Bisakah Kesehatan Jadi Alasan? Mempersoalkan Legalisasi Ganja Medis di Indonesia

6 menit baca
Ronan Jeremy Fritzie
Ditulis oleh Ronan Jeremy Fritzie diterbitkan
ai generated image (Sumber: gemini)
ai generated image (Sumber: gemini)

Semakin hari semakin banyak penyakit yang muncul. Penyakit tersebut dapat disebabkan oleh faktor yang berbeda-beda, gejala penyakit yang beragam, dan dampak yang berbeda-beda. Sehingga memerlukan banyak sekali tindakan yang beraneka ragam dengan pengobatan yang bermacam-macam juga. Ada penyakit yang menghilang karena telah ditemukan penawar ataupun obatnya, namun banyak juga penyakit baru yang muncul yang belum dapat ditemui obatnya ataupun tidak dapat disembuhkan. Contoh penyakitnya adalah HIV/AIDS, kanker, dan Cerebral Palsy.

Di Jawa Barat sendiri, telah ditemukan peningkatan kasus HIV baru sebanyak 3.906 yang tercatat per Januari-Mei 2025. Tidak sedikit penyakit yang muncul semakin berbahaya karena dapat beresiko hingga kematian. Namun apakah kita hanya bisa diam saja melihat orang yang terjangkit penyakit ini menderita karena belum ditemukan obat yang tepat?

Penderitaan yang dialami orang-orang ini harus dapat diringankan. Jelas tidak ada orang yang ingin terdampak penyakit bahkan penyakit ringan seperti flu, batuk, dan lainnya. Kita ingin menjalani kehidupan kita sebaik mungkin, maka tidak mungkin ada orang yang berharap untuk sakit.

Namun sebaliknya, semua orang pasti berharap dapat terus dalam kondisi tubuh yang sehat di segala waktu, kondisi, dan situasi. Maka perlu adanya perkembangan di dunia medis untuk mengatasi segala penyakit yang muncul maupun sebagai obat yang menyembuhkan ataupun meringankan gejala penyakit yang timbul. Bahkan sekalipun obat itu nantinya berasal dari barang yang dilarang atau ilegal bagi hukum di suatu negara.

Baru-baru ini muncul isu mengenai pengobatan berbasis ganja medis untuk pengobatan penyakit-penyakit tertentu. Sebenarnya, apa itu ganja medis? Apa kegunaan dari ganja medis? Bagaimana hukum yang mengatur mengenai hal ini? Hal-hal ini akan dibahas dalam esai ini. Esai berikut melampirkan kasus langsung yang terjadi di Indonesia belakangan ini yang melatarbelakangi penulisan esai ini.

Ganja dan Penggunaannya Secara Umum

Ganja atau mariyuana (marijuana) adalah psikotropika yang membuat penggunanya mengalami halusinasi. Ganja sendiri termasuk pada narkotika golongan 1 di Indonesia. Hal ini disebabkan akibat/resiko yang tinggi pada penggunaannya seperti ketergantungan yang tinggi. Sehingga penggunaan ganja merupakan tindakan ilegal bahkan penanaman tumbuhannya pun dapat dianggap tindakan ilegal.

Ganja sendiri merupakan tanaman alami yang tumbuh di alam (bukan hasil rekayasa ataupun penciptaan oleh manusia), terutama di Indonesia yang tepatnya di daerah Aceh. Struktur tumbuhan ganja sendiri seperti tanaman pada umumnya yang memiliki daun, batang, bunga, akar. Bagian yang sering disalahgunakan ialah bunga dan daunnya. Bunga pada tanaman ini mengandung bahan narkotika aktif paling tinggi. Daun juga mengandung hal tersebut namun pada kadar yang lebih rendah. 

Dalam dunia medis sebagai pereda nyeri, pengurang rasa mual, ataupun pereda kejang pada penderita penyakit adalah bagian getah yang ada di dalam batang tanaman ini. Bagian ini nantinya dikompres menjadi bentuk yang lebih padat yang menghasilkan hasnish atau minyak ganja. Namun tidak hanya bagian getahnya saja, bunga dan daunnya pun dapat dibuat menjadi minyak ganja melalui proses tertentu yang nantinya memisahkan zat-zat yang diinginkan dan tidak diinginkan. Sehingga pada penggunaan ganja dalam dunia medis, tanaman ini tidak akan menghasilkan efek yang sama bila digunakan secara mentah (halusinasi dan lainnya) namun hanya menimbulkan efek sebagai pereda nyeri dan sebagainya yang diharapkan oleh pembuat.

Namun tidak lupa bahwa hal ini harus dilakukan dengan ketat dan tepat sehingga tidak terjadi penyalahgunaan ganja untuk kepentingan individu ataupun pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Dalam perkembangannya, ganja ternyata memiliki efek-efek lain selain halusinasi. Hal ini menyebabkan ganja dapat berdampak positif bila penggunaannya tepat, salah satunya pada bidang medis. Mungkin kita pernah mendengar istilah morfin yang merujuk pada obat yang dapat menjadi pereda nyeri namun termasuk narkotika. Ganja pun ternyata dapat digunakan untuk hal ini sebagai pengganti morfin sehingga memunculkan istilah “ganja medis” karena penggunaan ganja untuk bidang medis. Ganja medis merujuk pada obat-obatan yang dibuat/mengandung ganja. Mari bahas lebih lanjut mengenai ganja medis, legal/illegal, dan peristiwa asli mengenai hal ini.

Penggunaan Ganja di Bidang Medis

Pada zaman perang dunia, morfin adalah obat paling penting yang digunakan dalam medan perang. Morfin menjadi pereda nyeri paling ampuh pada zaman tersebut, hal ini disebabkan berbagai luka dapat dihilangkan/diredakan rasa sakitnya dengan suntikan morfin. Apa kaitannya dengan ganja medis pada saat ini? Hal ini terkait karena perkembangan zaman membuat munculnya penyakit-penyakit baru yang menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Hal ini menjadi penting karena ganja medis dapat menjadi alternatif penggunaan morfin yang dinilai lebih adiktif. Namun penggunaan ganja sendiri masih ilegal walau dalam dunia medis. Hal ini tertulis dalam Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dimana ganja masuk dalam narkotika golongan 1. Narkotika golongan 1 adalah narkotika yang hanya digunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan saja dan tidak dapat digunakan untuk terapi (termasuk kegiatan medis).

Ganja medis sendiri memiliki fungsi penting dalam dunia medis baik di Indonesia maupun negara lainnya. Kita tahu banyak penyakit kronis yang mengakibatkan rasa sakit yang tidak tertahankan sehingga banyak orang ingin melakukan euthanasia (metode “suntik mati” pada pasien yang tidak dapat disembuhkan untuk menghilangkan penderitaannya). Namun berdasar moral dan norma di Indonesia, euthanasia sendiri tidak dapat dilakukan/ilegal dan dokter yang melakukannya dapat dipidana atas pidana pembunuhan.

Maka disinilah peran penting ganja medis yaitu untuk menghilangkan rasa nyeri/sakit yang tidak tertahankan bagi pasien. Banyak penyakit yang memerlukannya seperti kejang/epilepsi (meringankan efek kejang terhadap pasien), cerebral palsy, mual muntah akibat kemoterapi, dan PTSD (meringankan efek kecemasan pada pasien).

Dari Sudut Pandang Hukum Saat Ini

ai generated image (Sumber: gemini)
ai generated image (Sumber: gemini)

Mengapa sampai saat ini ganja masih ilegal? Beberapa orang telah melakukan judicial review mengenai legalisasi ganja medis kepada Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka adalah ibu dari anak yang mengalami/menderita cerebral palsy. Cerebral palsy sendiri adalah penyakit lumpuh otak yang menyebabkan penderitanya mengalami keabnormalan dalam pertumbuhannya dan seringkali mengalami nyeri kronis dan kejang parah.

Namun judicial review yang diajukan tersebut ditolak oleh Mahkamah Konstitusi karena beberapa pertimbangan. Pertama, ganja masih menjadi narkotika golongan 1 yang dapat membuat pengguna dipidana (hanya boleh untuk pengembangan ilmu pengetahuan saja). Kedua, penelitian yang terdapat di Indonesia masih sangat jauh dari cukup untuk menjadi bahan pertimbangan hakim dalam melegalkan ganja medis. Ketiga, ganja dinilai menyebabkan ketergantungan yang tinggi sehingga ditakutkan nantinya akan menjadi ketergantungan bagi pasien walau sudah sembuh/dalam kondisi tidak memerlukan ganja medis.

Hal ini menyebabkan ketidakjelasan mengenai ganja medis karena bagaimana dapat mengajukan legalisasi ganja bila penelitian sangat dibatasi. Juga dengan negara-negara di dunia yang tidak sejalan mengenai hal ini. Ada yang melegalkan ganja secara bebas (bukan hanya keperluan medis) seperti Jerman dan Meksiko, ada yang melegalkan untuk keperluan medis seperti Thailand dan Belanda, ada juga yang melarang sepenuhnya penggunaan ganja selain untuk ilmu pengetahuan seperti Indonesia.

Pengusulan Kembali Legalisasi Ganja Medis

ai generated image (Sumber: gemini)
ai generated image (Sumber: gemini)

Baru-baru ini muncul video menarik di Instagram saya mengenai usulan anggota DPR fraksi PDIP yaitu Siti Aisyah yang mendorong untuk legalisasi ganja medis di Indonesia. Beliau buka hanya menyatakan mengenai penggunaan ganja medis di sektor kesehatan namun ia melihat dari sisi ekonomi. Menurutnya ganja medis dapat membuka sektor pertanian bagi warga Aceh karena tanah di daerah Aceh sangat cocok untuk tumbuhnya ganja. Bahkan ganja seringkali tumbuh sendiri di Aceh.

Hal ini berangkat dari aspirasi warga Aceh yang meminta ganja dilegalkan untuk keperluan pengobatan. Bahkan nantinya ganja ini dapat meningkatkan pendapatan negara melalui perdagangan antar negara yang juga melegalkan ganja medis karena keperluan akan ganja medis saat ini cukup besar.

Maka selain memajukan sektor kesehatan dalam mengembangkan berbagai obat, dengan melegalkan ganja medis dapat memajukan perekonomian negara maupun warga Aceh sendiri. Dari sejarahnya pun tanaman ini sudah tumbuh dengan subur di Aceh dan bahkan seringkali digunakan dalam masakah khas daerah setempat sebagai salah satu bahan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)