Refleksi Ekologis, ke Mana Perginya Jurig?

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Rabu 11 Feb 2026, 11:40 WIB
Ilustrasi pohon. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Ilustrasi pohon. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Satu bagian yang paling seru pas jadi orang Sunda yakni ketika ikut ngobrol soal hantu. Tuturannya sering kali diatur dengan gaya yang serius. Tampak seperti pengalaman yang cukup penting. Sebab hantu bukan hanya segelintir kesaksian, tapi turut merangkai identitas kesundaan yang cukup kompleks.

Namun seiring berjalannya waktu, penampakan hantu sepertinya sudah jarang terjadi. Hampir tidak lagi disebut-sebut adanya tempat sanget atau geugeuman (angker), termasuk waktu-waktu yang dipandang rawan. Malah sekarang nuansa horor sudah menjadi barang jualan. Sensasi menakutkan baru bisa dinikmati kalau kita sudah membayarnya. Nonton film, ikuti saluran premium di YouTube, dan baca novel dari penulis-penulis yang terkenal itu.

Hantu

Kawénéhan adalah kata yang tepat buat menggambarkan kondisi ketika berpapasan dengan makhluk halus. Jurig adalah bahasa Sundanya hantu. Hantu yang menampakkan dirinya dengan jelas disebut bungkeuleukan. Sedangkan kasarumahan atau kasurupan, merupakan istilah untuk keraksukan hantu. Ada banyak nama jurig di Tanah Sunda. Ririwa, onom, orowodol, lulun samak, adén, ipri, kiciwis, bungaok, sandékala, kélong wéwé, dedemit, dan lain sebagainya.

Kepercayaan, tradisi, dan sistem religi lokal saling berkelindan memberi warna pada narasi hantu-hantu Sunda. Hantu bisa dipandang sebagai jiwa seseorang yang meninggal dalam keadaan yang tidak sempurna. Beberapa dari jenis hantu adalah penguasa teritorial yang melintasi zaman. Ada hantu yang identik dengan tempat dan waktu tertentu.

Beberapa bentuk penyakit diyakini datang dari mereka. Aya nu nyabak, bahasa untuk menyebut orang yang tiba-tiba mengeluhkan bagian tubuhnya yang membiru. Dituturkeun, istilah buat kondisi orang yang dipercaya diikuti oleh makhluk halus. Bukan hanya faktor takdir, keselamatan hidup, kesaktian, maupun sial dan celaka, lekat hubungannya dengan semua ini. Dukun, kuncén, sesepuh, nenek, hingga ajéngan (ulama) memiliki peran penting dalam kosmologi lokal Sunda. Orang-orang ini bukan konektor dengan dunia astral saja, juga penyembuh buat orang yang tatamba (berobat), tempat pananyaan (bertanya soal hal mistik), dan tentunya pengandali jagat yang dapat diandalkan.

Kebudayaan Sunda menyediakan pamali, cadu, dan buyut sebagai bentuki regulasi pantangan yang sesuai ketentuan adat. Perangkat ini bukan hanya membatasi sopan santun dan seksualitas, juga etika pada hal-hal yang sakral. Hantu adalah bagian dari komunitas hidupnya orang Sunda. Subjek sehari-hari yang sangat mungkin bersinggungan dengan manusia, baik di rumah, kampung, jalan, ladang, lapang, maupun hutan. Sebagian dari mereka dipandang mengganggu dan suka jahil. Namun secara etis tingkah lakunya tersebut kerap terjadi karena akibat perilaku manusia yang gemar melanggar batas. 

Waktu

Saat peralihan waktu, misalnya datangnya malam hari, kita diajak untuk rehat sejenak. Bahkan kalau sedang di luar sebisa mungkin bergegas ke rumah. Di lapang bermain anak-anak diajarkan untuk mengajak pulang sukmanya sendiri “mangga lelembutna hayu urang mulih”. Malam saatnya beristirahat. Kita secara alami akan menyaksikan dunia gulita total pada setiap pukul 19.00. Dari sanalah leluhur Sunda menyebutnya wanci harieum beunget, ketika wajah sudah mulai tak tampak jelas.

Tapi kini tatanan waktu tradisional sudah berganti. Senja hari tidak sesakral dahulu, jendela tidak perlu ditutup-tutup. Malah bagi kita, ini adalah saat yang tepat untuk memulai hari, pergi keluyuran, nongkrong, atau mulai rapat. Malam hanya menyisakan gelap, itupun masih bisa kita lawan dengan terangnya lampu. Ada lagi barang internet yang membiarkan kita terus terkoneksi tanpa pernah merasa sendirian lagi.

Pulang malam sudah biasa, alasan kerjaan tanggung atau macet di jalan. Mengejar target perusahaan jauh lebih horor ketimbang menyadari kerja yang kamalinaan (berlebihan). Malam jadi batas waktu yang menakutkan buat deadline, jatuh tempo tagihan, atau jatah promo yang sudah kedaluwarsa. Orang-orang jahat jauh lebih menakutkan ketimbang hantu kepala buntung.

Cerita hantu menyimpan kode trauma dan harapan rakyat, mengingatkan bahwa luka sosial belum sembuh. (Sumber: Pexels/Monstera Production)
Cerita hantu menyimpan kode trauma dan harapan rakyat, mengingatkan bahwa luka sosial belum sembuh. (Sumber: Pexels/Monstera Production)

Ruang

Saat masuk ke area yang langka dihinggapi manusia, misalnya ke lahan kosong, kita diajak untuk berdiam sejenak. Bahkan kalau sedang berada di sebuah tebing batas kampung, kaki gunung, atau pemakaman, kita tidak boleh memetik dan mengambil barang sembarangan. Di ruang yang tampak tak ada pemiliknya, anak-anak diajarkan untuk selalu meminta izin “punten paralun” sekalipun hanya untuk memasuki kawasannya saja. Di tempat terbuka kita menjalankan norma yang sedikit berbeda. Kita secara alami akan menyaksikan hutan rimba sebagai batas terjauh dari perkampungan. Dari sanalah leluhur Sunda menyebutnya leuweung tutupan, ketika manusia tidak bisa mengaku-ngaku sebagai pemiliknya.

Tapi kini tatanan ruang tradisional sudah berganti. Lahan kosong tidak sesakral dahulu, pohon dan batu boleh sembarang ditebang dan dicungkil. Malah bagi kita, ini adalah aset yang menjanjikan, wahana mencari uang. Lahan hanya menyisakan tanah, itupun masih bisa kita lawan dengan derunya mesin pengeruk. Ada lagi klaim kepemilikan, izin, dan konsesi yang membiarkan kita terus menggali tanpa pernah merasa salah lagi.

Jelajah daerah sudah biasa, alasan pemanfaatan lahan atau wisata alam. Mengejar capaian hidup jauh lebih horor ketimbang menyadari langkah yang jarambah (main terlalu jauh). Lahan kosong jadi batas ruang yang menakutkan buat rebutan warisan, hak guna pakai, atau sengketa di masa depan. Orang-orang jahat jauh lebih menakutkan ketimbang cerita rakyat soal penunggu tanah.

Jagat

Tradisi Sunda memandang waktu dan ruang sebagai cerminan relasi yang intim dengan alam. Siklus kosmis dan kehidupan agraris memetakan ritme dan tata ruang masyarakatnya. Waktu bukan hanya jadwal matematis yang berguna mengatur ketentuan produksi. Ruang bukan hanya lokasi fisik yang berguna untuk pengembangan aset. Keduanya adalah dimensi relasional yang penuh makna yang sakral. Penetrasi kolonial, kapitalisme, modernisasi, dan dominasi agama-agama dunia, telah menggeser dunia tradisional Sunda dengan drastis.

Raib dalam tradisi, hantu salah satu korban hegemoni ini. Kepercayaan terhadapnya ditertawakan semacam buah kebodohan yang datang dari peradaban primitif yang penuh dengan takhayul. Padahal bagi kosmologi Sunda, hantu bukan sekadar entitas supranatural melainkan representasi dari jaring-jaring relasi yang pelik di antara manusia, leluhur, alam, dan daya ilahi. Manusia Sunda memandang dunia bukan hanya tentang dirinya saja.

Dalam kepercayaan pada hantu, ada rasa hormat yang tinggi pada tatanan semesta. Pada setiap keputusan hidup yang selalu mempertimbangkan dampak relasional yang harmoni termasuk soal ekologis yang berkepanjangan. Hantu telah mengendalikan manusia Sunda untuk selalu bersikap ugahari dan penuh kehati-hatian. Ia telah mendidiknya menjadi pribadi yang mawas diri. Ulah saucap-ucapna, ulah mincrak teuing (Jangan seucap-ucapnya, jangan telalu berlaku heboh).

Hidup tidak selalu soal untung rugi, ada yang harus dibagi termasuk untuk hantu-hantu yang dipercaya hidup berdampingan dengan manusia. Percakapan tidak melulu tentang bisnis dan kerja, juga dongeng horor yang menggugah sebagai selingan yang kadang berubah seserius itu. Sunda yang lama telah mengerti betul pada masalah pembagian waktu dan ruang yang seadil-adilnya. Ada yang milik manusia, ada yang bukan. Ada yang cuma bisa dipinjam, ada yang cuma bisa diinjak, dilewati saja.

Baca Juga: Ngabuburit Digital: Bahasa Sunda di Era Reels dan Shorts

Hantu adalah pembatas dari dunia kita. Bahasa dari pagar-pagar kehidupan, dari wilayah yang tidak terjamah manusia. Ia menjadi pengingat bagi keserakahan manusia. Hantu adalah jelmaan musibah dari ulah manusia, yang bisa menelannya. Dan hal itu telah terjadi, kini manusia dibawa pada krisis yang berkepanjangan. Inilah mamala yang sejak dahulu selalu diingatkan oleh orang tua kita. Bencana alam, konflik, sampah dan limbah, kesengsaraan, paceklik, tuaian kita sendiri.

Kita telah kehilangan waktu dan ruang yang keramat. Semua disikat demi keuntungan peradaban yang sesaat. Kita lebih memilih menantang alam. Melawan hantu-hantu dengan persekutuan yang ganas dengan teknologi industri, ijazah sekolah, dan sains yang katanya mencerahkan.  Sekarang hantu-hantu sudah tiada, sudah menjelma jadi kita yang haus kuasa di tengah kemegahan semesta yang luar biasa. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)
Seni Budaya 03 Mar 2026, 16:37

Sejarah Batik Pekalongan, Warisan Budaya dari Pantura Sejak 1802

Sejak awal 1800-an, batik di Pekalongan berkembang dari perdagangan pesisir hingga diakui UNESCO sebagai bagian jejaring kota kreatif dunia.

Kain sarung motif batik Pekalongan tahun 1980-an di Museum Honolulu. (Sumber: Wikimedia)