Perjalanan Pempek sebagai Makanan Tradisional yang Tetap Populer di Era Modern

6 menit baca
Muhammad Daifullah Al Ariq
Ditulis oleh Muhammad Daifullah Al Ariq diterbitkan
Pempek merupakan makanan khas Sumatera Selatan. (Sumber: Pexels | Foto: faizdila)
Pempek merupakan makanan khas Sumatera Selatan. (Sumber: Pexels | Foto: faizdila)

Siapa yang tidak mengenal pempek, salah satu makanan tradisional khas Palembang yang wajib dicicipi saat mengunjungi kota ini. Berbagai toko yang menjual pempek tersebar di seluruh wilayah Kota Palembang, baik di bagian Ulu maupun Ilir.

Pempek tidak hanya memiliki satu bentuk atau satu varian. Pempek memiliki berbagai macam bentuk dan varian dengan rasa dan isi yang berbeda-beda. Di antaranya, yang paling populer adalah pempek adaan berbentuk memanjang dan pempek kapal selam yang di dalamnya berisi telur. Pempek tentunya tidak lengkap jika tidak disantap bersama kuah khasnya yang bernama cuko yang memiliki bahan utama gula merah dan asam jawa.

Selain dinikmati dengan cara direbus atau digoreng, pempek memiliki berbagai macam masakan turunan yang tidak kalah enaknya, seperti tekwan, yaitu pempek yang diberi kuah kaldu ikan, dan lenggang yang menggunakan potongan pempek adaan yang dicampurkan dengan telur sebelum nantinya dipanggang di dalam daun pisang.

Pempek tidak hanya dapat dinikmati oleh masyarakat Palembang. Bantuan teknologi yang berkembang pesat di era modern membuat masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia juga dapat menikmati pempek dengan berbagai cara. Hal ini tentunya mengundang pertanyaan: kenapa pempek sebagai makanan tradisional yang biasanya ditinggalkan karena pesatnya perkembangan makanan akibat globalisasi dapat bertahan dan justru semakin populer seiring waktu? Namun, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana pempek bisa muncul pertama kali dan bagaimana pempek dapat menjadi populer di Palembang.

Latar belakang munculnya pempek sendiri tidak terlepas dari kondisi geografis wilayah Sumatera Selatan yang dialiri oleh sungai besar bernama Sungai Musi dan banyaknya rawa di daerah tersebut yang menjadi sebab utama kenapa pempek berbahan dasar ikan. Selain itu, sagu sebagai bahan utama pempek sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya yang dibuktikan dengan salah satu isi prasasti Talang Tuo yang berangka 684 M. Disebutkan bahwa raja Sriwijaya pada saat itu yang bernama Sri Jayanasa memiliki taman yang dinamai Sriksetra.

Di taman tersebut ditanam banyak tumbuhan, di mana salah satunya adalah sagu. Namun, ada spekulasi lain yang populer bahwa pempek pertama kali diperkenalkan oleh seorang yang berasal dari Tionghoa yang bernama Apek yang berkeliling menjual pempek yang dulunya bernama kelesan, yang dipercaya bahwa nama pempek diambil dari namanya.

Prasasti Talang Tuo yang memiliki rangka 684 M (Sumber: Pesona Sriwijaya | Foto: @baka.neko.baka)
Prasasti Talang Tuo yang memiliki rangka 684 M (Sumber: Pesona Sriwijaya | Foto: @baka.neko.baka)

Walau begitu, spekulasi ini tidak sepenuhnya benar dikarenakan dua bahan utama pempek, yaitu ikan dan sagu, sudah dikenal lama oleh masyarakat lokal seperti yang sudah dijelaskan di paragraf sebelumnya. Menurut jurnal Pempek Palembang (Efrianto et al., 2014), dijelaskan bahwa pempek sendiri diperkirakan sudah ada sebelum etnis Tionghoa mempopulerkan hal tersebut. Tetapi memang benar bahwa pempek nantinya dipopulerkan oleh etnis Tionghoa dikarenakan orang lokal hanya membuat pempek sebatas untuk dinikmati sendiri. Seiring berkembangnya zaman, masyarakat Palembang nantinya tidak hanya berasal dari wilayah Sumatera Selatan, tetapi juga dari berbagai penjuru Nusantara, sehingga memunculkan ide untuk memproduksi pempek yang bertujuan untuk diperjualbelikan, yang pada saat itu mayoritas dilakukan oleh etnis Tionghoa.

Saat ini, pempek sebagai salah satu makanan yang sudah dinikmati sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam menghadapi tantangan, yaitu era globalisasi yang membawa perubahan besar pada berbagai sektor, termasuk kuliner. Tantangan pertama muncul ketika ikan belida yang populer sebagai bahan untuk pempek hampir mengalami kepunahan akibat penangkapan secara berlebihan serta rusaknya habitat asli dikarenakan berbagai macam limbah yang merusak kualitas air di Sungai Musi. Krisis ini mengakibatkan masyarakat Palembang berpindah ke ikan tenggiri dan ikan gabus, yang membuat sebagian orang menganggap dapat merusak rasa asli pempek. Berbagai usaha dilakukan untuk mengembalikan ikan belida sebagai bahan utama pempek.

Menurut berita resmi dari Pemerintah Kota Palembang pada tahun 2023, Pemerintah Kota Palembang bersama Bank Sumsel Babel melakukan pendukungan budidaya bibit ikan belida yang berasal dari Thailand. Selain itu, Pertamina juga turut melakukan pelestarian ikan tersebut dengan program bernama Belida Musi Lestari yang sudah dilakukan sejak tahun 2018 dan menurut berita CNN Indonesia pada tahun 2025, program tersebut berkembang pesat hingga ke luar wilayah Palembang, yaitu Sungai Gerong yang terletak di Kabupaten Banyuasin.

Tantangan kedua muncul dengan adanya globalisasi yang membuat teknologi berkembang secara pesat. Perkembangan ini membuat kuliner didominasi oleh makanan cepat saji yang hingga saat ini populer di kalangan muda. Globalisasi juga menciptakan tantangan ketiga, yaitu menaikkan persaingan pasar antarpelaku usaha penjual pempek terutama di Kota Palembang sebagai pusat penjualan dan produksi pempek. Hal ini nantinya diperburuk oleh adanya pandemi Covid-19, di mana menurut berita Tempo pada tahun 2021, terjadi penurunan omzet penjualan pempek di salah satu merek pempek terkenal bernama Pempek Candy hingga 70 persen.

Berbagai tantangan baru yang muncul tersebut tidak serta-merta membuat pempek ditinggalkan. Berbagai macam inovasi dilakukan oleh pelaku usaha untuk menarik minat sebanyak-banyaknya, terutama dari kalangan muda. Semenjak pandemi yang mengharuskan masyarakat untuk tidak keluar rumah, muncul inovasi dari kalangan pelaku usaha dengan memanfaatkan e-commerce sebagai salah satu cara alternatif dalam menjual pempek. Pemanfaatan e-commerce ini nantinya memunculkan peluang pasar baru, di mana masyarakat dari luar Palembang juga dapat memesan pempek tersebut sehingga secara tidak langsung meningkatkan popularitas pempek di Indonesia.

Selain itu, penjualan pempek dilakukan dengan memanfaatkan teknik vakum dan makanan beku sebagai cara untuk membuat pempek menjadi makanan siap saji sehingga dapat menarik minat kalangan muda. Terakhir, inovasi penggunaan bahan pengganti ikan seperti putih telur dan udang dilakukan oleh pelaku usaha untuk menekan harga sehingga pempek dapat terus dinikmati oleh berbagai kalangan.

Selain aspek inovasi yang membuat pempek dapat terus bertahan di tengah globalisasi, pusat penjualan pempek di Palembang yang terdapat di 26 Ilir dan 7 Ulu juga mengambil bagian dalam melestarikan kuliner tradisional tersebut. Pusat ini dikenal dengan nama Sentral Kampung Pempek Palembang yang memiliki sejarah awal yang unik.

Awalnya, wilayah 26 Ilir pada tahun 1970 menjadi pusat penjualan kasur lihab, sedangkan penjualan pempek di sana pada waktu itu belum ada. Barulah pada tahun 1993, pempek mulai dijual dengan cara berkeliling dan nantinya, pada tahun 1997, mulai muncul toko pempek di wilayah tersebut. Setelah beberapa tahun, warga sekitar yang melihat kesuksesan penjualan pempek di 26 Ilir mulai ikut mendirikan toko pempeknya sendiri sehingga turut meramaikan penjualan pempek di wilayah itu.

Pada tahun 2010, Pemerintah Kota Palembang menetapkan Sentral Kampung Pempek di wilayah tersebut yang menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata di Palembang. Nantinya, ketika Palembang menjadi kota yang akan digunakan dalam Asean Games ke-18 yang diadakan di Indonesia, Pemerintah Kota Palembang mendirikan Sentral Kampung Pempek kedua yang terletak di bagian 7 Ulu, tepatnya di Kampung Kapitan untuk dapat meningkatkan potensi wisata kuliner di kota tersebut.

Inilah pempek, makanan tradisional yang awalnya bernama kalesan dan dipercaya pertama kali muncul pada Kesultanan Palembang Darussalam. Makanan yang awalnya dibuat hanya untuk dinikmati sendiri, seiring zaman, dipopulerkan oleh orang Tionghoa yang berjualan pempek secara keliling.

Pempek yang awalnya tercipta dikarenakan geografi Sumatera Selatan yang dialiri oleh Sungai Musi menciptakan makanan yang hingga saat ini menjadi bagian dari budaya wilayah tersebut dan terus dipertahankan, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakatnya. (*)

REFERENSI

  • Afni, A. N. (2025). Warisan kuliner pempek: perpaduan budaya melayu dan tionghoa di Kota Palembang. Maliki Interdisciplinary Journal, 3(3), 483-486.

  • Efrianto, Zubir, E., & Maryetti. (2014). Pempek Palembang: Makanan Tradisional Dari Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang.

  • Kholifah, N., Saputri, E. S., Apriani, M., Safitri, R., & Rahmela, A. B. (2026). Eksistensi Pempek Sebagai Warisan Budaya Dan Identitas Masyarakat Palembang. PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 5(3).

  • Ramadhani, D., Ariska, P., Syarifuddin, & Supriyanto. (2022). Eksistensi Kampung Pempek 26 Ilir Palembang Sumatera Selatan Tahun 1993-2010. Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah. 11(2). 196-205.

  • Suhendra, A. A., & Hudaya, M. R. (2022). BELIDA MUSI LESTARI: Mewujudkan Kelestarian Ikan Belida Sumatera Melalui Pemberdayaan Masyarakat Lintas Stakeholders. PT. KPI RU III Plaju.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Daifullah Al Ariq
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 21 Jul 2026, 11:51

Debu Kapur Tak Kenal Batas Administratif, Derita Warga Cipatat Berlanjut

Sejauh ini, arah angin itu selalu membawa debu ke rumah-rumah warga, bukan ke meja rapat para pejabat yang seharusnya menanganinya sejak lama.

Pemandangan udara menunjukkan aktivitas pabrik pengolahan batu gamping di Kecamatan Cipatat, yang dilalui jalur utama penghubung Bandung menuju Padalarang dan Cianjur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 10:34

Adaptasi Batik terhadap Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Modern

Adaptasi kain batik terhadap tren di era modern.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 10:33

Tamasya ke Leuwi Jurig Garut, Grand Canyon Sunda di Bungbulang

Panduan lengkap wisata Leuwi Jurig Garut, mulai dari harga tiket, jam buka, rute menuju lokasi, fasilitas, hingga peringatan keselamatan saat berenang.

Leuwi Jurig Bungbulang Garut. (Sumber: YouTube budi ahmadr)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 09:41

Belajar tentang Desain dari Monumen Jenderal Soedirman di Soreang

Di balik sebuah monumen, ternyata tumbuh ruang publik yang menghidupkan interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.

Monumen Jenderal Soedirman di Jalan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soreang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 19:14

Urgensi Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Penciptaan lingkungan belajar yang berfokus pada daya dukung psikologis dan keterampilan sosial juga mampu dipenuhi praktik implementasi kerjasama dan empati.

Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 18:01

Darurat Penerangan dan Melonjaknya Kriminalitas di Jalanan Kota Bandung

Bandung kini berbeda dan kenyamanan kotanya tak lagi sama. Kian hari tingkat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminalitas kian menjamur tanpa ada solusi yang nyata untuk menyelesaikannya.

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)