Asyiknya Kemah Berjamaah 

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Muara Rahong Hills, glamping di tepi Sungai Pangalengan yang cocok untuk healing. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Muara Rahong Hills, glamping di tepi Sungai Pangalengan yang cocok untuk healing. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)

Saat asyik membaca buku Biografi Gus Dur karya Greg Barton, tiba-tiba Aa Akil, anak kedua yang tengah giat berlatih baris-berbaris dan bercakap lewat semapore, bertanya polos,

Bah, kenapa setiap Pramuka harus upacara?”

Dengan santai kujawab, “Supados disiplin, mandiri, A!”

Bocah kelas 5 ini semakin penasaran, “Kalau Perjusa (Perkemahan Jumat-Sabtu) atau Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu) nggak ada ya?”

Sambil tersenyum, “Muhun atuh, aya kemping.”

Justru pikiranku melayang ke kampung halaman di Bungbulang, Garut Kidul yang terkenal dengan cerita mistik Halimun, Puncak Guha, Tanjakan Kapten, semakin terpesona dengan batu akik uhen, dan keindahan pancawarna yang tiada duanya.

Dahulu, saat masih kecil di Kampung Darussalam sangat terpaut dengan aktivitas agustusan yang sederhana tapi penuh makna, terutama pada saat berkemah di lapangan (Barukalili, Cihikeu, Bojong), mendirikan tenda di tengah sawah (Tegal Alun), melintasi jurit malam, susur lintas alam, jelajah kampung, dusun, dan menyalakan api unggun yang menghangatkan badan, jiwa raga.

Lagu Pramuka berkumandang tanpa henti yang terus memberikan energi nyala, semakin membara di tengah gelapnya malam.

Upacara pagi menjadi titik awal petualangan. Barisan rapi, bendera berkibar, dan Dasa Dharma dibacakan dengan lantang dan serentak. Bubaran upacara menjadi kesempatan yang ditunggu-tunggu, bisa bermain bebas, berjalan pulang sambil tertawa, bersuka ria dengan kawan-kawan, guru.

Suasana langit cerah dan jalan perkampungan yang berlubang, bebatuan, tanah merah yang belum tersentuh aspal menjadi semacam panggung kebebasan, kemerdekaan. Hore! Salam Pramuka!

Hari Pramuka ke-64: Kolaborasi untuk Membangun Ketahanan Bangsa (Sumber: pramuka.id | Foto: Fabio Yehezkiel Lasut)
Hari Pramuka ke-64: Kolaborasi untuk Membangun Ketahanan Bangsa (Sumber: pramuka.id | Foto: Fabio Yehezkiel Lasut)

Sekilas Gerakan Pramuka

Gerakan Pramuka mulai diperkenalkan secara resmi pada 14 Agustus 1961 yang merupakan organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan di Indonesia. Kata Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti Orang Muda yang Suka Berkarya. 

Gerakan Pramuka tingkat nasional dikelola langsung oleh Kwartir Nasional (Kwarnas). Saat ini jumlah satuan dalam Gerakan Pramuka yaitu, 1 Kwartir Nasional, 34 Kwartir Daerah, 514 Kwartir Cabang, 5.277 Kwartir Ranting, dan 239.877 Gugus Depan.

Untuk peringatan Hari Pramuka ke-64 Tahun 2025, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengusung tema "Kolaborasi untuk Membangun Ketahanan Bangsa” 

Tema ini secara tegas menyoroti dan menegaskan peran strategis Gerakan Pramuka dalam mendorong kolaborasi lintas sektor. Tujuannya untuk memperkuat fondasi ketahanan bangsa di berbagai dimensi, meliputi ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan. 

Dengan tema ini, Pramuka diharapkan terus mengukuhkan posisinya sebagai agen perubahan positif, pilar kekuatan bangsa, dan organisasi yang relevan serta adaptif sepanjang 64 tahun perjalanannya yang penuh dedikasi. Ini menjadi panggilan bagi seluruh elemen Gerakan Pramuka untuk bersinergi dan berkontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.(www.pramuka.or.id dan detikNews Selasa, 12 Agu 2025 19:03 WIB).

Wadah Strategis Bentuk Karakter

Ingat, Gerakan Pramuka bukan sekadar kegiatan seremonial (aktivitas luar ruang belaka), melainkan wadah strategis dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia. 

Melalui latihan baris-berbaris, penjelajahan, hingga simulasi tanggap darurat, anak-anak dan remaja ditempa untuk memiliki kedisiplinan, tanggung jawab, dan jiwa kepemimpinan yang kuat. 

Tak heran, bila banyak tokoh nasional yang mengakui masa-masa kepramukaan sebagai fondasi penting dalam perjalanan hidup mereka.

Salah satu nilai utama yang diajarkan Pramuka adalah kemandirian. Sejak usia dini, peserta diajak mengelola kebutuhan pribadi, bekerja sama dalam kelompok, serta menyelesaikan masalah secara mandiri. 

Dalam kemah, misalnya, mereka belajar memasak, mendirikan tenda, dan menjaga lingkungan aktivitas yang secara tidak langsung menanamkan kepercayaan diri dan kemampuan adaptasi terhadap berbagai situasi. 

Aktivitas ini tidak hanya mendekatkan anak-anak pada alam, justru mendekatkan pada realitas hidup yang menuntut daya juang tinggi. 

Walhasil, Pramuka menjadi ajang pelatihan kepemimpinan yang aplikatif. Pasalnya dalam struktur organisasi regu dan ambalan, para anggota diberi peran sebagai pemimpin kecil yang bertanggung jawab terhadap timnya. 

Mereka belajar mengambil keputusan, menyampaikan pendapat, dan mengarahkan teman-temannya menuju tujuan bersama. 

Tentunya model latihan ini merupakan simulasi nyata dari kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi, yang kelak menjadi bekal saat mereka terjun ke dunia profesional atau sosial.

Di era digital yang serba instan, kehadiran Pramuka mampu menyeimbangkan tumbuh kembang anak dan remaja agar tidak kehilangan esensi nilai-nilai luhur bangsa. 

Dengan berpramuka mendorong interaksi sosial yang sehat, memperkuat rasa cinta tanah air, membentuk karakter yang tahan banting di tengah berbagai tantangan zaman. Melalui program “Saka” (Satuan Karya) dapat memperkenalkan keterampilan khusus, mulai dari teknologi, kesehatan, hingga kebencanaan.

Model pendekatan pendidikan karakter yang menyenangkan dan terstruktur, Pramuka tetap relevan sebagai gerakan pembentuk generasi tangguh. Mendorong anak dan remaja bergabung dalam Gerakan Pramuka ini bukan hanya investasi masa depan pribadi mereka, justru menjadi modal bangsa dalam mencetak pemimpin berintegritas, visioner, dan peduli pada sesama. Jiwa kepemimpinan yang dibangun sejak dini menjadi harapan bagi Indonesia yang lebih kuat dan berkarakter. (RRI 30 Jul 2025 - 12:30).

Ilustrasi pramuka (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi pramuka (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pendidikan Kepramukaan dilaksanakan sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib pada pendidikan dasar dan menengah melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pendidikan.

Pramuka adalah warga negara Indonesia yang aktif dalam pendidikan kepramukaan serta mengamalkan Satya Pramuka dan Darma Pramuka. Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak, dan budi pekerti luhur (SK. Kwarnas No. 231 Tahun 2001). 

Pendidikan Kepramukaan adalah proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup, dan akhlak mulia Pramuka melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan. (Syukiat, 2020: 63-64) 

Malam Api Unggun Meriahkan Lomba Kreativitas Pramuka Penggalang dan Penegak (LKP3) Ke-4 2024 (Sumber: pramuka.id | Foto: Pusdatin Kwarnas)
Malam Api Unggun Meriahkan Lomba Kreativitas Pramuka Penggalang dan Penegak (LKP3) Ke-4 2024 (Sumber: pramuka.id | Foto: Pusdatin Kwarnas)

Ajang Menghidupkan Nilai Kebersamaan 

Pramuka (Praja Muda Karana) justru bisa menjadi wahana yang tepat untuk memperkuat pendidikan karakter bangsa sejak dini dalam menghadapi berbagai disrupsi pada era digital.

Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN Scout Association for Regional Cooperation (ASARC) Brata T Hardjosubroto menuturkan, gerakan pramuka memiliki tiga dasar utama yang dikedepankan, yakni tanggung jawab pada Tuhan Yang Maha Esa, tanggung jawab terhadap diri sendiri, dan tanggung jawab terhadap sesama. Dari tiga pondasi itu dijabarkan secara lebih praktis melalui trisatya dan dasa dharma.

Pramuka dilakukan untuk menyiapkan pribadi yang bisa bertanggung jawab pada diri sediri, masyarakat, dan Tuhan. Melalui pramuka, seseorang bisa lebih siap menghadapi hidup dengan baik, bahkan diharapkan dapat membangun bangsa dan menjadi pemimpin bangsa yang berkarakter.

Nilai-nilai yang ditanamkan pun disampaikan kepada anak melalui metode yang menyenangkan, seperti bermain, bernyanyi, bertualang, berkemah yang sarat dengan nilai pendidikan karakter. Pramuka yang identik dengan kelompok (regu) memberikan pelajaran bagi siswa untuk belajar memimpin dan memahami anggotanya dengan baik.

Sejak awal, seorang anak dalam berpramuka selalu masuk dalam suatu regu. Dalam regu ini, anak bisa berperan sebagai ketua ataupun anggota. Setiap inisiatif yang akan diambil harus disepakati oleh seluruh anggota regu. Kerjasama, gotong royong, dan saling berbela rasa selalu diterapkan dalam aktivitas regu. Praktik ini menjadi salah satu bentuk pelatihan yang akan bermanfaat dalam menjalani hidup bermasyarakat di masa depan.

Gerakan pramuka bisa dikemas sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga siswa bisa langsung mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pramuka tidak hanya belajar tali temali dan baris berbaris, namun dapat belajar mengolah limbah elektronik dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Kepramukaan bisa menjadi solusi dalam pembinaan karakter siswa. Apabila nilai-nilai dalam trisatya dan dasa dharma pramuka bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tentu memiliki akhlak dan karakter yang kuat.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengungkapkan, gerakan pramuka bertujuan membentuk pribadi seorang anak yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta menjunjung tinggi nilai-nilai  luhur bangsa. Anak dilatih agar memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun NKRI, mengamalkan Pancasila, sekaligus melestarikan lingkungan hidup.

Pegiat pramuka, Sylviana Murni, menegaskan di era globalisasi, kepramukaan sangat dibutuhkan untuk penanaman nilai-nilai kehidupan dan cinta Tanah Air. 

Meski demikian, mantan Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka DKI Jakarta mengakui, sebagian kalangan anak muda masih memiliki stigma kurang tepat terhadap pramuka. Pramuka dianggap kegiatan yang membosankan sehingga mereka mengikutinya hanya sekadar formalitas  ekstrakurikuler sekolah saja.

Untuk itu, tantangan saat ini bagaimana mencari metode yang tepat agar pramuka menjadi kegiatan yang kreatif dan inovatif, tetapi tak melepaskan nilai-nilai Dasa Dharma Pramuka itu sendiri. Seharusnya Pramuka bisa disandingkan dengan berbagai ajang internasional lain seperti Robotic Camp, Youth Leadership Camp for Climate Change, dan Startup Bootcamp. Jadi mereka tak hanya ikut pramuka karena kegiatan ekstrakurikuler wajib. (Kompas edisi 14 Agustus 2019)

Alhamdulillah akhir tahun bisa kumpul bareng keluarga di Bumi Perkemahan Ranca Cangkuang (Sumber: Instagram | Foto: @hayfa_alfian_adzril)
Alhamdulillah akhir tahun bisa kumpul bareng keluarga di Bumi Perkemahan Ranca Cangkuang (Sumber: Instagram | Foto: @hayfa_alfian_adzril)

Dalam rangka memperingati Hari Pramuka, para peserta perkemahan dari berbagai gugus depan berkumpul, berbaur tanpa sekat, dan menjalin keakraban. Di sinilah indahnya kebersamaan terasa begitu nyata. Tak ada perbedaan asal sekolah, daerah, tempat tinggal. Semua melebur menjadi satu keluarga besar Pramuka.

Api unggun malam itu menjadi saksi kemandirian yang telah ditempa sejak pagi. Mulai dari mendirikan tenda, memasak bersama, hingga mengikuti berbagai kegiatan lapangan, baris-berbaris, lintas alam. Setiap peserta belajar mengandalkan diri sekaligus menguatkan kerja sama dan gotong royong.

Nyala api tidak hanya menghangatkan tubuh, tetapi  menyuburkan hati yang rapuh. Lagu-lagu Pramuka, tepuk semangat, dan kisah inspiratif dari para pembina membuat suasana semakin meriah. Alam pedesaan yang asri dan udara pegunungan yang sejuk menambah kesan magis. Seolah-olah setiap percikan api membawa pesan persaudaraan dan semangat mencintai tanah air.

Hari Pramuka bukan sekadar peringatan. Melainkan pengalaman berharga yang selalu dikenang mulai dari belajar mandiri, menjaga persahabatan, sampai merasakan indahnya kebersamaan di bawah cahaya api unggun.

Ketika mencari referensi tentang asyiknya kemah bersama di tengah penatnya aktivitas, tiba-tiba Aa Akil bertanya,

"Bah, kapan kemping lagi seperti dulu di Bumi Perkemahan Ranca Cangkuang?"

Pertanyaan itu dilontarkan sambil menunjuk sebuah foto. Aa Akil dengan Abang Fian tengah berpose membentuk tanda cinta, perdamaian di dalam tenda, tepat di depannya ada Papa Ifa, Mama Nur bersama keluarga besar Abah Ilal.

Dengan demikian, berkemah di saat Hari Pramuka (penghujung akhir pekan, pergantian tahun) bulan sekadar perayaan menghilangkan kejenuhan, gaya hidup, melainkan pertemuan hati yang hangat di tengah alam yang dingin, terasa lebih intim, dekat, syarat makna. Agar terus mensyukuri waktu yang telah dilalui dan menyiapkan langkah yang lebih baik di masa depan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)