Kapan Terakhir Kali Seorang Anak Bilang: Aku Senang ke Sekolah?

4 menit baca
Taufik Hidayat
Ditulis oleh Taufik Hidayat diterbitkan
Opini ini menggambarkan bagaimana keadaan pendidikan kita yang masih belum mampu membangun nalar kritis anak didiknya. (Sumber: Pexels/Haidar Azmi)
Opini ini menggambarkan bagaimana keadaan pendidikan kita yang masih belum mampu membangun nalar kritis anak didiknya. (Sumber: Pexels/Haidar Azmi)

Bayangkan suatu hari, di mana anak-anak bangun pagi dengan mata berbinar, bukan karena takut terlambat upacara atau terlambat masuk kelas, tetapi karena penasaran: apa yang akan aku pelajari hari ini?

Bayangkan ruang kelas di mana guru bukan sekadar "tukang ceramah" di depan papan tulis, tetapi fasilitator yang memantik diskusi—tentang mengapa Siti Nurbaya menolak tunduk pada adat yang mengekangnya, bagaimana perspektif Marxis membaca kemiskinan di kampung-kampung, atau apa hubungan algoritma TikTok dengan kebebasan berekspresi.

Sayangnya, kenyataan kita justru berbanding terbalik. Sistem pendidikan kita masih terjebak dalam mentalitas kolonial: mencetak pekerja patuh, bukan pemikir merdeka. Kita mengajarkan Pancasila sebagai teks hafalan, bukan sebagai pisau analisis untuk mengupas ketidakadilan sosial.

Kita dulu mengagungkan nilai UN, kini nilai AKM, tapi abai pada pertanyaan mendasar: apa artinya semua angka itu kalau anak-anak tak mampu berpikir jernih tentang masalah nyata di sekitar mereka?

Kebebasan yang Ditakuti

Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa kebebasan bukanlah “keliaran”, melainkan ruang untuk tumbuh. Tetapi lihatlah kelas-kelas kita: murid dimarahi karena menjawab di luar “kunci jawaban”, siswa SMK dipaksa kerja rodi di pabrik atas nama “magang”, mahasiswa dibungkam karena dianggap “mengganggu ketertiban”.

Kita begitu takut pada kebebasan berpikir, seakan lupa bahwa semua terobosan besar dalam sejarah lahir dari keberanian melawan pakem.

Paulo Freire, seorang pemikir pendidikan asal Brasil, mengkritik hal ini lewat konsep pendidikan gaya bank. Dalam model itu, guru seperti kasir yang “menyetor” informasi ke kepala murid, seakan otak anak hanyalah brankas kosong.

Tak ada ruang dialog, tak ada proses bertanya balik. Bagi Freire, pendidikan sejati adalah dialogis: guru dan murid sama-sama belajar, bertukar pandangan, dan membentuk kesadaran kritis (critical consciousness). Tujuannya bukan sekadar “tahu”, tetapi sadar—agar bisa mengubah dunia di sekitarnya.

Banyak yang mengira pendidikan berkualitas tinggi harus penuh ujian, ranking, dan persaingan. Finlandia membuktikan sebaliknya. Di sana, ujian standar hampir dihapus; satu-satunya tes nasional dilakukan ketika siswa berusia 16 tahun. Tak ada ranking sekolah, tak ada lomba nilai antar-murid.

Guru dipercaya penuh untuk merancang kurikulum sesuai kebutuhan lokal—bahkan dua kelas di sekolah yang sama bisa punya pendekatan berbeda, asalkan tujuannya jelas: membuat anak mengerti, bukan sekadar mengingat.

Jam belajar pun lebih singkat daripada di Indonesia, memberi ruang untuk bermain, berorganisasi, atau sekadar menikmati waktu bersama keluarga.

Anehnya, justru dengan “longgar” seperti ini, Finlandia konsisten berada di peringkat atas dalam tes internasional seperti PISA. Mengapa? Karena mereka memahami bahwa pendidikan bukan maraton hafalan, melainkan proses menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis.

Tradisi Kebebasan Berpikir di Nusantara

Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A Padjajaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A Padjajaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Sebagian orang menolak gagasan kebebasan akademik dengan dalih “itu budaya Barat”. Padahal, sejarah Nusantara penuh dengan contoh tokoh yang berpikir merdeka jauh sebelum istilah liberal arts dikenal di kalangan kita.

Syekh Yusuf Al-Makassari, misalnya, bukan hanya ulama, tapi juga aktivis yang menentang tirani kolonial dan membela martabat manusia. Ia menulis tentang pentingnya akal sehat dan keberanian moral, meski itu berarti berseberangan dengan penguasa.

Kartini pun demikian. Dalam surat-suratnya, ia berani menggugat adat dan dogma yang membelenggu perempuan Jawa. Ia tak menolak budaya, tapi menolak kemapanan yang menghalangi kemajuan.

Baik Kartini maupun Syekh Yusuf mengajarkan kita bahwa keberanian berpikir kritis bukanlah impor dari Barat—ia lahir dari tanah ini, dari hati orang-orang yang menolak diam ketika ketidakadilan dibiarkan.

Kalau begitu, bagaimana memperbaiki keadaan? Kita harus berani mengganti budaya hafalan dengan budaya dialog. Biarkan siswa bertanya bahkan pada hal-hal yang dianggap “suci”—termasuk otoritas guru. Berikan kebebasan bagi guru untuk mengajar sesuai konteks muridnya, tanpa takut disalahkan karena tidak mengikuti “script” dari pusat.

Hilangkan hierarki kaku: kepala sekolah bukan raja kecil, tapi fasilitator proses belajar. Jadikan kelas sebagai forum membahas isu-isu yang benar-benar relevan—korupsi, kesenjangan, radikalisme—agar anak-anak terbiasa membedakan fakta, opini, dan propaganda.

Keberhasilan jangan lagi diukur dari angka di rapor, melainkan dari kemampuan bernalar, berempati, dan mengambil keputusan. Sebagaimana kata Einstein, “Jangan nilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon.”

Kita Tidak Butuh Revolusi

Indonesia tak perlu menjadi “Barat” untuk maju. Kita hanya perlu menghentikan kebiasaan membungkam potensi anak-anak dengan alasan takut pada kebebasan. Goenawan pernah bertanya:

"Kalau kita melihat manusia tumbuh bebas dan memilih, mampukah kita bersikap optimistis bahwa mereka pada akhirnya akan memilih dengan benar dan baik?"

Pendidikan sejati bukan soal mencetak generasi patuh, tapi generasi yang berani bertanya—bahkan pada generasi sebelum mereka. Bayangkan suatu hari nanti, seorang anak di pelosok Flores berkata:

"Sekolah adalah tempat di mana aku belajar bukan hanya untuk lulus ujian, tapi untuk memahami dunia—dan mengubahnya."

Itulah pendidikan yang memerdekakan. Dan itu mungkin terjadi, jika kita berani membuka pintunya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)