Saring Sebelum Pusing: Memutus Rantai Kepanikan Digital

3 menit baca
Muhammad Herdiansyah
Ditulis oleh Muhammad Herdiansyah diterbitkan
 (Sumber: AI Generated)
(Sumber: AI Generated)

Pernahkah Anda melihat sebuah unggahan di media sosial tentang rencana kenaikan harga bahan pokok, cuplikan video kecelakaan, atau tentang kebijakan kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan masyarakat, lalu tanpa sadar ikut merasa cemas atau bahkan langsung membagikannya ke grup keluarga? Sadar atau tidak, kita semua pernah berada di posisi itu. Begitu mudahnya kita menerima mentah-mentah informasi di dunia maya, hingga akhirnya memicu keresahan, rasa tidak percaya, kebencian, bahkan kepanikan massal seperti kasus antrean panjang saat isu kenaikan BBM beredar.

Masalahnya, jika informasi-informasi simpang siur ini terus dibiarkan berkembang, dampaknya tidak hanya sebatas gosip warung kopi. Ketidakpercayaan publik, saling curiga, hingga terganggunya ketertiban sosial bisa saja terjadi. Belum lagi, ini bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang sengaja ingin memantik keresahan di masyarakat.

Lalu, apa yang salah? Di satu sisi, literasi digital kita sepertinya belum cukup kuat untuk membedakan mana informasi yang valid dan mana yang sekadar hoaks. Di sisi lain, cara pemerintah dalam berkomunikasi kerap kali masih menggunakan gaya lama: dari atas ke bawah, kaku, birokratis, dan lambat merespons isu yang sedang ramai di masyarakat. Kesenjangan inilah yang akhirnya memberi celah bagi kabar burung untuk berubah menjadi badai panik massal.

Oleh karena itu, membekali masyarakat dengan literasi digital yang memadai adalah kunci pertama. Literasi digital bukan hanya tentang seberapa mahir kita menggunakan gawai terbaru, melainkan kemampuan berpikir kritis (digital ethics). Kita perlu membiasakan diri untuk selalu melakukan verifikasi mandiri sebelum memercayai suatu informasi. Caranya pun bisa beragam, mulai dari mengecek kebenarannya melalui portal media berita arus utama yang terpercaya, atau menggunakan platform resmi pengecek fakta seperti lawanhoaks.id. Dengan kemampuan ini, kita bisa menyaring mana fakta, opini, dan mana informasi palsu.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Namun, masyarakat tidak bisa berjuang sendirian. Dibutuhkan juga transformasi gaya komunikasi dari para pejabat publik. Di era kecepatan informasi saat ini, pemerintah harus merespons secara transparan, reaktif, dan mampu merangkul serta mengedukasi masyarakat tanpa harus terhambat oleh birokrasi yang kaku. Misalnya, memanfaatkan akun media sosial pribadi atau institusi dengan bahasa yang lebih cair, melakukan sesi tanya jawab langsung, serta cepat merespons komentar dan kebingungan warga tanpa harus selalu menunggu siaran pers resmi yang sering kali memakan waktu lama.

Komunikasi dua arah yang setara ini akan menghapus jarak antara pemerintah dan warganya. Ketika pejabat publik hadir dengan pendekatan yang lebih membumi dan menawarkan solusi secara cepat di ruang digital, kepercayaan masyarakat pasti akan meningkat dan spekulasi negatif pun akan mereda dengan sendirinya. Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli komunikasi yang menyatakan bahwa legitimasi pejabat di era sekarang juga diukur dari kemampuannya berdialog, bukan sekadar dari jabatannya.

Tentu, upaya ini juga perlu dibarengi dengan sosialisasi yang konsisten mengenai dampak penyebaran hoaks dan peraturan hukum yang menyertainya. Banyak orang menyebarkan hoaks sekadar iseng tanpa sadar bahwa tindakan tersebut bisa berdampak fatal, baik secara sosial maupun hukum. Dengan pemahaman akan konsekuensi serius ini, masyarakat diharapkan bisa lebih berhati-hati sebelum memencet tombol "bagikan".

Mungkin ada yang berpendapat bahwa langkah-langkah mitigasi semacam ini berpotensi membungkam kritik. Tapi mari kita luruskan, tujuan utamanya bukan untuk membatasi kebebasan berpendapat, melainkan untuk meluruskan informasi keliru yang bisa merugikan banyak pihak. Pemerintah tetap harus terbuka pada kritik, sembari wajib memberikan kepastian atas isu-isu krusial.

Singkatnya, di era di mana informasi tumpah ruah seperti saat ini, literasi digital dan komunikasi responsif pejabat publik ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Masyarakat yang melek literasi tak akan lagi sekadar jadi korban hoaks, melainkan menjadi subjek kritis yang memvalidasi setiap kebenaran. Di saat yang sama, pejabat publik harus mau turun gelanggang, membangun dialog yang transparan, dan inklusif.

Harapannya, kita semua bisa lebih bijak: saring sebelum membagikan (sharing), sehingga tak perlu lagi pusing akibat termakan kabar palsu. Dan untuk para pengambil kebijakan, mari kita bangun komunikasi yang lebih hangat dan transparan, demi meredam keresahan yang tak perlu di tengah masyarakat kita. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Herdiansyah
CPNS Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)