Nasib Angkot di Bandung, Resolusi Angkutan Anti Macet yang Romantis Saat Kita Jadi Penumpang!

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Selasa 06 Jan 2026, 09:33 WIB
Kota Bandung disebut kota termacet se-Indonesia pada 2024 oleh lembaga riset internasional yang berkantor di Belanda, TomTom. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irrfan Al-Faritsi)

Kota Bandung disebut kota termacet se-Indonesia pada 2024 oleh lembaga riset internasional yang berkantor di Belanda, TomTom. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irrfan Al-Faritsi)

Kamu pasti pernah jadi penumpang setia angkot — kendaraan legendaris yang kalau diceritakan ke anak zaman sekarang mungkin terdengar seperti mitos urban.

Angkot, alias angkutan kota, dulu bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah ruang sosial, ruang debat, ruang curhat, bahkan kadang ruang ibadah (karena penumpangnya sering berdoa biar cepat sampai tujuan dengan selamat).

Kota Bandung, kini sudah berubah: gedung menjulang, jalan makin sempit, dan kemacetan seperti menu wajib harian. Tapi di tengah hiruk pikuk kendaraan online, angkot masih bertahan — dengan wajah baru tapi jiwa yang sama: anti macet versi rakyat jelata.

Bandung 2002: Naik Angkot Demi Cinta dan IPK

Bagi saya, naik angkot di Bandung itu seperti ikut kuliah kehidupan. Setiap rute adalah bab dalam buku tebal bernama “Survival Perkotaan”. Ada angkot jurusan Cicaheum–Cibiru yang jadi penghubung utama anak UIN Bandung dengan dunia luar.

Ada rute Kalapa–Ledeng, Dago–Riung Bandung, sampai St. Hall–Gedebage, masing-masing dengan karakteristik unik — dari sopir yang suka nyetel dangdut sampai yang hobi khotbah dadakan.

Dulu, waktu kuliah, angkot adalah ruang publik paling demokratis. Di sana, dosen dan mahasiswa, penjual gorengan, dan tukang bangunan bisa duduk berdempetan tanpa status. Semua sejajar, semua sama-sama berharap sopirnya nggak ngetem kelamaan karena bikin sosongeteun beuheung (bhs Indonesia: kaku leher).

Dan entah kenapa, di balik desakan dan panasnya kabin, selalu ada semacam kehangatan. Seolah angkot mengajarkan bahwa hidup itu memang sempit, tapi kalau kita saling menyingkir sedikit, semua bisa muat.

Saya masih ingat, tahun 2002, ongkos angkot hanya Rp1.500. Dengan uang segitu, saya bisa berangkat dari Cibiru ke Cicaheum sambil menikmati bonus berupa percakapan gratis antara sopir dan kenek yang kadang lebih seru dari kuliah teori komunikasi.

“Macet euy ayeuna mah, jalanan teh siga cinta mahasiswa. Penuh harapan, tapi teu maju-maju,” kata salah satu sopir yang saya ingat dengan jelas.

Waktu itu, naik angkot bukan cuma perjalanan menuju kampus, tapi juga perjalanan menuju kenangan. Kadang saya sengaja duduk di kursi belakang, pura-pura menikmati pemandangan padahal sedang mengintip si dia — teman sekelas yang kebetulan satu jurusan dan satu angkot.

Dulu, di balik bunyi “ting-tong” logam tanda berhenti dan suara rem berdecit, sering lahir rasa yang sulit dijelaskan. Di dalam angkot, cinta dan cita-cita sering numpang duduk berdampingan.

Dari “Ngetem” ke “Ngacir”: Angkot Era 2025

Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Dua puluh tahun kemudian, angkot Bandung sudah berubah. Namun ada satu hal yang tak berubah: semangat sopirnya. Mereka tetap punya gaya khas: tangan kiri di setir, tangan kanan di klakson, dan satu mata selalu waspada pada calon penumpang di pinggir jalan.

Bedanya, kini mereka bukan cuma melawan kemacetan fisik, tapi juga persaingan digital. GrabCar, ojek online, dan bus cepat (BRT) jadi lawan baru mereka. Tapi entah kenapa, setiap kali saya melihat angkot melintas, saya merasa ada sesuatu yang romantis.

Mungkin karena di balik bunyi mesin tuanya, masih ada nyawa Bandung yang sesungguhnya: nyunda, spontan, dan penuh seloroh.

Di dalam angkot, orang bisa ngobrol bebas soal apa saja: harga cabai, politik, gosip artis, sampai khilafiyah antara roti bakar dan pisang goreng.

Angkot menciptakan komunikasi sejati, bukan karena ada moderator, tapi karena semua penumpang punya kepentingan yang sama: ingin cepat sampai dan tidak bayar lebih. Tidak ada yang superior; bahkan sopir pun sering jadi “fasilitator dialog.”

Anti Macet, Tapi dengan Gaya Sendiri

Kalau kamu tanya kenapa saya menyebut angkot sebagai transportasi anti macet, jawabannya sederhana: angkot punya logika jalanan sendiri yang bahkan Google Maps pun belum tentu paham.

Saat jalan utama macet, sopir angkot akan memutar lewat gang sempit yang hanya bisa dilewati motor — ajaibnya, mobil kecil ini bisa nyelip di antara becak dan pedagang tanpa menabrak. Itu bukan sekadar refleks, tapi hasil pengalaman bertahun-tahun membaca bahasa jalan.

Dan yang paling ajaib, angkot bisa menyalip mobil mewah tanpa rasa bersalah, bahkan sambil nyalain musik dangdut remix volume maksimal. Filosofinya sederhana: “Kalau kamu mau cepat, jangan marah. Kalau kamu marah, ya jalan kaki.”

Di situ saya merasa, angkot bukan cuma transportasi, tapi simbol mentalitas Bandung: selalu cari jalan, tapi tetap santai.

Suatu sore di 2025, saya duduk di dalam angkot rute Cicaheum–Cibiru, nostalgia perjalanan masa kuliah. Di depan saya ada anak muda dengan earphone, di sebelah ada ibu-ibu bawa belanjaan sayur, dan di samping sopir ada bapak-bapak yang sibuk main HP.

Bandung sore itu macet parah, tapi anehnya, suasananya adem. Sopirnya bersiul pelan sambil bilang, “Tenang we, Kang. Macet mah teu bisa dihindari, tapi bisa dinikmati.” Saya tersenyum. Kalimat itu lebih menenangkan daripada kutipan motivasi mana pun.

Mungkin memang begitu hidup di Bandung: jalanan padat, tapi hatinya tetap longgar.
Dan di dalam angkot itu, saya merasa sedang ikut kuliah lagi — kuliah tentang kesabaran, kesederhanaan, dan komunikasi spontan antarwarga kota.

Kini, ketika semua berlomba jadi modern, efisien, dan digital, angkot tetap bertahan sebagai pengingat bahwa tidak semua hal harus tergesa-gesa. Ia mungkin berisik, panas, dan kadang bau bensin, tapi justru di sanalah kejujuran hidup terasa.

Baca Juga: Kota Dirgantara dan Agresi terhadap Venezuela, Ada Benang Merahnya ?

Angkot adalah metafora Bandung itu sendiri: penuh warna, kadang semrawut; tapi selalu punya cara untuk membuatmu tersenyum.

Setiap kali turun dan bilang “Kiri, Bang!”, saya merasa sedang berterima kasih — bukan hanya pada sopir, tapi pada sejarah kecil yang membuat Bandung tetap punya jiwa.

Mungkin, di tengah dunia serba cepat ini, kita semua butuh sedikit “logika angkot”:
Bergerak pelan, tapi pasti; berhenti sebentar untuk penumpang lain; dan tetap nyetel musik keras seperti rock biar perjalanan terasa hidup.

Karena di Bandung, seperti juga dalam hidup, yang penting bukan seberapa cepat kamu sampai — tapi seberapa banyak cerita yang kamu bawa di sepanjang jalan. Om Sule selalu bilang, Prikitiwwww! (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:19 WIB

Kota Bandung dan Krisis Sampah

Kota Bandung kembali berada dalam sorotan publik akibat persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Gunung"sampah di daerah warga jl. buanasari II no.1 , Kota Bandung pada Selasa, 2 Desember 2025. (Foto:Muhammad Fiqri A.)