Kembali Tenang dengan Ritual Grounding

3 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan
Menyendiri (Sumber: Unplash)
Menyendiri (Sumber: Unplash)

Sering kali, kita berusaha menipu diri sendiri dengan memaksakan pikiran positif yang hanya berputar di kepala. Padahal, tubuh kita adalah penyimpanan rahasia yang paling tulus daripada pikiran. Segala rasa sedih, cemas, hingga trauma tidak hanya singgah di kepala; ia menempel kuat pada otot dan fisik kita.

Ingat jargon Dr. Tirta yang sering bilang, "Kalau lagi galau, olahraga! Kalau stres, olahraga! Menuju Indonesia Atletik!"? Ternyata, itu bukan sekadar motivasi kesehatan biasa. Tanpa disadari, itu adalah bentuk grounding dalam somatic healing. Istilah gaulnya, menyembuhkan luka batin lewat gerakan tubuh. Sayangnya, kita sering mengabaikan pesan ini.

Banyak tokoh di film atau novel yang mengisyaratkan bahaya dari menekan emosi mereka digambarkan menjadi sosok yang hampa atau kosong hanya karena dipaksa untuk tidak menangis atau tidak mengekspresikan kesedihan. Ketika emosi itu dipendam terlalu rapat, tubuhlah yang akhirnya menanggung beban tersebut.

Mendengarkan tubuh saat merasa tegang atau sekadar menyadari detak jantung yang cepat adalah bentuk kejujuran yang menyehatkan—jauh lebih jujur daripada terus berpura-pura aman demi memenuhi ekspektasi orang lain. Jika lingkungan di luar sana tidak mengizinkan kita mengeluarkan emosi, maka tubuh kita sendiri yang harus menjadi 'lingkungan yang aman'. Kita perlu belajar untuk memvalidasi perasaan kita sendiri; misalnya, saat sedih, izinkan diri kita untuk benar-benar menangis atau setidaknya menyadari sesak di dada, alih-alih memaksanya segera pergi.

Setiap emosi yang terpendam akan selalu mencari jalan keluar melalui fisik kita. Namun, menyadari beban emosional saja tidak cukup; kita perlu cara konkret untuk memulangkannya pada tubuh. Di sinilah teknik grounding hadir sebagai kunci utama penyembuhan.

Sekelompok mahasiswa ITB menggelar kegiatan edukatif dan partisipatif di Taman Cascade, Jalan Kebon Bibit, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Sekelompok mahasiswa ITB menggelar kegiatan edukatif dan partisipatif di Taman Cascade, Jalan Kebon Bibit, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Latihan Praktis untuk Tubuhmu

Hal ini senada dengan ulasan Brett Larkin, seorang pakar somatik, yang menyebutkan bahwa trauma dan stres kronis tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi termanifestasi dan lambat laun akan menemukan jalannya sendiri untuk berbicara melalui rasa sakit di tubuh fisik. Tubuh kita adalah pembawa pesan yang jujur.

Untuk merespons pesan tersebut, Larkin menjabarkan beberapa latihan praktis sebagai bentuk penyembuhan somatik yang bisa kita coba di rumah:

1. Body Scanning (Cek Kondisi Badan): Cobalah duduk sejenak, tutup mata, lalu pindai tubuhmu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasakan bagian mana yang terasa tidak nyaman. Sering kali, kita merasa pusing bukan karena kurang tidur, tapi karena terlalu banyak hal yang dipikirkan. Saat lelah, menggeliatlah. Itu bukan tanda malas, tapi cara tubuh beristirahat di tengah tekanan.

2. Grounding (Memulangkan Pikiran): Ketika overthinking menyerang, bawalah pikiran kita pulang ke detik ini. Berjalanlah tanpa alas kaki di rumput, atau genggam benda dingin. Bagi sebagian orang, proses fokus seperti belajar makeup atau menyusun barang juga bisa menjadi bentuk grounding yang efektif.

Tak hanya itu, cobalah teknik tambahan untuk membantu menenangkan pikiran:

3. Jurnaling (Membumikan Pikiran ke Kertas): Jika pikiran terasa terlalu bising, kita bisa mengambil buku dan pulpen untuk menulis. Kita tidak perlu menulis untuk merangkai cerita hari yang panjang, tapi menulis untuk menangkap apa yang sedang dirasakan oleh tubuh. Menulis tangan menciptakan koneksi fisik yang nyata antara otak dan kertas, setiap goresan pulpen adalah cara kita menarik pikiran yang melayang kembali ke masa kini. Saat beban pikiran berhasil dipindahkan ke atas kertas, saat itulah tubuh kita mulai mendapatkan izin untuk melepas ketegangan. Ingat, jurnaling tidak harus puitis,  ia hanya perlu jujur.

Mulai saat ini, cobalah lebih sering menyapa tubuh sendiri. Saat kita tak lagi menuntut dunia untuk bicara, saat itulah kita mulai mendengar bahasa tubuh yang paling rahasia. Kita sebenarnya sedang membangun ruang aman yang paling tangguh, ruang di mana kita bisa benar-benar bernapas, lepas dari tuntutan ekspektasi, dan kembali menjadi manusia yang utuh. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)