Kota Ini Butuh Mereka yang Berani, Bukan Sekadar Janji

5 menit baca
Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan
Gedung Sate di Kota Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Unsplash | Foto: Ifan Fauzan)
Gedung Sate di Kota Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Unsplash | Foto: Ifan Fauzan)

Bandung selalu punya cara membuat orang jatuh cinta. Bukan hanya karena lanskap alam atau geliat kreativitasnya, tetapi karena ingatan yang tumbuh bersama kota ini. Bagi penulis, Bandung bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ruang pembentukan diri, tempat penulis belajar, bertahan, dan memahami makna hidup bersama orang lain.

Pada rentang 1993–1999, ketika penulis berkuliah di UIN Bandung dulu namanya masih IAIN Bandung, Bandung menghadirkan wajah yang jauh lebih tenang. Setiap hari saya akrab dengan Bis Kota Kalapa–Cibiru. Bus sederhana, sering penuh sesak, tak jarang membuat saya berdiri cukup lama karena tak kebagian kursi. Namun, lelah itu tidak pernah berubah menjadi amarah. Udara Bandung kala itu masih sejuk, bahkan ketika bus padat oleh penumpang. Lalu lintas mengalir relatif nyaman, belum padat dan macet di hampir semua ruas seperti hari ini.

Kenangan itu berlanjut pada tahun 2001–2004, saat penulis melanjutkan studi magister di Universitas Padjadjaran. Bandung kala itu masih terasa nyaman dan bersahabat. Moda transportasi seperti angkot Ledeng–Cicaheum atau Ciroyom–Cicaheum masih ramah terhadap penumpang. Sopir memberi waktu naik dan turun, ritme perjalanan tidak tergesa, dan interaksi di dalam angkot masih terasa manusiawi. Kota belum sepenuhnya dikuasai klakson, emosi, dan kompetisi ruang seperti sekarang.

Pengalaman itu terasa makin kontras hari ini, ketika penulis kembali menjadi mahasiswi melanjutkan studi doktoral di UIN Bandung. Bandung yang penulis hadapi kini adalah kota yang jauh berbeda. Perjalanan menuju kampus sering kali terasa melelahkan, baik menggunakan transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Moda transportasi umum belum sepenuhnya memberi rasa nyaman, sementara membawa kendaraan sendiri justru kerap menguras emosi. Arus lalu lintas yang padat, tidak sabar, dan saling mendahului membuat perjalanan singkat terasa panjang dan melelahkan.

Penulis merasakan sendiri bagaimana kota ini bukan hanya padat secara fisik, tetapi juga padat emosi. Klakson bersahut-sahutan, wajah-wajah tegang di jalan, dan kelelahan yang menumpuk sebelum aktivitas dimulai. Di titik inilah penulis menyadari bahwa masalah Bandung hari ini bukan sekadar soal infrastruktur, tetapi juga soal kualitas hidup dan kesehatan mental warganya.

Karena itu, dalam beberapa kesempatan ke kampus 2 UIN Bandung, penulis justru merasa lebih tenang menggunakan kereta api lokal dari Stasiun Bandung lalu turun di Stasiun Cimekar, dilanjutkan dengan berjalan kaki atau naik ojek. Perjalanan memang tidak selalu lebih cepat, tetapi terasa lebih manusiawi. Ada jeda untuk bernapas, ada ruang untuk menata pikiran, sesuatu yang semakin langka di jalanan kota.

Pengalaman ini menegaskan satu hal: Bandung hari ini menuntut keberanian untuk berubah, bukan sekadar bertambahnya kendaraan atau pelebaran jalan. Transportasi publik yang nyaman dan terintegrasi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak. Kota yang baik seharusnya tidak membuat warganya tiba di tujuan dengan amarah, tetapi dengan energi yang masih tersisa untuk hidup.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan,
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan,

Nostalgia ini bukan romantisasi belaka. Ia adalah alat ukur. Bahwa Bandung pernah memiliki keseimbangan antara pembangunan dan kenyamanan hidup, yang kini terasa kian menjauh.

Bandung hari ini berhadapan dengan persoalan yang nyata: sampah yang belum tertangani dengan baik, sungai yang kehilangan fungsi ekologisnya, kemacetan yang menggerus waktu dan kesehatan mental, serta kualitas udara yang terus menurun. Kota kreatif yang kita banggakan justru terasa melelahkan untuk dihuni.

Ironisnya, masalah-masalah ini bukan hal baru. Kita membicarakannya hampir setiap hari. Namun keluhan sering berhenti sebagai wacana. Di titik inilah penulis percaya: Bandung tidak kekurangan gagasan, tetapi kekurangan komitmen yang dijaga bersama.

Pengalaman berdiri berdesakan di bus kota puluhan tahun lalu mengajarkan satu hal sederhana: kota bekerja karena warganya mau berbagi ruang dan kesabaran. Hari ini, berbagi ruang terasa makin sulit baik di jalan raya, trotoar, bahkan di ruang publik digital. Kita cenderung ingin cepat, ingin menang sendiri, ingin dilayani tanpa mau terlibat.

Padahal, wajah kota sangat ditentukan oleh perilaku warganya sehari-hari. Bandung bukan hanya urusan pemerintah atau kebijakan besar. Ia adalah akumulasi keputusan kecil: membuang sampah atau menyimpannya, mematuhi aturan atau mencari celah, peduli atau acuh.

Namun, sejujur apa pun kita bicara tentang perubahan dari bawah, Bandung tidak akan bergerak tanpa kehendak politik yang kuat dari para pemimpinnya. Political will bukan sekadar pidato atau peluncuran program, melainkan keberanian mengambil keputusan yang konsisten meski tidak selalu populer.

Penataan kota, pembenahan transportasi publik, penegakan aturan lingkungan, hingga pengelolaan sampah menuntut kepemimpinan yang tegas dan berkelanjutan. Tidak cukup komunikatif, tetapi juga berani. Tidak hanya responsif terhadap sorotan, tetapi setia pada kepentingan jangka panjang.

Bandung membutuhkan pemimpin yang melihat persoalan kota sebagai amanah lintas generasi, bukan sekadar agenda lima tahunan. Pemimpin yang memberi teladan dalam hal-hal mendasar: disiplin, tertib, dan konsisten. Ketika pemimpin sungguh-sungguh, warga akan lebih mudah diajak bergerak. Sebab kepatuhan sosial tumbuh dari kepercayaan, bukan dari ancaman.

Resolusi penulis untuk Bandung 2026 justru berangkat dari hal-hal sederhana.

Pertama, berhenti menormalisasi buang sampah sembarangan dan berani mengingatkan dengan cara yang santun. Kota bersih bukan hasil baliho imbauan, melainkan kebiasaan kolektif.

Kedua, menghidupkan kembali transportasi publik sebagai pilihan bermartabat, bukan opsi terakhir. Transportasi publik yang layak bukan hanya soal mobilitas, tetapi soal keadilan ruang dan kualitas hidup.

Baca Juga: Bambu Ramah Lingkungan

Ketiga, berpihak pada UMKM lokal. Membeli produk tetangga, ngopi di kedai kecil, atau sekadar mempromosikan usaha lokal adalah bentuk kontribusi nyata yang sering diremehkan.

Keempat, hadir nyata bukan sebatas wacana baik di komunitas, lingkungan, literasi, keagamaan, atau sosial. Kota yang sehat lahir dari warga yang saling mengenal dan peduli, bukan dari individu-individu yang hidup terpisah dalam keramaian.

Bandung yang nyaman bukanlah utopia. Kota ini pernah mengalaminya, meski dengan segala keterbatasan. Mengingat masa lalu bukan untuk kembali ke sana, tetapi untuk menarik nilai-nilai baiknya ke masa depan.

Resolusi Bandung 2026, bagi penulis, adalah soal konsistensi. Ketika kepemimpinan menunjukkan political will yang jelas, dan warga bersedia terlibat aktif, maka perubahan bukan lagi slogan semata.

Pada akhirnya, kota bukan sekadar bangunan dan kebijakan. Ia adalah cermin nilai-nilai warganya. Bandung akan menjadi seperti apa yang kita rawat atau kita abaikan bersama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yudaningsih
Tentang Yudaningsih
Yudaningsih, akademisi Tel-U & aktivis keterbukaan informasi publik, eks Tenaga Ahli KI Jabar, eks Komisioner KPU Bandung & KI Jabar, kini S3 SAA UIN SGD.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)