Profil Dr. Riadi Darwis: Menjaga Marwah Tatar Sunda Melalui Rasa

Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan Selasa 21 Apr 2026, 18:32 WIB
Ilustrasi Dr. Riadi Darwis. (Sumber: Istimewa)

Ilustrasi Dr. Riadi Darwis. (Sumber: Istimewa)

Di balik aroma rempah yang menguar dari dapur-dapur tradisional, tersimpan sebuah narasi besar yang seringkali luput dari catatan sejarah. Dalam lanskap kebudayaan Indonesia, kuliner kerap kali hanya dipandang sebagai komoditas rasa, bukan sebagai artefak budaya yang menyimpan strategi ketahanan pangan dan memori kolektif.

Namun bagi Dr. Riadi Darwis, setiap suapan merupakan gerbang menuju kemegahan masa lalu. Ia hadir bukan sekadar sebagai penikmat, melainkan sebagai seorang arkeolog rasa yang memulihkan kembali kekayaan kuliner yang nyaris terlupakan dari naskah-naskah kuno yang mulai berdebu.

Jika kita menimbang posisi Dr. Riadi Darwis dalam konstelasi tokoh kuliner Nusantara, terlihat sebuah spesialisasi yang tajam dan esensial. Jika mendiang Bondan Winarno adalah jurnalis yang piawai memetakan diplomasi rasa melalui narasi blusukan (wisata kuliner), dan Prof. Murdijati Gardjito adalah begawan yang memetakan gastronomi Indonesia secara makro-akademis, maka Dr. Riadi Darwis adalah sang Filolog Gastronomi.

Kontribusi uniknya terletak pada keberanian untuk menyigi manuskrip dan prasasti kuno, lalu membangkitkan kosa kata dan teknik kuliner yang telah mati menjadi realitas yang bisa dicicipi kembali. Ia melakukan "resurrectio" atau kebangkitan kembali identitas Sunda melalui disiplin ilmu yang sangat spesifik.

Dedikasi yang tak tergoyahkan ini bukanlah hasil dari permenungan akademis yang mendadak, melainkan buah dari perjalanan sunyi yang berakar jauh di dapur masa kecilnya di Garut.

Dari Dapur Garut ke Riset Senyap

Lahir di Garut pada 24 Januari 1966, darah kuliner Dr. Riadi Darwis mengalir dari ekosistem rumah makan milik kakek dan neneknya. Di sanalah, indra perasanya terasah bukan melalui teori, melainkan melalui sentuhan langsung dengan bahan-bahan alam. Ia terlibat penuh—dari memilah bahan, menghaluskan bumbu, hingga memahami bagaimana api bekerja di atas tungku.

Sambil mengenang masa kecilnya yang dipenuhi aroma bumbu tradisional, ia mengungkapkan bahwa ketertarikannya menggeluti dunia gastronomi kemungkinan besar berawal dari kedekatannya dengan dunia masakan sejak dini.

Pengalaman praktis ini menjadi pondasi bagi apa yang kemudian ia sebut sebagai “riset senyap”. Selama 35 tahun, Dr. Riadi Darwis melakukan perjalanan dan riset mandiri yang tidak banyak diketahui publik.

Sambil menyalurkan hobi bepergiannya, ia secara konsisten mencatat setiap jenis makanan, teknik mengolah, hingga istilah-istilah lokal yang ia temui. Kredibilitas risetnya tidak hanya dibangun di atas tumpukan buku, tetapi diuji melalui observasi lapangan yang tekun dan personal. Kematangan dari riset mandiri ini kemudian menemukan panggung profesionalnya ketika ia melangkah ke selasar akademis di Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung.

Membawa Kuliner Tradisional ke Ruang Kelas

Sebagai pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di lingkungan vokasi pariwisata, Dr. Riadi Darwis merasakan adanya ketimpangan identitas yang nyata. Di koridor kampus yang seringkali lebih riuh dengan teknik memasak ala Eropa atau tren kuliner Asia Timur, suara kearifan lokal Sunda justru terdengar sayup. Mereka lebih fasih dengan terminologi asing daripada memahami kekayaan hayati yang tumbuh di halaman rumah mereka sendiri.

Keresahan inilah yang memicu urgensi untuk mengangkat kuliner tradisional Sunda ke tataran ilmiah. Dr. Riadi Darwis menyadari bahwa tanpa landasan riset yang kuat, makanan lokal akan selamanya dianggap inferior.

Ia pun mulai melakukan dekonstruksi terhadap dominasi cita rasa global di kampus dengan menyodorkan bukti-bukti kebesaran kuliner Sunda melalui naskah Sunda kuno. Baginya, gastronomi tradisional adalah ilmu pengetahuan yang luhur dan memiliki struktur yang kompleks, yang jika dipelajari secara utuh, mampu memberikan harga diri bagi bangsa di mata dunia.

Hasil dari pengembaraan intelektual Dr. Riadi Darwis termanifestasi dalam rangkaian buku serial gastronomi tradisional Sunda yang boleh dibilanng merupakan "ensiklopedia sejarah rasa”. Buku-bukunya mengajak pembaca menembus lorong waktu, menyigi kosa kata yang terukir dalam prasasti klasik.

Berikut adalah rincian dari tiga buku Serial Gastronomi Tradisional Sunda karya Dr. Riadi Darwis:

Judul Buku

Tahun Terbit

Jumlah Halaman

Fokus Riset Utama

Khazanah Kuliner Keraton Kesultanan Cirebon

2019

554

Dokumentasi kuliner etnik dan tradisi keraton berbasis manuskrip kuno.

Khazanah Kuliner Kabuyutan Galuh Klasik

2020

656

Eksplorasi kuliner masa klasik dengan fokus wilayah Galuh.

Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték (Jilid 1 & 2)

2022

1.070

Data komprehensif mengenai vegetasi lalab, rujak, sambal, dan tékték dalam prasasti.

Buku-buku tebal ini bukan sekadar kumpulan resep, melainkan rujukan primer yang membuktikan bahwa leluhur Sunda telah memiliki tradisi literasi kuliner yang sangat baik sejak abad ke-9 dan ke-10 Masehi. Dr. Riadi Darwis berhasil memindahkan data dari relief dan naskah kuno ke dalam literatur modern yang relevan bagi industri pariwisata masa kini.

Kekuatan utama dari karya Dr. Riadi Darwis terletak pada kuantifikasi data yang mencengangkan. Dr. Riadi Darwis berhasil memetakan biodiversitas Tatar Sunda yang kemudian didistilasi menjadi temuan-temuan empiris:

·         718 Jenis Tanaman Lalab. Sebuah database yang membuktikan pengetahuan botani masyarakat Sunda yang sangat luas.

·         368 Jenis Rujak dan 54 Varian Rujak-rujakan. Menggambarkan kompleksitas pengolahan buah dan sayur.

·         98 Jenis Sambal. Menunjukkan evolusi rasa yang dinamis dan tak terhingga.

·         Khazanah Tékték. Mendokumentasikan tradisi kuliner spesifik yang seringkali terlupakan dalam narasi besar kuliner nasional.

Temuan ini memiliki implikasi besar bagi ekonomi kreatif. 718 jenis tanaman lalab tersebut dapat menjadi inspirasi tak terbatas bagi corak batik baru atau basis pengembangan wisata gastronomi sejarah. Di sisi lain, data ini merupakan modal vital bagi ketahanan pangan nasional. Dr. Riadi Darwis menunjukkan bahwa biodiversitas lokal Jawa Barat dan Banten adalah benteng pertahanan pangan yang membuat masyarakat tidak akan pernah kekurangan jika dikelola dengan bijak.

Anugerah Kebudayaan 2025

Konsistensi Dr. Riadi Darwis dalam menjaga marwah kuliner Sunda akhirnya membuahkan pengakuan. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Bandung menganugerahkan Anugerah Kebudayaan Kota Bandung dalam kategori Pelestari kepadanya. Penghargaan yang diserahkan langsung oleh Walikota Bandung, M. Farhan, ini menjadi simbol penghormatan atas dedikasi tanpa henti seorang akademisi yang berjuang di jalur literasi kuliner.

Penghargaan ini memicu semangat baru bagi generasi muda dan pengusaha kuliner untuk mengadopsi resep-resep tradisional dalam bisnis mereka. Dr. Riadi memandang ini sebagai awal dari edukasi gastronomi yang lebih luas. Namun, tugasnya belum usai; masih ada 21 kota dan kabupaten di wilayah Jawa Barat dan Banten yang menanti untuk diriset secara mendalam agar mozaik gastronomi Sunda menjadi utuh.

Boleh dikata, Dr. Riadi Darwis adalah sosok "Sang Gastronom dari Tatar Sunda" yang telah berhasil menjembatani masa lalu yang niskala dengan realitas masa kini melalui pena dan ketekunan riset. Ia mengingatkan kita bahwa di dalam sehelai daun lalab atau sesendok sambal, terdapat sejarah panjang peradaban yang harus dijaga martabatnya.

Warisan yang ditinggalkan oleh Dr. Riadi adalah sebuah pesan bagi kita semua bahwa mencintai tanah air dapat dimulai dari meja makan. Sebagaimana filosofi yang selalu ia gaungkan: "Memahami gastronomi itu sama artinya dengan melestarikan budaya untuk generasi mendatang." Melalui rasa, marwah Tatar Sunda akan tetap abadi, melintasi zaman dan terus menghidupi jiwa generasi-generasi yang akan datang. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)