Belajar Konteks Sosial, Budaya, dan Ekonomi dari Sepiring Nasi Goreng

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Nasi Goreng Sapi Cabe Hijau Solaria (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Nasi Goreng Sapi Cabe Hijau Solaria (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Saya selalu kagum dengan setiap kuliner yang hadir di Indonesia. Selain rasanya kaya bumbu dan rempah, kuliner yang hadir bukan sekedar makanan tapi selalu memiliki cerita menarik yang bisa dieksplorasi.

Salah satunya Nasi goreng, masakan yang mengingatkan saya pada kenangan di masa kecil bersama ibu ketika ikut memasak di dapur. Dulu di keluarga saya nasi goreng adalah menu langka yang hadir dalam keluarga.

Maka dari itu saya selalu berharap nasi yang dimasak ibu untuk menu makan sehari-hari selalu tersisa. Bahkan saya seringkali menunda salah satu jam makan agar nasi tidak habis di hari tersebut.

Ketika akhirnya ada nasi yang tersisa bahagianya sungguh tak terkira. Zaman itu Ibu saya memasak nasi bukan menggunakan rice cooker, tapi langsung menggunakan panci.

Saya sering melihat ibu memasak nasi. Mulai dari mencuci beras menggunakan tempat yang terbuat dari anyaman bambu, membuat beras tidak terbuang percuma karena air akan langsung keluar dari sela-sela anyaman bambu tersebut.

Setelah itu ibu memasukan nasi ke panci dan menambahkan air sampai satu ruas jari telunjuk berada di atas permukaan beras. Selanjutnya nasi di masak dalam api sedang sambil sesekali diaduk.

Selanjutnya nasi setengah tanak dimasukan ke dalam panci kukus yang memiliki saringan. air dibawahnya. Nasi setengah tanak dimasukan kedalam puring dan diletakan dibagian atas saringan air. Biasanya waktu yang dibutuhkan adalah sekitar 15-30 menit tergantung dari api dan jenis beras.

Nasi yang dimasak dengan cara tradisional memang memiliki ketahanan yang lebih lama dibandingkan dengan rice cooker. Saat ada nasi tersisa, biasanya anggota keluarga yang lain enggan memakannya karena teksturnya sudah sedikit lebih kering.

Namun saya justru menyambutnya dengan penuh suka cita. Dalam membuat nasi goreng ibu punya cara yang berbeda untuk memasaknya.

Ibu membuat dua bumbu yaitu halus dan kasar. Bumbu halus terdiri dari bawang putih, cabai dan kencur. Sementara bumbu kasar terdiri dari irisan bawang merah, daun bawang dan potongan cabai rawit. Bersama telur urak-arik, nasi berubah menjadi rasa yang sangat unik. Menu yang bisa saya lahap berkali-kali sampai tak tersisa.

Siapa sangka di balik kelezatannya, nasi goreng menyimpan sejarah dan cerita menarik yang patut untuk dipelajari. Terdapat beberapa konteks sosial, budaya dan ekonomi yang menjadi latar belakangnya. Nasi goreng yang berasal dari adaptasi budaya Tionghoa menyebar dan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.

Nasi Goreng sebagai Konteks Sosial

  1. Simbol Kesederhanaan, nasi goreng adalah menu sederhana yang tidak sulit untuk diformulasikan. Nasi goreng juga bisa dibuat dari bahan-bahan sederhana yang tersedia di dapur. Mengajari kita bagaimana cara menghargai dari hal-hal kecil yang berada di lingkungan sekitar. Kata sederhana pun tidak selamanya memiliki konotasi yang buruk, karena kadang dari kesederhanaan bisa menghasilkan cita rasa yang menggugah selera.

  2. Simbol Kebersamaan, nasi goreng seringkali menjadi andalan bagi seseorang ketika memilih makan di luar rumah. Nasi goreng juga seringkali di santap di rumah bersama keluarga baik ketika sarapan atau makan malam. Nasi goreng menjadi perekat komunikasi keluarga dalam meja makan serta menciptakan suasana yang hangat dan akrab.

  3. Simbol pemerataan status sosial, nasi goreng merupakan kuliner yang bisa ditemukan dari penjual kaki lima hingga restoran bintang lima. Siapa saja bisa merasakan rasanya tanpa memandang status sosial.

  4. Identitas Budaya, meski nasi goreng merupakan kuliner yang di adaptasi dari kebudayaan Tionghoa tapi bangsa Indonesia bisa memodifikasi versi negaranya sendiri sebagai bagian dari ciri khas. Nasi goreng menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia karena berhasil menyatukan berbagai bahan dan bumbu khas Indonesia.

Nasi Goreng sebagai Konteks Budaya

  1. Simbol adaptasi kuliner, Indonesia yang kaya akan rempah dan bahan-bahan masakan tentu bisa dengan mudah mengadaptasi dan mengkreasikan berbagai sajian kuliner dari beberapa budaya.

  2. Simbol dari makanan tradisional, nasi goreng menjadi makanan yang secara turun-temurun diwariskan kepada setiap generasi. Meski masakan tradisional tapi masih banyak diminati bahkan eksistensinya tidak pernah hilang ditelan perubahan zaman.

  3. Simbol Nostalgia, ini menjadi hal yang sangat dekat bagi saya karena memang nyata adanya nasi goreng menjadi bentuk nostalgia saya kembali ke masa anak-anak. Mengingatkan momen hangat bersama keluarga dan orang tersayang.

Nasi Goreng sebagai Konteks Ekonomi

  1. Peluang Usaha, sudah menjadi hal lumrah kalau disepanjang jalan pasti selalu tersaji nasi goreng yang berasal dari tangan para pedagang kaki lima. Tidak hanya itu nasi goreng juga bisa lahir dari restoran bintang lima menjadi bukti bahwa nasi goreng bisa menjadi ide sederhana yang melahirkan peluang usaha.

  2. Makanan dengan harga terjangkau, nasi goreng merupakan makanan yang bisa dinikmati hampir oleh seluruh kalangan masyarakat karena harganya yang merakyat.

  3. Pendorong Industri, siapa sangka makanan sederhana ini bisa ikut berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan industri terkait, seperti produsen bumbu dan rempah, bahan makanan dan peralatan masak.

Jadi siapa sangka, kan, di balik kelezatan nasi goreng ada sejarah dan cerita menarik yang patut dipelajari oleh kita. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)