Nasib Angkot di Bandung, Resolusi Angkutan Anti Macet yang Romantis Saat Kita Jadi Penumpang!

5 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Kota Bandung disebut kota termacet se-Indonesia pada 2024 oleh lembaga riset internasional yang berkantor di Belanda, TomTom. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irrfan Al-Faritsi)
Kota Bandung disebut kota termacet se-Indonesia pada 2024 oleh lembaga riset internasional yang berkantor di Belanda, TomTom. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irrfan Al-Faritsi)

Kamu pasti pernah jadi penumpang setia angkot — kendaraan legendaris yang kalau diceritakan ke anak zaman sekarang mungkin terdengar seperti mitos urban.

Angkot, alias angkutan kota, dulu bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah ruang sosial, ruang debat, ruang curhat, bahkan kadang ruang ibadah (karena penumpangnya sering berdoa biar cepat sampai tujuan dengan selamat).

Kota Bandung, kini sudah berubah: gedung menjulang, jalan makin sempit, dan kemacetan seperti menu wajib harian. Tapi di tengah hiruk pikuk kendaraan online, angkot masih bertahan — dengan wajah baru tapi jiwa yang sama: anti macet versi rakyat jelata.

Bandung 2002: Naik Angkot Demi Cinta dan IPK

Bagi saya, naik angkot di Bandung itu seperti ikut kuliah kehidupan. Setiap rute adalah bab dalam buku tebal bernama “Survival Perkotaan”. Ada angkot jurusan Cicaheum–Cibiru yang jadi penghubung utama anak UIN Bandung dengan dunia luar.

Ada rute Kalapa–Ledeng, Dago–Riung Bandung, sampai St. Hall–Gedebage, masing-masing dengan karakteristik unik — dari sopir yang suka nyetel dangdut sampai yang hobi khotbah dadakan.

Dulu, waktu kuliah, angkot adalah ruang publik paling demokratis. Di sana, dosen dan mahasiswa, penjual gorengan, dan tukang bangunan bisa duduk berdempetan tanpa status. Semua sejajar, semua sama-sama berharap sopirnya nggak ngetem kelamaan karena bikin sosongeteun beuheung (bhs Indonesia: kaku leher).

Dan entah kenapa, di balik desakan dan panasnya kabin, selalu ada semacam kehangatan. Seolah angkot mengajarkan bahwa hidup itu memang sempit, tapi kalau kita saling menyingkir sedikit, semua bisa muat.

Saya masih ingat, tahun 2002, ongkos angkot hanya Rp1.500. Dengan uang segitu, saya bisa berangkat dari Cibiru ke Cicaheum sambil menikmati bonus berupa percakapan gratis antara sopir dan kenek yang kadang lebih seru dari kuliah teori komunikasi.

“Macet euy ayeuna mah, jalanan teh siga cinta mahasiswa. Penuh harapan, tapi teu maju-maju,” kata salah satu sopir yang saya ingat dengan jelas.

Waktu itu, naik angkot bukan cuma perjalanan menuju kampus, tapi juga perjalanan menuju kenangan. Kadang saya sengaja duduk di kursi belakang, pura-pura menikmati pemandangan padahal sedang mengintip si dia — teman sekelas yang kebetulan satu jurusan dan satu angkot.

Dulu, di balik bunyi “ting-tong” logam tanda berhenti dan suara rem berdecit, sering lahir rasa yang sulit dijelaskan. Di dalam angkot, cinta dan cita-cita sering numpang duduk berdampingan.

Dari “Ngetem” ke “Ngacir”: Angkot Era 2025

Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Dua puluh tahun kemudian, angkot Bandung sudah berubah. Namun ada satu hal yang tak berubah: semangat sopirnya. Mereka tetap punya gaya khas: tangan kiri di setir, tangan kanan di klakson, dan satu mata selalu waspada pada calon penumpang di pinggir jalan.

Bedanya, kini mereka bukan cuma melawan kemacetan fisik, tapi juga persaingan digital. GrabCar, ojek online, dan bus cepat (BRT) jadi lawan baru mereka. Tapi entah kenapa, setiap kali saya melihat angkot melintas, saya merasa ada sesuatu yang romantis.

Mungkin karena di balik bunyi mesin tuanya, masih ada nyawa Bandung yang sesungguhnya: nyunda, spontan, dan penuh seloroh.

Di dalam angkot, orang bisa ngobrol bebas soal apa saja: harga cabai, politik, gosip artis, sampai khilafiyah antara roti bakar dan pisang goreng.

Angkot menciptakan komunikasi sejati, bukan karena ada moderator, tapi karena semua penumpang punya kepentingan yang sama: ingin cepat sampai dan tidak bayar lebih. Tidak ada yang superior; bahkan sopir pun sering jadi “fasilitator dialog.”

Anti Macet, Tapi dengan Gaya Sendiri

Kalau kamu tanya kenapa saya menyebut angkot sebagai transportasi anti macet, jawabannya sederhana: angkot punya logika jalanan sendiri yang bahkan Google Maps pun belum tentu paham.

Saat jalan utama macet, sopir angkot akan memutar lewat gang sempit yang hanya bisa dilewati motor — ajaibnya, mobil kecil ini bisa nyelip di antara becak dan pedagang tanpa menabrak. Itu bukan sekadar refleks, tapi hasil pengalaman bertahun-tahun membaca bahasa jalan.

Dan yang paling ajaib, angkot bisa menyalip mobil mewah tanpa rasa bersalah, bahkan sambil nyalain musik dangdut remix volume maksimal. Filosofinya sederhana: “Kalau kamu mau cepat, jangan marah. Kalau kamu marah, ya jalan kaki.”

Di situ saya merasa, angkot bukan cuma transportasi, tapi simbol mentalitas Bandung: selalu cari jalan, tapi tetap santai.

Suatu sore di 2025, saya duduk di dalam angkot rute Cicaheum–Cibiru, nostalgia perjalanan masa kuliah. Di depan saya ada anak muda dengan earphone, di sebelah ada ibu-ibu bawa belanjaan sayur, dan di samping sopir ada bapak-bapak yang sibuk main HP.

Bandung sore itu macet parah, tapi anehnya, suasananya adem. Sopirnya bersiul pelan sambil bilang, “Tenang we, Kang. Macet mah teu bisa dihindari, tapi bisa dinikmati.” Saya tersenyum. Kalimat itu lebih menenangkan daripada kutipan motivasi mana pun.

Mungkin memang begitu hidup di Bandung: jalanan padat, tapi hatinya tetap longgar.
Dan di dalam angkot itu, saya merasa sedang ikut kuliah lagi — kuliah tentang kesabaran, kesederhanaan, dan komunikasi spontan antarwarga kota.

Kini, ketika semua berlomba jadi modern, efisien, dan digital, angkot tetap bertahan sebagai pengingat bahwa tidak semua hal harus tergesa-gesa. Ia mungkin berisik, panas, dan kadang bau bensin, tapi justru di sanalah kejujuran hidup terasa.

Baca Juga: Kota Dirgantara dan Agresi terhadap Venezuela, Ada Benang Merahnya ?

Angkot adalah metafora Bandung itu sendiri: penuh warna, kadang semrawut; tapi selalu punya cara untuk membuatmu tersenyum.

Setiap kali turun dan bilang “Kiri, Bang!”, saya merasa sedang berterima kasih — bukan hanya pada sopir, tapi pada sejarah kecil yang membuat Bandung tetap punya jiwa.

Mungkin, di tengah dunia serba cepat ini, kita semua butuh sedikit “logika angkot”:
Bergerak pelan, tapi pasti; berhenti sebentar untuk penumpang lain; dan tetap nyetel musik keras seperti rock biar perjalanan terasa hidup.

Karena di Bandung, seperti juga dalam hidup, yang penting bukan seberapa cepat kamu sampai — tapi seberapa banyak cerita yang kamu bawa di sepanjang jalan. Om Sule selalu bilang, Prikitiwwww! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Tentang Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)