Demokrasi Narsistik dan Kita yang Menyediakan Panggungnya

5 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan KDM. (Sumber: setda.bogorkab.go.id)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan KDM. (Sumber: setda.bogorkab.go.id)

Dalam sepuluh tahun terakhir, masyarakat Indonesia seolah makin terbius oleh dramatisasi politik. Kita tidak hanya pasif menerima komunikasi yang serba permukaan, tetapi juga menjadi simpul utama penyebarannya.

Setiap kali seorang pemimpin menangis di depan kamera, membagi bantuan dengan ekspresi tulus, atau membentak petugas pasar sambil direkam dari berbagai sudut, kita cepat-cepat menyebarkannya.

Tidak banyak bertanya, apalagi mengkritisi. Dalam suasana seperti itu, demokrasi justru kehilangan kedalaman. Ia berubah menjadi demokrasi narsistik.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan KDM, adalah contoh mutakhir dari pola ini. Ia bukan hanya memahami logika viralitas, tetapi juga mengendalikannya. Dalam berbagai aksinya, ia tahu bahwa yang menyentuh emosi akan lebih efektif daripada yang menjelaskan data.

Maka ia memilih tampil emosional ketimbang struktural. Tangis lebih diutamakan daripada transparansi. Pelukan lebih penting daripada peta jalan. Apa yang dibagikan di layar seolah lebih penting daripada apa yang dirumuskan di meja rapat.

Namun KDM bukan satu-satunya. Presiden Joko Widodo sejak periode pertamanya pun telah membangun komunikasi publik dengan pendekatan serupa. Sapaan sederhana, kunjungan mendadak, blusukan yang penuh sentuhan, semua menjadi modal simbolik yang sangat kuat.

Tapi di balik gestur itu, publik justru abai saat ia mengawal transformasi politik yang melonggarkan batas etis kekuasaan. Kita diam saat putranya melesat jadi pejabat publik tanpa proses yang wajar.

Kita pura-pura lupa bahwa demokrasi bukan soal kesederhanaan simbolik, tapi soal pertanggungjawaban konstitusional. Kita terbius karena cara komunikasi mereka begitu efektif menghipnosis massa.

Masalahnya bukan semata pada KDM atau Jokowi. Masalahnya adalah kita. Kita sebagai warga negara telah memberi ruang yang terlalu besar pada pertunjukan citra.

Kita ikut merayakan pemimpin yang tampil dramatis meski tak jelas arah kebijakan makronya. Kita diam, bahkan membela, ketika simbol menggantikan substansi.

Media massa tentu punya andil, tetapi dalam ekosistem digital hari ini, netizen jauh lebih menentukan arah persepsi. Dan netizen mayoritas justru memproduksi pembenaran. Siapa yang viral dianggap benar. Siapa yang dekat dengan rakyat dalam tayangan, dianggap pasti berpihak.

Baca Juga: Polemik Al-Ihsan dan Tips-Trik Digital Public Relations ala KDM

Dramatisasi Konten

Gubernur Jabar terpilih Kang Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Gubernur Jabar terpilih Kang Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)

Dalam dunia yang dibanjiri konten, dramatisasi menjadi taktik utama. Tangisan, pelukan, bentakan, hingga debat terbuka di pasar menjadi alat komunikasi yang sah.

Emosi yang terekam kamera memiliki nilai lebih tinggi daripada argumen rasional. Pemimpin tak lagi dilihat dari kedalaman ide, melainkan dari intensitas ekspresi yang bisa direkam.

Maka tak heran jika strategi berikutnya adalah membagikan bantuan sambil merekamnya secara penuh. Gift economy berubah menjadi content economy. Rakyat yang diberi merasa bersyukur, pemimpin yang memberi mendapat impresi.

Namun semua itu tetap memerlukan pilihan isu yang tepat. Yang paling disukai adalah isu-isu yang mengandung nilai kekeluargaan, moralitas publik, dan penderitaan.

Cerita tentang anak tukang becak, siswa berprestasi yang hidup susah, atau ibu renta yang belum mendapat bantuan akan lebih cepat menyebar dibanding berita perencanaan infrastruktur atau kebijakan pangan. Emosi lebih mudah viral daripada logika.

Pemimpin pun didorong lebih banyak menangis bersama rakyat daripada membangun sistem yang adil bagi rakyat.

Di titik inilah kita berada dalam apa yang disebut Guy Debord dalam bukunya The Society of the Spectacle (1967) sebagai masyarakat spektakel. Dalam masyarakat semacam ini, yang tampak lebih penting daripada yang nyata.

Hubungan sosial tidak lagi dibangun atas dasar kepercayaan, melainkan berdasarkan gambar-gambar yang direkayasa dan disebarkan. Dalam politik spektakel, janji bisa lebih dulu menjadi tajuk berita sebelum menjadi kebijakan yang bisa diukur.

Fenomena ini bukan hal baru dalam kajian komunikasi. Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1959) menyebut bahwa kehidupan sosial adalah panggung, dan manusia adalah aktor yang menampilkan diri sesuai tuntutan audiens.

Dalam konteks itu, identitas pemimpin adalah performa yang dibentuk, bukan cerminan kerja nyata.

Sementara Adorno dan Horkheimer dalam Dialectic of Enlightenment (1947) telah lama memperingatkan bahwa budaya massa membuat masyarakat makin pasif karena disuguhi tontonan yang dikemas manis namun kosong isi. Kita lebih sering mengonsumsi citra daripada menggugat substansi.

Kisah bonus dua miliar untuk Persib hanyalah satu fragmen dari pola yang lebih besar. Janji itu sempat dielu-elukan, disambut tepuk tangan, dan beredar luas sebagai simbol kepedulian pemimpin terhadap olahraga rakyat. Tetapi ketika realisasi tak sesuai ekspektasi, riuhnya segera lenyap.

Tak banyak yang bertanya lanjut, apalagi mengejar pertanggungjawaban. Seolah-olah viralitas telah menggugurkan kewajiban konkret.

Di sinilah kita melihat bagaimana ruang publik mulai kehilangan daya ingatnya, dan politik digerakkan bukan oleh keteguhan niat, melainkan kecepatan impresi.

Dalam kondisi semacam ini, yang dipelihara bukan lagi kepercayaan berbasis bukti, melainkan keterikatan emosional yang dipoles terus-menerus.

Pemimpin tampil sebagai figur inspiratif di layar, sementara masyarakat menikmati ilusi kedekatan yang dikonstruksi algoritma. Di balik semua itu, substansi kian tergerus, dan logika kebijakan dikebiri oleh logika konten.

Masyarakat Indonesia hari ini tidak sedang kekurangan informasi, tetapi sedang kebanjiran distraksi. Kita tidak kekurangan calon pemimpin, tetapi kekurangan keberanian untuk melihat melampaui sorot kamera.

Kita terjebak dalam romantisme citra, dan secara tidak sadar menjadi ekosistem yang menyuburkan demokrasi yang rapuh: demokrasi yang lebih senang diperhatikan daripada dipertanyakan.

Baca Juga: 10 Tulisan Terbaik AYO NETIZEN Juni 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta

Jika arah ini tidak kita ubah, maka konsekuensinya bukan hanya hilangnya kepercayaan, tetapi juga hilangnya kapasitas kritis kita sebagai warga negara.

Bukan hanya pemimpin yang akan terus tampil kosong tapi penuh dramatisasi, tetapi juga rakyat yang makin nyaman jadi penonton, bukan pengendali.

Sudah waktunya kita berhenti memberi panggung bagi yang sekadar bisa tampil. Sudah saatnya kita mulai bertanya, bukan hanya menonton.

Karena jika kita terus memuja yang dramatis dan mengabaikan yang strategis, maka kita bukan sedang membangun masa depan, melainkan sedang menyunting episode berikutnya dari sandiwara yang sama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)