Pelaku proses desain dari kalangan perguruan tinggi (PT) atau dari instansi pemerintah yang mengurusi industri dan ekonomi kreatif perlu bekerja sama dengan industriawan terkait dengan produk yang layak dipasarkan.
Pada saat bulan Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri, bermacam produk banyak bermunculan merebut perhatian konsumen. Bahkan jutaan pemudik lebaran yang akan berlibur di kampung kelahirannya, tentunya banyak yang membeli produk-produk industri di daerahnya. Baik yang berupa barang kerajinan, alat rumah tangga, hiasan rumah, hingga produk furniture. Sehingga faktor desain industri yang baik sangat menentukan tingkat kepuasan para konsumen yang notabene adalah para pemudik.
Kelayakan proyek desain penting dilaksanakan karena didukung oleh sejumlah informasi, data yang bersifat objektif dan tidak kadaluarsa. Proyek desain produk yang selama ini banyak dilakukan oleh PT dan lembaga pemerintah perlu bekerja sama dengan industri manufaktur.
Manufaktur merupakan proses mengubah bahan baku atau material hingga menjadi produk jadi atau setengah jadi dalam skala besar menggunakan mesin, peralatan, dan tenaga kerja. Bertujuan untuk menciptakan produk bernilai tambah yang tinggi yang kemudian didistribusikan ke konsumen atau produsen lain.
Kerja sama desain industri untuk menciptakan nilai tambah lokal dan memacu industrialisasi daerah perlu bekerja sama dengan para industriawan. Industriawan bukan sekedar pedagang. Industriawan adalah orang yang memiliki, mengelola, atau menjalankan usaha di bidang industri, terutama dalam skala manufaktur dan produksi besar.
Terkait dengan desain industri untuk produk manufaktur, penulis sempat berdiskusi dengan Hendro Wangsanegara, industriawan pendiri perusahaan yang bisa dibilang legendaris di Kota Bandung yakni Pudak Scientific. Sebagai industrialis, kakek yang telah memiliki banyak cucu ini menawarkan kerja sama desain industri kepada para pakar desain produk dari perguruan tinggi maupun lembaga pemerintah.

Menurut Pak Hendro ini penting lantaran desain produk saat ini sangat menentukan dalam persaingan. PT Pudak sendiri selama ini telah tumbuh menjadi industri peralatan pendidikan, laboratorium sekolah, peralatan praktek vokasi untuk SMK dan mahasiswa, furniture untuk pendidikan dan perkantoran, glassware, implant dan medical equipment, hingga produk komponen untuk pesawat terbang dan alutsista.
“Perlu stimulus yang bisa dijalankan secara baik agar kerjasama desain industri menjadi produk yang lebih konkrit dan unggul di pasar. Oleh karena itu, sangatlah penting masukan dan pengalaman dari pakar desain produk. Agar gagasan desain ideal untuk dikembangkan,” ungkap Pak Hendro kepada penulis.
Dari kacamata ilmu desain produk, banyak gagasan yang secara sekilas terlihat mencengangkan, namun setelah dicoba untuk direalisasikan, ternyata sangat sulit atau bahkan tidak mungkin direalisasikan menjadi produk yang baik.
Kerja sama desain industri searah dengan komitmen Pemkot Bandung melalui Wali Kota Muhammad Farhan, yang menegaskan terus menyeimbangkan antara pembangunan dan perkembangan ide-ide kreatif. Hal itu pernah disampaikan dalam kegiatan Simposium UNESCO Creative Cities Network (UCCN) City of Design Subnetwork di Gedung Center of Art, Design, and Language (CADL) Institut Teknologi Bandung. Wali Kota Bandung bertekad memperkuat posisi daerahnya sebagai pusat kreativitas nasional.

Sinergi Desain Industri dan Manufaktur
Desain industri dan manufaktur di Kota Bandung perlu bersinergi agar bisa berkembang pesat. Kerja sama berfokus pada teknologi presisi, produk kreatif, dan orientasi ekspor. Lembaga pendidikan seperti Polman Bandung dan ITB yang telah menjadi pusat perancangan dan manufaktur alat/mesin memiliki peran yang penting.
Politeknik Manufaktur Bandung (Polman) memiliki keunggulan dalam teknologi manufaktur, dies, moulding, perancangan perkakas presisi, dan mesin khusus melalui Production Based Education. Sedangkan Institut Teknologi Bandung (ITB) lewat Program Studi Desain Produk menghasilkan ahli yang unggul pada pengembangan produk kreatif dan fungsional.
Pada prinsipnya Desain industri (Industrial Design) berkaitan dengan semua aspek manusia dari suatu produk yang dibuat secara masinal dan hubungan antara manusia dengan lingkungan dimana manusia itu berada.
Desainer industri mengerjakan fungsi enjiniring faktor manusia dari produk yang bersangkutan (human factors engineering), keamanan (safety), bentuk (form), warna, pemeliharaan (maintenance) dan biaya. Desain Industri berhubungan dengan produk konsumer dan juga produk barang-barang industri.
Agar mencapai tujuan yang diinginkan, desainer industri harus terlibat di dalam empat aktivitas riset dan pengembangan yang paling utama yaitu: perilaku manusia (human behavior) perangkat perantara manusia dan mesin (human-machine interface), lingkungan dan produk itu sendiri. Cakupan area desain industri adalah furniture, peralatan rumah tangga (housewares), perangkat elektronik (appliances), transportasi, perkakas, peralatan kebun, perangkat medis/ instrumen elektronis, human interface, dan peralatan pendukung aktivitas rekreasi.
Desain Industri adalah seni terapan dimana terdapat faktor estetika dan kegunaan (usability) dari produk yang harus dioptimalisasi agar dapat diproduksi dan dijual.
Peranan desain industri adalah menciptakan dan menerapkan solusi-solusi desain terhadap permasalahan yang ada pada bagian enjiniring, faktor penggunaan (usability), pemasaran, pengembangan merek dan penjualan. Secara umum, Desain industri adalah pertemuan antara enjiniring mekanis dengan seni. Desainer industri mempelajari fungsi dan bentuk dan keterhubungan antara produk dengan penggunanya. Biasanya desainer industri bermitra dengan engineer dan pemasar untuk dapat mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan konsumen dan juga hal-hal ekspektasi konsumen lainnya.

Proses Kreatif untuk Memberikan Nilai Tambah
Dalam konteks profesionalisme, desain industri merupakan layanan profesional dalam menciptakan dan mengembangkan konsep dan spesifikasi yang akan mengoptimalisasikan fungsi, nilai-nilai dan penampilan dari produk dan sistem untuk keuntungan bersama antara pengguna dan produsen (manufacturer).
Banyak desainer industri yang menggunakan beraneka macam metodologi dalam proses kreatifnya. Beberapa proses yang sering digunakan adalah riset pemakai (user research), sketsa, riset komparasi produk, pembuatan model (mockup), pembuatan purwarupa (prototyping) dan pengujian. Proses-proses ini dapat secara kronologis atau secara prediksi terbaik yang dibuat oleh desainer dan/atau anggota tim pengembangan produk lainnya.
Desainer Industri biasanya menggunakan piranti lunak tiga dimensi, CAID (Computer-aided industrial design) dan program CAD (Computer Aided Design) untuk merealisasikan konsep ke produksi.
Baca Juga: Merawat Ingatan Kampung Lewat Instagram, Kisah di Balik Homeless Media @cipicungbergerak
Karakteristik produk yang dibuat oleh desainer industri mencakup bentuk keseluruhan dari objek yang dimaksud, detail perletakan fungsi yang saling berkaitan, warna, tekstur, suara dan aspek-aspek yang terkait dengan kenyamanan manusia (ergonomi). Desainer industri juga dapat ikut memberi masukan tentang proses produksi, pilihan material, dan bagaimana cara produk tersebut akan dijual kepada konsumen. Pemanfaatan desainer industri dalam proses pengembangan produk dapat meningkatkan nilai melalui peningkatan cara penggunaan (improved usability), pengurangan ongkos produksi dan produk yang lebih menarik minat.
Itulah sebabnya konsultan desain terkemuka di dunia seperti misalnya IDEO semakin giat mensinergikan SDM yang memiliki latar belakang prodi berbeda. Mulai dari seniman, insinyur mesin dan elektro, ahli material, programer TIK hingga psikolog. Semuanya melakukan proses kreatif untuk memberikan nilai tambah. (*)
