Pentingnya Pengetahuan Pajak untuk Anak dan Kemajuan Negara

4 menit baca
odi yanuwar
Ditulis oleh odi yanuwar diterbitkan
Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)
Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)

Apa yang ada di benak pikiran Anda jika membaca atau mendengar kata pajak? Beberapa orang mungkin akan mengeluh dan kesal sembari berkata, "Huh, pajak lagi pajak lagi. Lagi-lagi pajak!"

Pajak dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan dan "musuh" bagi sebagian orang. Tidak heran, beberapa masyarakat menghindari atau menunggak membayar pajak. Orang-orang tersebut sepertinya kurang mendapatkan pendidikan atau informasi mengenai pajak sejak dini. Padahal, pajak banyak bermanfaat bagi anak dan kemajuan suatu bangsa pada sebuah negara. Kok, bisa?

Fasilitas Umum

Semakin baik dan banyak fasilitas umum di suatu negeri dapat menjadi ciri negeri itu maju. Pembangunan fasilitas publik sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan berkendara ke tempat lain pun menjadi lebih mudah dan cepat. Tatkala naik kendaraan bermotor bersama anak, katakan, "Nak, kendaraan ini ada pajaknya, lho. Kita membayar pajak, uangnya untuk membiayai pembangunan dan perbaikan jalan".

Selain itu, jelaskan pula jika bendungan, taman, penerangan jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, dan transportasi publik untuk memperlancar roda, adalah hasil dari uang pajak. Tanamkan juga rasa syukur kepada anak, "Sudah seharusnya kita bersyukur dengan cara memanfaatkan dan menjaga fasilitas umum dengan baik. Tanpa fasilitas, kita dan orang-orang susah untuk pergi ke mana-mana; susah menjalankan kegiatan".

Pendidikan

Salah satu tujuan utama negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya untuk mewujudkannya melalui pendidikan. Pendidikan bukan sekadar pendidikan saja; bukan pendidikan ala kadarnya; bukan pendidikan asal-asalan. Akan tetapi, pendidikan yang berkualitas. Contoh pendidikan berkualitas yaitu adanya pendidikan cinta tanah air (nasionalisme) di lembaga pendidikan. Penyisipan informasi pentingnya pajak juga termasuk pendidikan nasionalisme. Mengapa demikian? Karena, saat kita membayar pajak, kita mengesampingkan ego dalam diri. Lebih mementingkan kepentingan banyak orang tinimbang kepentingan pribadi.

Ketika berada atau melewati sebuah sekolah, orang tua dapat berkata, "Nak, bangunan sekolah dan gaji guru juga merupakan contoh hasil dari pajak yang kita bayar". Sekolah (negeri) yang sekarang, umumnya tidak ada iuran untuk bangunan dan SPP (Sumbangan Pembinaan Pembayaran) bulanan. Ada BOSP (Bantuan Operasional Satuan Pendidikan) dari pemerintah yang bersumber dari uang pajak.

Kesehatan

Mens sana in corpore sano, 'di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat' adalah pepatah yang mungkin tidak asing di telinga, 'kan? Pepatah yang secara tidak langsung menyuruh kita untuk hidup yang lebih baik melalui olahraga dan gaya hidup sehat. Bagaimana bisa menjadi bangsa yang kuat, jika bangsa itu tidak sehat? Beberapa program pemerintah dalam mengimplementasikan bangsa yang sehat (melalui uang pajak) ialah BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) katagori PBI (Penerima Bantuan Iuran) dan MBG (Makan Bergizi Gratis).

Tanyakan kepada anak, "Nak, tahukah kamu MBG yang kamu makan itu berasal dari mana uangnya? Uangnya tentu saja dari uang pajak. Jadi, kamu harus berterima kasih kepada yang bayar pajak". Tidak hanya itu, gedung rumah sakit dan puskesmas, alat-alat, obat-obatan, serta gaji tenaga dan ketenaga kesehatan juga ada dari uang pajak.

Waktu adanya Corona Virus Disease (covid-19) masuk ke Indonesia, tidak sedikit nyawa melayang. Pemerintah tidak tinggal diam, upaya pun dilakukan. Upaya tersebut didukung oleh pembiayaan dari uang pajak untuk membeli beberapa hal seperti pakaian APD (Alat Pelindung Diri), alat-alat medis, vaksin, dan sembako.

Tubuh yang sehat adalah tubuh yang tidak kurang gizi. Program MBG atau lainnya yang di bidang kesehatan akan berdampak positif jika ditangani dengan baik dan sesuai standar. Jika tidak, bukannya membuat sehat justru membuat sakit.

Bantuan Sosial (Bansos)

Sila kelima Pancasila berbunyi: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tanyakan kepada anak, "Apa lambangnya, Nak?" Ya, padi dan kapas. Melambangkan harapan supaya rakyat dapat hidup sejahtera; hidup layak. Supaya tidak menimbulkan kesenjangan sosial yang terlalu jauh dan rasa iri. Maka dari itu, pemerintah mengadakan berbagai program berupa bantuan sosial (bansos). Bansos ditujukan bagi masyarakat yang ekonominya belum bagus.

Program yang dimaksud ialah pengobatan gratis (katagori PBI dari BPJS kesehatan), Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Bantuan Sosial Tunai (BST), Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa, Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, serta subsidi energi (Bahan Bakar Minyak/BBM, Liquid Pertoleum Gas/ LPG, listrik, dan pupuk).

Program bansos sangat bermanfaat untuk orang yang sedang membutuhkan. Bantuan yang demikian ibarat danau yang jernih di tengah gurun pasir bagi penerima bansos yang tepat sasaran. Sudahkah bansos di negara kita tepat sasaran?

Bidang-bidang di atas merupakan beberapa contoh yang sebagian dananya bersumber dari dana pajak. Membiasakan diri membayar pajak tepat waktu adalah hal terpuji yang nanti akan dikuti oleh anak. Anak merupakan suatu "aset" yang berharga bagi orang tua dan negara. Mendidik mereka dengan baik adalah tugas negara, guru, dan orang tua yang pastinya.

Salah satu pendidikan yang harus ditanamkan dalam diri anak ialah pendidikan tentang pajak. Pajak mengandung nilai-nilai pendidikan karakter di antaranya: nasionalisme dan tidak egois; prihatin, peduli, dan empati; semangat belajar; serta bersyukur. Apabila anak sudah mengenal, bahkan cinta terhadap pajak, maka mereka akan menjadi generasi emas di masa mendatang. Generasi peduli bangsa.

Perluasan "lahan" pajak dapat meningkatkan kemajuan negara dengan catatan dikelola dengan bijak dan amanah. Oleh karena itu, mari kita wujudkan tunas bangsa yang hebat dan negara yang kuat. Caranya, mulai dari diri sendiri dengan membuat NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan membayar pajak tepat pada waktunya. Bangsa yang hebat, negara yang kuat, bayar pajak yang tepat. (*)

Sumber referensi

  • Panjaitan, Rudy Antoni. (2025, September 8). "Pajak: Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Siapa?" Diakses pada 29 Mei 2026, dari https://www.pajak.go.id/id/artikel/pajak-dari-rakyat-oleh-rakyat-untuk-siapa.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

odi yanuwar
Tentang odi yanuwar
Hobi menulis meskipun belum bagus.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)