Saring Sebelum Pusing: Memutus Rantai Kepanikan Digital

3 menit baca
Muhammad Herdiansyah
Ditulis oleh Muhammad Herdiansyah diterbitkan Rabu 03 Jun 2026, 10:09 WIB
 (Sumber: AI Generated)

(Sumber: AI Generated)

Pernahkah Anda melihat sebuah unggahan di media sosial tentang rencana kenaikan harga bahan pokok, cuplikan video kecelakaan, atau tentang kebijakan kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan masyarakat, lalu tanpa sadar ikut merasa cemas atau bahkan langsung membagikannya ke grup keluarga? Sadar atau tidak, kita semua pernah berada di posisi itu. Begitu mudahnya kita menerima mentah-mentah informasi di dunia maya, hingga akhirnya memicu keresahan, rasa tidak percaya, kebencian, bahkan kepanikan massal seperti kasus antrean panjang saat isu kenaikan BBM beredar.

Masalahnya, jika informasi-informasi simpang siur ini terus dibiarkan berkembang, dampaknya tidak hanya sebatas gosip warung kopi. Ketidakpercayaan publik, saling curiga, hingga terganggunya ketertiban sosial bisa saja terjadi. Belum lagi, ini bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang sengaja ingin memantik keresahan di masyarakat.

Lalu, apa yang salah? Di satu sisi, literasi digital kita sepertinya belum cukup kuat untuk membedakan mana informasi yang valid dan mana yang sekadar hoaks. Di sisi lain, cara pemerintah dalam berkomunikasi kerap kali masih menggunakan gaya lama: dari atas ke bawah, kaku, birokratis, dan lambat merespons isu yang sedang ramai di masyarakat. Kesenjangan inilah yang akhirnya memberi celah bagi kabar burung untuk berubah menjadi badai panik massal.

Oleh karena itu, membekali masyarakat dengan literasi digital yang memadai adalah kunci pertama. Literasi digital bukan hanya tentang seberapa mahir kita menggunakan gawai terbaru, melainkan kemampuan berpikir kritis (digital ethics). Kita perlu membiasakan diri untuk selalu melakukan verifikasi mandiri sebelum memercayai suatu informasi. Caranya pun bisa beragam, mulai dari mengecek kebenarannya melalui portal media berita arus utama yang terpercaya, atau menggunakan platform resmi pengecek fakta seperti lawanhoaks.id. Dengan kemampuan ini, kita bisa menyaring mana fakta, opini, dan mana informasi palsu.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Namun, masyarakat tidak bisa berjuang sendirian. Dibutuhkan juga transformasi gaya komunikasi dari para pejabat publik. Di era kecepatan informasi saat ini, pemerintah harus merespons secara transparan, reaktif, dan mampu merangkul serta mengedukasi masyarakat tanpa harus terhambat oleh birokrasi yang kaku. Misalnya, memanfaatkan akun media sosial pribadi atau institusi dengan bahasa yang lebih cair, melakukan sesi tanya jawab langsung, serta cepat merespons komentar dan kebingungan warga tanpa harus selalu menunggu siaran pers resmi yang sering kali memakan waktu lama.

Komunikasi dua arah yang setara ini akan menghapus jarak antara pemerintah dan warganya. Ketika pejabat publik hadir dengan pendekatan yang lebih membumi dan menawarkan solusi secara cepat di ruang digital, kepercayaan masyarakat pasti akan meningkat dan spekulasi negatif pun akan mereda dengan sendirinya. Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli komunikasi yang menyatakan bahwa legitimasi pejabat di era sekarang juga diukur dari kemampuannya berdialog, bukan sekadar dari jabatannya.

Tentu, upaya ini juga perlu dibarengi dengan sosialisasi yang konsisten mengenai dampak penyebaran hoaks dan peraturan hukum yang menyertainya. Banyak orang menyebarkan hoaks sekadar iseng tanpa sadar bahwa tindakan tersebut bisa berdampak fatal, baik secara sosial maupun hukum. Dengan pemahaman akan konsekuensi serius ini, masyarakat diharapkan bisa lebih berhati-hati sebelum memencet tombol "bagikan".

Mungkin ada yang berpendapat bahwa langkah-langkah mitigasi semacam ini berpotensi membungkam kritik. Tapi mari kita luruskan, tujuan utamanya bukan untuk membatasi kebebasan berpendapat, melainkan untuk meluruskan informasi keliru yang bisa merugikan banyak pihak. Pemerintah tetap harus terbuka pada kritik, sembari wajib memberikan kepastian atas isu-isu krusial.

Singkatnya, di era di mana informasi tumpah ruah seperti saat ini, literasi digital dan komunikasi responsif pejabat publik ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Masyarakat yang melek literasi tak akan lagi sekadar jadi korban hoaks, melainkan menjadi subjek kritis yang memvalidasi setiap kebenaran. Di saat yang sama, pejabat publik harus mau turun gelanggang, membangun dialog yang transparan, dan inklusif.

Harapannya, kita semua bisa lebih bijak: saring sebelum membagikan (sharing), sehingga tak perlu lagi pusing akibat termakan kabar palsu. Dan untuk para pengambil kebijakan, mari kita bangun komunikasi yang lebih hangat dan transparan, demi meredam keresahan yang tak perlu di tengah masyarakat kita. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Herdiansyah
CPNS Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:57

Jejak Kampung Batik Trusmi: Dari Warisan Kesultanan hingga Menjadi Fashion Modern

Teknik membatik di Desa Trusmi dan motif-motif batik yang ada di Batik Trusmi atau Batik Cirebon.

Tugu ikonik "Selamat Datang Di Kawasan Batik Trusmi". (Sumber: cirebonkab.go.id)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:29

Panduan Berkunjung ke Kebun Teh Taraju Tasikmalaya, Hamparan Hijau Warisan Kolonial di Selatan Priangan

Kebun Teh Taraju menawarkan panorama hijau Priangan Selatan, pabrik teh kolonial 1909, tea walk, hingga suasana pegunungan yang sejuk.

Kebun Teh Taraju Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @Instagram/wisata_taraju)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:18

Jelajah Puncak Mega Gunung Puntang, Favorit Para Pendaki Tektok yang Eksotis

Puncak Mega di Gunung Puntang menawarkan jalur tektok, lautan kabut, dan panorama eksotis Bandung Selatan.

Puncak Mega Gunung Puntang. (Sumber: Pemkab Bandung)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:02

Kota Kembang Rawan Pohon Tumbang Sejak Masa Kolonial

Kota Bandung sering kali menghadirkan kesan romantis, baik bagi warga setempat maupun wisatawan.

Sudut fotogenik Jalan Asia Afrika di Kota Bandung yang menampilkan sebuah kutipan dari M.A.W. Brouwer sebagai ungkapan rasa cintanya kepada tanah Pasundan. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Kaneza Bani Aththoriah Hawami)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 18:10

Hadiah Fantastis Indonesia Open Super 1000, Siapa Pemain Paling Banyak Raih Gelar?

POLYTRON Indonesia Open 2026 pekan ini sedang digelar  di Istora Gelora Bung Karno.

POLYTRON Indonesia Open 2026 pekan ini sedang digelar  di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta 2 hingga 7 Juni mendatang. (Sumber: PBSI)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 17:32

Peran Penting Gedung Landraad dalam Sistem Peradilan Hindia Belanda

Gedung Landraad merupakan bangunan peninggalan Belanda yang dulu digunakan sebagai pengadilan pribumi.

 (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Sani Damayanti)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 16:27

Rampog Macan: Tradisi, Kontrovesi, dan Akhir Sebuah Permainan Tradisional

Permainan Rampog Macan mendapat perhatian dari berbagai kalangan dan tidak luput dari pandangan kaum Belanda.

Harimau pada permainan Rampog Macan. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 15:50

Jejak Rasa Kelezatan Doclang, Kuliner Legendaris Bogor dengan Lontong Daun Patat

Doclang menjadi salah satu kuliner khas Bogor yang kaya sejarah, terkenal dengan lontong pesor, bumbu kacang kencur, dan cita rasa tradisional.

Doclang khas Bogor. (Foto: AI generated image)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 14:26

Dari Masa Kolonial ke Modern: Perkembangan Jaringan Kereta Api di Tulungagung

Menengok historitas jaringan kereta api di Tulungagung, Jawa Timur, sejak awal dibangunnya pada masa kolonial Belanda.

Tampak depan Stasiun Tulungagung saat ini. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi/Aditya Sheva Putra Indrawan)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 13:15

Market Driven atau Potential Driven, Dilema Bisnis Koperasi Merah Putih

Dibawa kemana arah bisnis KDKMP akan tergantung pada eksekusi yang dilakukan para pengurus?

Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 12:22

Membayangkan Persib tanpa Wa Haji Umuh

Siapapun Manajer Persib, diperlukan sosok yang mampu menjaga keseimbangan di tengah gelombang dinamika klub.

Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muchtar. (Sumber: AyoPersib | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 11:26

Kembali Tenang dengan Ritual Grounding

Yuk, kenalan dengan somatic healing dan ritual grounding sederhana untuk kembali tenang.

Menyendiri (Sumber: Unplash)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 10:09

Saring Sebelum Pusing: Memutus Rantai Kepanikan Digital

Membekali masyarakat dengan literasi digital yang memadai adalah kunci pertama.

 (Sumber: AI Generated)
Beranda 03 Jun 2026, 09:06

Di Balik Ramainya Kampanye, Mengapa Korban Kekerasan Perempuan Masih Memilih Diam?

Meski edukasi dan kampanye terus digencarkan, banyak korban kekerasan terhadap perempuan masih memilih diam. Kurangnya empati dan kuatnya victim blaming.

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 08:33

Aspal, Antrean, dan Orang-Orang yang Tetap Bertahan

Kenapa harus melibatkan Gubernur Jawa Barat, padahal yang dinobatkan sebagai daerah termacet hanyalah Kota Bandung?

Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 20:10

Refleksi Hari Lahir Pancasila

Sebuah momentum untuk kembali merenungkan warisan pemikiran Bung Karno dan cita-cita Indonesia yang terus diperjuangkan dari masa ke masa.

Bung Karno dan kelahiran Pancasila. (Sumber: Harian Umum Kompas edisi 1 Juni 2001. | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 02 Jun 2026, 19:23

Jelajah Rasa Cungkring, Sajian Kikil dan Bumbu Kacang Khas Bogor

Cungkring menawarkan cita rasa khas dari kikil, bibir sapi, lontong daun patat, dan bumbu kacang yang diwariskan lintas generasi.

Cungkring Bogor. (Sumber: Shutterstock)
Sejarah 02 Jun 2026, 18:18

Goa Peteng, Bunker Peninggalan Belanda yang Masih Berdiri Kokoh di Cicalengka

Goa Peteng di Cicalengka diduga bagian dari jaringan pertahanan militer Belanda yang terhubung dengan Nagreg.

Goa Peteng, bunker peninggalan Belanda di Cicalengka. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 18:08

Kota Kembang Kejang-Kejang

Heboh dan trennya tari kejang atau breakdance tahun 1980-an di Bandung serta momen penting breakdance bulan Juni tahun 2022

Ilustrasi breakdance tahun 1980-an di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Cu Trí)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 17:01

Tema Ayo Netizen Juni 2026: Bebas Bersuara, Ikuti Momentum

Mulai Juni 2026, format tema bulanan Ayo Netizen resmi dibebaskan.

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar seni tari tradisional di Museum Sri Baduga, Jalan BKR, Kota Bandung pada Selasa, 14 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)