Kota Ini Butuh Mereka yang Berani, Bukan Sekadar Janji

Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan Selasa 06 Jan 2026, 15:11 WIB
Gedung Sate di Kota Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Unsplash | Foto: Ifan Fauzan)

Gedung Sate di Kota Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Unsplash | Foto: Ifan Fauzan)

Bandung selalu punya cara membuat orang jatuh cinta. Bukan hanya karena lanskap alam atau geliat kreativitasnya, tetapi karena ingatan yang tumbuh bersama kota ini. Bagi penulis, Bandung bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ruang pembentukan diri, tempat penulis belajar, bertahan, dan memahami makna hidup bersama orang lain.

Pada rentang 1993–1999, ketika penulis berkuliah di UIN Bandung dulu namanya masih IAIN Bandung, Bandung menghadirkan wajah yang jauh lebih tenang. Setiap hari saya akrab dengan Bis Kota Kalapa–Cibiru. Bus sederhana, sering penuh sesak, tak jarang membuat saya berdiri cukup lama karena tak kebagian kursi. Namun, lelah itu tidak pernah berubah menjadi amarah. Udara Bandung kala itu masih sejuk, bahkan ketika bus padat oleh penumpang. Lalu lintas mengalir relatif nyaman, belum padat dan macet di hampir semua ruas seperti hari ini.

Kenangan itu berlanjut pada tahun 2001–2004, saat penulis melanjutkan studi magister di Universitas Padjadjaran. Bandung kala itu masih terasa nyaman dan bersahabat. Moda transportasi seperti angkot Ledeng–Cicaheum atau Ciroyom–Cicaheum masih ramah terhadap penumpang. Sopir memberi waktu naik dan turun, ritme perjalanan tidak tergesa, dan interaksi di dalam angkot masih terasa manusiawi. Kota belum sepenuhnya dikuasai klakson, emosi, dan kompetisi ruang seperti sekarang.

Pengalaman itu terasa makin kontras hari ini, ketika penulis kembali menjadi mahasiswi melanjutkan studi doktoral di UIN Bandung. Bandung yang penulis hadapi kini adalah kota yang jauh berbeda. Perjalanan menuju kampus sering kali terasa melelahkan, baik menggunakan transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Moda transportasi umum belum sepenuhnya memberi rasa nyaman, sementara membawa kendaraan sendiri justru kerap menguras emosi. Arus lalu lintas yang padat, tidak sabar, dan saling mendahului membuat perjalanan singkat terasa panjang dan melelahkan.

Penulis merasakan sendiri bagaimana kota ini bukan hanya padat secara fisik, tetapi juga padat emosi. Klakson bersahut-sahutan, wajah-wajah tegang di jalan, dan kelelahan yang menumpuk sebelum aktivitas dimulai. Di titik inilah penulis menyadari bahwa masalah Bandung hari ini bukan sekadar soal infrastruktur, tetapi juga soal kualitas hidup dan kesehatan mental warganya.

Karena itu, dalam beberapa kesempatan ke kampus 2 UIN Bandung, penulis justru merasa lebih tenang menggunakan kereta api lokal dari Stasiun Bandung lalu turun di Stasiun Cimekar, dilanjutkan dengan berjalan kaki atau naik ojek. Perjalanan memang tidak selalu lebih cepat, tetapi terasa lebih manusiawi. Ada jeda untuk bernapas, ada ruang untuk menata pikiran, sesuatu yang semakin langka di jalanan kota.

Pengalaman ini menegaskan satu hal: Bandung hari ini menuntut keberanian untuk berubah, bukan sekadar bertambahnya kendaraan atau pelebaran jalan. Transportasi publik yang nyaman dan terintegrasi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak. Kota yang baik seharusnya tidak membuat warganya tiba di tujuan dengan amarah, tetapi dengan energi yang masih tersisa untuk hidup.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan,
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan,

Nostalgia ini bukan romantisasi belaka. Ia adalah alat ukur. Bahwa Bandung pernah memiliki keseimbangan antara pembangunan dan kenyamanan hidup, yang kini terasa kian menjauh.

Bandung hari ini berhadapan dengan persoalan yang nyata: sampah yang belum tertangani dengan baik, sungai yang kehilangan fungsi ekologisnya, kemacetan yang menggerus waktu dan kesehatan mental, serta kualitas udara yang terus menurun. Kota kreatif yang kita banggakan justru terasa melelahkan untuk dihuni.

Ironisnya, masalah-masalah ini bukan hal baru. Kita membicarakannya hampir setiap hari. Namun keluhan sering berhenti sebagai wacana. Di titik inilah penulis percaya: Bandung tidak kekurangan gagasan, tetapi kekurangan komitmen yang dijaga bersama.

Pengalaman berdiri berdesakan di bus kota puluhan tahun lalu mengajarkan satu hal sederhana: kota bekerja karena warganya mau berbagi ruang dan kesabaran. Hari ini, berbagi ruang terasa makin sulit baik di jalan raya, trotoar, bahkan di ruang publik digital. Kita cenderung ingin cepat, ingin menang sendiri, ingin dilayani tanpa mau terlibat.

Padahal, wajah kota sangat ditentukan oleh perilaku warganya sehari-hari. Bandung bukan hanya urusan pemerintah atau kebijakan besar. Ia adalah akumulasi keputusan kecil: membuang sampah atau menyimpannya, mematuhi aturan atau mencari celah, peduli atau acuh.

Namun, sejujur apa pun kita bicara tentang perubahan dari bawah, Bandung tidak akan bergerak tanpa kehendak politik yang kuat dari para pemimpinnya. Political will bukan sekadar pidato atau peluncuran program, melainkan keberanian mengambil keputusan yang konsisten meski tidak selalu populer.

Penataan kota, pembenahan transportasi publik, penegakan aturan lingkungan, hingga pengelolaan sampah menuntut kepemimpinan yang tegas dan berkelanjutan. Tidak cukup komunikatif, tetapi juga berani. Tidak hanya responsif terhadap sorotan, tetapi setia pada kepentingan jangka panjang.

Bandung membutuhkan pemimpin yang melihat persoalan kota sebagai amanah lintas generasi, bukan sekadar agenda lima tahunan. Pemimpin yang memberi teladan dalam hal-hal mendasar: disiplin, tertib, dan konsisten. Ketika pemimpin sungguh-sungguh, warga akan lebih mudah diajak bergerak. Sebab kepatuhan sosial tumbuh dari kepercayaan, bukan dari ancaman.

Resolusi penulis untuk Bandung 2026 justru berangkat dari hal-hal sederhana.

Pertama, berhenti menormalisasi buang sampah sembarangan dan berani mengingatkan dengan cara yang santun. Kota bersih bukan hasil baliho imbauan, melainkan kebiasaan kolektif.

Kedua, menghidupkan kembali transportasi publik sebagai pilihan bermartabat, bukan opsi terakhir. Transportasi publik yang layak bukan hanya soal mobilitas, tetapi soal keadilan ruang dan kualitas hidup.

Baca Juga: Bambu Ramah Lingkungan

Ketiga, berpihak pada UMKM lokal. Membeli produk tetangga, ngopi di kedai kecil, atau sekadar mempromosikan usaha lokal adalah bentuk kontribusi nyata yang sering diremehkan.

Keempat, hadir nyata bukan sebatas wacana baik di komunitas, lingkungan, literasi, keagamaan, atau sosial. Kota yang sehat lahir dari warga yang saling mengenal dan peduli, bukan dari individu-individu yang hidup terpisah dalam keramaian.

Bandung yang nyaman bukanlah utopia. Kota ini pernah mengalaminya, meski dengan segala keterbatasan. Mengingat masa lalu bukan untuk kembali ke sana, tetapi untuk menarik nilai-nilai baiknya ke masa depan.

Resolusi Bandung 2026, bagi penulis, adalah soal konsistensi. Ketika kepemimpinan menunjukkan political will yang jelas, dan warga bersedia terlibat aktif, maka perubahan bukan lagi slogan semata.

Pada akhirnya, kota bukan sekadar bangunan dan kebijakan. Ia adalah cermin nilai-nilai warganya. Bandung akan menjadi seperti apa yang kita rawat atau kita abaikan bersama. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yudaningsih
Tentang Yudaningsih
Yudaningsih, akademisi Tel-U & aktivis keterbukaan informasi, Tenaga Ahli KI Jabar, eks Komisioner KPU Bandung & KI Jabar, kini S3 SAA UIN SGD.

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)