Aspal, Antrean, dan Orang-Orang yang Tetap Bertahan

4 menit baca
Ihsan Ramadan
Ditulis oleh Ihsan Ramadan diterbitkan
Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Setiap hari, kita bisa melihat berbagai jenis orang di jalanan Kota Bandung yang kita tempati. Ketika jam-jam balik kerja dan jam sibuk, kita bisa melihat raut wajah setiap orang yang letih dari balik kaca helm yang mereka pakai atau dari kaca mobil yang mereka setir. Melihat mereka, duduk letih dan lesu di dalam transportasi publik yang mereka tumpangi, hingga mereka yang berjalan dengan tatapan kosong untuk pulang ke tempat singgah mereka demi beristirahat sejenak dan mengumpulkan energi untuk mengulang hal ini berulang-ulang kali. Entah sampai kapan, tidak ada yang tau, yang pasti mereka harus mengulang hal ini demi keluarga yang dinafkahi, demi masa depan yang dicita-citakan dan mungkin demi nasi untuk sekedar hidup di hari ini. 

Sudah  menjadi pengetahuan umum bagi kita yang tinggal disini bahwa di waktu seperti ini tiap titik di Kota Bandung pastilah sangat amat macet. Kemacetan ini sangat menguras energi kita yang melakukan mobilitas di jalan perkotaan. Membuang waktu kita hingga berjam-jam demi menghadapi permasalahan ini yang tak pernah kunjung selesai. Kemacetan ini bukan cuma berdasarkan asumsi kita saja atau sugesti semata tapi fakta nyata yang divalidasi oleh data ilmiah dan riset lalu lintas global. Kota Bandung dinobatkan sebagai kota termacet nomor satu di Indonesia dan nomor 16 di dunia. Wow, angka yang sangat fantastis. Jika itu ialah klaim penghargaan mungkin kita sangat teramat bangga sebagai Wargi Bandung, tapi sayangnya ini ialah penobatan kota termacet, sesuatu yang sangat dihindari bagi mereka yang sering melakukan mobilitas. Yang paling berat bukan macetnya. Yang paling berat adalah ketika seorang ayah tiba di rumah pukul 21.00, dan anaknya sudah tidur. Lagi. untuk kesekian kalinya.

Bandung selalu punya cara untuk terlihat cantik di mata orang luar. Kota Kembang, kata mereka. Udaranya sejuk, katanya. Tempatnya asyik, konon. Dan memang benar jika kamu datang dari Jakarta di akhir pekan, memesan kopi di cafe bergaya industrial di Dago, lalu mengunggah foto dengan caption “Bandung always have my heart” atau “Bandung kota yang ngangenin dan kota romantis”, maka Bandung memang sempurna. Tapi coba tanyakan kepada Ibu yang setiap pagi berdesakan di angkot menuju Pasar Kosambi. Tanyakan kepada bapak ojek online yang sudah tiga jam berputar-putar di Pasteur tapi belum satu orderan pun selesai karena jalanan tidak bergerak. Tanyakan kepada anak SMA yang terlambat ujian bukan karena malas bangun pagi, tapi karena bus yang ia tunggu ternyata terjebak dua kilometer dari halte. Bandung yang mereka tahu bukan Bandung yang ada di feed Instagram. Bandung mereka adalah asap yang mengendap di paru-paru dan waktu yang terbuang tanpa bisa diminta kembali.

Kita semua tahu siapa yang paling bisa melakukan perubahan ini, mereka semua tau apa yang seharusnya dibenah agar angka ini berkurang atau bahkan hilang, tetapi percuma. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa mereka lakukan hanya berfikir bagaimana hari esok akan berjalan. Sambil berharap keajaiban akan datang dan mengubah nasib mereka dalam waktu dekat. Ya, dalam hal ini tidak ada yang benar-benar bisa mengubah predikat negatif ini ataupun menghilangkan kemacetan ini kecuali pemerintahan itu sendiri. Pemerintah Kota Bandung Beserta Gubernur Jawa Barat yang sekarang sedang menjabat. 

Kenapa harus melibatkan Gubernur Jawa Barat, padahal yang dinobatkan sebagai daerah termacet hanyalah Kota Bandung? Jawabannya sederhana, karena permasalahan Kemacetan di Kota Bandung ini sudah bukan lagi masalah Kota Bandung, akan tetapi permasalahan yang bersifat regional(Bandung Raya) yang tentu saja melibatkan komuter dari Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan daerah lainnya juga. Dalam permasalahan ini, Walikota Bandung dan gubernur Jawa Barat memegang kendali penuh atas kemauan politik(political will) untuk mengeksekusi anggaran, menerbitkan Peraturan Daerah(Perda) terkait pembatasan kendaraan, dan melakukan reformasi transportasi massal.

Kita tahu pemerintah perlahan-lahan melakukan pembenahan akan hal ini. tapi , pertanyaannya adalah : sampai berapa banyak lagi waktu yang harus dicuri dari orang-orang yang sudah tidak punya banyak waktu? Mereka tertekan dengan kondisi yang tidak segera membaik ini, mereka dipaksa untuk menerima keadaan ini hingga berlarut-larut. Pilihannya hanya dua: terima keadaan atau pergi dari Kota Bandung. Karena  mereka yang tinggal di Bandung tentu saja mereka yang memiliki cerita yang panjang dalam membentuk karakter mereka : jiwa kesabaran yang tinggi dalam menghadapi dinamikanya, pekerja keras dalam tanggung jawabnya, dan rela berkorban demi mereka yang dituju. Mereka semua punya tujuan dan alasan masing-masing untuk tetap bertahan di Kota Bandung yang amat padat ini. 

Setelah ini, ketika tulisan ini selesai dibaca, masih ada seseorang di luar sana yang sedang terjebak di antara Pasteur dan Pasupati. Masih ada yang mengetuk-ngetuk setir dengan jari karena sudah tidak tahu harus berbuat apa. Masih ada yang menatap layar ponselnya, mengirim pesan kepada istri atau anaknya — "masih di jalan."Tiga kata yang sudah terlalu sering terkirim. Terlalu sering dibaca. Terlalu sering diterima dengan pasrah. Dan besok, semuanya akan terulang lagi. Karena di kota ini, sabar bukan lagi pilihan — ia sudah menjadi syarat untuk bertahan hidup. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)