IKN: Antara Kota Masa Depan dan Ruang Kemanusiaan

5 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Desain resmi IKN. (Sumber: ikn.go.id)
Desain resmi IKN. (Sumber: ikn.go.id)

Bandung selalu punya cara memandang masa depan. Di tengah hiruk pikuk pembangunan, kota ini seolah mengingatkan bahwa kemajuan bukan sekadar deru mesin dan deretan gedung menjulang, melainkan tentang bagaimana manusia tumbuh di dalamnya.

Ketika bangsa menatap Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai simbol masa depan Indonesia, Bandung menatapnya dengan kebijaksanaan, dari ruang belajar, kearifan lokal, dan laboratorium inovasi, serta kemanusiaan. Kota ini seolah berkata: “Bangunlah manusia sebelum kau membangun kotanya.”. Pada konteks ini, LAN RI harus hadir segala perangkatnya untuk merumuskan strategic management tata kelola pembangunan manusia.

Bandung pernah menjadi titik nyala sejarah. Di Jalan Asia-Afrika, se-antero dunia menyaksikan bagaimana kota kembang memantik semangat kemerdekaan bangsa-bangsa yang tertindas. Kini, tujuh puluh tahun lebih setelah Konferensi Asia-Afrika, Indonesia kembali menatap masa depan lewat pembangunan IKN di Kalimantan Timur.

Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025 tentang Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2025 disebutkan bahwa "perencanaan dan pembangunan kawasan, serta pemindahan ke Ibu Kota Nusantara dilaksanakan sebagai upaya mendukung terwujudnya Ibu Kota Nusantara menjadi ibu kota politik pada 2028". Namun bagi Bandung, semua itu bukan sekadar kisah pemindahan pusat pemerintahan, melainkan cermin perjalanan bangsa tentang bagaimana kita memahami makna kearifan di balik kemajuan menuju keseimbangan.

Pelajaran dari Bandung

Tanpa kearifan, kemajuan mudah berubah menjadi kerusakan. Bandung tahu rasanya pernah jadi kota sampah. Juga sungai Citarum, yang dulu menjadi nadi kehidupan, pernah tercatat sebagai salah satu sungai terkotor di dunia. Ruang hijaunya pun masih di bawah standar minimal, dan dalam penilaian UI GreenCityMetric, Bandung bahkan belum masuk daftar nominasi kota hijau di Indonesia.

Namun dari sana pula kota ini belajar. Dari gerakan Citarum Harum, taman-taman tematik, hingga kolaborasi warga menjaga lingkungan, kota ini tidak menyerah pada kesalahan. Kota ini belajar memperbaiki diri. Maka ketika Nusantara dijanjikan sebagai kota hijau, Bandung punya pesan lirih: “Jangan kejar skor hijau di atas kertas, kejarlah keseimbangan hidup antara manusia dan alamnya.”

Bandung menatap IKN dengan penuh harap dan tanya. Harap bahwa pembangunan itu akan membawa keseimbangan bagi negeri yang lama bertumpu di Pulau Jawa. Tapi juga Tanya, di tengah gegap gempita beton dan teknologi, adakah ruang bagi wajah-wajah manusia yang seharusnya menjadi pusat pembangunan? Sebab kota yang hebat bukan diukur dari tingginya menara, tetapi dari hangatnya relasi antar warganya.

Bandung tumbuh dari nilai sederhana: someah ka semah, dan silih asih, silih asah, silih asuh. Nilai-nilai ini mungkin terdengar klasik, tetapi justru itulah fondasi kota yang beradab. Di tengah keberagaman etnis dan budaya, nilai-nilai kebhinekaan harus menjelma menjadi cara hidup yang ramah, inklusif, dan penuh empati. IKN kelak akan membutuhkan jiwa serupa dengan local wisdom yang ada, apalagi ketika sudah terjadi mobilisasi masal ribuan pegawai, jutaan manusia dari berbagai suku, profesi, dengan semua latarbelakangnya. Mereka datang untuk hidup bersama, membangun rumah baru bagi Indonesia.

Kota Modern yang Tetap Manusiawi

Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Raka Miftah)
Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Raka Miftah)

Membangun kota sejatinya adalah membangun manusianya. Bandung tumbuh bukan karena gedung tinggi atau jalan lebar, melainkan karena warganya yang penuh daya cipta dan daya rasa. Di balik mural di dinding, komunitas kreatif, hingga taman-taman publik yang hidup, ada semangat warga yang percaya bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri.

Bandung juga menjadi laboratorium kemanusiaan, tempat anak muda belajar berbagi gagasan, tempat warga menjaga lingkungan dengan gotong royong, dan tempat pendidikan membentuk watak, bukan sekadar mencetak gelar. Di Bandung, teknologi hanyalah alat, sementara manusia tetap pusatnya. Sebab inovasi sejati lahir dari empati, dari keinginan untuk memperbaiki, bukan sekadar memperlihatkan kemajuan.

IKN tentu akan menjadi kota modern dan berteknologi tinggi. Namun agar kota itu hidup, butuh ekosistem manusia yang berpikir, berempati, dan berkolaborasi. Bandung sudah mencontohkan hal itu. Dari kampus di Dago hingga ruang kreatif di Braga, dari Bandung Command Center hingga komunitas data warga, semua tumbuh dari kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan komunitas.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat, Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memiliki peluang besar menjadi IKN teladan pembangunan kota hijau di Indonesia. Ke depan, keberhasilan IKN tidak hanya diukur dari indeks hijau seperti UI GreenCityMetric, tetapi dari sejauh mana warganya hidup selaras dengan alam.

Kota hijau yang sejati bukan yang tumbuh di tengah ketimpangan lingkungan, melainkan yang menumbuhkan lingkungannya bersama.

Kota modern sering kali terjebak pada citra efisiensi dan teknologi, tetapi miskin kehangatan sosial. Kota memang tampak indah, tapi terasa kaku. Tampak maju, tapi membuat manusia saling menjauh. Dengan demikian, OIKN perlu merancang pembangunan fisik yang juga membuka tangan lebar bagi siapa pun dan latar belakang apa pun. Kota yang baik bukan hanya ramah bagi lingkungan, tapi juga ramah bagi perbedaan. Inilah harapan besar untuk IKN menunjukkan bahwa kota modern tidak harus individualistis, tetapi bisa menjadi rumah bersama yang hidup, hangat, dan manusiawi.

IKN adalah kota bentukan yang akan berhadapan dengan kota yang tumbuh secara alamiah. Sinergi kebijakan antara pengembang IKN dan pemerintah daerah di sekitarnya menjadi kunci membentuk kota satelit yang berdaya saing dan saling menguatkan.

Pembangunan tidak cukup dengan menaruh “gula” di hinterland (daerah penyangga) kota sambil berharap terjadinya trickle-down effect.

Isu daerah penyangga memang menarik sekaligus sensitif, terutama dalam konteks kebijakan otonomi daerah. Namun sejatinya kota tak pernah hidup sendiri, dia tumbuh bersama lingkungannya. Karena itu, keberhasilan IKN akan sangat ditentukan oleh bagaimana IKN menumbuhkan kesejahteraan bagi wilayah-wilayah sekitarnya.

Pembangunan IKN seharusnya menjadi penggerak bagi wilayah sekitar, bukan sekadar pusat penyerap sumber daya. Infrastruktur, inovasi, dan pendidikan di IKN mesti terkoneksi dengan ekosistem daerah penyangga agar kemajuan tidak hanya berhenti di batas administratif, tetapi menjalar menjadi kesejahteraan kolektif.

Bandung pernah mengalami hal serupa, sebagai kota besar yang dikelilingi kota-kabupaten yang menopang kehidupan warganya. Tantangannya, bagaimana menjaga keseimbangan antara kemajuan dan keberlanjutan. Dari pengalaman itulah, Bandung memberi pelajaran bahwa kota besar tak boleh tumbuh dengan menutup mata terhadap daerah sekitarnya.

Bandung bukan kota sempurna, tapi kota yang berani belajar. Dan justru dari proses belajar itulah, kota ini bisa memberi inspirasi bagi Nusantara. Bahwa membangun kota tidak cukup dengan menara dan sistem pintar, tetapi dengan ekosistem yang melahirkan manusia pembelajar, pemimpin berintegritas, dan inovator berjiwa sosial, serta komunikasi publik yang mumpuni.

IKN memiliki kesempatan untuk menjadi perwujudan baru dari cita-cita itu. Kota yang tak hanya menampung pemerintahan, tetapi juga menumbuhkan peradaban. Kota yang ramah pada lingkungan, juga ramah pada manusia.

Bandung yang pernah menyalakan dunia lewat Konferensi Asia-Afrika kini bisa menyalakan kembali semangat kemanusiaan bagi masa depan Nusantara. Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat membangun, tetapi oleh siapa yang paling bijak menumbuhkan manusianya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)