Setiap anak terlahir unik dan membawa potensi kecerdasannya masing-masing. Menurut teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) Howard Gardner, terdapat sembilan jenis kecerdasan pada anak, yaitu kecerdasan bahasa, logis-matematis, visual, kinestetik, musik, intrapersonal, interpersonal, naturalis, serta eksistensial atau moral. Setiap anak memiliki kombinasi kecerdasan yang berbeda, yang perlu dipahami dan dikembangkan melalui pendekatan yang tepat.
Masa anak usia dini merupakan periode emas (golden age) dalam perkembangan manusia. Pada fase ini, otak anak berkembang sangat pesat, rasa ingin tahu tinggi, dan imajinasi tumbuh secara alami. Karena itu, kreativitas perlu dirangsang melalui berbagai kegiatan yang menyenangkan, bermakna, dan sesuai dengan dunia anak — yaitu dunia bermain.
Pada fase inilah stimulasi yang tepat menjadi kunci untuk membantu anak berkembang secara optimal, tidak hanya secara akademik tetapi juga emosional, sosial, dan spiritual.
Salah satu bentuk stimulasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan tahunan HIMPAUDI Kabupaten Bandung dalam acara Gebyar Kreativitas Anak Usia Dini, berupa lomba kreativitas anak usia dini yang terdiri dari lomba menari, mewarnai, tahfidz, dan olahraga. Kegiatan yang diselenggarakan di GOR Futsal Rancalame Desa Nagrak pada 4 Februari 2026 ini diikuti oleh Taman Kanak-kanak (TK), Kelompok Bermain (KB), dan PAUD se-Kecamatan Cangkuang serta dihadiri oleh Muspika setempat.
Kegiatan ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan ruang belajar yang memberi kesempatan kepada anak untuk berekspresi, mencoba hal baru, dan membangun rasa percaya diri.
Lomba menari membantu anak mengenal irama, melatih koordinasi gerak, serta mengekspresikan diri melalui seni. Lomba mewarnai menjadi sarana mengembangkan imajinasi, kreativitas visual, dan motorik halus. Lomba tahfidz melatih daya ingat sekaligus menanamkan nilai-nilai spiritual sejak dini. Sementara kegiatan olahraga menumbuhkan kebiasaan hidup sehat, kerja sama, dan sportivitas.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak benar-benar diberi ruang untuk berekspresi secara bebas tanpa intervensi orang tua maupun guru pendamping. Orang tua hanya menyaksikan dari luar arena sambil memberikan dukungan dan semangat. Tanpa disadari, keinginan orang tua agar anak tampil sempurna seringkali justru membatasi kebebasan ekspresi anak, padahal kebebasan mencoba merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang mereka.
Dalam pendidikan anak usia dini, keberanian mencoba jauh lebih penting daripada kemenangan. Pengalaman tampil, mendapat apresiasi dari lingkungan sekitar, dan merasakan kebersamaan menjadi bekal berharga dalam membentuk karakter anak di masa depan.
Baca Juga: Kerja Sama Desain Industri Menciptakan Nilai Tambah dan Lapangan Kerja
Yang tak kalah penting, kegiatan ini juga mempererat kolaborasi antara guru, orang tua, lembaga PAUD, dan pemerintah dalam mendukung perkembangan anak secara menyeluruh. Dukungan lingkungan yang positif akan membuat anak merasa aman dan berani menunjukkan potensinya.
Melalui kegiatan lomba kreativitas anak usia dini, kita diingatkan bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang perlu diberi ruang untuk tumbuh. Dari kegiatan sederhana namun bermakna inilah kreativitas, kemandirian, dan rasa percaya diri anak mulai terbentuk.
Pada akhirnya, pendidikan anak usia dini bukan tentang siapa yang paling cepat atau paling hebat, tetapi tentang bagaimana setiap anak dapat berkembang dengan bahagia sesuai tahap usianya. (*)
