Meneguhkan Bandung sebagai Kota Dirgantara sangat relevan untuk resolusi kota 2026. Predikat kota dirgantara perlu dipertahankan oleh pemerintah pusat dan daerah lewat program yang cocok untuk kemajuan.
Publik sempat tersentak membaca berita agresi terhadap negara berdaulat di Amerika Latin, yakni Venezuela. Dalam operasi militer tersebut Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya “ditangkap” paksa lalu dibawa ke New York City, Amerika Serikat, pada 3 Januari 2026.
Di media sosial langsung ramai diperbincangkan ihwal pesawat buatan Indonesia yang digunakan Operasi Absolute Resolve. Operasi militer itu mengerahkan 150 pesawat canggih, termasuk jenis CN-235.Agresi lewat operasi militer tersebut menerapkan kombinasi serangan udara dan aksi pasukan khusus. Pesawat jenis CN-235 merupakan produk bersama antara industri penerbangan Indonesia, yakni PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dengan industri Spanyol, yakni CASA.
PT DI yang berada di kota Bandung juga pernah mengirim pesawat CN-235 jenis penumpang kepada maskapai penerbangan Air Venezuela dengan skema sewa pada tahun 1900-an. Namun, krisis ekonomi mengakibatkan Air Venezuela mengalami kebangkrutan sehingga kontrak CN-235 tidak berlanjut. Bahkan, pesawat yang sudah dioperasikan dibiarkan terparkir dan terbengkalai di bandara Maiquetía, Caracas, Venezuela. Kemudian PTDI mengambil keputusan untuk memulangkan pesawat CN-235 itu dari Venezuela.
Pesawat CN-235 menggunakan dua mesin turboprop General Electric CT7-9C, yang merupakan variasi dari mesin General Electric T64. Mesin ini memiliki daya 1.700-1.900 shaft horsepower (SHP) dan dilengkapi dengan propeller Hamilton Sundstrand 14RF-19 dengan empat bilah.
Mesin CT7-9C dirancang untuk memberikan kinerja yang handal karena memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat yang baik, serta kemampuan membawa beban yang lebih besar. Sayangnya masalah lead time engine CN-235 yakni durasi kontrak pembelian hingga mesin tersebut bisa dipasang hingga siap terbang ( final assy ) terbilang lama sehingga melemahkan pemasaran. Lead time pengadaan mesin CN 235 dulu pada awal produksi membutuhkan waktu 19 bulan, ternyata kini lebih lama lagi hingga 26 bulan. Masalah tersebut disertai faktor lain yang memberatkan yakni kontrak harga engine bisa berubah dan kini vendor menetapkan harga 50 persen lebih tinggi.
Jika membedah riwayat kontrak penjualan di masa lalu menunjukkan bahwa pesawat CN-235 sering dijual lewat prosedur barter yang kurang menguntungkan. Tahap pertama CN-235 dibarter dengan produk militer dari Korea Selatan. Maka lahirlah program ROKAF sebanyak 8 buah pesawat. Dengan Malaysia terjadilah barter dengan mobil Proton Saga maka lahirlah program TUDM sebanyak 6 buah pesawat. Kemudian disusul dengan kontrak imbal dagang dengan Thailand dengan beras ketan, maka lahirlah program MOAC sebanyak 2 buah pesawat.
Selain barter ada juga melalui skema pembiayaan yang seret. Yakni kontrak dengan PT Merpati Nusantara Airlines ( PT MNA) sebanyak 15 pesawat dan dengan Pakistan Air Force sebanyak 4 buah pesawat.
Pada saat awal produksi CN-235 dahulu harga per-pesawat itu dalam kondisi green flyable lebih kurang 8,5 juta USD. Jika dengan tambahan konfigurasi khusus harganya bisa mencapai 11,6 juta USD per-pesawat. Dari harga tersebut sekitar 70 persen merupakan biaya pengadaan komponen atau vendor item yang berasal dari Amerika dan Eropa. Itulah sebabnya kalau dihitung-hitung maka nilai tambah produksi CN-235 belum besar.

Revitalisasi Bandung Kota Dirgantara
Perintis industri penerbangan di Tanah Air, khususnya PT DI adalah Nurtanio Pringgoadisuryo, kemudian dilanjutkan oleh BJ.Habibie. Nurtanio menjadi pelopor Bandung sebagai kota dirgantara. Rintisan tersebut dilanjutkan oleh BJ Habibie dengan membangun Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang kemudian menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di kawasan Bandara Husein Sastranegara.
Pamor kota dirgantara meredup setelah penerbangan komersial dari Bandara Husein Sastranegara dipindah ke Bandara Kertajati. Setelah penerbangan komersial dipindahkan, Bandara Husein menjadi sunyi dan sepi, tetapi bangunan dan fasilitas penerbangannya masih terlihat megah.
Revitalisasi kota dirgantara merupakan solusi masalah aktual bangsa, yakni bandara Husein mesti dihidupkan Kembali untuk melayani penerbangan seperti dahulu. Kemudian ditingkatkan sebagai usaha perawatan pesawat terbang yang tergabung dalam Indonesia Aircraft Maintenance Shop Association ( IAMSA). Apalagi pada saat ini masih kurang teknisi penerbangan yang berlisensi, akibatnya berpengaruh terhadap kondisi fasilitas Maintenance Repair Overhaul (MRO).
Berbagai negara sangat berkepentingan terhadap pengembangan profesi teknisi pesawat terbang. Hal itu seperti dilakukan Singapura yang berhasil mengembangkan Seletar Aerospace Park (SAP) yang dibangun di lahan seluas 140 hektar. Begitu juga dengan Malaysia yang telah mendirikan Malaysia International Aerospace Center (MIAC). Sebagai kota dirgantara, mestinya Bandung juga membangun fasilitas MRO yang merupakan aerospace park.
Potensi pariwisata juga menyertai keberadaan PT DI. Industri penerbangan itu telah mengangkat citra wisata teknologi di Kota Bandung. Sampai-sampai mahasiswa fakultas teknik yang ada di Indonesia telah menjadikan studi ekskursi ke PT DI sebagai acara wajib untuk mendukung studinya. Hal tersebut tidak berlebihan, karena berbagai proses teknologi dan industri bisa mereka saksikan di kawasan pabrik KP-II yang lokasinya membentang di sebelah utara Bandara Husein Sastranegara. KP-II merupakan kawasan pabrik yang layout hanggar dan capability of manufacturing-nya serupa dengan yang ada di perusahaan Boeing di Amerika Serikat.
Baca Juga: RUU: Permainan yang Populer di Kalangan Politisi
Hanggar di KP-II yang membentang dari timur ke barat hingga lima kilometer di dalamnya merupakan lorong produksi pesawat terbang dan produk lainnya secara sistemik. Begitu masuk di pintu gerbang di ujung timur para pengunjung langsung memasuki hanggar yang berisi material bahan baku pembuatan pesawat terbang yang berupa aneka jenis aluminium alloys. Berbagai treatment material bisa dilihat di hanggar ini. Kemudian pengunjung berjalan ke arah barat menuju hanggar fabrikasi yang berisi mesin-mesin CNC, metal forming, bonding and composite, dan lain-lain.
Berbagai komponen dan struktur pesawat dibuat disini. Dikelompokkan dalam cell produksi, dari Cell A hingga Cell N. Terlihat unjuk kerja mesin CNC yang mampu memotong balok-balok alumunium menjadi komponen struktur pesawat. Kemudian komponen-komponen yang jumlahnya ratusan ribu item itu diintegrasikan dalam hanggar final assembly.
Disamping hanggar fabrikasi terletak Gedung Pusat Teknologi dimana penulis selama puluhan tahun pernah berkantor disitu. Di gedung ini pengunjung bisa melihat desain struktur pesawat terbang dengan program komputer CATIA dan analisa kekuatan berbasis finite element model dengan NASTRAN. Selain itu juga bisa dilihat berbagai pengujian pesawat terbang baik ground test maupun flight test yang melibatkan berbagai sensor untuk mengetahui karakteristik beban dan performance pesawat terbang.
Wisata teknologi dan industri pesawat terbang di Kota Bandung merupakan wahana edukasi yang bisa membangkitkan semangat kemandirian dan kemajuan bangsa. (*)
