Asyiknya Kemah Berjamaah 

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Muara Rahong Hills, glamping di tepi Sungai Pangalengan yang cocok untuk healing. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Muara Rahong Hills, glamping di tepi Sungai Pangalengan yang cocok untuk healing. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)

Saat asyik membaca buku Biografi Gus Dur karya Greg Barton, tiba-tiba Aa Akil, anak kedua yang tengah giat berlatih baris-berbaris dan bercakap lewat semapore, bertanya polos,

“Bah, kenapa setiap Pramuka harus upacara?”

Dengan santai kujawab, “Supados disiplin, mandiri, A!”

Bocah kelas 5 ini semakin penasaran, “Kalau Perjusa (Perkemahan Jumat-Sabtu) atau Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu) nggak ada ya?”

Sambil tersenyum, “Muhun atuh, aya kemping.”

Justru pikiranku melayang ke kampung halaman di Bungbulang, Garut Kidul yang terkenal dengan cerita mistik Halimun, Puncak Guha, Tanjakan Kapten, semakin terpesona dengan batu akik uhen, dan keindahan pancawarna yang tiada duanya.

Dahulu, saat masih kecil di Kampung Darussalam sangat terpaut dengan aktivitas agustusan yang sederhana tapi penuh makna, terutama pada saat berkemah di lapangan (Barukalili, Cihikeu, Bojong), mendirikan tenda di tengah sawah (Tegal Alun), melintasi jurit malam, susur lintas alam, jelajah kampung, dusun, dan menyalakan api unggun yang menghangatkan badan, jiwa raga.

Lagu Pramuka berkumandang tanpa henti yang terus memberikan energi nyala, semakin membara di tengah gelapnya malam.

Upacara pagi menjadi titik awal petualangan. Barisan rapi, bendera berkibar, dan Dasa Dharma dibacakan dengan lantang dan serentak. Bubaran upacara menjadi kesempatan yang ditunggu-tunggu, bisa bermain bebas, berjalan pulang sambil tertawa, bersuka ria dengan kawan-kawan, guru.

Suasana langit cerah dan jalan perkampungan yang berlubang, bebatuan, tanah merah yang belum tersentuh aspal menjadi semacam panggung kebebasan, kemerdekaan. Hore! Salam Pramuka!

Hari Pramuka ke-64: Kolaborasi untuk Membangun Ketahanan Bangsa (Sumber: pramuka.id | Foto: Fabio Yehezkiel Lasut)
Hari Pramuka ke-64: Kolaborasi untuk Membangun Ketahanan Bangsa (Sumber: pramuka.id | Foto: Fabio Yehezkiel Lasut)

Sekilas Gerakan Pramuka

Gerakan Pramuka mulai diperkenalkan secara resmi pada 14 Agustus 1961 yang merupakan organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan di Indonesia. Kata Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti Orang Muda yang Suka Berkarya. 

Gerakan Pramuka tingkat nasional dikelola langsung oleh Kwartir Nasional (Kwarnas). Saat ini jumlah satuan dalam Gerakan Pramuka yaitu, 1 Kwartir Nasional, 34 Kwartir Daerah, 514 Kwartir Cabang, 5.277 Kwartir Ranting, dan 239.877 Gugus Depan.

Untuk peringatan Hari Pramuka ke-64 Tahun 2025, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengusung tema "Kolaborasi untuk Membangun Ketahanan Bangsa” 

Tema ini secara tegas menyoroti dan menegaskan peran strategis Gerakan Pramuka dalam mendorong kolaborasi lintas sektor. Tujuannya untuk memperkuat fondasi ketahanan bangsa di berbagai dimensi, meliputi ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan. 

Dengan tema ini, Pramuka diharapkan terus mengukuhkan posisinya sebagai agen perubahan positif, pilar kekuatan bangsa, dan organisasi yang relevan serta adaptif sepanjang 64 tahun perjalanannya yang penuh dedikasi. Ini menjadi panggilan bagi seluruh elemen Gerakan Pramuka untuk bersinergi dan berkontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.(www.pramuka.or.id dan detikNews Selasa, 12 Agu 2025 19:03 WIB).

Wadah Strategis Bentuk Karakter

Ingat, Gerakan Pramuka bukan sekadar kegiatan seremonial (aktivitas luar ruang belaka), melainkan wadah strategis dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia. 

Melalui latihan baris-berbaris, penjelajahan, hingga simulasi tanggap darurat, anak-anak dan remaja ditempa untuk memiliki kedisiplinan, tanggung jawab, dan jiwa kepemimpinan yang kuat. 

Tak heran, bila banyak tokoh nasional yang mengakui masa-masa kepramukaan sebagai fondasi penting dalam perjalanan hidup mereka.

Salah satu nilai utama yang diajarkan Pramuka adalah kemandirian. Sejak usia dini, peserta diajak mengelola kebutuhan pribadi, bekerja sama dalam kelompok, serta menyelesaikan masalah secara mandiri. 

Dalam kemah, misalnya, mereka belajar memasak, mendirikan tenda, dan menjaga lingkungan aktivitas yang secara tidak langsung menanamkan kepercayaan diri dan kemampuan adaptasi terhadap berbagai situasi. 

Aktivitas ini tidak hanya mendekatkan anak-anak pada alam, justru mendekatkan pada realitas hidup yang menuntut daya juang tinggi. 

Walhasil, Pramuka menjadi ajang pelatihan kepemimpinan yang aplikatif. Pasalnya dalam struktur organisasi regu dan ambalan, para anggota diberi peran sebagai pemimpin kecil yang bertanggung jawab terhadap timnya. 

Mereka belajar mengambil keputusan, menyampaikan pendapat, dan mengarahkan teman-temannya menuju tujuan bersama. 

Tentunya model latihan ini merupakan simulasi nyata dari kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi, yang kelak menjadi bekal saat mereka terjun ke dunia profesional atau sosial.

Di era digital yang serba instan, kehadiran Pramuka mampu menyeimbangkan tumbuh kembang anak dan remaja agar tidak kehilangan esensi nilai-nilai luhur bangsa. 

Dengan berpramuka mendorong interaksi sosial yang sehat, memperkuat rasa cinta tanah air, membentuk karakter yang tahan banting di tengah berbagai tantangan zaman. Melalui program “Saka” (Satuan Karya) dapat memperkenalkan keterampilan khusus, mulai dari teknologi, kesehatan, hingga kebencanaan.

Model pendekatan pendidikan karakter yang menyenangkan dan terstruktur, Pramuka tetap relevan sebagai gerakan pembentuk generasi tangguh. Mendorong anak dan remaja bergabung dalam Gerakan Pramuka ini bukan hanya investasi masa depan pribadi mereka, justru menjadi modal bangsa dalam mencetak pemimpin berintegritas, visioner, dan peduli pada sesama. Jiwa kepemimpinan yang dibangun sejak dini menjadi harapan bagi Indonesia yang lebih kuat dan berkarakter. (RRI 30 Jul 2025 - 12:30).

Ilustrasi pramuka (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi pramuka (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pendidikan Kepramukaan dilaksanakan sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib pada pendidikan dasar dan menengah melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pendidikan.

Pramuka adalah warga negara Indonesia yang aktif dalam pendidikan kepramukaan serta mengamalkan Satya Pramuka dan Darma Pramuka. Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak, dan budi pekerti luhur (SK. Kwarnas No. 231 Tahun 2001). 

Pendidikan Kepramukaan adalah proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup, dan akhlak mulia Pramuka melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan. (Syukiat, 2020: 63-64) 

Malam Api Unggun Meriahkan Lomba Kreativitas Pramuka Penggalang dan Penegak (LKP3) Ke-4 2024 (Sumber: pramuka.id | Foto: Pusdatin Kwarnas)
Malam Api Unggun Meriahkan Lomba Kreativitas Pramuka Penggalang dan Penegak (LKP3) Ke-4 2024 (Sumber: pramuka.id | Foto: Pusdatin Kwarnas)

Ajang Menghidupkan Nilai Kebersamaan 

Pramuka (Praja Muda Karana) justru bisa menjadi wahana yang tepat untuk memperkuat pendidikan karakter bangsa sejak dini dalam menghadapi berbagai disrupsi pada era digital.

Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN Scout Association for Regional Cooperation (ASARC) Brata T Hardjosubroto menuturkan, gerakan pramuka memiliki tiga dasar utama yang dikedepankan, yakni tanggung jawab pada Tuhan Yang Maha Esa, tanggung jawab terhadap diri sendiri, dan tanggung jawab terhadap sesama. Dari tiga pondasi itu dijabarkan secara lebih praktis melalui trisatya dan dasa dharma.

Pramuka dilakukan untuk menyiapkan pribadi yang bisa bertanggung jawab pada diri sediri, masyarakat, dan Tuhan. Melalui pramuka, seseorang bisa lebih siap menghadapi hidup dengan baik, bahkan diharapkan dapat membangun bangsa dan menjadi pemimpin bangsa yang berkarakter.

Nilai-nilai yang ditanamkan pun disampaikan kepada anak melalui metode yang menyenangkan, seperti bermain, bernyanyi, bertualang, berkemah yang sarat dengan nilai pendidikan karakter. Pramuka yang identik dengan kelompok (regu) memberikan pelajaran bagi siswa untuk belajar memimpin dan memahami anggotanya dengan baik.

Sejak awal, seorang anak dalam berpramuka selalu masuk dalam suatu regu. Dalam regu ini, anak bisa berperan sebagai ketua ataupun anggota. Setiap inisiatif yang akan diambil harus disepakati oleh seluruh anggota regu. Kerjasama, gotong royong, dan saling berbela rasa selalu diterapkan dalam aktivitas regu. Praktik ini menjadi salah satu bentuk pelatihan yang akan bermanfaat dalam menjalani hidup bermasyarakat di masa depan.

Gerakan pramuka bisa dikemas sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga siswa bisa langsung mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pramuka tidak hanya belajar tali temali dan baris berbaris, namun dapat belajar mengolah limbah elektronik dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Kepramukaan bisa menjadi solusi dalam pembinaan karakter siswa. Apabila nilai-nilai dalam trisatya dan dasa dharma pramuka bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tentu memiliki akhlak dan karakter yang kuat.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengungkapkan, gerakan pramuka bertujuan membentuk pribadi seorang anak yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta menjunjung tinggi nilai-nilai  luhur bangsa. Anak dilatih agar memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun NKRI, mengamalkan Pancasila, sekaligus melestarikan lingkungan hidup.

Pegiat pramuka, Sylviana Murni, menegaskan di era globalisasi, kepramukaan sangat dibutuhkan untuk penanaman nilai-nilai kehidupan dan cinta Tanah Air. 

Meski demikian, mantan Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka DKI Jakarta mengakui, sebagian kalangan anak muda masih memiliki stigma kurang tepat terhadap pramuka. Pramuka dianggap kegiatan yang membosankan sehingga mereka mengikutinya hanya sekadar formalitas  ekstrakurikuler sekolah saja.

Untuk itu, tantangan saat ini bagaimana mencari metode yang tepat agar pramuka menjadi kegiatan yang kreatif dan inovatif, tetapi tak melepaskan nilai-nilai Dasa Dharma Pramuka itu sendiri. Seharusnya Pramuka bisa disandingkan dengan berbagai ajang internasional lain seperti Robotic Camp, Youth Leadership Camp for Climate Change, dan Startup Bootcamp. Jadi mereka tak hanya ikut pramuka karena kegiatan ekstrakurikuler wajib. (Kompas edisi 14 Agustus 2019)

Alhamdulillah akhir tahun bisa kumpul bareng keluarga di Bumi Perkemahan Ranca Cangkuang (Sumber: Instagram | Foto: @hayfa_alfian_adzril)
Alhamdulillah akhir tahun bisa kumpul bareng keluarga di Bumi Perkemahan Ranca Cangkuang (Sumber: Instagram | Foto: @hayfa_alfian_adzril)

Dalam rangka memperingati Hari Pramuka, para peserta perkemahan dari berbagai gugus depan berkumpul, berbaur tanpa sekat, dan menjalin keakraban. Di sinilah indahnya kebersamaan terasa begitu nyata. Tak ada perbedaan asal sekolah, daerah, tempat tinggal. Semua melebur menjadi satu keluarga besar Pramuka.

Api unggun malam itu menjadi saksi kemandirian yang telah ditempa sejak pagi. Mulai dari mendirikan tenda, memasak bersama, hingga mengikuti berbagai kegiatan lapangan, baris-berbaris, lintas alam. Setiap peserta belajar mengandalkan diri sekaligus menguatkan kerja sama dan gotong royong.

Nyala api tidak hanya menghangatkan tubuh, tetapi  menyuburkan hati yang rapuh. Lagu-lagu Pramuka, tepuk semangat, dan kisah inspiratif dari para pembina membuat suasana semakin meriah. Alam pedesaan yang asri dan udara pegunungan yang sejuk menambah kesan magis. Seolah-olah setiap percikan api membawa pesan persaudaraan dan semangat mencintai tanah air.

Hari Pramuka bukan sekadar peringatan. Melainkan pengalaman berharga yang selalu dikenang mulai dari belajar mandiri, menjaga persahabatan, sampai merasakan indahnya kebersamaan di bawah cahaya api unggun.

Ketika mencari referensi tentang asyiknya kemah bersama di tengah penatnya aktivitas, tiba-tiba Aa Akil bertanya,

"Bah, kapan kemping lagi seperti dulu di Bumi Perkemahan Ranca Cangkuang?"

Pertanyaan itu dilontarkan sambil menunjuk sebuah foto. Aa Akil dengan Abang Fian tengah berpose membentuk tanda cinta, perdamaian di dalam tenda, tepat di depannya ada Papa Ifa, Mama Nur bersama keluarga besar Abah Ilal.

Dengan demikian, berkemah di saat Hari Pramuka (penghujung akhir pekan, pergantian tahun) bulan sekadar perayaan menghilangkan kejenuhan, gaya hidup, melainkan pertemuan hati yang hangat di tengah alam yang dingin, terasa lebih intim, dekat, syarat makna. Agar terus mensyukuri waktu yang telah dilalui dan menyiapkan langkah yang lebih baik di masa depan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)