Rampog Macan: Tradisi, Kontrovesi, dan Akhir Sebuah Permainan Tradisional

4 menit baca
Rahadeni Ratih kusumawardhani
Ditulis oleh Rahadeni Ratih kusumawardhani diterbitkan Rabu 03 Jun 2026, 16:27 WIB
Harimau pada permainan Rampog Macan. (Sumber: KITLV)

Harimau pada permainan Rampog Macan. (Sumber: KITLV)

Pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20, terdapat banyak permainan yang dilakukan untuk hiburan warga, salah satunya adalah permainan Rampog Macan.

Permainan Rampog Macan adalah permainan tradisi asal Kediri yang di mana seekor harimau dilepaskan di tengah-tengah lapangan luas yang kemudian dikelilingi oleh prajurit yang bersenjata tombak, kemudian harimau tersebut akan diadu dengan seekor kerbau.

Permainan Rampog Macan dimulai pada tahun 1890 dan tujuan permainan ini dilakukan ialah untuk menghibur orang-orang di Karesidenan Kediri.

Dalam majalah Orion, yang didedikasikan untuk hubungan antara Belanda dan Indonesia, terdapat sebuah bab yang terbit dalam seri ‘tempo doeloe’ karya Rob Nieuwenhuys. Bab tersebut membahas tentang apa yang disebut Rampog Macan, yang digambarkan oleh Nieuwenhuys sebagai “een volksvertoning die een ritueel karakter draagt” atau dalam Bahasa Indonesia "pertunjukan publik yang memiliki karakter ritual".

Nieuwenhuys menjelaskan arti 'Rampok'/’Rampog’ adalah menyerang dengan banyak dan ‘Macan’ berarti harimau atau macan kumbang. Lalu dijelaskan  harimau di dalam permainan selalu mencoba melarikan diri dengan berlari dan mencari celah di pagar tombak. Selama upaya ini,  sering kali  terluka parah. Kadang-kadang, harimau tersebut melompati para prajurit tombak atau merangkak di bawah tombak, tapi sering kali gagal karena ketahuan dan langsung dibunuh dengan tombak.

Lapangan permainan Rampog Macan (Sumber: KITLV)
Lapangan permainan Rampog Macan (Sumber: KITLV)

Surat kabar Belanda, yaitu NRC Handelsblad, pernah menerbitkan tulisan dengan salah satu topik tentang rampog macan pada tahun 1984. Permainan Rampog Macan atau dikenal oleh orang-orang Belanda dengan sebutan “rampok macan” dianggap oleh orang-orang Belanda sebagai yang kejam dan tidak masuk akal karena dianggap melakukan kekerasan kepada hewan. Sungguh ironis orang-orang Belanda pada zaman kolonial bisa berempati kepada hewan, tapi tidak bisa berempati kepada manusia, terkhususnya kaum pribumi.

Nieuwenhuys pada artikel Belanda berjudul Het Parool pada tahun 1984, mencela sikap orang-orang Eropa yang menganggap permainan ini sebagai permainan kejam, karena Nieuwenhuys menganggap permainan Rampog Macan adalah tradisi masyarakat dan tradisi tidak boleh dicela. Di sisi lain, Kousbroek membantah pernyataan Nieuwenhuys. Ia membela orang-orang Eropa karena mereka lahir dan besar di Eropa, jadi permainan seperti itu adalah hal yang asing bagi mereka.

Pada surat kabar Belanda, NRC Handelsblad, yang terbit pada 1984. Rudy Kousbroek menjelaskan di dalam surat kabar tersebut  bahwa ia menemukan hal menarik dalam sebuah publikasi karya Rob Nieuwenhuys, memberikan penjelasan antropologis budaya tentang permainan Rampog Macan yang tidak dibantah oleh Kousbroek. Namun, rasa enggan bagi Nieuwenhuys terletak pada pengabaian terhadap rasa jijik atas peristiwa kejam tersebut.

Nieuwenhuys menjelaskan bahwa berada di sekitar kebiasaan barbar bukan berarti menerimanya. Bahkan di bawah rezim kolonial, hal yang  melibatkan pembunuhan orang masih terjadi. Ketika kita berbicara tentang penyiksaan atau pembunuhan hewan, betapapun mengerikannya hal itu, kita harus sangat berhati-hati dalam penilaian.

Berakhirnya tradisi permainan Rampog Macan disebabkan oleh beberapa faktor, seperti menurunnya populasi harimau dan karena Pemerintah Hindia Belanda, karena pada saat itu pemerintah kolonial sedang melakukan perluasan daerah, menyebabkan habitat harimau tergusur. Pemerintah Hindia Belanda secara resmi menghentikan permainan Rampog Macan pada awal abad ke-20. 

Kesimpulannya, permainan Rampog Macan bermula dari Karesidenan Kediri. Permainan tersebut dilaksanakan di lapangan luas dan tujuan akhir dari permainan tersebut adalah kematian harimau yang dijadikan alat permainan, entah mati karena kalah melawan kerbau ataupun mati ditusuk tombak oleh penjaga yang melingkari permainan, Rampog Macan juga tidak terhindar dari kontroversi dari orang-orang Belanda. Seiring berjalannya waktu, populasi harimau semakin menurun dan banyak harimau kehilangan habitat untuk tinggal, akibat perluasan daerah yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda. Permainan  resmi berakhir pada awal abad ke-20 dan diresmikan oleh Pemerintah Hindia Belanda. (*)

Sumber:

  • Boomgaard, P. (1994). Death to the tiger! The development of tiger and leopard rituals in Java, 16051906. South East Asia Research, 2(2), 141–175. JSTOR. https://doi.org/10.2307/23746862
  • Gevonden in Delpher - Het Parool. (n.d.). Resolver.kb.nl. Retrieved April 20, 2026, from https://resolver.kb.nl/resolveurn=ABCDDD:010832765:mpeg21:a0569
  • Gevonden in Delpher - NRC Handelsblad. (n.d.). Resolver.kb.nl. Retrieved April 20, 2026, from https://resolver.kb.nl/resolveurn=KBNRC01:000028062:mpeg21:p026
  • MURTADHI, M. R. A. (2018). RAMPOGAN MACAN DI KEDIRI TAHUN 1890-1925. RAMPOGAN MACAN DI KEDIRI TAHUN 1890-1925, 6. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/24637/22551
  • Siska Nurazizah Lestari, Nugraha Nugraha, & Indra Fibiona. (2023). Negation of Fauna Sustainability and the Extinction of the Rampogan Macan Tradition in Java, 1880s to 1900s. MUKADIMAH Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Ilmu-Ilmu Sosial, 7(1), 39–47. https://doi.org/10.30743/mkd.v7i1.6559
  • Wessing, R. (1992). A tiger in the heart: the Javanese rampok macan. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, 148(2), 287–308. https://doi.org/10.1163/22134379-90003157
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Rahadeni Ratih kusumawardhani
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)