internasional dengan produk-produk dari berbagai negara. (*)
