Jejak Mahasiswa Pendidikan dalam Koordinasi Lintas Budaya di Negeri Jiran

4 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan Selasa 02 Jun 2026, 10:27 WIB
Makan bersama setelah kegiatan perayaan Hari Kartini. (Foto: Dokumen Penulis)

Makan bersama setelah kegiatan perayaan Hari Kartini. (Foto: Dokumen Penulis)

Kami mendarat di Malaysia bukan sekadar sebagai pelancong yang siap berburu konten. Kami datang membawa almamater STAI Kharisma Sukabumi, menunaikan amanah dalam program KKN Internasional. Namun, di balik kebanggaan itu, ada pertanyaan yang terus membekas: apakah hak seorang anak untuk belajar ditentukan oleh lembaran paspornya? Pertanyaan ini menjadi makin mendesak ketika kami melihat langsung realitas anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Sanggar Bimbingan (SB) Bintang Sembilan, Kajang. Sejalan dengan urgensi akses pendidikan bagi anak Indonesia di luar negeri yang saat ini menjadi perhatian prioritas pemerintah, mereka adalah anak-anak yang sering kali tidak terlihat berdarah Indonesia, namun hidup di tanah semenanjung tanpa akses sekolah formal.

Di tengah gemerlap Malaysia yang serba cepat, anak-anak ini merasa tidak dianggap oleh sistem pendidikan, sebuah fenomena yang dalam dunia akademik sering dikaji sebagai tantangan pendidikan berbasis komunitas bagi anak migran. Di sinilah kehadiran kami menjadi jalan bagi mereka untuk kembali bermimpi. Kami sering menyaksikan anak-anak di sana bertanya, "Bagaimana Indonesia itu? Apakah ada kebun binatang seperti di Sabah?" Dengan senyum, kami meyakinkan bahwa Indonesia tidak jauh berbeda. Di sana, mereka kelak akan menemukan tempat bermain tanpa perlu takut akan regulasi dokumen—sebuah ketenangan yang menjadi impian setiap anak di sana.

Adaptasi Lintas Budaya

Pengalaman saya selama KKN di sana menyadarkan bahwa gotong royong antar-mahasiswa adalah kunci utama dalam menjaga rasa cinta tanah air anak-anak tersebut. Bertugas di Sanggar Bimbingan yang dikelola dengan nilai-nilai pesantren membuat kegiatan kami terasa sangat dekat dengan keseharian di Sukabumi, memberikan rasa aman pada setiap langkah yang kami ambil.

Suasana pengajian bersama anak Sanggar Bimbingan (Foto: Dokumentasi Penulis)
Suasana pengajian bersama anak Sanggar Bimbingan (Foto: Dokumentasi Penulis)

Awalnya, kami sempat cemas apakah bahasa dan materi yang kami sampaikan bisa menyentuh hati mereka. Namun, keraguan itu sirna karena kami menemukan lingkungan yang sangat terbuka. Bertemu dengan banyak orang dari Sukabumi, Tasikmalaya, hingga Bandung di tanah rantau seolah menjadi jawaban semesta. Kami merasa tidak sedang mengajar di negeri asing, melainkan sedang merajut persaudaraan di rumah sendiri. Peran kami di sini bukan lagi tentang menggurui, melainkan tentang bagaimana merangkul kebutuhan emosional anak-anak yang terbiasa hidup dalam ketidakpastian.

Sanggar Bimbingan "Bintang Sembilan": Pesantren Kecil di Tanah Perantauan

Suasana di SB Bintang Sembilan sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi kami. Sebelum melangkah sejauh ini, bau kertas kitab kuning dan riuh rendah santri sudah menjadi bagian dari keseharian kami di pesantren. Memang ada perbedaan teknis di lapangan, namun hal itu justru menjadi warna tersendiri. Dengan nilai-nilai keislaman yang santun, sanggar ini berhasil menciptakan ekosistem belajar yang seimbang.

Secara formal, SB Bintang Sembilan menjalankan Kurikulum Pendidikan Kesetaraan. Namun, jadwal yang tersusun rapi di sini membuktikan bahwa pendidikan karakter adalah napas utamanya. Pagi hari, anak-anak fokus pada pelajaran formal. Begitu matahari meninggi, suasana berubah khidmat saat kelas atas mulai menyelami baris-baris Kitab Kuning. Sore hingga malam hari diisi dengan lantunan Al-Qur'an yang memecah kesunyian Kajang.

Di sini, kami mendampingi mereka menyentuh langsung sumber ilmu yang selama ini menjadi napas pesantren: Kitab Kuning. Bagi kami, suara mereka saat mengeja bait-bait kitab menjadi pengingat yang teduh bahwa adab harus ditanam jauh sebelum ilmu dituai. Melalui rutinitas pembacaan Ratib, bimbingan tartil, hingga dzikir harian, kami melihat bahwa pendidikan karakter bukan hanya soal buku, tapi tentang apa yang dibiasakan dalam kalbu.

Menyalakan Cahaya di Garis Batas

Menjadi pengajar di garis batas memberikan sudut pandang baru tentang arti ketangguhan. Di depan kelas, kami tidak hanya berhadapan dengan siswa, melainkan dengan jiwa-jiwa kecil yang sedang berjuang melawan keterbatasan status mereka. Namun, setiap kali lembaran kitab kuning dibuka, beban itu seolah luruh.

Mengajarkan akhlak kepada mereka bukanlah tugas satu arah. Justru, kamilah yang banyak belajar tentang arti syukur. Kayla, anak yang biasanya paling aktif berlarian, tiba-tiba menarik ujung baju kami. Dengan tatapan polos ia berucap, 'Kak, sepertinya kita akan terus rindu Kakak, meskipun nanti akan ada kakak KKN yang baru.' Ucapan itu membuat kami tertegun. Kami sadar, ilmu adab dan kaidah keagamaan yang kami bagikan mungkin sederhana, namun itulah bekal paling berharga bagi mereka untuk menjaga martabatnya di tengah dunia yang tak selalu ramah.

Menjaga Nyala Bintang di Tanah Semenanjung

Perjalanan ini menyadarkan kami bahwa pendidikan sejati melampaui batas ruang kelas dan sekat paspor. Tugas merawat akhlak anak bangsa bukan hanya soal memindahkan isi kitab ke kepala mereka, melainkan tentang bagaimana menjaga nyala harapan agar mereka tetap bangga dengan identitasnya. Di sini, kami belajar bahwa ilmu yang paling berbekas adalah ilmu yang dipraktikkan dengan ketulusan.

Meskipun kami datang dengan misi memberi, pada akhirnya kamilah yang banyak menerima pelajaran berharga. Kami belajar tentang ketangguhan dari anak-anak yang tetap ceria mengaji meski dalam keterbatasan, serta belajar tentang arti persaudaraan dari para orang tua PMI yang merangkul kami tanpa sekat.

Harapan kami sederhana, semoga setiap bait akhlak yang ditanam hari ini mampu menjadi cahaya selayaknya nama Bintang Sembilan yang menerangi masa depan mereka. Lagipula, pendidikan bukan cuma soal gelar, tapi soal sejauh mana kita mampu menjaga martabat kemanusiaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)