Bandung, Angkot, dan Paradoks Kota Wisata

Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan Selasa 30 Des 2025, 08:23 WIB
Angkot sedang menunggu penumpang. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Angkot sedang menunggu penumpang. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

BANDUNG adalah salah satu kota jugjugan wisatawan di Republik ini. Udara relatif sejuk, kuliner berlimpah, dan lanskap pegunungan di sekelilingnya menawarkan  daya tarik tersendiri. Saban akhir pekan dan musim liburan, kota ini seperti etalase toko yang dirubung dan dipadati pengunjung.

Akan tetapi, di balik poster wisata maupun unggahan di jagad media sosial tentang pariwisata Bandung, ada ironi yang jarang dibicarakan tuntas. Kota tujuan wisata ini justru tergagap-gagap mengurus urusan paling mendasar, yakni mobilitas warganya. Menyambangi Bandung sering kali berarti kudu siap menghadapi macet yang melelahkan.

Bukan soal tempat indah

Pariwisata sejatinya soal pengalaman. Bukan semata soal tempat yang indah, melainkan  juga bagaimana orang bergerak dari satu titik ke titik lain dengan nyaman. Di Bandung, pengalaman itu kerap terhenti di kemacetan.

Wisatawan datang dengan mobil pribadi, bus pariwisata, dan sepeda motor. Jalanan di Bandung yang lebar dan panjangnya dari dulu hingga sekarang segitu-itu saja dipaksa menampung pertumbuhan kendaraan yang terus melonjak. Bandung pun megap-megap, bak ikan koi yang kehabisan air.

Celakanya, di saat yang sama, transportasi publik belum benar-benar menjadi pilihan rasional. Angkot berjalan sendiri-sendiri, bus kota hadir setengah hati, dan integrasi antarmoda masih terasa sebagai wacana. Akhirnya, kendaraan pribadi tetap jadi raja dan ratu di jalanan Bandung.

Paradoksnya pun jelas. Bandung ingin ramai dikunjungi wisatawan, tapi tidak menyiapkan sistem untuk menampung pergerakan orang dalam jumlah besar. Bandung ingin jadi magnet wisata, tapi lupa membangun sirkulasi kota yang sehat.

Bukan sekadar macet

Bagi warga Bandung, khususnya, kondisi Bandung kiwari bukan sekadar soal macet. Waktu milik warga habis di jalan, energi terkuras, dan produktivitas mereka ikut tergerus. Kota yang seharusnya ramah justru terasa melelahkan.

Bagi wisatawan, ceritanya pun hampir serupa. Banyak yang datang dengan antusias, lalu pulang dengan keluhan yang sama: macet serta ribet. Dan Pengalaman buruk itu pelan-pelan bisa menggerus citra kota.

Walhasil, transportasi publik di Bandung seperti berada di persimpangan jalan. Diakui penting, namun belum diperlakukan sebagai tulang punggung dalam transportasi kota. Ia hadir, namun belum sepenuhnya terpercaya.

Sementara itu, kita sering terjebak pada solusi tambal sulam. Contohnya, membuka-tutup jalan, merekayasa lalu lintas musiman, atau imbauan moral agar tidak membawa kendaraan pribadi. Semua dilakukan, tapi masalah pokoknya tetap utuh.

Masalah pokok itu sederhana tapi berat, yaitu kita semua menaruh ketergantungan pada kendaraan pribadi. Selama transportasi publik tidak nyaman, tidak pasti, dan tidak terintegrasi, orang akan selalu memilih mobil atau sepeda motor.

Transportasi publik sebagai poros

Dalam kajian perkotaan, Robert Cervero, pakar transportasi dan perencanaan kota, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat, pernah menekankan konsep transit oriented development. Intinya, kota harus dibangun dengan transportasi publik sebagai poros, bukan pelengkap.

Cervero menunjukkan bahwa kota yang mampu menghubungkan hunian, pusat aktivitas, dan angkutan massal cenderung lebih hidup dan lebih efisien. Orang bergerak karena sistemnya memudahkan, bukan karena dipaksa.

Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Sayangnya, Bandung justru tumbuh sebaliknya. Pusat wisata menyebar, parkiran diperluas, dan kendaraan pribadi selalu difasilitasi. Transportasi publik berusaha mengejar, tapi selalu tertinggal satu langkah.

Kota ini seolah ingin menikmati manfaat pariwisata tanpa membayar ongkos bagi infrastrukturnya. Padahal, pariwisata massal tanpa transportasi massal hanya memindahkan masalah dari satu titik ke titik lain.

Sebagai penggerak kota

Di Bandung, angkot sebenarnya punya sejarah panjang sebagai penggerak kota. Ia dekat dengan warga, fleksibel, dan bisa masuk hingga jalan-jalan kecil kompleks permukiman. Sayangnya, tanpa penataan serius, keunggulan itu berubah menjadi sumber ketidakteraturan.

Di sisi lain, bus kota dan moda lainnya kerap datang dengan konsep bagus, tapi implementasi masih setengah jalan. Rutenya terbatas, jadwal tidak pasti, dan koneksi antarmoda masih lemah. Orang pun ragu untuk beralih.

Padahal, kota wisata yang ideal justru mengandalkan angkutan massal. Wisatawan tidak dipaksa menyetir sendiri. Mereka diajak menikmati kota sambil bergerak dengan mudah.

Ketika transportasi publik kuat dan bisa diandalkan, ruang-ruang kota bisa lebih lapang dan lebih nyaman. Jalan-jalan tidak lagi disesaki kendaraan pribadi, trotoar bisa kembali berfungsi untuk pejalan kaki, dan ruang-ruang publik menjadi lebih manusiawi.

Berisiko jadi bumerang

Membangun sistem transportasi publik butuh keberanian politik. Keberanian untuk menata ulang ruang kota, keberanian membatasi kendaraan pribadi, dan keberanian untuk memiihak pada sistem bersama. Tanpa itu, semua rencana akan berhenti di atas kertas.

Kota wisata bukan kota yang memanjakan penggunaan mobil pribadi. Kota wisata adalah kota yang memanjakan manusia. Prinsip ini sederhana, tapi sering kalah oleh kepentingan-kepnetingan jangka pendek.

Tentu saja, Bandung bisa terus mempromosikan diri sebagai kota tujuan liburan. Tapi, tanpa perubahan serius di sektor transportasi, promosi itu berisiko jadi bumerang. Orang datang sekali, lalu enggan kembali.

Pariwisata yang berkelanjutan tidak lahir dari kemacetan yang ditoleransi. Ia lahir dari sistem yang memudahkan orang datang, bergerak, dan pulang dengan perasaan nyaman dan penuh memori manis.

Memang tidak instan

Membangun transportasi publik memang tidak instan. Ia butuh waktu, biaya, dan juga kesabaran. Tapi, kota besar selalu dibentuk oleh keputusan yang tidak populer di awal.

Bandung harus berani memilih jalan, apakah mau tetap menjadi kota wisata yang selalu macet, atau bertransformasi menjadi kota yang ramah dan efisien. Pilihan itu akan menentukan wajah Bandung ke depan.

Baca Juga: Sibuk Romantisasi Tak Kunjung Revitalisasi, Angkot Kota Bandung 'Setengah Buntung'

Persoalan tersebut tentu saja tidak harus dibiarkan. Ia bisa diurai pelan-pelan, asal ada arah yang jelas dan kemauan untuk konsisten. Bandung tidak pernah kekurangan ide, hanya mungkin ia sering kekurangan keberanian.

Bandung sendiri akan selalu dicintai karena kenangannya. Hanya saja, agar cinta dan kenangan itu bertahan, bandung perlu memastikan satu hal sederhana, yaitu orang bisa bergerak dengan mudah, tanpa harus kehilangan waktu dan kesabarannya di jalan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)