Sering kali, kita berusaha menipu diri sendiri dengan memaksakan pikiran positif yang hanya berputar di kepala. Padahal, tubuh kita adalah penyimpanan rahasia yang paling tulus daripada pikiran. Segala rasa sedih, cemas, hingga trauma tidak hanya singgah di kepala; ia menempel kuat pada otot dan fisik kita.
Ingat jargon Dr. Tirta yang sering bilang, "Kalau lagi galau, olahraga! Kalau stres, olahraga! Menuju Indonesia Atletik!"? Ternyata, itu bukan sekadar motivasi kesehatan biasa. Tanpa disadari, itu adalah bentuk grounding dalam somatic healing. Istilah gaulnya, menyembuhkan luka batin lewat gerakan tubuh. Sayangnya, kita sering mengabaikan pesan ini.
Banyak tokoh di film atau novel yang mengisyaratkan bahaya dari menekan emosi mereka digambarkan menjadi sosok yang hampa atau kosong hanya karena dipaksa untuk tidak menangis atau tidak mengekspresikan kesedihan. Ketika emosi itu dipendam terlalu rapat, tubuhlah yang akhirnya menanggung beban tersebut.
Mendengarkan tubuh saat merasa tegang atau sekadar menyadari detak jantung yang cepat adalah bentuk kejujuran yang menyehatkan—jauh lebih jujur daripada terus berpura-pura aman demi memenuhi ekspektasi orang lain. Jika lingkungan di luar sana tidak mengizinkan kita mengeluarkan emosi, maka tubuh kita sendiri yang harus menjadi 'lingkungan yang aman'. Kita perlu belajar untuk memvalidasi perasaan kita sendiri; misalnya, saat sedih, izinkan diri kita untuk benar-benar menangis atau setidaknya menyadari sesak di dada, alih-alih memaksanya segera pergi.
Setiap emosi yang terpendam akan selalu mencari jalan keluar melalui fisik kita. Namun, menyadari beban emosional saja tidak cukup; kita perlu cara konkret untuk memulangkannya pada tubuh. Di sinilah teknik grounding hadir sebagai kunci utama penyembuhan.

Latihan Praktis untuk Tubuhmu
Hal ini senada dengan ulasan Brett Larkin, seorang pakar somatik, yang menyebutkan bahwa trauma dan stres kronis tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi termanifestasi dan lambat laun akan menemukan jalannya sendiri untuk berbicara melalui rasa sakit di tubuh fisik. Tubuh kita adalah pembawa pesan yang jujur.
Untuk merespons pesan tersebut, Larkin menjabarkan beberapa latihan praktis sebagai bentuk penyembuhan somatik yang bisa kita coba di rumah:
1. Body Scanning (Cek Kondisi Badan): Cobalah duduk sejenak, tutup mata, lalu pindai tubuhmu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasakan bagian mana yang terasa tidak nyaman. Sering kali, kita merasa pusing bukan karena kurang tidur, tapi karena terlalu banyak hal yang dipikirkan. Saat lelah, menggeliatlah. Itu bukan tanda malas, tapi cara tubuh beristirahat di tengah tekanan.
2. Grounding (Memulangkan Pikiran): Ketika overthinking menyerang, bawalah pikiran kita pulang ke detik ini. Berjalanlah tanpa alas kaki di rumput, atau genggam benda dingin. Bagi sebagian orang, proses fokus seperti belajar makeup atau menyusun barang juga bisa menjadi bentuk grounding yang efektif.
Tak hanya itu, cobalah teknik tambahan untuk membantu menenangkan pikiran:
3. Jurnaling (Membumikan Pikiran ke Kertas): Jika pikiran terasa terlalu bising, kita bisa mengambil buku dan pulpen untuk menulis. Kita tidak perlu menulis untuk merangkai cerita hari yang panjang, tapi menulis untuk menangkap apa yang sedang dirasakan oleh tubuh. Menulis tangan menciptakan koneksi fisik yang nyata antara otak dan kertas, setiap goresan pulpen adalah cara kita menarik pikiran yang melayang kembali ke masa kini. Saat beban pikiran berhasil dipindahkan ke atas kertas, saat itulah tubuh kita mulai mendapatkan izin untuk melepas ketegangan. Ingat, jurnaling tidak harus puitis, ia hanya perlu jujur.
Mulai saat ini, cobalah lebih sering menyapa tubuh sendiri. Saat kita tak lagi menuntut dunia untuk bicara, saat itulah kita mulai mendengar bahasa tubuh yang paling rahasia. Kita sebenarnya sedang membangun ruang aman yang paling tangguh, ruang di mana kita bisa benar-benar bernapas, lepas dari tuntutan ekspektasi, dan kembali menjadi manusia yang utuh. (*)
