Profil Dr. Riadi Darwis: Menjaga Marwah Tatar Sunda Melalui Rasa

5 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Ilustrasi Dr. Riadi Darwis. (Sumber: Istimewa)
Ilustrasi Dr. Riadi Darwis. (Sumber: Istimewa)

Di balik aroma rempah yang menguar dari dapur-dapur tradisional, tersimpan sebuah narasi besar yang seringkali luput dari catatan sejarah. Dalam lanskap kebudayaan Indonesia, kuliner kerap kali hanya dipandang sebagai komoditas rasa, bukan sebagai artefak budaya yang menyimpan strategi ketahanan pangan dan memori kolektif.

Namun bagi Dr. Riadi Darwis, setiap suapan merupakan gerbang menuju kemegahan masa lalu. Ia hadir bukan sekadar sebagai penikmat, melainkan sebagai seorang arkeolog rasa yang memulihkan kembali kekayaan kuliner yang nyaris terlupakan dari naskah-naskah kuno yang mulai berdebu.

Jika kita menimbang posisi Dr. Riadi Darwis dalam konstelasi tokoh kuliner Nusantara, terlihat sebuah spesialisasi yang tajam dan esensial. Jika mendiang Bondan Winarno adalah jurnalis yang piawai memetakan diplomasi rasa melalui narasi blusukan (wisata kuliner), dan Prof. Murdijati Gardjito adalah begawan yang memetakan gastronomi Indonesia secara makro-akademis, maka Dr. Riadi Darwis adalah sang Filolog Gastronomi.

Kontribusi uniknya terletak pada keberanian untuk menyigi manuskrip dan prasasti kuno, lalu membangkitkan kosa kata dan teknik kuliner yang telah mati menjadi realitas yang bisa dicicipi kembali. Ia melakukan "resurrectio" atau kebangkitan kembali identitas Sunda melalui disiplin ilmu yang sangat spesifik.

Dedikasi yang tak tergoyahkan ini bukanlah hasil dari permenungan akademis yang mendadak, melainkan buah dari perjalanan sunyi yang berakar jauh di dapur masa kecilnya di Garut.

Dari Dapur Garut ke Riset Senyap

Lahir di Garut pada 24 Januari 1966, darah kuliner Dr. Riadi Darwis mengalir dari ekosistem rumah makan milik kakek dan neneknya. Di sanalah, indra perasanya terasah bukan melalui teori, melainkan melalui sentuhan langsung dengan bahan-bahan alam. Ia terlibat penuh—dari memilah bahan, menghaluskan bumbu, hingga memahami bagaimana api bekerja di atas tungku.

Sambil mengenang masa kecilnya yang dipenuhi aroma bumbu tradisional, ia mengungkapkan bahwa ketertarikannya menggeluti dunia gastronomi kemungkinan besar berawal dari kedekatannya dengan dunia masakan sejak dini.

Pengalaman praktis ini menjadi pondasi bagi apa yang kemudian ia sebut sebagai “riset senyap”. Selama 35 tahun, Dr. Riadi Darwis melakukan perjalanan dan riset mandiri yang tidak banyak diketahui publik.

Sambil menyalurkan hobi bepergiannya, ia secara konsisten mencatat setiap jenis makanan, teknik mengolah, hingga istilah-istilah lokal yang ia temui. Kredibilitas risetnya tidak hanya dibangun di atas tumpukan buku, tetapi diuji melalui observasi lapangan yang tekun dan personal. Kematangan dari riset mandiri ini kemudian menemukan panggung profesionalnya ketika ia melangkah ke selasar akademis di Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung.

Membawa Kuliner Tradisional ke Ruang Kelas

Sebagai pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di lingkungan vokasi pariwisata, Dr. Riadi Darwis merasakan adanya ketimpangan identitas yang nyata. Di koridor kampus yang seringkali lebih riuh dengan teknik memasak ala Eropa atau tren kuliner Asia Timur, suara kearifan lokal Sunda justru terdengar sayup. Mereka lebih fasih dengan terminologi asing daripada memahami kekayaan hayati yang tumbuh di halaman rumah mereka sendiri.

Keresahan inilah yang memicu urgensi untuk mengangkat kuliner tradisional Sunda ke tataran ilmiah. Dr. Riadi Darwis menyadari bahwa tanpa landasan riset yang kuat, makanan lokal akan selamanya dianggap inferior.

Ia pun mulai melakukan dekonstruksi terhadap dominasi cita rasa global di kampus dengan menyodorkan bukti-bukti kebesaran kuliner Sunda melalui naskah Sunda kuno. Baginya, gastronomi tradisional adalah ilmu pengetahuan yang luhur dan memiliki struktur yang kompleks, yang jika dipelajari secara utuh, mampu memberikan harga diri bagi bangsa di mata dunia.

Hasil dari pengembaraan intelektual Dr. Riadi Darwis termanifestasi dalam rangkaian buku serial gastronomi tradisional Sunda yang boleh dibilanng merupakan "ensiklopedia sejarah rasa”. Buku-bukunya mengajak pembaca menembus lorong waktu, menyigi kosa kata yang terukir dalam prasasti klasik.

Berikut adalah rincian dari tiga buku Serial Gastronomi Tradisional Sunda karya Dr. Riadi Darwis:

Judul Buku

Tahun Terbit

Jumlah Halaman

Fokus Riset Utama

Khazanah Kuliner Keraton Kesultanan Cirebon

2019

554

Dokumentasi kuliner etnik dan tradisi keraton berbasis manuskrip kuno.

Khazanah Kuliner Kabuyutan Galuh Klasik

2020

656

Eksplorasi kuliner masa klasik dengan fokus wilayah Galuh.

Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték (Jilid 1 & 2)

2022

1.070

Data komprehensif mengenai vegetasi lalab, rujak, sambal, dan tékték dalam prasasti.

Buku-buku tebal ini bukan sekadar kumpulan resep, melainkan rujukan primer yang membuktikan bahwa leluhur Sunda telah memiliki tradisi literasi kuliner yang sangat baik sejak abad ke-9 dan ke-10 Masehi. Dr. Riadi Darwis berhasil memindahkan data dari relief dan naskah kuno ke dalam literatur modern yang relevan bagi industri pariwisata masa kini.

Kekuatan utama dari karya Dr. Riadi Darwis terletak pada kuantifikasi data yang mencengangkan. Dr. Riadi Darwis berhasil memetakan biodiversitas Tatar Sunda yang kemudian didistilasi menjadi temuan-temuan empiris:

·         718 Jenis Tanaman Lalab. Sebuah database yang membuktikan pengetahuan botani masyarakat Sunda yang sangat luas.

·         368 Jenis Rujak dan 54 Varian Rujak-rujakan. Menggambarkan kompleksitas pengolahan buah dan sayur.

·         98 Jenis Sambal. Menunjukkan evolusi rasa yang dinamis dan tak terhingga.

·         Khazanah Tékték. Mendokumentasikan tradisi kuliner spesifik yang seringkali terlupakan dalam narasi besar kuliner nasional.

Temuan ini memiliki implikasi besar bagi ekonomi kreatif. 718 jenis tanaman lalab tersebut dapat menjadi inspirasi tak terbatas bagi corak batik baru atau basis pengembangan wisata gastronomi sejarah. Di sisi lain, data ini merupakan modal vital bagi ketahanan pangan nasional. Dr. Riadi Darwis menunjukkan bahwa biodiversitas lokal Jawa Barat dan Banten adalah benteng pertahanan pangan yang membuat masyarakat tidak akan pernah kekurangan jika dikelola dengan bijak.

Anugerah Kebudayaan 2025

Konsistensi Dr. Riadi Darwis dalam menjaga marwah kuliner Sunda akhirnya membuahkan pengakuan. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Bandung menganugerahkan Anugerah Kebudayaan Kota Bandung dalam kategori Pelestari kepadanya. Penghargaan yang diserahkan langsung oleh Walikota Bandung, M. Farhan, ini menjadi simbol penghormatan atas dedikasi tanpa henti seorang akademisi yang berjuang di jalur literasi kuliner.

Penghargaan ini memicu semangat baru bagi generasi muda dan pengusaha kuliner untuk mengadopsi resep-resep tradisional dalam bisnis mereka. Dr. Riadi memandang ini sebagai awal dari edukasi gastronomi yang lebih luas. Namun, tugasnya belum usai; masih ada 21 kota dan kabupaten di wilayah Jawa Barat dan Banten yang menanti untuk diriset secara mendalam agar mozaik gastronomi Sunda menjadi utuh.

Boleh dikata, Dr. Riadi Darwis adalah sosok "Sang Gastronom dari Tatar Sunda" yang telah berhasil menjembatani masa lalu yang niskala dengan realitas masa kini melalui pena dan ketekunan riset. Ia mengingatkan kita bahwa di dalam sehelai daun lalab atau sesendok sambal, terdapat sejarah panjang peradaban yang harus dijaga martabatnya.

Warisan yang ditinggalkan oleh Dr. Riadi adalah sebuah pesan bagi kita semua bahwa mencintai tanah air dapat dimulai dari meja makan. Sebagaimana filosofi yang selalu ia gaungkan: "Memahami gastronomi itu sama artinya dengan melestarikan budaya untuk generasi mendatang." Melalui rasa, marwah Tatar Sunda akan tetap abadi, melintasi zaman dan terus menghidupi jiwa generasi-generasi yang akan datang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 26 Jul 2026, 10:47

5 Street Food Pilihan di Bandung yang Wajib Dicoba

Cari street food murah di Bandung? Cek lima kuliner legendaris dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau yang wajib Anda coba.

Kolak Bu Mimin. (Sumber: YouTube K U B I L E R)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 10:02

Estetika Kota Bandung Menuju Kota Cerdas Berkelanjutan

Berestetika di kota tidak sekadar teknologinya melainkan gambaran umum bahwa kota Bandung diurus dan ditata sedemikian rupa.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santai dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))