Selebritisasi Politik dan Kebudayaan di Bandung

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Bandung sering dipromosikan sebagai kota kreatif dan kota budaya, namun di balik slogan itu, kebijakan kebudayaan justru terseret logika selebritisasi. (Sumber: Unsplash/Firall Ar Dunda)
Bandung sering dipromosikan sebagai kota kreatif dan kota budaya, namun di balik slogan itu, kebijakan kebudayaan justru terseret logika selebritisasi. (Sumber: Unsplash/Firall Ar Dunda)

Bandung sering dipromosikan sebagai kota kreatif dan kota budaya, namun di balik slogan itu, kebijakan kebudayaan justru terseret logika selebritisasi. Popularitas dan kedekatan politik lebih menentukan siapa yang mendapat ruang, sementara amanat undang-undang tentang gedung pusat seni dan budaya terus diabaikan. Akibatnya, kebudayaan hanya tampil sebagai jargon, bukan sebagai ekosistem yang hidup dan berdaya sebagai pembangun peradaban. 

***

Bandung kerap dielu-elukan sebagai kota kreatif, kota budaya, bahkan laboratorium gagasan yang melahirkan berbagai gelombang seni, intelektual, dan perlawanan sosial. Dari musik, teater, seni rupa, hingga sastra, kota ini memiliki sejarah panjang yang memperlihatkan dinamika kebudayaan yang hidup dan tak pernah sepi.

Namun, di balik citra tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah pembangunan kebudayaan di Bandung sungguh-sungguh dijalankan dengan serius, atau sekadar dikemas dalam logika popularitas dan panggung pencitraan?

Pertanyaan ini semakin relevan ketika kita melihat figur Wali Kota Bandung yang berasal dari kalangan selebritas. Posisi politik yang berangkat dari dunia hiburan membawa serta logika selebritisasi ke dalam ruang kebijakan.

Akibatnya, pembangunan kebudayaan sering kali ditakar berdasarkan standar popularitas, kedekatan politik, dan lingkaran orang dekat. Dalam praktiknya, yang muncul bukanlah kebijakan kebudayaan yang menyentuh akar, melainkan serangkaian acara seremonial yang lebih menekankan pada tampilan luar ketimbang substansi.

Logika Selebritas dalam Kebijakan Kebudayaan

Tugu Gitar di Taman Musik Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Tugu Gitar di Taman Musik Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Dalam bidang musik, misalnya, pemerintah kota lebih sering memberi panggung kepada kelompok yang memiliki kedekatan personal atau afiliasi politik dengan lingkar kekuasaan. Standar utama yang berlaku bukanlah kualitas artistik atau kontribusi pada ekosistem seni, melainkan seberapa “terlihat” dan “terkenal” sosok tersebut.

Pola semacam ini menciptakan kesan seolah pembangunan kebudayaan telah dilakukan, padahal yang hadir hanyalah pengulangan logika industri hiburan: yang populer diberi ruang, sementara yang lain didorong ke pinggiran.

Di sinilah letak persoalan serius. Kebudayaan bukanlah panggung selebritas yang hanya bisa diisi oleh mereka yang punya akses dan jaringan politik. Kebudayaan adalah denyut hidup masyarakat, hasil dari kerja panjang para seniman, penulis, musisi, budayawan, dan komunitas yang sering kali justru bekerja dalam sunyi, jauh dari sorotan.

Menggeser pembangunan kebudayaan ke logika selebritisasi berarti menyingkirkan banyak potensi yang sebetulnya sedang tumbuh.

Lebih jauh lagi, kita sebetulnya memiliki dasar hukum yang jelas. Undang-undang mengamanatkan bahwa pemerintah kota wajib menyediakan gedung pusat kegiatan seni dan budaya. Ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan sebuah kewajiban nyata untuk memastikan masyarakat memiliki ruang berproses, berinteraksi, dan menumbuhkan kreativitas.

Namun, hingga kini, kewajiban tersebut tampak diabaikan. Alih-alih menyediakan ruang yang memadai, pemerintah kota lebih sibuk dengan agenda jangka pendek yang berorientasi pada pencitraan. Ruang seni publik yang seharusnya menjadi pusat kegiatan lintas disiplin justru jarang dibicarakan, apalagi diwujudkan.

Akibatnya, ekosistem seni di Bandung sering kali bergantung pada inisiatif komunitas kecil yang harus berjuang sendiri—dengan segala keterbatasan fasilitas, dana, maupun dukungan regulasi.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah soal persepsi. Dalam praktik kebijakan, kata “budaya” sering direduksi hanya pada seni tradisi. Tentu, seni tradisi adalah bagian penting dari identitas, dan sudah semestinya mendapatkan dukungan. Namun, membatasi budaya hanya pada dimensi tradisi berarti mengabaikan dinamika kebudayaan yang hidup hari ini.

Seni kontemporer—musik, teater, seni rupa modern, film independen, hingga sastra—adalah bagian tak terpisahkan dari pembentukan kesadaran budaya masyarakat. Karya-karya kontemporer sering kali lebih dekat dengan problem sosial-politik yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Ia menjadi cermin zaman, medium kritik, sekaligus ruang refleksi. Mengabaikan seni kontemporer sama artinya dengan memutus dialog masyarakat dengan realitasnya sendiri.

Peran Komunitas Alternatif

Daya tarik Bandung sebagai kota pendidikan sekaligus ekosistem pendidikan, terletak pada reputasi perguruan tinggi ternama. (Sumber: Pexels/Muhamad Firdaus)
Daya tarik Bandung sebagai kota pendidikan sekaligus ekosistem pendidikan, terletak pada reputasi perguruan tinggi ternama. (Sumber: Pexels/Muhamad Firdaus)

Meski pemerintah kota abai, bukan berarti denyut kebudayaan Bandung padam. Justru sebaliknya, banyak komunitas alternatif yang terus bergerak. Dari pasar buku murah, ruang diskusi sastra, hingga kolektif musik independen, mereka hadir dengan daya tahan yang mengagumkan. Komunitas-komunitas inilah yang menjaga api kebudayaan tetap menyala, meski tanpa fasilitas memadai dari negara.

Keberadaan mereka membuktikan bahwa kebudayaan tumbuh dari bawah, dari ruang-ruang kecil yang penuh dedikasi. Namun, ketahanan komunitas ini tidak bisa terus-menerus dijadikan alasan untuk membiarkan pemerintah abai. Sebab, jika dibiarkan berlarut, jurang ketimpangan akan semakin lebar: di satu sisi ada selebritisasi yang mendapat panggung, di sisi lain komunitas independen yang terus berjuang di pinggiran.

Jika Bandung ingin sungguh-sungguh menjadi kota budaya, pemerintah kota harus berani melampaui logika selebritisasi. Ada beberapa langkah mendasar yang seharusnya segera dilakukan:

Membangun Gedung Pusat Kegiatan Seni dan Budaya sebagaimana amanat undang-undang. Ruang ini harus inklusif, terbuka bagi semua disiplin seni, dan tidak dimonopoli oleh kelompok tertentu.

Mengubah cara pandang kebudayaan dari yang sempit (hanya seni tradisi) menjadi luas dan kontekstual, mencakup seni kontemporer dan sastra sebagai bagian integral.

Memberikan dukungan nyata bagi komunitas alternatif, bukan sekadar bantuan seremonial, tetapi akses reguler terhadap ruang, dana, dan jaringan kerja sama.

Menghentikan politik panggung selebritas, menggantinya dengan kebijakan berbasis kebutuhan ekosistem seni yang beragam.

Kebudayaan bukanlah sekadar acara hiburan di panggung besar, bukan pula seremoni yang penuh kamera. Kebudayaan adalah proses panjang yang lahir dari interaksi, refleksi, dan penciptaan. Bandung memiliki sejarah dan modal sosial yang kaya untuk benar-benar menjadi kota budaya, tetapi semua itu akan sia-sia jika pemerintah kota terus terjebak dalam logika selebritisasi.

Sudah saatnya kebijakan kebudayaan di Bandung diarahkan kembali ke jalur yang seharusnya: berpihak pada keragaman, menyediakan ruang bagi semua, dan memberi dukungan nyata pada para pelaku seni yang bekerja dengan kesetiaan. Tanpa langkah itu, slogan “Bandung Kota Budaya” hanya akan menjadi jargon kosong—hiasan retorika yang menutupi krisis sesungguhnya. (*) 

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)