Julukan Parijs van Java Bandung Diprotes Sejak Zaman Baheula

4 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Jalan Braga, salah satu pusat keramaian yang lahir dari kreativitas warga Bandung zaman kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)
Jalan Braga, salah satu pusat keramaian yang lahir dari kreativitas warga Bandung zaman kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Di masa silam, Bandung sempat dipromosikan bak Paris-nya Hindia Belanda. Padahal, jangankan Menara Eiffel, air mancur pun belum tentu ada. Tapi toh, julukan Parijs van Java tetap melekat seperti lem alteco di iklan TV. Dari mana sebenarnya asal julukan yang agak jumawa ini?

Tepat tanggal 9 April 1938, sebuah surat masuk ke redaksi koran Sipatahoenan. Penulisnya anonim, hanya disebut sebagai "kiriman". Isinya bernada protes. Menurut si penulis, julukan Parijs van Java itu ngaco. "Julukan itu datang dari reklame seorang pengusaha bioskop yang pengin laku dagangannya,” tulis si pemrotes dalam surat yang diberi judul Lain Parijs van Java, tapi Bandoeng Anjar atawa Nieuw-Bandoeng.

Kok bisa ngaco? Alasannya cukup masuk akal, meski agak sinis. Si pemrotes bilang, "Dari Jalan Merdeka sampai Tegalega, dari Cikudapateuh sampai Andir, kebun bambu dan sawah masih dengan mudah ditemukan." Artinya, Bandung tahun 1911 belum punya tampang kota, apalagi mirip Paris. Belum ada Louis Vuitton, belum ada orang jalan-jalan sambil pakai trench coat.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Lebih lanjut, ia nyinyir, "Pembuat reklamenya jelas-jelas belum pernah bepergian ke Paris. Belum pernah ke Paris tapi kok bisa-bisanya menyamakan Bandung dengan Paris. Sama di sebelah mananya?" Ujung-ujungnya, si pemrotes menyimpulkan, “iklan dari orang yang bodoh disambut oleh orang yang juga masih bodoh.”

Dalam surat yang sama, si pemrotes menuding bahwa media massa ikut bertanggung jawab menyebarkan julukan ini. “Julukan Parijs van Java dipopulerkan oleh Medan Prijaji, koran yang dipimpin RM Tirtoadisoerjo,” tulisnya. Nama-nama tenar disebut: Anggawinata, RB Tjitro, M. Wignjodormodjo, dan Mas Marco Kartodikromo. Tapi semua, katanya, "sama saja, pada belum pernah ke Paris..."

Protes julukan bandung Parijs van Java di koran Sipatahoenan.
Protes julukan bandung Parijs van Java di koran Sipatahoenan.

Dalam dunia jurnalistik masa itu, tampaknya tidak ada verifikasi lapangan soal julukan. Yang penting enak di telinga dan laku dibaca. Bahkan katanya, “dalam buku yang dikarang oleh orang Cirebon, julukan itu juga direklamekan.” Mungkin maksudnya: kalau sudah dicetak dan diedarkan, ya pasti dianggap benar.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Kinderkerkhof sampai Parijs van Java

Julukan itu seperti parfum KW: baunya sama-sama wangi, tapi isinya siapa yang tahu. Toh publik menikmatinya juga.

Walaupun sinis, tulisan ini menyiratkan satu hal: pada zaman itu, memberi julukan pada kota adalah tren yang lumrah. Bukan cuma Bandung yang dapat julukan bergaya Eropa. Garut dan Pacet misalnya, disebut Swiss van Java, sementara Pangandaran dijuluki Napoli van Java. Seolah-olah, makin barat bunyinya, makin kerenlah kesannya.

“Pokoknya keren,” begitu kira-kira logika saat itu. Kalau zaman sekarang, mungkin Bandung bakal dijuluki “Seoul van Java” hanya karena banyak yang operasi plastik dan kafenya penuh anak muda pakai hoodie oversized.

Pembelaan dari Hajati: Bandung Layak Dijuluki

Tentu saja ada yang menanggapi tulisan si pemrotes. Namanya Hajati. Ia tak terima Bandung diremehkan. Dalam tulisannya yang juga terbit di Sipatahoenan, Hajati berpendapat, “mereka yang menjuluki Bandung dengan julukan Parijs van Java bukannya tak punya kira-kira atau perasaan.”

Hajati berpendapat yang penting bukan bentuknya yang persis, tapi suasananya. Ia menyebut Bandung sebagai kota ramai dan asri. Katanya, "sari asri rea panghegar", yang bisa dimaknai sebagai tempat yang indah dan ramai.

Lebih lanjut, Hajati menyebutkan, “Toeroeg-toeroeg kawentar tempat soengapan ‘mode’ nepi ka dina hidji mangsa mah kawentar bendo-bandoeng, geloeng-bandoeng, kabaja-bandoeng, djeung djaba ti eta.” Bahasa Sundanya kental dan penuh gaya, menggambarkan Bandung sebagai pusat mode. Bahkan katanya, “toeroeg-toeroeg kawentar jen istri bandoeng gareulis, althans di bandoeng rea noe gareulis.” Bandung disebut-sebut kota gadis cantik.

Kalau begitu, pantaslah jika Bandung dibandingkan dengan Paris. Sama-sama punya vibe sebagai kota fashion dan wanita anggun. Tapi ya itu tadi, mungkin lebih pas disebut Bandung van Java, bukan Parijs van Java.

Begitulah gaya polemik zaman baheula. Penuh sindiran elegan tapi menohok. Tidak pakai capslock atau maki-maki macam kolom komentar zaman sekarang.

Julukan Parijs van Java memang penuh paradoks. Ia bisa dianggap sebagai bentuk inferiority complex zaman kolonial: meniru gaya Eropa sebagai ukuran kemajuan. Tapi di sisi lain, ia juga bisa dilihat sebagai strategi pemasaran jitu: branding awal dari kota yang ingin jadi besar.

Baca Juga: Bandung Kota Termacet Lagi, Jangan Sampai jadi Parkir van Java

Pada era Hindia Belanda, Bandung berkembang pesat sebagai kota resort, tempat peristirahatan orang Eropa, dengan vila-vila bergaya art deco dan jalan-jalan lebar berpohon rindang. Toko-toko mode, salon, serta rumah mode mulai bermunculan di Braga. Mungkin inilah yang kemudian menguatkan narasi bahwa Bandung “mirip Paris”.

Tapi tetap saja, Bandung bukan Paris. Ia punya watak sendiri, citarasa sendiri, dan sejarah sendiri. Di tengah gunung, bukan di tepi sungai. Dibalut semilir angin pegunungan, bukan angin musim gugur. Tapi toh, siapa yang peduli? Julukan tetaplah julukan.

Seperti banyak hal lain dalam sejarah, kadang yang simbolik bisa jauh lebih bertahan dibandingkan fakta. Bandung boleh saja dulu penuh sawah dan kebun bambu, tapi dalam imajinasi kolektif masa itu, ia sudah cukup elegan untuk disejajarkan dengan kota cahaya.

Dan hari ini, meskipun Paris tetaplah Paris, Bandung tetap tak kehilangan pesonanya. Mungkin karena ia memang bukan tiruan, melainkan punya gaya sendiri. Kalau Paris punya Champs-Élysées, Bandung punya Braga. Kalau Paris punya croissant, Bandung punya batagor.

Bandung adalah Bandung. Kadang mirip Paris, kadang tidak. Tapi jelas, selalu punya cerita.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)