Rampog Macan: Tradisi, Kontrovesi, dan Akhir Sebuah Permainan Tradisional

4 menit baca
Rahadeni Ratih kusumawardhani
Ditulis oleh Rahadeni Ratih kusumawardhani diterbitkan
Harimau pada permainan Rampog Macan. (Sumber: KITLV)
Harimau pada permainan Rampog Macan. (Sumber: KITLV)

Pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20, terdapat banyak permainan yang dilakukan untuk hiburan warga, salah satunya adalah permainan Rampog Macan.

Permainan Rampog Macan adalah permainan tradisi asal Kediri yang di mana seekor harimau dilepaskan di tengah-tengah lapangan luas yang kemudian dikelilingi oleh prajurit yang bersenjata tombak, kemudian harimau tersebut akan diadu dengan seekor kerbau.

Permainan Rampog Macan dimulai pada tahun 1890 dan tujuan permainan ini dilakukan ialah untuk menghibur orang-orang di Karesidenan Kediri.

Dalam majalah Orion, yang didedikasikan untuk hubungan antara Belanda dan Indonesia, terdapat sebuah bab yang terbit dalam seri ‘tempo doeloe’ karya Rob Nieuwenhuys. Bab tersebut membahas tentang apa yang disebut Rampog Macan, yang digambarkan oleh Nieuwenhuys sebagai “een volksvertoning die een ritueel karakter draagt” atau dalam Bahasa Indonesia "pertunjukan publik yang memiliki karakter ritual".

Nieuwenhuys menjelaskan arti 'Rampok'/’Rampog’ adalah menyerang dengan banyak dan ‘Macan’ berarti harimau atau macan kumbang. Lalu dijelaskan  harimau di dalam permainan selalu mencoba melarikan diri dengan berlari dan mencari celah di pagar tombak. Selama upaya ini,  sering kali  terluka parah. Kadang-kadang, harimau tersebut melompati para prajurit tombak atau merangkak di bawah tombak, tapi sering kali gagal karena ketahuan dan langsung dibunuh dengan tombak.

Lapangan permainan Rampog Macan (Sumber: KITLV)
Lapangan permainan Rampog Macan (Sumber: KITLV)

Surat kabar Belanda, yaitu NRC Handelsblad, pernah menerbitkan tulisan dengan salah satu topik tentang rampog macan pada tahun 1984. Permainan Rampog Macan atau dikenal oleh orang-orang Belanda dengan sebutan “rampok macan” dianggap oleh orang-orang Belanda sebagai yang kejam dan tidak masuk akal karena dianggap melakukan kekerasan kepada hewan. Sungguh ironis orang-orang Belanda pada zaman kolonial bisa berempati kepada hewan, tapi tidak bisa berempati kepada manusia, terkhususnya kaum pribumi.

Nieuwenhuys pada artikel Belanda berjudul Het Parool pada tahun 1984, mencela sikap orang-orang Eropa yang menganggap permainan ini sebagai permainan kejam, karena Nieuwenhuys menganggap permainan Rampog Macan adalah tradisi masyarakat dan tradisi tidak boleh dicela. Di sisi lain, Kousbroek membantah pernyataan Nieuwenhuys. Ia membela orang-orang Eropa karena mereka lahir dan besar di Eropa, jadi permainan seperti itu adalah hal yang asing bagi mereka.

Pada surat kabar Belanda, NRC Handelsblad, yang terbit pada 1984. Rudy Kousbroek menjelaskan di dalam surat kabar tersebut  bahwa ia menemukan hal menarik dalam sebuah publikasi karya Rob Nieuwenhuys, memberikan penjelasan antropologis budaya tentang permainan Rampog Macan yang tidak dibantah oleh Kousbroek. Namun, rasa enggan bagi Nieuwenhuys terletak pada pengabaian terhadap rasa jijik atas peristiwa kejam tersebut.

Nieuwenhuys menjelaskan bahwa berada di sekitar kebiasaan barbar bukan berarti menerimanya. Bahkan di bawah rezim kolonial, hal yang  melibatkan pembunuhan orang masih terjadi. Ketika kita berbicara tentang penyiksaan atau pembunuhan hewan, betapapun mengerikannya hal itu, kita harus sangat berhati-hati dalam penilaian.

Berakhirnya tradisi permainan Rampog Macan disebabkan oleh beberapa faktor, seperti menurunnya populasi harimau dan karena Pemerintah Hindia Belanda, karena pada saat itu pemerintah kolonial sedang melakukan perluasan daerah, menyebabkan habitat harimau tergusur. Pemerintah Hindia Belanda secara resmi menghentikan permainan Rampog Macan pada awal abad ke-20. 

Kesimpulannya, permainan Rampog Macan bermula dari Karesidenan Kediri. Permainan tersebut dilaksanakan di lapangan luas dan tujuan akhir dari permainan tersebut adalah kematian harimau yang dijadikan alat permainan, entah mati karena kalah melawan kerbau ataupun mati ditusuk tombak oleh penjaga yang melingkari permainan, Rampog Macan juga tidak terhindar dari kontroversi dari orang-orang Belanda. Seiring berjalannya waktu, populasi harimau semakin menurun dan banyak harimau kehilangan habitat untuk tinggal, akibat perluasan daerah yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda. Permainan  resmi berakhir pada awal abad ke-20 dan diresmikan oleh Pemerintah Hindia Belanda. (*)

Sumber:

  • Boomgaard, P. (1994). Death to the tiger! The development of tiger and leopard rituals in Java, 16051906. South East Asia Research, 2(2), 141–175. JSTOR. https://doi.org/10.2307/23746862
  • Gevonden in Delpher - Het Parool. (n.d.). Resolver.kb.nl. Retrieved April 20, 2026, from https://resolver.kb.nl/resolveurn=ABCDDD:010832765:mpeg21:a0569
  • Gevonden in Delpher - NRC Handelsblad. (n.d.). Resolver.kb.nl. Retrieved April 20, 2026, from https://resolver.kb.nl/resolveurn=KBNRC01:000028062:mpeg21:p026
  • MURTADHI, M. R. A. (2018). RAMPOGAN MACAN DI KEDIRI TAHUN 1890-1925. RAMPOGAN MACAN DI KEDIRI TAHUN 1890-1925, 6. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/24637/22551
  • Siska Nurazizah Lestari, Nugraha Nugraha, & Indra Fibiona. (2023). Negation of Fauna Sustainability and the Extinction of the Rampogan Macan Tradition in Java, 1880s to 1900s. MUKADIMAH Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Ilmu-Ilmu Sosial, 7(1), 39–47. https://doi.org/10.30743/mkd.v7i1.6559
  • Wessing, R. (1992). A tiger in the heart: the Javanese rampok macan. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, 148(2), 287–308. https://doi.org/10.1163/22134379-90003157
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)