Refleksi Hari Lahir Pancasila

2 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Bung Karno dan kelahiran Pancasila. (Sumber: Harian Umum Kompas edisi 1 Juni 2001. | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Bung Karno dan kelahiran Pancasila. (Sumber: Harian Umum Kompas edisi 1 Juni 2001. | Foto: koleksi Kin Sanubary)

Membuka kembali lembaran harian Kompas edisi 1 Juni 2001 serasa menapaki lorong waktu menuju salah satu momen penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Pada hari itu, Kompas menerbitkan edisi khusus setebal 100 halaman untuk memperingati 100 tahun kelahiran Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia sekaligus Proklamator Kemerdekaan.

Edisi istimewa tersebut bukan sekadar penghormatan kepada seorang tokoh besar. Ia juga menjadi ruang refleksi tentang perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Dalam pengantarnya, Kompas menulis bahwa perjalanan hidup Bung Karno sesungguhnya adalah perjalanan hidup negara, bangsa, dan rakyat Indonesia. Melihat Soekarno berarti melihat Indonesia dengan seluruh dinamika, semangat, harapan, kemenangan, dan pergolakannya.

Lahir pada 6 Juni 1901 dan wafat pada 21 Juni 1970, Bung Karno hadir sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern. Ia membangkitkan kesadaran kebangsaan, memimpin perjuangan menuju kemerdekaan, dan menjadi simbol persatuan di tengah keberagaman bangsa. Pidato-pidatonya yang membakar semangat, gagasan-gagasannya yang visioner, serta kemampuannya menggerakkan massa menjadikan namanya melekat erat dalam perjalanan republik ini.

Bung Karno, penggagas dan pencetus nama Pancasila. (Sumber: Harian Umum Kompas edisi 1 Juni 2001 | Foto: Kin Sanubary)
Bung Karno, penggagas dan pencetus nama Pancasila. (Sumber: Harian Umum Kompas edisi 1 Juni 2001 | Foto: Kin Sanubary)

Namun sejarah tidak selalu menghadirkan akhir yang indah bagi para tokoh besar. Setelah berada di puncak kekuasaan dan menjadi simbol kebanggaan nasional, Bung Karno harus menjalani tahun-tahun terakhir kehidupannya dalam situasi yang jauh berbeda. Dalam edisi khusus tersebut, Kompas mengingatkan bahwa tokoh besar yang pernah dianugerahkan Tuhan kepada bangsa Indonesia itu wafat dalam keadaan yang menyedihkan.

Meski demikian, surat kabar itu mengajak pembacanya untuk melihat Bung Karno secara utuh. Kesalahan-kesalahan yang mungkin pernah dilakukannya tidak seharusnya menghapus jasa-jasa besar yang telah diberikannya kepada bangsa dan negara. Dari perjalanan hidupnya, bangsa Indonesia dapat memetik banyak pelajaran, baik dari keberhasilan maupun dari berbagai peristiwa yang mengiringi masa kepemimpinannya.

Dua puluh lima tahun setelah edisi khusus itu terbit, dan lebih dari satu abad sejak kelahiran Bung Karno, gagasan-gagasannya tentang persatuan, kedaulatan, dan keadilan sosial masih terus relevan. Nama Soekarno tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa, bukan hanya sebagai seorang pemimpin, tetapi juga sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia.

Membuka kembali Kompas edisi 1 Juni 2001 bukan hanya mengenang sosok Bung Karno. Ia juga mengingatkan kita pada pentingnya merawat ingatan sejarah, agar generasi masa kini dan masa depan dapat memahami perjalanan panjang bangsa ini serta mengambil hikmah dari setiap babak yang telah dilalui.

Selamat Hari Lahir Pancasila.

Sebuah momentum untuk kembali merenungkan warisan pemikiran Bung Karno dan cita-cita Indonesia yang terus diperjuangkan dari masa ke masa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)