Muak, Muda, dan Miskin di Bandung

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Di pemukiman sepanjang jalur rel kereta api, Jalan Jembatan Opat menembus Jalan Asih Utara, di Jalan Maleber Utara, kandang burung merpati, warung kecil, dan jemuran pakaian tak kenal siang dan malam. Di daerah padat penduduk Kiaracondong dan Babakan Ciparay, mereka yang muda berkeliaran di antara magrib menjelang isya.

Perasaan ini kadang jauh dan dekat sekaligus. Ia seketika melempar posisiku sebagai pendatang baru yang tidak bisa lancang masuk ke dunia orang begitu saja. Tapi ia juga bisa berbalik arah, tiba-tiba mendekap dan menghisapku sekencang mungkin sebagai sesama orang muda nan kecil yang hidup di pinggiran. Aku dan mereka terus berdialog lewat tatapan mata yang tajam di bawah langit Bandung.

Warung kopi yang sederhana di Gegerkalong menjual obrolan sambil lalu dan tawa. Asap rokok bergulat dengan jaringan kuota lokal, bekal kita mabar. Mataku seperti lensa kamera yang lihai tarik ulur otomatis, menyorot lanskap luar dalam, mereka dan diri sendiri. Kebebasan dan tuntutan sosial terekam saling berkelindan.

Tongkrongan alakadarnya, meski kadang jauh dari buku-buku tebal, tetap kerap menebarkan kebijaksanaan. Bahasa sehari-hari seperti “nu penting teu ngarugikeun batur” atau “nya geus, hirup-hirup manéhna ieu” berubah jadi semacam quotes ringan yang menjaga dan menghormati martabat orang lain.

Kumpulan orang muda di pinggiran nyatanya bisa merangkul siapa saja yang datang. Entah dia bertato, tukang cleaning service, marbot masjid, atau bahkan pengangguran, selalu ada petakan keramik dingin, karpet bolong, dan gelas kopi sachet yang bisa dibagi.

Nilai-nilai kemanusiaan dikunyah lewat lakon kecil keseharian, “ka batur kudu jiga ka diri sorangan”. Etika ini jadi dasar utang-piutang di circle terkecil, jadi pengaturan soal volume suara speaker di gang sempit, dan jadi norma setempat soal parkir motor di teras tetangga. Inilah patokan dasar menjadi manusia.

Menjadi orang biasa yang apa adanya memang kadang monoton. Sehari-hari kerja, seminggu sekali rebahan, sebulan sekali gajian. Tapi di sela-sela waktu itu kita bisa dapat keberuntungan yang sensasinya luar biasa, misal menemukan uang 20 ribu di saku celana sendiri.

Begitu juga tanggal tua yang menjengkelkan bisa berubah jadi penantian, sebab ada jadwal tanding Persib. Menyelingi kebuntuan, COD di Tegallega atau Bundaran Cibiru jadi andalan, charger hp, spare part motor, dan sepatu secondhand.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 4 Desember 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 4 Desember 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Kebanyakan mungkin lebih suka menilai orang muda itu cuek atau bahkan malas. Tapi kali ini aku mau membantahnya, bahwa sejujurnya ada rasa minder yang selalu menyesakkan dada Gen Z lulusan sekolah menengah. Hidup boleh saja di Bandung, tapi rasa kalah sudah tiba hampir menyaingi mereka yang punya garis start lebih depan. Bandung sudah terlalu berlari cepat dan jauh meninggalkan ijazah kita. 

Aku dan mereka kini berdiri pada titik temu yang sama. Perantau dan domisili asli yang pinggiran ini beranda-andai bisa kuliah, mungkin akan punya bonus empat tahun buat main-main sambil merancang peluang. Tapi nyatanya kita hanya bisa membonceng mahasiswa sebaya, mengantarkannya ke pintu gerbang masa depan yang lebih terjamin.

Dari mimpi soal kampus datanglah kecamuk moral. Pendidikan tinggi dianggap membangun peradaban, sementara kita kadung dibilang punya selera adab yang rendah. Lebih-lebih kenyataan hidup jauh dari wewarah agama. Kajian-kajian yang terkenal terlalu elit, membuat kita takut dihakimi atas nama moral publik. Diri merasa tidak layak terikat akrab dengan leci Pasteur dan jamu murahan.

Dan di situlah paradoks kesenjangan makin tampak kentara. Padahal bebasku terasa sederhana, cuma ingin mandiri secara keuangan, biar enggak selalu jadi target korban penertiban. Nongkrong di pinggir jalan rasanya muak, selalu dicurigai seakan-akan kriminal, apalagi kalau kebetulan ada patroli lewat. Rasanya kayak salah hanya karena miskin, karena enggak punya pilihan lain selain berlama-lama di emperan, trotoar, atau parkiran toko orang.

Coba kalau punya duit, mungkin bisa pindah main ke kafe, karaoke, kelab, tempat billiard, atau hotel murah yang worth it. Semua tempat hiburan yang dianggap wajar karena dibungkus modal dan status. Sama seperti para pelancong kaya raya yang bebas menikmati hiburan di kota Bandung tanpa takut disangka macam-macam. Tapi ya sudahlah, aku dan teman-teman senasib belum mampu membelinya.

Baca Juga: Representasi Kemiskinan di Indonesia, Bukan Soal Angka tapi Realitas yang Ada

Pada akhirnya, Bandung yang katanya ramah buat orang muda sebetulnya hanya menerima mereka yang lebih dari berkecukupan. Kehidupan di Bandung selalu menuntut cara bertahan yang tidak mudah. Ada gejolak batin yang sulit terungkapkan, ada kesenjangan pelik yang terus menganga, ada moral publik yang siap menghakimi kita kapan saja.

Tapi di balik semua ketakutan itu, ada juga kekuatan kecil yang terus mengalir di antara warga pinggiran. Di sinilah solidaritas tongkrongan dan etika keseharian dihidup-hidupi. Aku belajar bahwa menjadi manusia Bandung adalah tentang menjaga martabat di tengah keterbatasan, meski tafsirnya selalu menyalahi ulah dan keberadaan orang miskin.

 Bandung yang megah mungkin bukan benar-benar milik kita. Tak apa, kita akan tetap setia menjadi pemanis darinya meski hanya dari pinggiran, sambil menjaga tawa dan mimpi sederhana. Mari kita lanjut bekerja. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!