Refleksi Ekologis, ke Mana Perginya Jurig?

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Ilustrasi pohon. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ilustrasi pohon. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Satu bagian yang paling seru pas jadi orang Sunda yakni ketika ikut ngobrol soal hantu. Tuturannya sering kali diatur dengan gaya yang serius. Tampak seperti pengalaman yang cukup penting. Sebab hantu bukan hanya segelintir kesaksian, tapi turut merangkai identitas kesundaan yang cukup kompleks.

Namun seiring berjalannya waktu, penampakan hantu sepertinya sudah jarang terjadi. Hampir tidak lagi disebut-sebut adanya tempat sanget atau geugeuman (angker), termasuk waktu-waktu yang dipandang rawan. Malah sekarang nuansa horor sudah menjadi barang jualan. Sensasi menakutkan baru bisa dinikmati kalau kita sudah membayarnya. Nonton film, ikuti saluran premium di YouTube, dan baca novel dari penulis-penulis yang terkenal itu.

Hantu

Kawénéhan adalah kata yang tepat buat menggambarkan kondisi ketika berpapasan dengan makhluk halus. Jurig adalah bahasa Sundanya hantu. Hantu yang menampakkan dirinya dengan jelas disebut bungkeuleukan. Sedangkan kasarumahan atau kasurupan, merupakan istilah untuk keraksukan hantu. Ada banyak nama jurig di Tanah Sunda. Ririwa, onom, orowodol, lulun samak, adén, ipri, kiciwis, bungaok, sandékala, kélong wéwé, dedemit, dan lain sebagainya.

Kepercayaan, tradisi, dan sistem religi lokal saling berkelindan memberi warna pada narasi hantu-hantu Sunda. Hantu bisa dipandang sebagai jiwa seseorang yang meninggal dalam keadaan yang tidak sempurna. Beberapa dari jenis hantu adalah penguasa teritorial yang melintasi zaman. Ada hantu yang identik dengan tempat dan waktu tertentu.

Beberapa bentuk penyakit diyakini datang dari mereka. Aya nu nyabak, bahasa untuk menyebut orang yang tiba-tiba mengeluhkan bagian tubuhnya yang membiru. Dituturkeun, istilah buat kondisi orang yang dipercaya diikuti oleh makhluk halus. Bukan hanya faktor takdir, keselamatan hidup, kesaktian, maupun sial dan celaka, lekat hubungannya dengan semua ini. Dukun, kuncén, sesepuh, nenek, hingga ajéngan (ulama) memiliki peran penting dalam kosmologi lokal Sunda. Orang-orang ini bukan konektor dengan dunia astral saja, juga penyembuh buat orang yang tatamba (berobat), tempat pananyaan (bertanya soal hal mistik), dan tentunya pengandali jagat yang dapat diandalkan.

Kebudayaan Sunda menyediakan pamali, cadu, dan buyut sebagai bentuki regulasi pantangan yang sesuai ketentuan adat. Perangkat ini bukan hanya membatasi sopan santun dan seksualitas, juga etika pada hal-hal yang sakral. Hantu adalah bagian dari komunitas hidupnya orang Sunda. Subjek sehari-hari yang sangat mungkin bersinggungan dengan manusia, baik di rumah, kampung, jalan, ladang, lapang, maupun hutan. Sebagian dari mereka dipandang mengganggu dan suka jahil. Namun secara etis tingkah lakunya tersebut kerap terjadi karena akibat perilaku manusia yang gemar melanggar batas. 

Waktu

Saat peralihan waktu, misalnya datangnya malam hari, kita diajak untuk rehat sejenak. Bahkan kalau sedang di luar sebisa mungkin bergegas ke rumah. Di lapang bermain anak-anak diajarkan untuk mengajak pulang sukmanya sendiri “mangga lelembutna hayu urang mulih”. Malam saatnya beristirahat. Kita secara alami akan menyaksikan dunia gulita total pada setiap pukul 19.00. Dari sanalah leluhur Sunda menyebutnya wanci harieum beunget, ketika wajah sudah mulai tak tampak jelas.

Tapi kini tatanan waktu tradisional sudah berganti. Senja hari tidak sesakral dahulu, jendela tidak perlu ditutup-tutup. Malah bagi kita, ini adalah saat yang tepat untuk memulai hari, pergi keluyuran, nongkrong, atau mulai rapat. Malam hanya menyisakan gelap, itupun masih bisa kita lawan dengan terangnya lampu. Ada lagi barang internet yang membiarkan kita terus terkoneksi tanpa pernah merasa sendirian lagi.

Pulang malam sudah biasa, alasan kerjaan tanggung atau macet di jalan. Mengejar target perusahaan jauh lebih horor ketimbang menyadari kerja yang kamalinaan (berlebihan). Malam jadi batas waktu yang menakutkan buat deadline, jatuh tempo tagihan, atau jatah promo yang sudah kedaluwarsa. Orang-orang jahat jauh lebih menakutkan ketimbang hantu kepala buntung.

Cerita hantu menyimpan kode trauma dan harapan rakyat, mengingatkan bahwa luka sosial belum sembuh. (Sumber: Pexels/Monstera Production)
Cerita hantu menyimpan kode trauma dan harapan rakyat, mengingatkan bahwa luka sosial belum sembuh. (Sumber: Pexels/Monstera Production)

Ruang

Saat masuk ke area yang langka dihinggapi manusia, misalnya ke lahan kosong, kita diajak untuk berdiam sejenak. Bahkan kalau sedang berada di sebuah tebing batas kampung, kaki gunung, atau pemakaman, kita tidak boleh memetik dan mengambil barang sembarangan. Di ruang yang tampak tak ada pemiliknya, anak-anak diajarkan untuk selalu meminta izin “punten paralun” sekalipun hanya untuk memasuki kawasannya saja. Di tempat terbuka kita menjalankan norma yang sedikit berbeda. Kita secara alami akan menyaksikan hutan rimba sebagai batas terjauh dari perkampungan. Dari sanalah leluhur Sunda menyebutnya leuweung tutupan, ketika manusia tidak bisa mengaku-ngaku sebagai pemiliknya.

Tapi kini tatanan ruang tradisional sudah berganti. Lahan kosong tidak sesakral dahulu, pohon dan batu boleh sembarang ditebang dan dicungkil. Malah bagi kita, ini adalah aset yang menjanjikan, wahana mencari uang. Lahan hanya menyisakan tanah, itupun masih bisa kita lawan dengan derunya mesin pengeruk. Ada lagi klaim kepemilikan, izin, dan konsesi yang membiarkan kita terus menggali tanpa pernah merasa salah lagi.

Jelajah daerah sudah biasa, alasan pemanfaatan lahan atau wisata alam. Mengejar capaian hidup jauh lebih horor ketimbang menyadari langkah yang jarambah (main terlalu jauh). Lahan kosong jadi batas ruang yang menakutkan buat rebutan warisan, hak guna pakai, atau sengketa di masa depan. Orang-orang jahat jauh lebih menakutkan ketimbang cerita rakyat soal penunggu tanah.

Jagat

Tradisi Sunda memandang waktu dan ruang sebagai cerminan relasi yang intim dengan alam. Siklus kosmis dan kehidupan agraris memetakan ritme dan tata ruang masyarakatnya. Waktu bukan hanya jadwal matematis yang berguna mengatur ketentuan produksi. Ruang bukan hanya lokasi fisik yang berguna untuk pengembangan aset. Keduanya adalah dimensi relasional yang penuh makna yang sakral. Penetrasi kolonial, kapitalisme, modernisasi, dan dominasi agama-agama dunia, telah menggeser dunia tradisional Sunda dengan drastis.

Raib dalam tradisi, hantu salah satu korban hegemoni ini. Kepercayaan terhadapnya ditertawakan semacam buah kebodohan yang datang dari peradaban primitif yang penuh dengan takhayul. Padahal bagi kosmologi Sunda, hantu bukan sekadar entitas supranatural melainkan representasi dari jaring-jaring relasi yang pelik di antara manusia, leluhur, alam, dan daya ilahi. Manusia Sunda memandang dunia bukan hanya tentang dirinya saja.

Dalam kepercayaan pada hantu, ada rasa hormat yang tinggi pada tatanan semesta. Pada setiap keputusan hidup yang selalu mempertimbangkan dampak relasional yang harmoni termasuk soal ekologis yang berkepanjangan. Hantu telah mengendalikan manusia Sunda untuk selalu bersikap ugahari dan penuh kehati-hatian. Ia telah mendidiknya menjadi pribadi yang mawas diri. Ulah saucap-ucapna, ulah mincrak teuing (Jangan seucap-ucapnya, jangan telalu berlaku heboh).

Hidup tidak selalu soal untung rugi, ada yang harus dibagi termasuk untuk hantu-hantu yang dipercaya hidup berdampingan dengan manusia. Percakapan tidak melulu tentang bisnis dan kerja, juga dongeng horor yang menggugah sebagai selingan yang kadang berubah seserius itu. Sunda yang lama telah mengerti betul pada masalah pembagian waktu dan ruang yang seadil-adilnya. Ada yang milik manusia, ada yang bukan. Ada yang cuma bisa dipinjam, ada yang cuma bisa diinjak, dilewati saja.

Baca Juga: Ngabuburit Digital: Bahasa Sunda di Era Reels dan Shorts

Hantu adalah pembatas dari dunia kita. Bahasa dari pagar-pagar kehidupan, dari wilayah yang tidak terjamah manusia. Ia menjadi pengingat bagi keserakahan manusia. Hantu adalah jelmaan musibah dari ulah manusia, yang bisa menelannya. Dan hal itu telah terjadi, kini manusia dibawa pada krisis yang berkepanjangan. Inilah mamala yang sejak dahulu selalu diingatkan oleh orang tua kita. Bencana alam, konflik, sampah dan limbah, kesengsaraan, paceklik, tuaian kita sendiri.

Kita telah kehilangan waktu dan ruang yang keramat. Semua disikat demi keuntungan peradaban yang sesaat. Kita lebih memilih menantang alam. Melawan hantu-hantu dengan persekutuan yang ganas dengan teknologi industri, ijazah sekolah, dan sains yang katanya mencerahkan.  Sekarang hantu-hantu sudah tiada, sudah menjelma jadi kita yang haus kuasa di tengah kemegahan semesta yang luar biasa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)