Aspal, Antrean, dan Orang-Orang yang Tetap Bertahan

4 menit baca
Ihsan Ramadan
Ditulis oleh Ihsan Ramadan diterbitkan Rabu 03 Jun 2026, 08:33 WIB
Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Setiap hari, kita bisa melihat berbagai jenis orang di jalanan Kota Bandung yang kita tempati. Ketika jam-jam balik kerja dan jam sibuk, kita bisa melihat raut wajah setiap orang yang letih dari balik kaca helm yang mereka pakai atau dari kaca mobil yang mereka setir. Melihat mereka, duduk letih dan lesu di dalam transportasi publik yang mereka tumpangi, hingga mereka yang berjalan dengan tatapan kosong untuk pulang ke tempat singgah mereka demi beristirahat sejenak dan mengumpulkan energi untuk mengulang hal ini berulang-ulang kali. Entah sampai kapan, tidak ada yang tau, yang pasti mereka harus mengulang hal ini demi keluarga yang dinafkahi, demi masa depan yang dicita-citakan dan mungkin demi nasi untuk sekedar hidup di hari ini. 

Sudah  menjadi pengetahuan umum bagi kita yang tinggal disini bahwa di waktu seperti ini tiap titik di Kota Bandung pastilah sangat amat macet. Kemacetan ini sangat menguras energi kita yang melakukan mobilitas di jalan perkotaan. Membuang waktu kita hingga berjam-jam demi menghadapi permasalahan ini yang tak pernah kunjung selesai. Kemacetan ini bukan cuma berdasarkan asumsi kita saja atau sugesti semata tapi fakta nyata yang divalidasi oleh data ilmiah dan riset lalu lintas global. Kota Bandung dinobatkan sebagai kota termacet nomor satu di Indonesia dan nomor 16 di dunia. Wow, angka yang sangat fantastis. Jika itu ialah klaim penghargaan mungkin kita sangat teramat bangga sebagai Wargi Bandung, tapi sayangnya ini ialah penobatan kota termacet, sesuatu yang sangat dihindari bagi mereka yang sering melakukan mobilitas. Yang paling berat bukan macetnya. Yang paling berat adalah ketika seorang ayah tiba di rumah pukul 21.00, dan anaknya sudah tidur. Lagi. untuk kesekian kalinya.

Bandung selalu punya cara untuk terlihat cantik di mata orang luar. Kota Kembang, kata mereka. Udaranya sejuk, katanya. Tempatnya asyik, konon. Dan memang benar jika kamu datang dari Jakarta di akhir pekan, memesan kopi di cafe bergaya industrial di Dago, lalu mengunggah foto dengan caption “Bandung always have my heart” atau “Bandung kota yang ngangenin dan kota romantis”, maka Bandung memang sempurna. Tapi coba tanyakan kepada Ibu yang setiap pagi berdesakan di angkot menuju Pasar Kosambi. Tanyakan kepada bapak ojek online yang sudah tiga jam berputar-putar di Pasteur tapi belum satu orderan pun selesai karena jalanan tidak bergerak. Tanyakan kepada anak SMA yang terlambat ujian bukan karena malas bangun pagi, tapi karena bus yang ia tunggu ternyata terjebak dua kilometer dari halte. Bandung yang mereka tahu bukan Bandung yang ada di feed Instagram. Bandung mereka adalah asap yang mengendap di paru-paru dan waktu yang terbuang tanpa bisa diminta kembali.

Kita semua tahu siapa yang paling bisa melakukan perubahan ini, mereka semua tau apa yang seharusnya dibenah agar angka ini berkurang atau bahkan hilang, tetapi percuma. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa mereka lakukan hanya berfikir bagaimana hari esok akan berjalan. Sambil berharap keajaiban akan datang dan mengubah nasib mereka dalam waktu dekat. Ya, dalam hal ini tidak ada yang benar-benar bisa mengubah predikat negatif ini ataupun menghilangkan kemacetan ini kecuali pemerintahan itu sendiri. Pemerintah Kota Bandung Beserta Gubernur Jawa Barat yang sekarang sedang menjabat. 

Kenapa harus melibatkan Gubernur Jawa Barat, padahal yang dinobatkan sebagai daerah termacet hanyalah Kota Bandung? Jawabannya sederhana, karena permasalahan Kemacetan di Kota Bandung ini sudah bukan lagi masalah Kota Bandung, akan tetapi permasalahan yang bersifat regional(Bandung Raya) yang tentu saja melibatkan komuter dari Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan daerah lainnya juga. Dalam permasalahan ini, Walikota Bandung dan gubernur Jawa Barat memegang kendali penuh atas kemauan politik(political will) untuk mengeksekusi anggaran, menerbitkan Peraturan Daerah(Perda) terkait pembatasan kendaraan, dan melakukan reformasi transportasi massal.

Kita tahu pemerintah perlahan-lahan melakukan pembenahan akan hal ini. tapi , pertanyaannya adalah : sampai berapa banyak lagi waktu yang harus dicuri dari orang-orang yang sudah tidak punya banyak waktu? Mereka tertekan dengan kondisi yang tidak segera membaik ini, mereka dipaksa untuk menerima keadaan ini hingga berlarut-larut. Pilihannya hanya dua: terima keadaan atau pergi dari Kota Bandung. Karena  mereka yang tinggal di Bandung tentu saja mereka yang memiliki cerita yang panjang dalam membentuk karakter mereka : jiwa kesabaran yang tinggi dalam menghadapi dinamikanya, pekerja keras dalam tanggung jawabnya, dan rela berkorban demi mereka yang dituju. Mereka semua punya tujuan dan alasan masing-masing untuk tetap bertahan di Kota Bandung yang amat padat ini. 

Setelah ini, ketika tulisan ini selesai dibaca, masih ada seseorang di luar sana yang sedang terjebak di antara Pasteur dan Pasupati. Masih ada yang mengetuk-ngetuk setir dengan jari karena sudah tidak tahu harus berbuat apa. Masih ada yang menatap layar ponselnya, mengirim pesan kepada istri atau anaknya — "masih di jalan."Tiga kata yang sudah terlalu sering terkirim. Terlalu sering dibaca. Terlalu sering diterima dengan pasrah. Dan besok, semuanya akan terulang lagi. Karena di kota ini, sabar bukan lagi pilihan — ia sudah menjadi syarat untuk bertahan hidup. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ihsan Ramadan
Tentang Ihsan Ramadan
a student at an university in Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:57

Jejak Kampung Batik Trusmi: Dari Warisan Kesultanan hingga Menjadi Fashion Modern

Teknik membatik di Desa Trusmi dan motif-motif batik yang ada di Batik Trusmi atau Batik Cirebon.

Tugu ikonik "Selamat Datang Di Kawasan Batik Trusmi". (Sumber: cirebonkab.go.id)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:29

Panduan Berkunjung ke Kebun Teh Taraju Tasikmalaya, Hamparan Hijau Warisan Kolonial di Selatan Priangan

Kebun Teh Taraju menawarkan panorama hijau Priangan Selatan, pabrik teh kolonial 1909, tea walk, hingga suasana pegunungan yang sejuk.

Kebun Teh Taraju Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @Instagram/wisata_taraju)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:18

Jelajah Puncak Mega Gunung Puntang, Favorit Para Pendaki Tektok yang Eksotis

Puncak Mega di Gunung Puntang menawarkan jalur tektok, lautan kabut, dan panorama eksotis Bandung Selatan.

Puncak Mega Gunung Puntang. (Sumber: Pemkab Bandung)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:02

Kota Kembang Rawan Pohon Tumbang Sejak Masa Kolonial

Kota Bandung sering kali menghadirkan kesan romantis, baik bagi warga setempat maupun wisatawan.

Sudut fotogenik Jalan Asia Afrika di Kota Bandung yang menampilkan sebuah kutipan dari M.A.W. Brouwer sebagai ungkapan rasa cintanya kepada tanah Pasundan. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Kaneza Bani Aththoriah Hawami)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 18:10

Hadiah Fantastis Indonesia Open Super 1000, Siapa Pemain Paling Banyak Raih Gelar?

POLYTRON Indonesia Open 2026 pekan ini sedang digelar  di Istora Gelora Bung Karno.

POLYTRON Indonesia Open 2026 pekan ini sedang digelar  di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta 2 hingga 7 Juni mendatang. (Sumber: PBSI)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 17:32

Peran Penting Gedung Landraad dalam Sistem Peradilan Hindia Belanda

Gedung Landraad merupakan bangunan peninggalan Belanda yang dulu digunakan sebagai pengadilan pribumi.

 (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Sani Damayanti)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 16:27

Rampog Macan: Tradisi, Kontrovesi, dan Akhir Sebuah Permainan Tradisional

Permainan Rampog Macan mendapat perhatian dari berbagai kalangan dan tidak luput dari pandangan kaum Belanda.

Harimau pada permainan Rampog Macan. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 15:50

Jejak Rasa Kelezatan Doclang, Kuliner Legendaris Bogor dengan Lontong Daun Patat

Doclang menjadi salah satu kuliner khas Bogor yang kaya sejarah, terkenal dengan lontong pesor, bumbu kacang kencur, dan cita rasa tradisional.

Doclang khas Bogor. (Foto: AI generated image)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 14:26

Dari Masa Kolonial ke Modern: Perkembangan Jaringan Kereta Api di Tulungagung

Menengok historitas jaringan kereta api di Tulungagung, Jawa Timur, sejak awal dibangunnya pada masa kolonial Belanda.

Tampak depan Stasiun Tulungagung saat ini. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi/Aditya Sheva Putra Indrawan)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 13:15

Market Driven atau Potential Driven, Dilema Bisnis Koperasi Merah Putih

Dibawa kemana arah bisnis KDKMP akan tergantung pada eksekusi yang dilakukan para pengurus?

Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 12:22

Membayangkan Persib tanpa Wa Haji Umuh

Siapapun Manajer Persib, diperlukan sosok yang mampu menjaga keseimbangan di tengah gelombang dinamika klub.

Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muchtar. (Sumber: AyoPersib | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 11:26

Kembali Tenang dengan Ritual Grounding

Yuk, kenalan dengan somatic healing dan ritual grounding sederhana untuk kembali tenang.

Menyendiri (Sumber: Unplash)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 10:09

Saring Sebelum Pusing: Memutus Rantai Kepanikan Digital

Membekali masyarakat dengan literasi digital yang memadai adalah kunci pertama.

 (Sumber: AI Generated)
Beranda 03 Jun 2026, 09:06

Di Balik Ramainya Kampanye, Mengapa Korban Kekerasan Perempuan Masih Memilih Diam?

Meski edukasi dan kampanye terus digencarkan, banyak korban kekerasan terhadap perempuan masih memilih diam. Kurangnya empati dan kuatnya victim blaming.

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 08:33

Aspal, Antrean, dan Orang-Orang yang Tetap Bertahan

Kenapa harus melibatkan Gubernur Jawa Barat, padahal yang dinobatkan sebagai daerah termacet hanyalah Kota Bandung?

Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 20:10

Refleksi Hari Lahir Pancasila

Sebuah momentum untuk kembali merenungkan warisan pemikiran Bung Karno dan cita-cita Indonesia yang terus diperjuangkan dari masa ke masa.

Bung Karno dan kelahiran Pancasila. (Sumber: Harian Umum Kompas edisi 1 Juni 2001. | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 02 Jun 2026, 19:23

Jelajah Rasa Cungkring, Sajian Kikil dan Bumbu Kacang Khas Bogor

Cungkring menawarkan cita rasa khas dari kikil, bibir sapi, lontong daun patat, dan bumbu kacang yang diwariskan lintas generasi.

Cungkring Bogor. (Sumber: Shutterstock)
Sejarah 02 Jun 2026, 18:18

Goa Peteng, Bunker Peninggalan Belanda yang Masih Berdiri Kokoh di Cicalengka

Goa Peteng di Cicalengka diduga bagian dari jaringan pertahanan militer Belanda yang terhubung dengan Nagreg.

Goa Peteng, bunker peninggalan Belanda di Cicalengka. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 18:08

Kota Kembang Kejang-Kejang

Heboh dan trennya tari kejang atau breakdance tahun 1980-an di Bandung serta momen penting breakdance bulan Juni tahun 2022

Ilustrasi breakdance tahun 1980-an di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Cu Trí)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 17:01

Tema Ayo Netizen Juni 2026: Bebas Bersuara, Ikuti Momentum

Mulai Juni 2026, format tema bulanan Ayo Netizen resmi dibebaskan.

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar seni tari tradisional di Museum Sri Baduga, Jalan BKR, Kota Bandung pada Selasa, 14 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)