Hikayat Ledeng Bandung, Jejak Keselip Lidah di Kawasan Kota Pipa Kolonial

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Terminal Ledeng. (Sumber: Wikimedia)
Terminal Ledeng. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Kucuran air yang memancar dari bangunan tua di sudut Kota Bandung itu seperti sedang menirukan suara perut lapar: deras, jernih, dan tidak pernah benar-benar berhenti. Bangunannya bercat putih, agak pucat, seperti wisudawan yang baru sadar hari ini harus bayar UKT. Di fasadnya masih terpahat tulisan Tjibadak-1921. Catnya sudah mengelupas, namun angka itu tetap duduk anggun, seakan mengingatkan siapa pun yang lewat bahwa lebih dari seratus tahun lalu, di tempat inilah Bandung disuscikan oleh aliran air. Itu dulu. Sekarang, bangunan itu berdiri di Jalan Cidadap Girang dengan nama yang lebih akrab di kuping warga: Ledeng. Nama yang konon lahir dari leiding, bahasa Belanda untuk pipa.

Cerita tentang Ledeng tidak bisa dilepaskan dari ambisi kolonial yang bermula pada 1917. Waktu itu, Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum menunjuk Bandung sebagai calon ibu kota Hindia Belanda, menggantikan Batavia yang dianggap terlalu panas, terlalu lembap, dan terlalu banyak nyamuk. Dalam artikel yang dimuat De Preanger-bode tanggal 27 September 1922, dijelaskan bagaimana berbagai departemen pemerintah mulai dipindahkan ke Bandung pada dekade 1920an, termasuk Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Air. Di situ pula disebutkan bahwa penduduk Eropa di Bandung mencapai hampir 13 ribu jiwa.

Bandung yang berada di ketinggian 708 meter di atas permukaan laut, dianggap lebih menyehatkan. Namun mimpi menjadikannya pusat pemerintahan menghadapi satu masalah sederhana: air bersih. Pada awal abad ke-20, kota ini dipimpin Bertus Coops dan dihuni sekitar 75 ribu orang. Di kampung-kampung, wabah kolera sering muncul akibat air kotor. Tegalega, Citepus, Regol, Cikakak, Cibeunying, Cisondari, Ujungberung, dan Cipatat menjadi langganan penyakit.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

Walikota Coops kemudian memerintahkan Heetjans, insinyur yang namanya sulit dieja namun tampaknya cukup jago mengukur debit air, untuk mencari sumber yang bisa menghidupi kota. Mereka mulai dari Dago, tapi hanya keluar satu liter per detik. Itu lebih mirip keran kamar mandi daripada sumber air. Mereka bergerak ke Cidadap, ke Hegarmanah, ke Jalan Cikendi, dan menemukan 8 liter per detik. Belum cukup untuk kota yang sedang tumbuh. Mereka pun mengarah ke utara dan menemukan sumber air Tjibadak. Nama Tjibadak mudah ditebak: cai badag, air besar. Nama yang tidak berusaha menyembunyikan kehebatannya. Dari sanalah Gedong Cai Tjibadak mulai dirancang.

Konstruksi Gedong Cai Tjibadak dimulai September 1921. Bangunan berbentuk seperti benteng kecil dengan dinding tebal itu dibangun untuk menampung dan menyaring air dari beberapa sumber utama. Ada lebih dari seratus mata air di daerah tersebut—sebuah kemewahan ekologis yang kini tinggal kenangan bagi generasi yang tumbuh bersama beton. Air dialirkan melalui pipa-pipa besar yang ditanam sedalam 20 meter, melintasi Lembangweg (kini Jalan Raya Lembang). Pipa-pipa itu adalah asal-muasal nama “Ledeng,” adaptasi dari kata Belanda leiding, yang artinya saluran. Karena warga lokal sering keselip lidah, mereka mengubah bunyi ei menjadi e. Lahirlah “Ledeng.”

Gedong Cai Tjibadak, menurut catatan De Preanger-bode edisi 29 Desember 1921, mampu mengalirkan 50 liter air per detik. Angka itu setara dengan 80% kebutuhan air bersih Bandung pada masa itu. Sumber airnya berasal dari Cihideung atau Sukawana, di kaki Gunung Tangkuban Parahu. Dari situ, air dialirkan melalui pipa baja yang ditanam sedalam 20 meter dan melintasi jurang sepanjang 900 meter.

Gedong Cai Tjibadak di Ledeng, Bandung, saat diresmikan pada 1921. (Sumber: KITLV)
Gedong Cai Tjibadak di Ledeng, Bandung, saat diresmikan pada 1921. (Sumber: KITLV)

Terdapat satu tokoh lokal yang namanya tidak tercatat dalam arsip Belanda namun hidup di cerita masyarakat: Ki Mang Abay. Ia didapuk untuk memimpin penggalian tanah. Pekerjaan penggalian dikerjakan warga berdasarkan perencanaan insinyur Belanda. Air dari Tjibadak tidak hanya dialirkan ke rumah-rumah, tapi juga mengairi ladang dan kebun. Airnya begitu jernih, bisa diminum langsung dari keran. Pada masa itu, Bandung boleh bangga. Tidak banyak kota di dunia yang bisa pamer memiliki air perpipaan yang layak minum di tahun 1920an.

Dari rentang 1911 hingga 1930an, pemerintah kota menjalankan program pembangunan infrastruktur air bersih berbasis sains. Sumur artesis, jaringan waterleiding, waduk, hingga fasilitas publik dibangun. Pada 1924, layanan air mulai menjadi sumber pendapatan kota. Namun seperti kota kolonial lain, layanan premium hanya diberikan kepada warga Eropa. Pribumi di kampung-kampung mengandalkan sumur umum. Kolonialisme tidak pernah benar-benar adil, bahkan dalam hal air.

Baca Juga: Sejarah Padalarang dari Gua Pawon ke Rel Kolonial, hingga Industrialisasi dan Tambang Zaman Kiwari

Ledeng juga punya babak heroik yang jarang diceritakan. Ketika perang kemerdekaan pecah, kawasan yang damai ini berubah menjadi titik strategis. Para pejuang tahu bahwa siapa yang menguasai air Tjibadak, bisa menguasai Bandung. Tiga laskar ditugaskan menjaga akses berbeda: Sersan Bajuri, Sersan Sodik, dan Sersan Surip. Mereka menutup aliran air menuju kantor pemerintahan Belanda di pusat kota. Dalam catatan lokal, menjelang Bandung Lautan Api, aliran air Tjibadak pernah diracun untuk menghambat pasukan kolonial. Langkah nekat itu menggambarkan betapa vitalnya air ini.

Di sekitar kawasan Tjibadak pernah berdiri kamp pejuang dalam radius 500 meter. Pertempuran besar pecah di depan gerbang yang kini menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Saat itu berdiri sebuah penjara panjang yang kini menjadi Hotel Ponty. Dalam pertempuran 19 Desember 1945, pasukan TKR Bandung Utara bentrok dengan pasukan Inggris atau Gurkha di sekitar Villa Isola. Letnan Hamid gugur bersama Sersan Bajuri dan Sersan Surip. Sebagai penghormatan, tiga jalan di Bandung kini memakai nama mereka: Jalan Sersan Bajuri, Jalan Sersan Surip, dan Jalan Sersan Sodik.

Setelah kemerdekaan benar-benar pulih, Gedong Cai Tjibadak dikelola PDAM Tirta Wening sejak 1977. Namun waktu tidak selalu ramah. Debit air kini hanya 19 liter per detik dari kapasitas 50 liter per detik. Pembangunan masif menggerus resapan. Sumber air yang dulu bisa menghidupi 80% Bandung kini hanya melayani sekitar 800 pelanggan di Cipaku dan Ciumbuleuit. Kontras yang menyedihkan namun tidak mengejutkan. Kota yang tumbuh terlalu cepat biasanya kehilangan mata airnya lebih cepat.

Suasana kawasan Cipaku, Ledeng. (Sumber: Wikimedia)
Suasana kawasan Cipaku, Ledeng. (Sumber: Wikimedia)

Ledeng sendiri berubah drastis. Dari kampung air menjadi kawasan padat. Terminal Ledeng menjadi simbol baru. Lalu lintas Lembang–Subang berpusat di sana. Gedong Cai Tjibadak kini tersembunyi di antara rumah-rumah. Banyak warga yang tidak pernah tahu bahwa air yang mereka gunakan berasal dari bangunan kecil yang terus berjuang mempertahankan alirannya.

Baca Juga: Sejarah Vila Isola Bandung, Istana Kolonial Basis Pasukan Sekutu hingga jadi Gedung Rektorat UPI

Tapi masih ada secercah harapan. Komunitas Cai dan berbagai kelompok lokal aktif merawat kawasan ini. Mereka mengadakan susur sungai, edukasi sejarah, serta kampanye pelestarian. Pemerintah Kota Bandung punya rencana menjadikan area Tjibadak sebagai ruang publik dan destinasi wisata sejarah.

Bangunan Gedong Cai kini menjadi aset PDAM. Dindingnya kusam, pagar besi menutupinya, namun air tetap mengalir perlahan. Pohon bambu dan aren tumbuh di sekitarnya, menjadi tanda kehadiran mata air. Tulisan Tjibadak-1921 masih terpahat di plafon, seperti memoar yang menolak dilupakan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)