Jejak Mahasiswa Pendidikan dalam Koordinasi Lintas Budaya di Negeri Jiran

4 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan
Makan bersama setelah kegiatan perayaan Hari Kartini. (Foto: Dokumen Penulis)
Makan bersama setelah kegiatan perayaan Hari Kartini. (Foto: Dokumen Penulis)

Kami mendarat di Malaysia bukan sekadar sebagai pelancong yang siap berburu konten. Kami datang membawa almamater STAI Kharisma Sukabumi, menunaikan amanah dalam program KKN Internasional. Namun, di balik kebanggaan itu, ada pertanyaan yang terus membekas: apakah hak seorang anak untuk belajar ditentukan oleh lembaran paspornya? Pertanyaan ini menjadi makin mendesak ketika kami melihat langsung realitas anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Sanggar Bimbingan (SB) Bintang Sembilan, Kajang. Sejalan dengan urgensi akses pendidikan bagi anak Indonesia di luar negeri yang saat ini menjadi perhatian prioritas pemerintah, mereka adalah anak-anak yang sering kali tidak terlihat berdarah Indonesia, namun hidup di tanah semenanjung tanpa akses sekolah formal.

Di tengah gemerlap Malaysia yang serba cepat, anak-anak ini merasa tidak dianggap oleh sistem pendidikan, sebuah fenomena yang dalam dunia akademik sering dikaji sebagai tantangan pendidikan berbasis komunitas bagi anak migran. Di sinilah kehadiran kami menjadi jalan bagi mereka untuk kembali bermimpi. Kami sering menyaksikan anak-anak di sana bertanya, "Bagaimana Indonesia itu? Apakah ada kebun binatang seperti di Sabah?" Dengan senyum, kami meyakinkan bahwa Indonesia tidak jauh berbeda. Di sana, mereka kelak akan menemukan tempat bermain tanpa perlu takut akan regulasi dokumen—sebuah ketenangan yang menjadi impian setiap anak di sana.

Adaptasi Lintas Budaya

Pengalaman saya selama KKN di sana menyadarkan bahwa gotong royong antar-mahasiswa adalah kunci utama dalam menjaga rasa cinta tanah air anak-anak tersebut. Bertugas di Sanggar Bimbingan yang dikelola dengan nilai-nilai pesantren membuat kegiatan kami terasa sangat dekat dengan keseharian di Sukabumi, memberikan rasa aman pada setiap langkah yang kami ambil.

Suasana pengajian bersama anak Sanggar Bimbingan (Foto: Dokumentasi Penulis)
Suasana pengajian bersama anak Sanggar Bimbingan (Foto: Dokumentasi Penulis)

Awalnya, kami sempat cemas apakah bahasa dan materi yang kami sampaikan bisa menyentuh hati mereka. Namun, keraguan itu sirna karena kami menemukan lingkungan yang sangat terbuka. Bertemu dengan banyak orang dari Sukabumi, Tasikmalaya, hingga Bandung di tanah rantau seolah menjadi jawaban semesta. Kami merasa tidak sedang mengajar di negeri asing, melainkan sedang merajut persaudaraan di rumah sendiri. Peran kami di sini bukan lagi tentang menggurui, melainkan tentang bagaimana merangkul kebutuhan emosional anak-anak yang terbiasa hidup dalam ketidakpastian.

Sanggar Bimbingan "Bintang Sembilan": Pesantren Kecil di Tanah Perantauan

Suasana di SB Bintang Sembilan sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi kami. Sebelum melangkah sejauh ini, bau kertas kitab kuning dan riuh rendah santri sudah menjadi bagian dari keseharian kami di pesantren. Memang ada perbedaan teknis di lapangan, namun hal itu justru menjadi warna tersendiri. Dengan nilai-nilai keislaman yang santun, sanggar ini berhasil menciptakan ekosistem belajar yang seimbang.

Secara formal, SB Bintang Sembilan menjalankan Kurikulum Pendidikan Kesetaraan. Namun, jadwal yang tersusun rapi di sini membuktikan bahwa pendidikan karakter adalah napas utamanya. Pagi hari, anak-anak fokus pada pelajaran formal. Begitu matahari meninggi, suasana berubah khidmat saat kelas atas mulai menyelami baris-baris Kitab Kuning. Sore hingga malam hari diisi dengan lantunan Al-Qur'an yang memecah kesunyian Kajang.

Di sini, kami mendampingi mereka menyentuh langsung sumber ilmu yang selama ini menjadi napas pesantren: Kitab Kuning. Bagi kami, suara mereka saat mengeja bait-bait kitab menjadi pengingat yang teduh bahwa adab harus ditanam jauh sebelum ilmu dituai. Melalui rutinitas pembacaan Ratib, bimbingan tartil, hingga dzikir harian, kami melihat bahwa pendidikan karakter bukan hanya soal buku, tapi tentang apa yang dibiasakan dalam kalbu.

Menyalakan Cahaya di Garis Batas

Menjadi pengajar di garis batas memberikan sudut pandang baru tentang arti ketangguhan. Di depan kelas, kami tidak hanya berhadapan dengan siswa, melainkan dengan jiwa-jiwa kecil yang sedang berjuang melawan keterbatasan status mereka. Namun, setiap kali lembaran kitab kuning dibuka, beban itu seolah luruh.

Mengajarkan akhlak kepada mereka bukanlah tugas satu arah. Justru, kamilah yang banyak belajar tentang arti syukur. Kayla, anak yang biasanya paling aktif berlarian, tiba-tiba menarik ujung baju kami. Dengan tatapan polos ia berucap, 'Kak, sepertinya kita akan terus rindu Kakak, meskipun nanti akan ada kakak KKN yang baru.' Ucapan itu membuat kami tertegun. Kami sadar, ilmu adab dan kaidah keagamaan yang kami bagikan mungkin sederhana, namun itulah bekal paling berharga bagi mereka untuk menjaga martabatnya di tengah dunia yang tak selalu ramah.

Menjaga Nyala Bintang di Tanah Semenanjung

Perjalanan ini menyadarkan kami bahwa pendidikan sejati melampaui batas ruang kelas dan sekat paspor. Tugas merawat akhlak anak bangsa bukan hanya soal memindahkan isi kitab ke kepala mereka, melainkan tentang bagaimana menjaga nyala harapan agar mereka tetap bangga dengan identitasnya. Di sini, kami belajar bahwa ilmu yang paling berbekas adalah ilmu yang dipraktikkan dengan ketulusan.

Meskipun kami datang dengan misi memberi, pada akhirnya kamilah yang banyak menerima pelajaran berharga. Kami belajar tentang ketangguhan dari anak-anak yang tetap ceria mengaji meski dalam keterbatasan, serta belajar tentang arti persaudaraan dari para orang tua PMI yang merangkul kami tanpa sekat.

Harapan kami sederhana, semoga setiap bait akhlak yang ditanam hari ini mampu menjadi cahaya selayaknya nama Bintang Sembilan yang menerangi masa depan mereka. Lagipula, pendidikan bukan cuma soal gelar, tapi soal sejauh mana kita mampu menjaga martabat kemanusiaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)