Cuaca buruk menerjang Kota Bandung pada Jumat, 3 April 2026 sehingga menyebabkan beberapa pohon tumbang di Kota Bandung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung mencatat sebanyak 91 titik pohon tumbang pukul 15.00 sampai 16.30 WIB pada akun Instagram resminya. Dalam artikel Kompas.com, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskar PB) Kota Bandung Soni Bakhtiyar, menyebutkan bahwa pohon yang sudah tua, dahannya rapuh, atau akarnya tidak kuat harus segera ditangani untuk menghindari kejadian serupa.
Kota Bandung adalah salah satu kota yang memiliki banyak pepohonan dan juga ruang terbuka hijau. Dilansir dari realestat.id, seluas 167,7 km2, sekitar 1.700 hektare lahan disisihkan untuk ruang terbuka hijau (RTH) dan membuat Kota Bandung masuk lima kota paling hijau di Indonesia pada tahun 2024. Karena hal ini, Kota Bandung dijuluki sebagai Kota Kembang. Pohon-pohon besar yang berada di jalan-jalan Kota Bandung kebanyakan ditanam pada masa kolonial Belanda sehingga kini usianya sudah ratusan tahun. Kini pohon-pohon itu berfungsi sebagai peneduh alami di sepanjang jalan perkotaan.
Sekilas Geografis Historis Kota Bandung
Untuk memahami masalah, mari kita melihat kembali ke belakang bagaimana sejarah kota yang dijuluki Kota Kembang ini. Pada masa kolonial Belanda, Kota Bandung telah dirancang sedemikian rupa oleh Belanda sebagai tempat bagi orang-orang Eropa. Mereka membangun pusat pemerintahan seperti Gouvernementsbedrijven (GB) yang kini dikenal sebagai Gedung Sate serta membuat rumah-rumah untuk dihuni. Alasan Kota Bandung dipilih oleh Belanda karena suasana Kota Bandung yang sejuk serta lokasinya yang dikelilingi oleh pegunungan dapat menguntungkan bagi militer Belanda.
Ketika Kota Bandung semakin berkembang pesat, pemerintah Belanda menyadari pentingnya ruang terbuka hijau dan akhirnya dibangun taman kota sebagai fasilitas publik. Thomas Karsten dalam masterplan 1933, menekankan pentingnya ruang terbuka hijau untuk menyeimbangkan pembangunan fisik kota. Konsep ini bertujuan untuk menciptakan iklim yang sejuk menyerupai negara asal orang Eropa. Selain itu, taman-taman yang umumnya menghiasi wilayah hunian orang Eropa juga bentuk dan gaya pertamanannya meniru taman di Eropa. Salah satu botanikus yang bernama Drs. R. Teuscher membangun taman peringatan bagi Pieter Sijthoff atas jasanya dalam mengatur wilayah Kota Bandung. Taman itu dinamai Pieter Park, yang kemudian pada masa kini disebut Taman Dewi Sartika dan menjadi taman tertua di Kota Bandung

.
Terdapat salah satu organisasi Belanda yang bergerak di bidang pembangunan kota dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat ialah Vereenigning tot nut van Bandoeng Omstreken (Perkumpulan kesejahteraan Bandung dan sekitarnya). Pada periode 1898-1906 memiliki program penanaman pohon lindung di tepi jalan dan karenanya jalan-jalan di Kota Bandung menjadi asri dan menarik banyak wisatawan untuk berkunjung ke Kota Bandung. Karena keberhasilan organisasi ini yang membuat Kota Bandung menjadi asri dan dilirik wisatawan, Kota Bandung memiliki julukan lain yaitu “Parijs van Java”.
Cuaca Buruk dan Pohon Tumbang
Meskipun Kota Bandung menjadi idaman bagi wisatawan, cuaca sering kali menjadi permasalahan bagi Kota Bandung. Hujan es dan angin kencang rupanya pernah terjadi pada masa kolonial Belanda. Pada surat kabar harian Zaans Volksbald yang terbit pada 10 November 1938 menyebutkan bahwa hujan es melanda Kota Bandung dan menyebabkan pohon tumbang. Tidak banyak sumber yang menyebutkan mengenai peristiwa pohon tumbang pada masa ini karena pada masa kolonial Belanda sendiri, pohon-pohon baru ditanami dan tergolong masih muda. Namun, setidaknya kita dapat mengetahui bahwa sejak zaman kolonial Belanda, Kota Bandung sudah dilanda oleh cuaca buruk seperti hujan es.

Meskipun tidak banyak sumber yang menyebutkan mengenai peristiwa pohon tumbang maupun penanganannya pada masa kolonial Belanda. Namun, kita dapat melihat data statistik Kota Bandung pada masa modern. Berdasarkan data dari opendata.bandung yang bersumber resmi dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, selama periode 2017 hingga 2022 tercatat ada beberapa kasus pohon tumbang. Sebanyak 50 kasus pada tahun 2017, 39 kasus pada tahun 2018, 12 kasus pada 2019, 24 kasus pada 2019, 24 kasus pada 2020, 25 kasus pada 2021, dan 25 kejadian pada 2022.
Penanganan Pohon Tumbang
Untuk menangani pohon tumbang, pemerintah daerah sudah melakukan penanganan sejak dahulu. Dalam buku 90 Tahun Kota Bandung yang diterbitkan oleh Bagian HUMAS Kotamadya Bandung (1996), pada awal 1990-an, dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 5 tahun 1990, tentang Penerapan Sistem Manajemen dan Pemeliharaan Prasarana Kota, terdapat personel lapangan yang ditugaskan untuk menangani tanaman. Setiap satu orang dituntut menangani kurang lebih 20 pohon pelindung tiap hari. Artinya pada masa itu terdapat personel untuk menata taman-taman di Kota Bandung setiap harinya.

Di masa kini terdapat instansi yang memiliki tanggung jawab untuk menangani pohon tumbang yaitu Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung melalui UPT Penghijauan, Pertanaman dan Pemeliharaan Pohon. Berdasarkan sonata.bandung.go.id, DPKP juga melakukan kolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Setelah membaca penjelasan di atas, disimpulkan bahwa pohon-pohon yang tersebar di Kota Bandung merupakan warisan dari kolonial Belanda yang membawa dampak positif bagi masyarakat masa kini. Namun, pohon yang sudah tua itu justru seringkali menjadi masalah bagi masyarakat Kota Bandung seperti masalah pohon tumbang. Oleh karena itu diperlukan pengawasan khusus dan cekatan untuk memastikan dan merawat setiap pohon yang ada di kota supaya tidak menimbulkan kejadian serupa. Pertanyaannya, apakah setelah ini kasus pohon tumbang dapat diminimalkan? (*)
Referensi :
- Bagian HUMAS Kotamadya Bandung. (1996). 90 Tahun Kota Bandung.
- Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung. (2025). Jumlah Kejadian Bencana Lainnya di Kota Bandung. Open Data Kota Bandung.
- Admin Sonata. (2026, 10 April). Pemkot Bandung Perkuat Mitigasi Pohon Tumbang di Musim Pancaroba. Radio Sonata Kota Bandung.
