Bandung, Angkot, dan Paradoks Kota Wisata

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Angkot sedang menunggu penumpang. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Angkot sedang menunggu penumpang. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

BANDUNG adalah salah satu kota jugjugan wisatawan di Republik ini. Udara relatif sejuk, kuliner berlimpah, dan lanskap pegunungan di sekelilingnya menawarkan  daya tarik tersendiri. Saban akhir pekan dan musim liburan, kota ini seperti etalase toko yang dirubung dan dipadati pengunjung.

Akan tetapi, di balik poster wisata maupun unggahan di jagad media sosial tentang pariwisata Bandung, ada ironi yang jarang dibicarakan tuntas. Kota tujuan wisata ini justru tergagap-gagap mengurus urusan paling mendasar, yakni mobilitas warganya. Menyambangi Bandung sering kali berarti kudu siap menghadapi macet yang melelahkan.

Bukan soal tempat indah

Pariwisata sejatinya soal pengalaman. Bukan semata soal tempat yang indah, melainkan  juga bagaimana orang bergerak dari satu titik ke titik lain dengan nyaman. Di Bandung, pengalaman itu kerap terhenti di kemacetan.

Wisatawan datang dengan mobil pribadi, bus pariwisata, dan sepeda motor. Jalanan di Bandung yang lebar dan panjangnya dari dulu hingga sekarang segitu-itu saja dipaksa menampung pertumbuhan kendaraan yang terus melonjak. Bandung pun megap-megap, bak ikan koi yang kehabisan air.

Celakanya, di saat yang sama, transportasi publik belum benar-benar menjadi pilihan rasional. Angkot berjalan sendiri-sendiri, bus kota hadir setengah hati, dan integrasi antarmoda masih terasa sebagai wacana. Akhirnya, kendaraan pribadi tetap jadi raja dan ratu di jalanan Bandung.

Paradoksnya pun jelas. Bandung ingin ramai dikunjungi wisatawan, tapi tidak menyiapkan sistem untuk menampung pergerakan orang dalam jumlah besar. Bandung ingin jadi magnet wisata, tapi lupa membangun sirkulasi kota yang sehat.

Bukan sekadar macet

Bagi warga Bandung, khususnya, kondisi Bandung kiwari bukan sekadar soal macet. Waktu milik warga habis di jalan, energi terkuras, dan produktivitas mereka ikut tergerus. Kota yang seharusnya ramah justru terasa melelahkan.

Bagi wisatawan, ceritanya pun hampir serupa. Banyak yang datang dengan antusias, lalu pulang dengan keluhan yang sama: macet serta ribet. Dan Pengalaman buruk itu pelan-pelan bisa menggerus citra kota.

Walhasil, transportasi publik di Bandung seperti berada di persimpangan jalan. Diakui penting, namun belum diperlakukan sebagai tulang punggung dalam transportasi kota. Ia hadir, namun belum sepenuhnya terpercaya.

Sementara itu, kita sering terjebak pada solusi tambal sulam. Contohnya, membuka-tutup jalan, merekayasa lalu lintas musiman, atau imbauan moral agar tidak membawa kendaraan pribadi. Semua dilakukan, tapi masalah pokoknya tetap utuh.

Masalah pokok itu sederhana tapi berat, yaitu kita semua menaruh ketergantungan pada kendaraan pribadi. Selama transportasi publik tidak nyaman, tidak pasti, dan tidak terintegrasi, orang akan selalu memilih mobil atau sepeda motor.

Transportasi publik sebagai poros

Dalam kajian perkotaan, Robert Cervero, pakar transportasi dan perencanaan kota, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat, pernah menekankan konsep transit oriented development. Intinya, kota harus dibangun dengan transportasi publik sebagai poros, bukan pelengkap.

Cervero menunjukkan bahwa kota yang mampu menghubungkan hunian, pusat aktivitas, dan angkutan massal cenderung lebih hidup dan lebih efisien. Orang bergerak karena sistemnya memudahkan, bukan karena dipaksa.

Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Sayangnya, Bandung justru tumbuh sebaliknya. Pusat wisata menyebar, parkiran diperluas, dan kendaraan pribadi selalu difasilitasi. Transportasi publik berusaha mengejar, tapi selalu tertinggal satu langkah.

Kota ini seolah ingin menikmati manfaat pariwisata tanpa membayar ongkos bagi infrastrukturnya. Padahal, pariwisata massal tanpa transportasi massal hanya memindahkan masalah dari satu titik ke titik lain.

Sebagai penggerak kota

Di Bandung, angkot sebenarnya punya sejarah panjang sebagai penggerak kota. Ia dekat dengan warga, fleksibel, dan bisa masuk hingga jalan-jalan kecil kompleks permukiman. Sayangnya, tanpa penataan serius, keunggulan itu berubah menjadi sumber ketidakteraturan.

Di sisi lain, bus kota dan moda lainnya kerap datang dengan konsep bagus, tapi implementasi masih setengah jalan. Rutenya terbatas, jadwal tidak pasti, dan koneksi antarmoda masih lemah. Orang pun ragu untuk beralih.

Padahal, kota wisata yang ideal justru mengandalkan angkutan massal. Wisatawan tidak dipaksa menyetir sendiri. Mereka diajak menikmati kota sambil bergerak dengan mudah.

Ketika transportasi publik kuat dan bisa diandalkan, ruang-ruang kota bisa lebih lapang dan lebih nyaman. Jalan-jalan tidak lagi disesaki kendaraan pribadi, trotoar bisa kembali berfungsi untuk pejalan kaki, dan ruang-ruang publik menjadi lebih manusiawi.

Berisiko jadi bumerang

Membangun sistem transportasi publik butuh keberanian politik. Keberanian untuk menata ulang ruang kota, keberanian membatasi kendaraan pribadi, dan keberanian untuk memiihak pada sistem bersama. Tanpa itu, semua rencana akan berhenti di atas kertas.

Kota wisata bukan kota yang memanjakan penggunaan mobil pribadi. Kota wisata adalah kota yang memanjakan manusia. Prinsip ini sederhana, tapi sering kalah oleh kepentingan-kepnetingan jangka pendek.

Tentu saja, Bandung bisa terus mempromosikan diri sebagai kota tujuan liburan. Tapi, tanpa perubahan serius di sektor transportasi, promosi itu berisiko jadi bumerang. Orang datang sekali, lalu enggan kembali.

Pariwisata yang berkelanjutan tidak lahir dari kemacetan yang ditoleransi. Ia lahir dari sistem yang memudahkan orang datang, bergerak, dan pulang dengan perasaan nyaman dan penuh memori manis.

Memang tidak instan

Membangun transportasi publik memang tidak instan. Ia butuh waktu, biaya, dan juga kesabaran. Tapi, kota besar selalu dibentuk oleh keputusan yang tidak populer di awal.

Bandung harus berani memilih jalan, apakah mau tetap menjadi kota wisata yang selalu macet, atau bertransformasi menjadi kota yang ramah dan efisien. Pilihan itu akan menentukan wajah Bandung ke depan.

Baca Juga: Sibuk Romantisasi Tak Kunjung Revitalisasi, Angkot Kota Bandung 'Setengah Buntung'

Persoalan tersebut tentu saja tidak harus dibiarkan. Ia bisa diurai pelan-pelan, asal ada arah yang jelas dan kemauan untuk konsisten. Bandung tidak pernah kekurangan ide, hanya mungkin ia sering kekurangan keberanian.

Bandung sendiri akan selalu dicintai karena kenangannya. Hanya saja, agar cinta dan kenangan itu bertahan, bandung perlu memastikan satu hal sederhana, yaitu orang bisa bergerak dengan mudah, tanpa harus kehilangan waktu dan kesabarannya di jalan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Agu 2026, 20:21

Pengalaman Berburu Kopi di Warung, Toko dan Pabrik Kopi Tua di Kota Bandung

Menjelajahi aroma kopi legendaris Bandung! Simak keseruan berburu racikan kopi terbaik mulai dari warung legendaris, toko bersejarah, hingga pabrik kopi tua yang masih kokoh berdiri di Paris van Java.

Warung Kopi Purnama di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 19:10

Festival Film Bandung: Konsisten Merawat Apresiasi Perfilman Indonesia

Festival Film Bandung bukan sekadar seremoni tahunan. Selama hampir empat dekade, FFB telah menjadi bagian dari perjalanan perfilman Indonesia.

Para penerima Penghargaan Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2026 berfoto bersama usai acara penganugerahan. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 17:37

Selamat Tinggal Terminal Cicaheum, Selamat Tinggal ‘Warnas Bi Yayah’ dan ‘JPO Preman Pensiun’

Terminal ini dilekatkan dengan tokoh-tokoh preman jalanan, pencopet, hingga aktivitas terminal sehari-hari di Bandung.

Warung nasi Bi Yayah. Ya, yang kedua, warung nasi milik Yuli Yumiati atau yang memerankan tokoh Bi Yayah di sinetron “Preman Pensiun” ikut terkenal seiring popularitas sinetron ini. (Sumber: Facebook)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 15:18

Jejak 'Mak Nyus' Sunda di Ibu Kota: Telaah Historis dan Kurasi Kuliner Jawa Barat Pilihan Bondan Winarno

Masakan Sunda bukan sekadar hidangan pelengkap, melainkan bagian penting dari identitas rasa yang turut membentuk selera masyarakat metropolitan.

Hidangan dari Dapur Sunda, Jl. Cipete Raya No.13, Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan. (Sumber: Google Review | Foto: merry silviani)
Sejarah 26 Agu 2026, 13:54

Sejarah Gedung Sate Bandung, Jejak Kolonial yang Bertahan Lebih dari Seabad

Gedung Sate dibangun pada 1920 sebagai pusat pemerintahan kolonial. Simak sejarahnya hingga menjadi ikon Jawa Barat.

Baris berbaris serdadu wanita KNIL di area Gedung Sate pada tahun 1949. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 26 Agu 2026, 12:42

Jelajah Goa Sunyaragi, Labirin Batu Karang di Jantung Kota Cirebon

Jelajahi Goa Sunyaragi Cirebon, kompleks bersejarah dengan lorong batu karang, arsitektur unik, tiket masuk, dan tips berkunjung.

Wisata Goa Sunyaragi Cirebon. (Sumber: Instagram @goasunyaragi)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 12:23

Peringkat Nabi Muhammad saw. Dalam Kasus Tabloid Monitor Tahun 1990

Kisah tahun 1990 ini, berawal dari survei 50 tokoh yang dikagumi oleh pembaca tabloid Monitor dan memunculkan demonstrasi masyarakat

Klarifikasi dan permintaan Tabloid Monitor atas edisi 15 Oktober 1990 yang kontroversial. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 10:28

Pasar Baru Bandung dan Penyakit 'Kota Branding'

Upaya pem-branding-an memang penting. Kota perlu dikenal. Kawasan perlu memiliki daya tarik. Tetapi, branding hanyalah lapisan paling luar dari sebuah ekosistem. 

Pasar Baru Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Regia Ramadhina Revalgian/Magang)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 08:44

Jika Pohon-Pohon di Kalimantan Bisa Bernyanyi dan Hewan di Dalamnya Bisa Bicara

Manusia seringkali lupa bahwa di bumi ini mereka hidup tidak sendirian melainkan berdampingan dengan mahluk hidup lainnya yang juga harus dijaga kelestariannya.

Orang utan di hutan Kalimantan. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Morgan)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 07:38

Nama, Doa, dan Ikhtiar

Yang membuat nama menjadi bermakna bukan hanya rangkaian hurufnya. Ada harapan orang tua, perjalanan hidup yang mengiringinya, dan tanggung jawab pemilik nama untuk menjadikan doa sebagai kehidupan.

Ilustrasi nama orang sunda yang sudah hampir punah. (Sumber: Pixabay by Pexels)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 18:01

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Produksi semen konvensional menyumbang emisi karbon dunia secara signifikan. Penggunaan bubuk basalt dapat menggantikan sebagian porsi semen konvensional tanpa merusak karakteristiknya.

Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)