Setelah hujan deras mengguyur Kota Bandung, ruas jalan vital berubah fungsi menjadi kolam lumpur. Kondisi jalan berkubang yang belum tertangani ini bukan hanya mengganggu arus lalu lintas, tetapi telah menjadi ancaman serius bagi keselamatan pengguna jalan. Kondisi mengkhawatirkan ini, salah satunya terlihat di akses vital kawasan sekitar persimpangan Tugu Simpang Lima, Kota Bandung.
Riki Hidayat, pengendara ojek online yang bekerja mengantar jemput penumpang mengungkapkan bahwa kondisi jalan berlubang tersebut sudah berlangsung lama dan sering menimbulkan insiden, terutama saat musim hujan.
"Kalau hujan kan pasti macet, apalagi jalan berlubang kaya gini jadi semakin bahaya dan jalanan tidak terkendali," keluh pria paruh baya itu, Kamis (4/12/2025).
Lubang-lubang tersebut memiliki kedalaman yang bervariasi, dan saat terisi air, pengendara tidak dapat mengukur risiko yang ada. Jalan yang berkubang memperlambat waktu tempuh dan merusak kendaraan sehingga membuat arus kendaraan tersendat dan menciptakan antrian yang panjang.
Riki mengatakan kondisi jalan memperparah keadaan karena jika tidak hati-hati maka keselamatan pengendara motor terancam.
“Lubang seperti ini akan menjadi genangan air biasa kalau hujan, jadi kita gatau sedalam apa lubang yang ada di depan kita, itu bahaya,” ujarnya.
Isu jalan berkubang di Bandung sudah menjadi rahasia umum yang tak kunjung menemukan titik terangnya. Pengendara tidak dapat mengukur risiko saat lubang tersebut penuh dengan air karena kedalamannya yang berbeda. Jalan yang tidak rata memperlambat waktu tempuh dan menyebabkan kerusakan pada kendaraan, arus kendaraan juga akan tersendat sehingga kemacetan tidak dapat dihindari.

Padahal, lokasi jalan berkubang ini merupakan salah satu akses vital di Bandung Raya. Jalan ini merupakan titik temu (persimpangan) dari beberapa jalan arteri utama Kota Bandung, termasuk Jalan Asia Afrika, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan Karapitan. Oleh karena itu, jalur ini mutlak merupakan jalur utama dan sentral bagi mobilitas perkotaan. Kerusakan yang dibiarkan menunjukkan kurangnya prioritas penanganan sarana prasarana yang berdampak langsung pada publik.
Untuk mengatasi masalah ini secara permanen, warga dan pengguna jalan meminta Wali kota Bandung, Muhammad Farhan, untuk memberikan solusi yang difokuskan pada perbaikan dengan kualitas aspal yang lebih baik dan perbaikan sistem drainase di pinggir jalan agar air hujan tidak menggenang dan merusak struktur aspal.
Baca Juga: Jalur Lelah, 'Lampu Merah Abadi' di Jalan Soekarno Hatta
“Seharusnya Pak Wali kota lebih peka dengan kondisi jalan, kalau misalkan cuma ditambal pasti tidak akan bertahan lama, kena air tergerus lagi, hujan deras hilang lagi," tutup Riki mewakili harapan ribuan pengendara yang melintas setiap hari.
Kondisi ini sudah terjadi di berbagai titik di Kota Bandung sehingga mengancam keselamatan pengguna lalu lintas. Diharapkan ada solusi yang bisa memperbaiki dan menjamin keselamatan warga Bandung dari laka lantas yang disebabkan oleh kerusakan jalan. (*)
