Kota Kembang Rawan Pohon Tumbang Sejak Masa Kolonial

5 menit baca
Kaneza Bani Aththoriah Hawami
Ditulis oleh Kaneza Bani Aththoriah Hawami diterbitkan Rabu 03 Jun 2026, 19:02 WIB
Sudut fotogenik Jalan Asia Afrika di Kota Bandung yang menampilkan sebuah kutipan dari M.A.W. Brouwer sebagai ungkapan rasa cintanya kepada tanah Pasundan. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Kaneza Bani Aththoriah Hawami)

Sudut fotogenik Jalan Asia Afrika di Kota Bandung yang menampilkan sebuah kutipan dari M.A.W. Brouwer sebagai ungkapan rasa cintanya kepada tanah Pasundan. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Kaneza Bani Aththoriah Hawami)

Cuaca buruk menerjang Kota Bandung pada Jumat, 3 April 2026 sehingga menyebabkan beberapa pohon tumbang di Kota Bandung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung mencatat sebanyak 91 titik pohon tumbang pukul 15.00 sampai 16.30 WIB pada akun Instagram resminya. Dalam artikel Kompas.com, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskar PB) Kota Bandung Soni Bakhtiyar, menyebutkan bahwa pohon yang sudah tua, dahannya rapuh, atau akarnya tidak kuat harus segera ditangani untuk menghindari kejadian serupa.

Kota Bandung adalah salah satu kota yang memiliki banyak pepohonan dan juga ruang terbuka hijau. Dilansir dari realestat.id, seluas 167,7 km2, sekitar 1.700 hektare lahan disisihkan untuk ruang terbuka hijau (RTH) dan membuat Kota Bandung masuk lima kota paling hijau di Indonesia pada tahun 2024. Karena hal ini, Kota Bandung dijuluki sebagai Kota Kembang. Pohon-pohon besar yang berada di jalan-jalan Kota Bandung kebanyakan ditanam pada masa kolonial Belanda sehingga kini usianya sudah ratusan tahun. Kini pohon-pohon itu berfungsi sebagai peneduh alami di sepanjang jalan perkotaan.

Sekilas Geografis Historis Kota Bandung

Untuk memahami masalah, mari kita melihat kembali ke belakang bagaimana sejarah kota yang dijuluki Kota Kembang ini. Pada masa kolonial Belanda, Kota Bandung telah dirancang sedemikian rupa oleh Belanda sebagai tempat bagi orang-orang Eropa. Mereka membangun pusat pemerintahan seperti Gouvernementsbedrijven (GB) yang kini dikenal sebagai Gedung Sate serta membuat rumah-rumah untuk dihuni. Alasan Kota Bandung dipilih oleh Belanda karena suasana Kota Bandung yang sejuk serta lokasinya yang dikelilingi oleh pegunungan dapat menguntungkan bagi militer Belanda.

Ketika Kota Bandung semakin berkembang pesat, pemerintah Belanda menyadari pentingnya ruang terbuka hijau dan akhirnya dibangun taman kota sebagai fasilitas publik. Thomas Karsten dalam masterplan 1933, menekankan pentingnya ruang terbuka hijau untuk menyeimbangkan pembangunan fisik kota. Konsep ini bertujuan untuk menciptakan iklim yang sejuk menyerupai negara asal orang Eropa. Selain itu, taman-taman yang umumnya menghiasi wilayah hunian orang Eropa juga bentuk dan gaya pertamanannya meniru taman di Eropa. Salah satu botanikus yang bernama Drs. R. Teuscher membangun taman peringatan bagi Pieter Sijthoff atas jasanya dalam mengatur wilayah Kota Bandung. Taman itu dinamai Pieter Park, yang kemudian pada masa kini disebut Taman Dewi Sartika dan menjadi taman tertua di Kota Bandung

Peta Kotamadya Bandung (Kaart van de gemeente Bandoeng) yang diterbitkan pada tahun 1930 (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collection)
Peta Kotamadya Bandung (Kaart van de gemeente Bandoeng) yang diterbitkan pada tahun 1930 (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collection)

.

Terdapat salah satu organisasi Belanda yang bergerak di bidang pembangunan kota dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat ialah Vereenigning tot nut van Bandoeng Omstreken (Perkumpulan kesejahteraan Bandung dan sekitarnya). Pada periode 1898-1906 memiliki program penanaman pohon lindung di tepi jalan dan karenanya jalan-jalan di Kota Bandung menjadi asri dan menarik banyak wisatawan untuk berkunjung ke Kota Bandung. Karena keberhasilan organisasi ini yang membuat Kota Bandung menjadi asri dan dilirik wisatawan, Kota Bandung memiliki julukan lain yaitu “Parijs van Java”.

Cuaca Buruk dan Pohon Tumbang

Meskipun Kota Bandung menjadi idaman bagi wisatawan, cuaca sering kali menjadi permasalahan bagi Kota Bandung. Hujan es dan angin kencang rupanya pernah terjadi pada masa kolonial Belanda. Pada surat kabar harian Zaans Volksbald yang terbit pada 10 November 1938 menyebutkan bahwa hujan es melanda Kota Bandung dan menyebabkan pohon tumbang. Tidak banyak sumber yang menyebutkan mengenai peristiwa pohon tumbang pada masa ini karena pada masa kolonial Belanda sendiri, pohon-pohon baru ditanami dan tergolong masih muda. Namun, setidaknya kita dapat mengetahui bahwa sejak zaman kolonial Belanda, Kota Bandung sudah dilanda oleh cuaca buruk seperti hujan es.

Surat kabar masa kolonial yang memberitakan mengenai insiden pohon tumbang akibat badai di Ciwidey. (Sumber: Delpher | Foto: Haagsche Courant (13 Februari 1929))
Surat kabar masa kolonial yang memberitakan mengenai insiden pohon tumbang akibat badai di Ciwidey. (Sumber: Delpher | Foto: Haagsche Courant (13 Februari 1929))

Meskipun tidak banyak sumber yang menyebutkan mengenai peristiwa pohon tumbang maupun penanganannya pada masa kolonial Belanda. Namun, kita dapat melihat data statistik Kota Bandung pada masa modern. Berdasarkan data dari opendata.bandung yang bersumber resmi dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, selama periode 2017 hingga 2022 tercatat ada beberapa kasus pohon tumbang. Sebanyak 50 kasus pada tahun 2017, 39 kasus pada tahun 2018, 12 kasus pada 2019, 24 kasus pada 2019, 24 kasus pada 2020, 25 kasus pada 2021, dan 25 kejadian pada 2022.

Penanganan Pohon Tumbang

Untuk menangani pohon tumbang, pemerintah daerah sudah melakukan penanganan sejak dahulu. Dalam buku 90 Tahun Kota Bandung yang diterbitkan oleh Bagian HUMAS Kotamadya Bandung (1996), pada awal 1990-an, dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 5 tahun 1990, tentang Penerapan Sistem Manajemen dan Pemeliharaan Prasarana Kota, terdapat personel lapangan yang ditugaskan untuk menangani tanaman. Setiap satu orang dituntut menangani kurang lebih 20 pohon pelindung tiap hari. Artinya pada masa itu terdapat personel untuk menata taman-taman di Kota Bandung setiap harinya.

Di masa kini terdapat instansi yang memiliki tanggung jawab untuk menangani pohon tumbang yaitu Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung melalui UPT Penghijauan, Pertanaman dan Pemeliharaan Pohon. Berdasarkan sonata.bandung.go.id, DPKP juga melakukan kolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Setelah membaca penjelasan di atas, disimpulkan bahwa pohon-pohon yang tersebar di Kota Bandung merupakan warisan dari kolonial Belanda yang membawa dampak positif bagi masyarakat masa kini. Namun, pohon yang sudah tua itu justru seringkali menjadi masalah bagi masyarakat Kota Bandung seperti masalah pohon tumbang. Oleh karena itu diperlukan pengawasan khusus dan cekatan untuk memastikan dan merawat setiap pohon yang ada di kota supaya tidak menimbulkan kejadian serupa. Pertanyaannya, apakah setelah ini kasus pohon tumbang dapat diminimalkan? (*)

Referensi :

  • Bagian HUMAS Kotamadya Bandung. (1996). 90 Tahun Kota Bandung.
  • Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung. (2025). Jumlah Kejadian Bencana Lainnya di Kota Bandung. Open Data Kota Bandung.
  • Admin Sonata. (2026, 10 April). Pemkot Bandung Perkuat Mitigasi Pohon Tumbang di Musim Pancaroba. Radio Sonata Kota Bandung.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kaneza Bani Aththoriah Hawami
Seorang mahasiswi Ilmu Sejarah UNPAD yang menikmati dunia lewat narasi masa lalu, keindahan seni, dan petualangan di dunia virtual.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)