Bukan Hanya Sekadar Tren, Women Support Women Jadi Bentuk Nyata Perempuan Saling Jaga di Ruang Publik

4 menit baca
Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan
Warga yang tergabung dalam Forum Dago Melawan melakukan aksi di depan Polrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 14 Agustus 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Warga yang tergabung dalam Forum Dago Melawan melakukan aksi di depan Polrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 14 Agustus 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Genap sudah tiga tahun, gerbang baru dunia perjuangan Ristia Kusnady atau yang kerap dipanggil Teh Ayang ini resmi dibuka. Sejak 2022, perjuangan dirinya menapaki rumitnya istilah hukum yang tertera dalam setiap pertemuan yang dilakukan dengan tim inti hukum Dago Melawan. Suatu hari, dirinya seperti terusik melihat bagaimana reaksi warga sekitar, terlebih para lansia khususnya yang selalu kebingungan mengenai istilah-istilah asing di bidang hukum dalam benak mereka.

Ajaibnya, berkat keresahan dalam hati nurani Ayang sebagai Individu yang ingin berupaya maksimal supaya bisa meluruskan pemahaman warga, disitulah akhirnya lapisan diri lain dalam dirinya terbuka, yang kemudian menghantarkan jalan untuk terus berperan dan bertumbuh dalam segala proses Dago Melawan yang masih berlangsung selama tiga tahun belakangan ini.

“Berangkat dari berbagai macam respons dan kekhawatiran warga Dago yang kurang mengerti istilah hukum, saya jadi belajar — setiap saat rapat atau setelah rapat, saya sengaja duduk di belakang, tidak duduk di depan bersama tim inti lainnya. Saya coba untuk mendengarkan keluh-kesah warga, terutama para sesepuh yang belum mengerti makna dari sisi hukum tentang penggusuran lahan yang sedang kita bahas.”

Garis depan merupakan singgasana strategis para puan di Dago Elos dalam visi satu perjuangan mempertahankan hak tanahnya. Tidak hanya mewakili suara karena dianggap sebagai ‘korban penggusuran’, tetapi menjadi pilar utama perjuangan yang selama ini selalu digaungkan bersama. 

Sambil berkaca-kaca dengan suara sedikit parau, Ayang menceritakan perjuangannya, bahwa kaum hawa selalu menjadi bagian terdepan di saat kaum laki-laki saling menopang dan mendampingi di belakang mereka.

“Biasanya jika kami pergi ke Pengadilan Negeri, kami akan bagi tugas. Ada yang berperan untuk di dalam dan bernegosiasi bersama tim inti hukum, dan ada yang berjaga di luar.

“—Tetapi jangan salah, orang-orang yang di luar juga tugasnya berat dan bukan berarti berleha-leha, ya. Berdoa dan beribadah bersama sembari menunggu kepastian dari keputusan orang-orang yang bertugas di dalam ruangan Pengadilan Negeri ternyata lebih sulit dan terasa melelahkan sekaligus.”  Ungkapnya sembari memutar kembali rasa nostalgia dari manis dan pahitnya perjuangan mempertahankan haknya.

Puluhan ibu-ibu warga Dago Elos yang tergabung dalam Forum Dago Melawan melakukan aksi memperingati hari buruh internasional atau MayDay di Taman Cikapayang, Kota Bandung, Rabu 1 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Puluhan ibu-ibu warga Dago Elos yang tergabung dalam Forum Dago Melawan melakukan aksi memperingati hari buruh internasional atau MayDay di Taman Cikapayang, Kota Bandung, Rabu 1 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Dalam praktiknya, hanya satu titik rasa kepercayaan dan solidaritas bersama yang ujung-ujungnya menjadi tombak perjuangan dirinya dan warga Dago. Tak ayal, saat ada Ibu-ibu kesulitan ekonomi atau bahkan kesulitan ketika harus mengantarkan anaknya ke sekolah pada hari-H aksi, Ibu-ibu lain pasti akan saling bahu-membahu membantu mengisi kekosongan peran tersebut, atau bahkan membantu supaya anaknya mendapatkan izin dari sekolah demi tetap membantu Ibunya menyuarakan persoalan ini lewat medium aksi.

Bukan tidak mungkin, Ayang menyebutkan jika warga Dago Elos bekerja sama dengan tim Inti aksi Dago Melawan supaya persediaan makanan sehari-hari mereka juga tetap terjamin.

“Ya, kita saling gotong-royong dalam hal mengisi kekurangan masing-masing. Kalau para warga ikut aksi kan, itu berarti satu hari dalam seminggu dalam rangka kegiatan mencari nafkahnya harus dikorbankan demi kepentingan bersama.

Di momen-momen itulah, sisi humanis kita bekerja. Tim kami berupaya untuk terus berbagi dalam bentuk donasi, bantuan sembako, apapun itu—yang intinya semboyan “Warga jaga warga,” tetap eksis di lapangan.” Ungkap Ayang menjelaskan lebih lanjut, tentang bagaimana pada akhirnya, warga Dago saling menopang hidup satu sama lain dalam berbagai aspek supaya bisa bertahan hidup dalam kesehariannya.

Peran komunitas yang kerap kali disebutkan Ayang, kembali selaras dengan apa yang Tiara Kharisma sampaikan selaku ahli yang fokus kajiannya ada di ruang lingkup Psikologis.

Tiara berulang kali membahas komunitas bukan hanya berperan sebagai ruang untuk berkumpul dan mencari koneksi atas dasar landasan dan demi bisa mencapai tujuan yang sama, tetapi bisa berperan sebagai wadah untuk bahu-membahu membagikan pengetahuan baru, informasi baru yang sekiranya relate dengan pembahasan yang insan perempuan hadapi dan butuhkan di luar sana.

Demikian pula ketika menyangkut persoalan tentang saling mendukung di ruang publik, hal tersebut kemudian meluas cakupannya seiring dengan adanya perkembangan zaman dari waktu ke waktu. Tiara menyebutkan, 

“Ada perbedaan yang didapat pada support system dunia digital, kita sebagai perempuan juga harus bisa menilai untuk kapan perempuan lain di sekitar kita butuh didukung dan terlebih ada momen-momen tertentu dimana perempuan hanya perlu didengarkan keluhannya.

Warga Dago Elos di Pengadilan Negeri Bandung jalan R.E. Martadinata, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, 8 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Wildan Saddam)
Warga Dago Elos di Pengadilan Negeri Bandung jalan R.E. Martadinata, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, 8 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Wildan Saddam)

Mendukung sesama perempuan di ruang publik berarti untuk selalu ada dan hadir pada setiap milestones yang dicapai oleh masing-masing diri perempuan lain. Entah itu ketika ada pada titik terendah, entah ketika ada momen-momen tertentu yang saling membahagiakan.”

Hal-hal yang menyangkut validasi perasaan tentang perempuan kemudian menjadi hal yang krusial dalam penempatannya, di mana perasaan perempuan memang layak untuk didengar, dirasakan, dan tentunya dirayakan. 

Persis seperti ungkapan makna yang diucapkan Ristia Kusnady soal tekadnya yang ingin selalu hadir dan berperan teguh tak pantang menyerah sampai hilal warga Dago Elos menang dan bisa disebarkan beritanya ke seluruh penjuru Bandung nanti.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)