Peran Penting Gedung Landraad dalam Sistem Peradilan Hindia Belanda

2 menit baca
Sani Damayanti
Ditulis oleh Sani Damayanti diterbitkan Rabu 03 Jun 2026, 17:32 WIB
 (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Sani Damayanti)

(Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Sani Damayanti)

Gedung Landraad merupakan bangunan peninggalan masa kolonial Hindia Belanda yang berperan penting dalam sejarah Indonesia, khususnya di Kabupaten Indramayu. Bangunan ini terletak di sebelah Alun-alun Kabupaten Indramayu dan diperkirakan berdiri pada tahun 1912, ketika Indonesia masih di bawah kekuasaan Belanda. Pada masa itu, gedung tersebut digunakan sebagai tempat pengadilan bagi masyarakat pribumi yang melakukan pelanggaran hukum.

Selain itu, masyarakat pribumi dibebani kewajiban untuk membayar pajak dan upeti kepada pemerintah kolonial. Pribumi yang tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut sering kali dijatuhkan hukuman melalui sistem peradilan yang berlaku. Keberadaan gedung ini tidak hanya menunjukkan fungsinya sebagai lembaga peradilan, tetapi juga mencerminkan sistem hukum kolonial yang cenderung tidak berpihak kepada masyarakat pribumi.

Gedung ini berperan sebagai pusat kegiatan peradilan kolonial yang menangani berbagai perkara yang melibatkan masyarakat pribumi. Proses peradilan yang berlangsung di gedung ini tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran hukum, tetapi juga mencerminkan dominasi kekuasaan kolonial yang menempatkan masyarakat pribumi pada posisi yang tidak menguntungkan. Menurut Times Indonesia, gedung ini pernah menjadi saksi pelaksanaan hukuman berat terhadap masyarakat pribumi pada masa kolonial Belanda.

Dalam sistem tersebut, peradilan berada di bawah kendali pemerintah kolonialsehingga masyarakat pribumi memiliki keterbatasan dalam memperoleh keadilan. Keadaan ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam sistem hukum yang berdampak pada kehidupan sosial masyarakat Indramayu.

 (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Sani Damayanti)
(Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Sani Damayanti)

Seiring berjalannya waktu, Gedung Landraad Indramayu mengalami beberapa kali perubahan fungsi setelah masa kolonial berakhir. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini tidak lagi digunakan sebagai gedung pengadilan, melainkan dialihfungsikan untuk kepentingan pemerintahan, seperti digunakan sebagai Gedung BP7 dan Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Indramayu. Sebagaimana dikutip dari TribunCirebon.com, Dedy S.Musashi menyatakan bahwa gedung tersebut juga pernah dimanfaatkan sebagai kantor Satpol PP.

Sekitar tahun 2000-an, bangunan ini sempat terbengkalai sehingga kondisinya tidak terawat, dengan dinding dan atap yang mengalami kerusakan parah. Hal ini membuat masyarakat khawatir akan hilangnya salah satu warisan sejarah kota. Oleh karena itu, pada akhir tahun 2022, pemerintah daerah melakukan pemugaran guna menjaga kelestarian bangunan tersebut. Perubahan fungsi ini menunjukkan bahwa Gedung Landraad memiliki nilai historis sebagai saksi perjalanan sistem hukum dari masa kolonial hingga masa kemerdekaan.

Gedung Landraad Indramayu menjadi salah satu cagar budaya penting yang memiliki nilai sejarah tinggi dan perlu terus dilestarikan sebagai warisan masa lalu. Upaya pelestarian yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama masyarakat menunjukkan kesadaran akan pentingnya menjaga keberadaan bangunan bersejarah ini.

Selain sebagai peninggalan fisik, gedung ini juga memiliki nilai edukatif sebagai sumber pembelajaran sejarah bagi generasi muda, khususnya dalam memahami sistem hukum dan kehidupan sosial pada masa kolonial. Oleh karena itu, pelestarian Gedung Landraad tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah, melainkan juga merupakan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat, agar keberadaannya tetap terjaga di tengah perkembangan zaman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sani Damayanti
Mahasiswa S1 Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:57

Jejak Kampung Batik Trusmi: Dari Warisan Kesultanan hingga Menjadi Fashion Modern

Teknik membatik di Desa Trusmi dan motif-motif batik yang ada di Batik Trusmi atau Batik Cirebon.

Tugu ikonik "Selamat Datang Di Kawasan Batik Trusmi". (Sumber: cirebonkab.go.id)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:29

Panduan Berkunjung ke Kebun Teh Taraju Tasikmalaya, Hamparan Hijau Warisan Kolonial di Selatan Priangan

Kebun Teh Taraju menawarkan panorama hijau Priangan Selatan, pabrik teh kolonial 1909, tea walk, hingga suasana pegunungan yang sejuk.

Kebun Teh Taraju Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @Instagram/wisata_taraju)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:18

Jelajah Puncak Mega Gunung Puntang, Favorit Para Pendaki Tektok yang Eksotis

Puncak Mega di Gunung Puntang menawarkan jalur tektok, lautan kabut, dan panorama eksotis Bandung Selatan.

Puncak Mega Gunung Puntang. (Sumber: Pemkab Bandung)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:02

Kota Kembang Rawan Pohon Tumbang Sejak Masa Kolonial

Kota Bandung sering kali menghadirkan kesan romantis, baik bagi warga setempat maupun wisatawan.

Sudut fotogenik Jalan Asia Afrika di Kota Bandung yang menampilkan sebuah kutipan dari M.A.W. Brouwer sebagai ungkapan rasa cintanya kepada tanah Pasundan. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Kaneza Bani Aththoriah Hawami)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 18:10

Hadiah Fantastis Indonesia Open Super 1000, Siapa Pemain Paling Banyak Raih Gelar?

POLYTRON Indonesia Open 2026 pekan ini sedang digelar  di Istora Gelora Bung Karno.

POLYTRON Indonesia Open 2026 pekan ini sedang digelar  di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta 2 hingga 7 Juni mendatang. (Sumber: PBSI)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 17:32

Peran Penting Gedung Landraad dalam Sistem Peradilan Hindia Belanda

Gedung Landraad merupakan bangunan peninggalan Belanda yang dulu digunakan sebagai pengadilan pribumi.

 (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Sani Damayanti)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 16:27

Rampog Macan: Tradisi, Kontrovesi, dan Akhir Sebuah Permainan Tradisional

Permainan Rampog Macan mendapat perhatian dari berbagai kalangan dan tidak luput dari pandangan kaum Belanda.

Harimau pada permainan Rampog Macan. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 15:50

Jejak Rasa Kelezatan Doclang, Kuliner Legendaris Bogor dengan Lontong Daun Patat

Doclang menjadi salah satu kuliner khas Bogor yang kaya sejarah, terkenal dengan lontong pesor, bumbu kacang kencur, dan cita rasa tradisional.

Doclang khas Bogor. (Foto: AI generated image)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 14:26

Dari Masa Kolonial ke Modern: Perkembangan Jaringan Kereta Api di Tulungagung

Menengok historitas jaringan kereta api di Tulungagung, Jawa Timur, sejak awal dibangunnya pada masa kolonial Belanda.

Tampak depan Stasiun Tulungagung saat ini. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi/Aditya Sheva Putra Indrawan)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 13:15

Market Driven atau Potential Driven, Dilema Bisnis Koperasi Merah Putih

Dibawa kemana arah bisnis KDKMP akan tergantung pada eksekusi yang dilakukan para pengurus?

Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 12:22

Membayangkan Persib tanpa Wa Haji Umuh

Siapapun Manajer Persib, diperlukan sosok yang mampu menjaga keseimbangan di tengah gelombang dinamika klub.

Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muchtar. (Sumber: AyoPersib | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 11:26

Kembali Tenang dengan Ritual Grounding

Yuk, kenalan dengan somatic healing dan ritual grounding sederhana untuk kembali tenang.

Menyendiri (Sumber: Unplash)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 10:09

Saring Sebelum Pusing: Memutus Rantai Kepanikan Digital

Membekali masyarakat dengan literasi digital yang memadai adalah kunci pertama.

 (Sumber: AI Generated)
Beranda 03 Jun 2026, 09:06

Di Balik Ramainya Kampanye, Mengapa Korban Kekerasan Perempuan Masih Memilih Diam?

Meski edukasi dan kampanye terus digencarkan, banyak korban kekerasan terhadap perempuan masih memilih diam. Kurangnya empati dan kuatnya victim blaming.

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 08:33

Aspal, Antrean, dan Orang-Orang yang Tetap Bertahan

Kenapa harus melibatkan Gubernur Jawa Barat, padahal yang dinobatkan sebagai daerah termacet hanyalah Kota Bandung?

Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 20:10

Refleksi Hari Lahir Pancasila

Sebuah momentum untuk kembali merenungkan warisan pemikiran Bung Karno dan cita-cita Indonesia yang terus diperjuangkan dari masa ke masa.

Bung Karno dan kelahiran Pancasila. (Sumber: Harian Umum Kompas edisi 1 Juni 2001. | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 02 Jun 2026, 19:23

Jelajah Rasa Cungkring, Sajian Kikil dan Bumbu Kacang Khas Bogor

Cungkring menawarkan cita rasa khas dari kikil, bibir sapi, lontong daun patat, dan bumbu kacang yang diwariskan lintas generasi.

Cungkring Bogor. (Sumber: Shutterstock)
Sejarah 02 Jun 2026, 18:18

Goa Peteng, Bunker Peninggalan Belanda yang Masih Berdiri Kokoh di Cicalengka

Goa Peteng di Cicalengka diduga bagian dari jaringan pertahanan militer Belanda yang terhubung dengan Nagreg.

Goa Peteng, bunker peninggalan Belanda di Cicalengka. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 18:08

Kota Kembang Kejang-Kejang

Heboh dan trennya tari kejang atau breakdance tahun 1980-an di Bandung serta momen penting breakdance bulan Juni tahun 2022

Ilustrasi breakdance tahun 1980-an di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Cu Trí)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 17:01

Tema Ayo Netizen Juni 2026: Bebas Bersuara, Ikuti Momentum

Mulai Juni 2026, format tema bulanan Ayo Netizen resmi dibebaskan.

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar seni tari tradisional di Museum Sri Baduga, Jalan BKR, Kota Bandung pada Selasa, 14 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)