Perjalanan Pempek sebagai Makanan Tradisional yang Tetap Populer di Era Modern

6 menit baca
Muhammad Daifullah Al Ariq
Ditulis oleh Muhammad Daifullah Al Ariq diterbitkan Kamis 04 Jun 2026, 10:56 WIB
Pempek merupakan makanan khas Sumatera Selatan. (Sumber: Pexels | Foto: faizdila)

Pempek merupakan makanan khas Sumatera Selatan. (Sumber: Pexels | Foto: faizdila)

Siapa yang tidak mengenal pempek, salah satu makanan tradisional khas Palembang yang wajib dicicipi saat mengunjungi kota ini. Berbagai toko yang menjual pempek tersebar di seluruh wilayah Kota Palembang, baik di bagian Ulu maupun Ilir.

Pempek tidak hanya memiliki satu bentuk atau satu varian. Pempek memiliki berbagai macam bentuk dan varian dengan rasa dan isi yang berbeda-beda. Di antaranya, yang paling populer adalah pempek adaan berbentuk memanjang dan pempek kapal selam yang di dalamnya berisi telur. Pempek tentunya tidak lengkap jika tidak disantap bersama kuah khasnya yang bernama cuko yang memiliki bahan utama gula merah dan asam jawa.

Selain dinikmati dengan cara direbus atau digoreng, pempek memiliki berbagai macam masakan turunan yang tidak kalah enaknya, seperti tekwan, yaitu pempek yang diberi kuah kaldu ikan, dan lenggang yang menggunakan potongan pempek adaan yang dicampurkan dengan telur sebelum nantinya dipanggang di dalam daun pisang.

Pempek tidak hanya dapat dinikmati oleh masyarakat Palembang. Bantuan teknologi yang berkembang pesat di era modern membuat masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia juga dapat menikmati pempek dengan berbagai cara. Hal ini tentunya mengundang pertanyaan: kenapa pempek sebagai makanan tradisional yang biasanya ditinggalkan karena pesatnya perkembangan makanan akibat globalisasi dapat bertahan dan justru semakin populer seiring waktu? Namun, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana pempek bisa muncul pertama kali dan bagaimana pempek dapat menjadi populer di Palembang.

Latar belakang munculnya pempek sendiri tidak terlepas dari kondisi geografis wilayah Sumatera Selatan yang dialiri oleh sungai besar bernama Sungai Musi dan banyaknya rawa di daerah tersebut yang menjadi sebab utama kenapa pempek berbahan dasar ikan. Selain itu, sagu sebagai bahan utama pempek sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya yang dibuktikan dengan salah satu isi prasasti Talang Tuo yang berangka 684 M. Disebutkan bahwa raja Sriwijaya pada saat itu yang bernama Sri Jayanasa memiliki taman yang dinamai Sriksetra.

Di taman tersebut ditanam banyak tumbuhan, di mana salah satunya adalah sagu. Namun, ada spekulasi lain yang populer bahwa pempek pertama kali diperkenalkan oleh seorang yang berasal dari Tionghoa yang bernama Apek yang berkeliling menjual pempek yang dulunya bernama kelesan, yang dipercaya bahwa nama pempek diambil dari namanya.

Prasasti Talang Tuo yang memiliki rangka 684 M (Sumber: Pesona Sriwijaya | Foto: @baka.neko.baka)
Prasasti Talang Tuo yang memiliki rangka 684 M (Sumber: Pesona Sriwijaya | Foto: @baka.neko.baka)

Walau begitu, spekulasi ini tidak sepenuhnya benar dikarenakan dua bahan utama pempek, yaitu ikan dan sagu, sudah dikenal lama oleh masyarakat lokal seperti yang sudah dijelaskan di paragraf sebelumnya. Menurut jurnal Pempek Palembang (Efrianto et al., 2014), dijelaskan bahwa pempek sendiri diperkirakan sudah ada sebelum etnis Tionghoa mempopulerkan hal tersebut. Tetapi memang benar bahwa pempek nantinya dipopulerkan oleh etnis Tionghoa dikarenakan orang lokal hanya membuat pempek sebatas untuk dinikmati sendiri. Seiring berkembangnya zaman, masyarakat Palembang nantinya tidak hanya berasal dari wilayah Sumatera Selatan, tetapi juga dari berbagai penjuru Nusantara, sehingga memunculkan ide untuk memproduksi pempek yang bertujuan untuk diperjualbelikan, yang pada saat itu mayoritas dilakukan oleh etnis Tionghoa.

Saat ini, pempek sebagai salah satu makanan yang sudah dinikmati sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam menghadapi tantangan, yaitu era globalisasi yang membawa perubahan besar pada berbagai sektor, termasuk kuliner. Tantangan pertama muncul ketika ikan belida yang populer sebagai bahan untuk pempek hampir mengalami kepunahan akibat penangkapan secara berlebihan serta rusaknya habitat asli dikarenakan berbagai macam limbah yang merusak kualitas air di Sungai Musi. Krisis ini mengakibatkan masyarakat Palembang berpindah ke ikan tenggiri dan ikan gabus, yang membuat sebagian orang menganggap dapat merusak rasa asli pempek. Berbagai usaha dilakukan untuk mengembalikan ikan belida sebagai bahan utama pempek.

Menurut berita resmi dari Pemerintah Kota Palembang pada tahun 2023, Pemerintah Kota Palembang bersama Bank Sumsel Babel melakukan pendukungan budidaya bibit ikan belida yang berasal dari Thailand. Selain itu, Pertamina juga turut melakukan pelestarian ikan tersebut dengan program bernama Belida Musi Lestari yang sudah dilakukan sejak tahun 2018 dan menurut berita CNN Indonesia pada tahun 2025, program tersebut berkembang pesat hingga ke luar wilayah Palembang, yaitu Sungai Gerong yang terletak di Kabupaten Banyuasin.

Tantangan kedua muncul dengan adanya globalisasi yang membuat teknologi berkembang secara pesat. Perkembangan ini membuat kuliner didominasi oleh makanan cepat saji yang hingga saat ini populer di kalangan muda. Globalisasi juga menciptakan tantangan ketiga, yaitu menaikkan persaingan pasar antarpelaku usaha penjual pempek terutama di Kota Palembang sebagai pusat penjualan dan produksi pempek. Hal ini nantinya diperburuk oleh adanya pandemi Covid-19, di mana menurut berita Tempo pada tahun 2021, terjadi penurunan omzet penjualan pempek di salah satu merek pempek terkenal bernama Pempek Candy hingga 70 persen.

Berbagai tantangan baru yang muncul tersebut tidak serta-merta membuat pempek ditinggalkan. Berbagai macam inovasi dilakukan oleh pelaku usaha untuk menarik minat sebanyak-banyaknya, terutama dari kalangan muda. Semenjak pandemi yang mengharuskan masyarakat untuk tidak keluar rumah, muncul inovasi dari kalangan pelaku usaha dengan memanfaatkan e-commerce sebagai salah satu cara alternatif dalam menjual pempek. Pemanfaatan e-commerce ini nantinya memunculkan peluang pasar baru, di mana masyarakat dari luar Palembang juga dapat memesan pempek tersebut sehingga secara tidak langsung meningkatkan popularitas pempek di Indonesia.

Selain itu, penjualan pempek dilakukan dengan memanfaatkan teknik vakum dan makanan beku sebagai cara untuk membuat pempek menjadi makanan siap saji sehingga dapat menarik minat kalangan muda. Terakhir, inovasi penggunaan bahan pengganti ikan seperti putih telur dan udang dilakukan oleh pelaku usaha untuk menekan harga sehingga pempek dapat terus dinikmati oleh berbagai kalangan.

Selain aspek inovasi yang membuat pempek dapat terus bertahan di tengah globalisasi, pusat penjualan pempek di Palembang yang terdapat di 26 Ilir dan 7 Ulu juga mengambil bagian dalam melestarikan kuliner tradisional tersebut. Pusat ini dikenal dengan nama Sentral Kampung Pempek Palembang yang memiliki sejarah awal yang unik.

Awalnya, wilayah 26 Ilir pada tahun 1970 menjadi pusat penjualan kasur lihab, sedangkan penjualan pempek di sana pada waktu itu belum ada. Barulah pada tahun 1993, pempek mulai dijual dengan cara berkeliling dan nantinya, pada tahun 1997, mulai muncul toko pempek di wilayah tersebut. Setelah beberapa tahun, warga sekitar yang melihat kesuksesan penjualan pempek di 26 Ilir mulai ikut mendirikan toko pempeknya sendiri sehingga turut meramaikan penjualan pempek di wilayah itu.

Pada tahun 2010, Pemerintah Kota Palembang menetapkan Sentral Kampung Pempek di wilayah tersebut yang menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata di Palembang. Nantinya, ketika Palembang menjadi kota yang akan digunakan dalam Asean Games ke-18 yang diadakan di Indonesia, Pemerintah Kota Palembang mendirikan Sentral Kampung Pempek kedua yang terletak di bagian 7 Ulu, tepatnya di Kampung Kapitan untuk dapat meningkatkan potensi wisata kuliner di kota tersebut.

Inilah pempek, makanan tradisional yang awalnya bernama kalesan dan dipercaya pertama kali muncul pada Kesultanan Palembang Darussalam. Makanan yang awalnya dibuat hanya untuk dinikmati sendiri, seiring zaman, dipopulerkan oleh orang Tionghoa yang berjualan pempek secara keliling.

Pempek yang awalnya tercipta dikarenakan geografi Sumatera Selatan yang dialiri oleh Sungai Musi menciptakan makanan yang hingga saat ini menjadi bagian dari budaya wilayah tersebut dan terus dipertahankan, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakatnya. (*)

REFERENSI

  • Afni, A. N. (2025). Warisan kuliner pempek: perpaduan budaya melayu dan tionghoa di Kota Palembang. Maliki Interdisciplinary Journal, 3(3), 483-486.

  • Efrianto, Zubir, E., & Maryetti. (2014). Pempek Palembang: Makanan Tradisional Dari Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang.

  • Kholifah, N., Saputri, E. S., Apriani, M., Safitri, R., & Rahmela, A. B. (2026). Eksistensi Pempek Sebagai Warisan Budaya Dan Identitas Masyarakat Palembang. PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 5(3).

  • Ramadhani, D., Ariska, P., Syarifuddin, & Supriyanto. (2022). Eksistensi Kampung Pempek 26 Ilir Palembang Sumatera Selatan Tahun 1993-2010. Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah. 11(2). 196-205.

  • Suhendra, A. A., & Hudaya, M. R. (2022). BELIDA MUSI LESTARI: Mewujudkan Kelestarian Ikan Belida Sumatera Melalui Pemberdayaan Masyarakat Lintas Stakeholders. PT. KPI RU III Plaju.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Daifullah Al Ariq
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)