Kota Dirgantara dan Agresi terhadap Venezuela, Ada Benang Merahnya ?

5 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Pesawat CN-235 di depan hanggar final assy PT Dirgantara Indonesia di Bandung. (Sumber: dokumen perusahaan | Foto: PT DI)
Pesawat CN-235 di depan hanggar final assy PT Dirgantara Indonesia di Bandung. (Sumber: dokumen perusahaan | Foto: PT DI)

Meneguhkan Bandung sebagai Kota Dirgantara sangat relevan untuk resolusi kota 2026. Predikat kota dirgantara perlu dipertahankan oleh pemerintah pusat dan daerah lewat program yang cocok untuk kemajuan.

Publik sempat tersentak membaca berita agresi terhadap negara berdaulat di Amerika Latin, yakni Venezuela. Dalam operasi militer tersebut Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya “ditangkap” paksa lalu dibawa ke New York City, Amerika Serikat, pada 3 Januari 2026.

Di media sosial langsung ramai diperbincangkan ihwal pesawat buatan Indonesia yang digunakan Operasi Absolute Resolve. Operasi militer itu mengerahkan 150 pesawat canggih, termasuk jenis CN-235.Agresi lewat operasi militer tersebut menerapkan kombinasi serangan udara dan aksi pasukan khusus. Pesawat jenis CN-235 merupakan produk bersama antara industri penerbangan Indonesia, yakni PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dengan industri Spanyol, yakni CASA.

PT DI yang berada di kota Bandung juga pernah mengirim pesawat CN-235 jenis penumpang kepada maskapai penerbangan Air Venezuela dengan skema sewa pada tahun 1900-an. Namun, krisis ekonomi mengakibatkan Air Venezuela mengalami kebangkrutan sehingga kontrak CN-235 tidak berlanjut. Bahkan, pesawat yang sudah dioperasikan dibiarkan terparkir dan terbengkalai di bandara Maiquetía, Caracas, Venezuela.  Kemudian PTDI mengambil keputusan untuk memulangkan pesawat CN-235 itu dari Venezuela.

Pesawat CN-235 menggunakan dua mesin turboprop General Electric CT7-9C, yang merupakan variasi dari mesin General Electric T64. Mesin ini memiliki daya 1.700-1.900 shaft horsepower (SHP) dan dilengkapi dengan propeller Hamilton Sundstrand 14RF-19 dengan empat bilah.

Mesin CT7-9C dirancang untuk memberikan kinerja yang handal karena memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat yang baik, serta kemampuan membawa beban yang lebih besar. Sayangnya masalah lead time engine CN-235 yakni durasi kontrak pembelian hingga mesin tersebut bisa dipasang hingga siap terbang ( final assy ) terbilang lama sehingga melemahkan pemasaran.  Lead time pengadaan mesin CN 235 dulu pada awal produksi membutuhkan waktu 19 bulan, ternyata kini lebih lama lagi hingga 26 bulan. Masalah tersebut disertai faktor lain yang memberatkan yakni kontrak harga engine bisa berubah dan kini vendor menetapkan harga 50 persen lebih tinggi.

Jika membedah riwayat kontrak penjualan di masa lalu menunjukkan bahwa pesawat CN-235 sering dijual lewat prosedur barter yang kurang menguntungkan. Tahap pertama CN-235 dibarter dengan produk militer dari Korea Selatan. Maka lahirlah program ROKAF sebanyak 8 buah pesawat. Dengan Malaysia terjadilah barter dengan mobil Proton Saga maka lahirlah program TUDM sebanyak 6 buah pesawat. Kemudian disusul dengan kontrak imbal dagang dengan Thailand dengan beras ketan, maka lahirlah program MOAC sebanyak 2 buah pesawat.

Selain barter ada juga melalui skema pembiayaan yang seret. Yakni kontrak dengan PT Merpati Nusantara Airlines ( PT MNA) sebanyak 15 pesawat dan dengan Pakistan Air Force sebanyak 4 buah pesawat.

Pada saat awal produksi CN-235 dahulu harga per-pesawat itu dalam kondisi green flyable lebih kurang  8,5 juta USD. Jika dengan tambahan konfigurasi khusus harganya bisa mencapai 11,6 juta USD per-pesawat. Dari harga tersebut sekitar 70 persen merupakan biaya pengadaan komponen atau vendor item yang berasal dari Amerika dan Eropa. Itulah sebabnya kalau dihitung-hitung maka nilai tambah produksi CN-235 belum besar.

Kawasan produksi KP II PT Dirgantara Indonesia dilihat dari Bandara Husein Sastranegara Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Kawasan produksi KP II PT Dirgantara Indonesia dilihat dari Bandara Husein Sastranegara Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Revitalisasi Bandung Kota Dirgantara

Perintis industri penerbangan di Tanah Air, khususnya PT DI adalah Nurtanio Pringgoadisuryo, kemudian dilanjutkan oleh BJ.Habibie. Nurtanio menjadi pelopor Bandung sebagai kota dirgantara. Rintisan tersebut dilanjutkan oleh BJ Habibie dengan membangun Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang kemudian menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di kawasan Bandara Husein Sastranegara.

Pamor kota dirgantara meredup setelah penerbangan komersial dari Bandara Husein Sastranegara dipindah ke Bandara Kertajati. Setelah penerbangan komersial dipindahkan, Bandara Husein menjadi sunyi dan sepi, tetapi bangunan dan fasilitas penerbangannya masih terlihat megah.

Revitalisasi kota dirgantara merupakan solusi masalah aktual bangsa, yakni  bandara Husein mesti dihidupkan Kembali untuk melayani penerbangan seperti dahulu. Kemudian ditingkatkan sebagai usaha perawatan pesawat terbang yang tergabung dalam Indonesia Aircraft Maintenance Shop Association ( IAMSA). Apalagi pada saat ini masih kurang teknisi penerbangan yang berlisensi, akibatnya berpengaruh terhadap kondisi fasilitas Maintenance Repair Overhaul (MRO).

Berbagai negara sangat berkepentingan terhadap pengembangan profesi teknisi pesawat terbang. Hal itu seperti dilakukan Singapura yang berhasil mengembangkan Seletar Aerospace Park (SAP) yang dibangun di lahan seluas 140 hektar. Begitu juga dengan Malaysia yang telah mendirikan Malaysia International Aerospace Center (MIAC). Sebagai kota dirgantara, mestinya Bandung juga membangun fasilitas  MRO yang merupakan aerospace park. 

 Potensi pariwisata juga menyertai keberadaan PT DI. Industri penerbangan itu telah mengangkat citra wisata teknologi di Kota Bandung. Sampai-sampai mahasiswa fakultas teknik yang ada di Indonesia telah menjadikan studi ekskursi ke PT DI sebagai acara wajib untuk mendukung studinya. Hal tersebut tidak berlebihan, karena berbagai proses teknologi dan industri bisa mereka saksikan di kawasan pabrik KP-II yang lokasinya membentang di sebelah utara Bandara Husein Sastranegara. KP-II merupakan kawasan pabrik yang layout hanggar dan capability of manufacturing-nya serupa dengan yang ada di perusahaan Boeing di Amerika Serikat.

Baca Juga: RUU: Permainan yang Populer di Kalangan Politisi

Hanggar di KP-II yang membentang dari timur ke barat hingga lima kilometer di dalamnya merupakan lorong produksi pesawat terbang dan produk lainnya secara sistemik. Begitu masuk di pintu gerbang di ujung timur para pengunjung langsung memasuki hanggar yang berisi material bahan baku pembuatan pesawat terbang yang berupa aneka jenis aluminium alloys. Berbagai treatment material bisa dilihat di hanggar ini. Kemudian pengunjung berjalan ke arah barat menuju hanggar fabrikasi yang berisi mesin-mesin CNC, metal forming, bonding and composite, dan lain-lain.

Berbagai komponen dan struktur pesawat dibuat disini. Dikelompokkan dalam cell produksi, dari Cell A hingga Cell N. Terlihat unjuk kerja mesin CNC yang mampu memotong balok-balok alumunium menjadi komponen struktur pesawat. Kemudian komponen-komponen yang jumlahnya ratusan ribu item itu diintegrasikan dalam hanggar final assembly.

Disamping hanggar fabrikasi terletak Gedung Pusat Teknologi dimana penulis selama puluhan tahun pernah berkantor disitu.  Di gedung ini pengunjung bisa melihat desain struktur pesawat terbang dengan program komputer CATIA dan analisa kekuatan berbasis finite element model dengan NASTRAN. Selain itu juga bisa dilihat berbagai pengujian pesawat terbang baik ground test maupun flight test yang melibatkan berbagai sensor untuk mengetahui karakteristik beban dan performance pesawat terbang.

Wisata teknologi dan industri pesawat terbang di Kota Bandung merupakan wahana edukasi yang bisa membangkitkan semangat kemandirian dan kemajuan bangsa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Totok Siswantara
Penulis lepas, pemulia tanaman, lulusan Program Profesi Insinyur

Berita Terkait

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)