Membayangkan Persib tanpa Wa Haji Umuh

5 menit baca
Adif Rachmat Nugraha
Ditulis oleh Adif Rachmat Nugraha diterbitkan Rabu 03 Jun 2026, 12:22 WIB
Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muchtar. (Sumber: AyoPersib | Foto: Arif Rahman)

Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muchtar. (Sumber: AyoPersib | Foto: Arif Rahman)

Setelah Persib Bandung berhasil mencetak hattrick kemenangan pada Liga Indonesia dan lima kemenangan secara keseluruhan sepanjang sejarahnya, perhatian bobotoh teralihkan pada berita mundurnya Bojan Hodak dari kursi kepelatihan Persib yang begitu mendadak.

Beberapa jam sebelum mundur di tengah masih hangatnya euforia kemenangan Persib, coach Bojan sempat mengutarakan keinginannya di hadapan Umuh Muchtar dan para pemain di restoran milik Umuh di Tanjungsari, Sumedang. Umuh pula yang menjelaskan kepada publik alasan mundurnya Bojan sebagai pelatih kepala Persib, yang disebutnya karena faktor 'kesehatan dan keluarga'.

Yang menarik dari cerita di atas adalah, masih vital dan sentralnya sosok yang kerap dipanggil Wa Haji ini dalam dinamika internal maupun eksternal Persib.

Pada tahun 2020, Umuh sempat menyampaikan pengunduran dirinya secara sepihak dari kedudukan Manajer Persib yang telah diembannya sejak tahun 2009 karena faktor usia, dan ingin fokus pada perannya sebagai Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), induk usaha Persib. Namun keinginannya tersebut nampaknya tidak diluluskan manajemen PT PBB. Hingga saat ini, Umuh menjalankan peran krusial baik sebagai Manajer dan Komisaris PT PBB di usia menuju delapan dasawarsa.

Dalam perannya tersebut, Umuh menjelma menjadi sosok ‘bapak’ bagi seluruh entitas Persib dengan modal sosial yang amat tinggi. Pada perayaan ulang tahunnya yang ke-77 tahun, gempita acara tidak hanya diramaikan oleh keluarga besar Umuh, tetapi juga hampir seluruh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Provinsi Jawa Barat dan para sesepuh tatar Sunda, mulai dari Komandan Pussenif, Pangdam Siliwangi, Kapolda Jawa Barat, hingga Wakil Gubernur Jawa Barat–yang tak lain adalah putra kandungnya, Erwan Setiawan.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pada mulanya, Umuh adalah bagian dari keluarga besar bobotoh Persib, yang dikenal royal kepada para pemain Persib. Di tengah kekalutan pascamunculnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang melarang pembiayaan klub sepakbola profesional daerah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah di tahun 2007, Umuh muncul ke permukaan.

Melalui upaya korporatisasi klub yang rumit yang berujung pada pembentukan PT PBB di tahun 2009, Umuh yang baru menjabat Wakil Manajer selama setahun, diamanahi peran yang lebih besar sebagai Manajer sekaligus Direktur Utama PT PBB. Umuh pula yang ‘menalangi’ modal awal pendirian PT PBB sebesar Rp250 juta, dan beberapa dana talangan lainnya yang digunakan untuk operasional Persib yang kembang kempis di awal 2010-an.

Dobel peran krusial tersebut Umuh emban hingga tahun 2011, sebelum akhirnya para pemegang saham PT PBB menghadapkan Umuh untuk memilih salah satu dari keduanya. Pada perjalanannya, disepakati Umuh menjabat Manajer, dan Glenn Sugita–salah satu pemegang saham–menjadi Direktur Utama.

Namun, pembentukan PT PBB ini bukannya tidak menimbulkan kontroversi. Selayaknya model perserikatan yang diacu klub sepakbola daerah, Persib pada dasarnya adalah konfederasi dari 36 klub lokal di Kota Bandung. Klub-klub lokal ini memiliki suara untuk menentukan arah ‘tim perserikatan’ sekaligus penentuan jabatan ketua umum.

Dengan adanya beleid Menteri Dalam Negeri, 36 klub lokal tersebut menyerahkan mandat pembentukan PT PBB kepada Walikota Bandung kala itu, Dada Rosada. Pada perjalanannya, muncul nama Umuh, Zainuri Hasyim (mantan Pangdam Siliwangi), Kuswara S. Taryono (advokat), Yoyo Adiredja (mantan pemimpin redaksi Pikiran Rakyat), dan Iwan Hanafi (mantan Ketua Kadin Jawa Barat) yang ditetapkan sebagai pendiri PT PBB. Polemik ‘penunjukkan’ lima nama tersebut oleh Dada hingga saat ini masih menjadi bara dalam sekam yang terus membara.

Dalam perjalanan menemani perjuangan Persib dalam Liga 1 lalu, Umuh yang berada dalam kondisi sakit tetap memaksakan diri untuk berangkat ke Samarinda, memberikan dukungan moril pada Persib yang akan menjalani el clasico melawan Persija di Stadion Sugiri. “Seharian ini sakit bener-bener ngegolér weh”, ujar Umuh.

Beberapa hari sesudahnya, Umuh kembali memaksakan diri untuk mendampingi Persib dalam laga tandangnya melawan PSM Makassar di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare. Perjalanan jauh dari Kota Kembang tersebut dibayar tuntas Persib lewat kemenangannya dengan skor akhir 2-1.

Kondisi kesehatan Umuh yang tak lagi prima ini menimbulkan banyak pertanyaan di benak para bobotoh, sampai kapan Wa Haji akan tetap terlibat langsung mengawal para punggawa Persib?

Pada satu kesempatan, Umuh sempat menyatakan belum menunjuk suksesornya di Persib. Namun, Umuh menggariskan satu syarat mutlak: Penggantinya harus bebas dari afiliasi politik. “Tapi yang penting, jangan dari partai politik. Jangan berpolitik. Saya sendiri dari dulu tidak berpartai dan tetap netral. Karena kalau orang berpolitik, hatinya berbeda”, tegas Umuh.

Hingga saat ini, beberapa nama telah beredar yang diharapkan mampu mengambil peran serupa Umuh di Persib. Yang utama tak lain adalah Erwan Setiawan. Di tengah bermacam ragam karir politiknya, Erwan nampak setia menemani Umuh. Dengan jabatannya saat ini sebagai Wakil Gubernur, banyak yang berharap ia tak semata menjadi sosok orang tua bagi warga Jawa Barat, tetapi juga khususnya menjadi pelindung bagi Persib.

Nama lain yang muncul adalah Maruarar Sirait. Menurutnya, Persib bukan barang asing karena selain sempat menempuh pendidikan di Kota Bandung, Ara adalah anggota DPR tiga periode (2004-2019) dari Daerah Pemilihan Jawa Barat IX yang mencakup Kabupaten Majalengka, Subang, dan Sumedang; daerah-daerah yang merupakan jantung Jawa Barat.

Dalam pertandingan antara Persib dan Dewa United pada April lalu, Ara memberikan sumbangan Rp1 miliar sebagai dana kadeudeuh agar Persib mampu terus melenggang menuju juara Liga 1–yang akhirnya tercapai. Pada kesempatan lain juga Ara menyatakan komitmennya untuk berinvestasi hingga Rp100 miliar, apabila Persib mampu melangkah menuju Initial Public Offering (IPO) di bursa saham, hal yang perlu dikawal realisasinya ke depan.

Nama terakhir adalah Adhitia Putra Herawan yang saat ini menjabat Deputy CEO PT PBB. Sebelum menggantikan Teddy Tjahjono sebagai Direktur Olahraga pada tahun 2024, Adhit adalah sosok anyar dalam dunia sepak bola Indonesia, yang lebih banyak berkecimpung di bidang teknologi informasi. Tetapi Adhit mampu dengan cepat merebut hati para pemain dan bobotoh dengan pendekatannya yang luwes namun tetap profesional. Muncul aspirasi bobotoh agar peran Manajer dapat dirangkap oleh Adhit selaku Deputy CEO–yang perlu dikaji kembali dari perspektif operasional klub.

Tetapi pada akhirnya, hanya manajemen dan Umuh sendiri yang mampu menjawab hingga kapan Wa Haji akan terus mengurusi Persib. Namun siapapun orangnya, diperlukan sosok yang mampu menjaga keseimbangan di tengah gelombang dinamika Persib yang digerakkan oleh emosi, kebanggaan daerah, dan tekanan bobotoh yang melelahkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Adif Rachmat Nugraha
Analis Kebijakan. Peminat Sejarah. Penulis Lepas.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:57

Jejak Kampung Batik Trusmi: Dari Warisan Kesultanan hingga Menjadi Fashion Modern

Teknik membatik di Desa Trusmi dan motif-motif batik yang ada di Batik Trusmi atau Batik Cirebon.

Tugu ikonik "Selamat Datang Di Kawasan Batik Trusmi". (Sumber: cirebonkab.go.id)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:29

Panduan Berkunjung ke Kebun Teh Taraju Tasikmalaya, Hamparan Hijau Warisan Kolonial di Selatan Priangan

Kebun Teh Taraju menawarkan panorama hijau Priangan Selatan, pabrik teh kolonial 1909, tea walk, hingga suasana pegunungan yang sejuk.

Kebun Teh Taraju Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @Instagram/wisata_taraju)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:18

Jelajah Puncak Mega Gunung Puntang, Favorit Para Pendaki Tektok yang Eksotis

Puncak Mega di Gunung Puntang menawarkan jalur tektok, lautan kabut, dan panorama eksotis Bandung Selatan.

Puncak Mega Gunung Puntang. (Sumber: Pemkab Bandung)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:02

Kota Kembang Rawan Pohon Tumbang Sejak Masa Kolonial

Kota Bandung sering kali menghadirkan kesan romantis, baik bagi warga setempat maupun wisatawan.

Sudut fotogenik Jalan Asia Afrika di Kota Bandung yang menampilkan sebuah kutipan dari M.A.W. Brouwer sebagai ungkapan rasa cintanya kepada tanah Pasundan. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Kaneza Bani Aththoriah Hawami)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 18:10

Hadiah Fantastis Indonesia Open Super 1000, Siapa Pemain Paling Banyak Raih Gelar?

POLYTRON Indonesia Open 2026 pekan ini sedang digelar  di Istora Gelora Bung Karno.

POLYTRON Indonesia Open 2026 pekan ini sedang digelar  di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta 2 hingga 7 Juni mendatang. (Sumber: PBSI)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 17:32

Peran Penting Gedung Landraad dalam Sistem Peradilan Hindia Belanda

Gedung Landraad merupakan bangunan peninggalan Belanda yang dulu digunakan sebagai pengadilan pribumi.

 (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Sani Damayanti)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 16:27

Rampog Macan: Tradisi, Kontrovesi, dan Akhir Sebuah Permainan Tradisional

Permainan Rampog Macan mendapat perhatian dari berbagai kalangan dan tidak luput dari pandangan kaum Belanda.

Harimau pada permainan Rampog Macan. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 15:50

Jejak Rasa Kelezatan Doclang, Kuliner Legendaris Bogor dengan Lontong Daun Patat

Doclang menjadi salah satu kuliner khas Bogor yang kaya sejarah, terkenal dengan lontong pesor, bumbu kacang kencur, dan cita rasa tradisional.

Doclang khas Bogor. (Foto: AI generated image)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 14:26

Dari Masa Kolonial ke Modern: Perkembangan Jaringan Kereta Api di Tulungagung

Menengok historitas jaringan kereta api di Tulungagung, Jawa Timur, sejak awal dibangunnya pada masa kolonial Belanda.

Tampak depan Stasiun Tulungagung saat ini. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi/Aditya Sheva Putra Indrawan)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 13:15

Market Driven atau Potential Driven, Dilema Bisnis Koperasi Merah Putih

Dibawa kemana arah bisnis KDKMP akan tergantung pada eksekusi yang dilakukan para pengurus?

Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 12:22

Membayangkan Persib tanpa Wa Haji Umuh

Siapapun Manajer Persib, diperlukan sosok yang mampu menjaga keseimbangan di tengah gelombang dinamika klub.

Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muchtar. (Sumber: AyoPersib | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 11:26

Kembali Tenang dengan Ritual Grounding

Yuk, kenalan dengan somatic healing dan ritual grounding sederhana untuk kembali tenang.

Menyendiri (Sumber: Unplash)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 10:09

Saring Sebelum Pusing: Memutus Rantai Kepanikan Digital

Membekali masyarakat dengan literasi digital yang memadai adalah kunci pertama.

 (Sumber: AI Generated)
Beranda 03 Jun 2026, 09:06

Di Balik Ramainya Kampanye, Mengapa Korban Kekerasan Perempuan Masih Memilih Diam?

Meski edukasi dan kampanye terus digencarkan, banyak korban kekerasan terhadap perempuan masih memilih diam. Kurangnya empati dan kuatnya victim blaming.

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 08:33

Aspal, Antrean, dan Orang-Orang yang Tetap Bertahan

Kenapa harus melibatkan Gubernur Jawa Barat, padahal yang dinobatkan sebagai daerah termacet hanyalah Kota Bandung?

Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 20:10

Refleksi Hari Lahir Pancasila

Sebuah momentum untuk kembali merenungkan warisan pemikiran Bung Karno dan cita-cita Indonesia yang terus diperjuangkan dari masa ke masa.

Bung Karno dan kelahiran Pancasila. (Sumber: Harian Umum Kompas edisi 1 Juni 2001. | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 02 Jun 2026, 19:23

Jelajah Rasa Cungkring, Sajian Kikil dan Bumbu Kacang Khas Bogor

Cungkring menawarkan cita rasa khas dari kikil, bibir sapi, lontong daun patat, dan bumbu kacang yang diwariskan lintas generasi.

Cungkring Bogor. (Sumber: Shutterstock)
Sejarah 02 Jun 2026, 18:18

Goa Peteng, Bunker Peninggalan Belanda yang Masih Berdiri Kokoh di Cicalengka

Goa Peteng di Cicalengka diduga bagian dari jaringan pertahanan militer Belanda yang terhubung dengan Nagreg.

Goa Peteng, bunker peninggalan Belanda di Cicalengka. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 18:08

Kota Kembang Kejang-Kejang

Heboh dan trennya tari kejang atau breakdance tahun 1980-an di Bandung serta momen penting breakdance bulan Juni tahun 2022

Ilustrasi breakdance tahun 1980-an di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Cu Trí)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 17:01

Tema Ayo Netizen Juni 2026: Bebas Bersuara, Ikuti Momentum

Mulai Juni 2026, format tema bulanan Ayo Netizen resmi dibebaskan.

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar seni tari tradisional di Museum Sri Baduga, Jalan BKR, Kota Bandung pada Selasa, 14 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)