Hey Bandung: Menguji Kekuatan dan Dampak Homeless Media dari Sudut Pandang Warga

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Kamis 19 Feb 2026, 06:52 WIB
Pengelola Hey Bandung Fajar Asmara, Fajar Matasa, dan Firman Hendika. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Pengelola Hey Bandung Fajar Asmara, Fajar Matasa, dan Firman Hendika. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID – Di tengah derasnya informasi soal Kota Bandung dan sekitarnya yang bergerak cepat setiap detik, Hey Bandung memilih berdiri di jalur berbeda. Mereka bukan media arus utama dengan ID pers dan ruang redaksi resmi, tetapi juga bukan sekadar akun komunitas tingkat kelurahan. Mereka menyebut diri sebagai homeless media — bergerak tanpa keredaksian, namun tetap terstruktur.

Hey Bandung mulai berjalan sejak Agustus 2025. Di balik operasionalnya ada tiga orang yang menggerakkan produksi konten: Fajar Asmara (33) sebagai Head News, Fajar Matasa (31) editor, dan Firman Hendika (28) editor. Dalam tim kecil ini, mereka mengatur ritme produksi, melakukan verifikasi informasi, hingga membaca pola algoritma media sosial.

Ketiganya merupakan mantan pekerja agensi di Jakarta yang memutuskan kembali ke Bandung. Tantangan awalnya datang dari seorang klien yang mempertanyakan apakah homeless media bisa dikelola secara serius dan memberikan dampak nyata.

“Awalnya kami memang orang agensi. Terus ada klien yang nanya, bisa enggak sih ngejalanin homeless media tapi dikelola serius?” ujar Fajar.

Dari percobaan itu, lahirlah jaringan Hey yang tak hanya mencakup Bandung, tetapi juga Cimahi, Jogja, dan Semarang. Sementara kota lain seperti Jakarta, Depok, Malang, hingga Surabaya dikelola oleh tim berbeda. Meski belum memiliki badan hukum pers resmi, pola kerja mereka tetap dibangun dengan sistem yang rapi.

Sudut Pandang Warga sebagai Fondasi

Berbeda dari media arus utama yang mengandalkan struktur peliputan formal, Hey Bandung mengolah informasi dari berbagai sumber, lalu memosisikan diri sebagai warga.

“Kalau ada isu dari Pemkot, kami ambil sudut pandangnya sebagai warga. Misalnya mau bikin underpass, warga mikirnya apa? Macetnya gimana? Solusinya apa? Jadi bukan cuma rilis pemerintah,” katanya.

Isu jalan berlubang, kabel semrawut, sampah menumpuk, hingga proyek pembangunan menjadi konten rutin. Justru persoalan yang luput dari media besar sering kali menjadi perhatian pengikut mereka.

“Kita peras isu itu sampai mentok. Jalan bolong ya kita angkat terus. Kabel semrawut ya kita bahas terus, selama itu memang keresahan warga.”

Untuk memperkaya perspektif, mereka kerap menghubungi aktivis atau narasumber terkait, seperti saat membahas alih fungsi lahan di Bandung Utara. Namun tanpa ID pers resmi, akses ke lembaga formal tidak selalu mudah.

“Kalau mau wawancara ke polisi atau lembaga resmi memang susah. Kita kan enggak punya ID pers. Jadi ya pintar-pintarnya cari sudut lain.”

Baca Juga: Pagi Mengurus Ternak, Siang Mengurus Viewers, Cerita Homeless Media @infolembang_update

Menghindari Sensasi, Menjaga Batas

Sebagai media berbasis Instagram dan TikTok, Hey Bandung menetapkan batasan internal dalam produksi konten. Visual kekerasan dan konten sadis dihindari.

“Dari awal kita sudah sepakat, yang sadis-sadis enggak usah. Kronologi boleh, tapi visual kekerasannya enggak. Kita enggak mau main di situ,” ujar Fajar Matasa.

Mereka juga pernah menerima permintaan take down konten. Responsnya cenderung pragmatis.

“Kalau diminta take down ya sudah. Kita enggak ada backing, enggak ada organisasi. Jadi ya santai saja, enggak usah cari ribut.”

Posisi sebagai “warga” dianggap memberi fleksibilitas.

“Kita cuma nyeritain apa adanya. Kalau ternyata ada yang tersinggung dan memang harus dihapus, ya kita hapus. Sesederhana itu.”

Baca Juga: Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

Melatih Algoritma, Bukan Sekadar Mengikuti

Sejak awal peluncuran, Hey Bandung menerapkan strategi agresif untuk membangun distribusi konten. Pada masa awal, mereka bisa mengunggah hampir 20 konten per hari.

“Awal-awal kita geber. Setengah jam sekali posting. Tujuannya buat ngelatih algoritma supaya Instagram baca kita sebagai media,” ujar Fajar Matasa.

Kini mereka menetapkan ritme yang lebih terukur: pukul 08.00, 10.00, 12.00, 14.00, 18.00, hingga malam hari, dengan maksimal tujuh konten per hari—minimal empat video dan tiga karusel.

“Kita konsisten jamnya. Algoritma sekarang enggak bisa ditebak, jadi yang bisa kita kontrol ya konsistensi,” tambah Fajar Asmara.

Dalam proses produksi, mereka juga memanfaatkan kecerdasan buatan untuk merangkum informasi. Namun, gaya bahasa tetap disesuaikan secara manual.

“AI bantu rangkum, tapi tone tetap kita yang jaga. Enggak bisa dilepas begitu saja,” ujar Firman Hendika.

Baca Juga: Modal Kolaborasi dan Relasi, Cerita SeputarSoettaBdg Bertahan di Tengah Riuhnya Media di Bandung

Model Bisnis dan Uji Coba Klien

Meski jumlah pengikut Instagram dan TikTok Hey Bandung telah mencapai puluhan ribu, mereka mengakui belum sepenuhnya bertahan dari iklan.

“Kalau murni dari iklan masih belum. Situasi ekonomi juga lagi berat, pemerintah banyak pembatasan anggaran,” ujarnya.

Sumber pemasukan datang dari kerja sama brand, program afiliasi, serta promosi UMKM. Model berbagi hasil dengan klien awal juga masih berjalan sebagai bentuk uji coba.

“Klien kami memang lagi uji coba. Mereka pengin tahu sekuat apa homeless media sekarang, karena faktanya banyak orang lebih percaya ke akun kayak gini dibanding media besar,” terang Firman Hendika.

Ke depan, mereka melihat homeless media sebagai alternatif ruang promosi yang lebih terjangkau bagi pelaku UMKM.

“Kalau ada makanan baru di Bandung, orang Bandung langsung tahu. Dampaknya bisa lebih langsung dibanding selebgram yang mahal,” kata Fajar Asmara.

Baca Juga: Saat Homeless Media jadi Rujukan Warga, Cerita di Balik Admin Akun Instagram info.sekeloa

Menguji Cara Hidup dari Media

Tim Hey Bandung mengaku pernah membangun media komunitas sebelumnya, namun tantangan terbesarnya adalah keberlanjutan finansial.

“Berat banget. Lima tahun kita coba di media komunitas. Susah hidup dari situ. Makanya sekarang kita cari cara gimana media bisa hidup sendiri,” kata Fajar Asmara.

Bagi mereka, Hey Bandung bukan sekadar akun informasi, melainkan sebuah eksperimen untuk melihat apakah media tanpa rumah redaksi bisa tetap profesional, konsisten, dan berkelanjutan.

“Harapannya sederhana. Semoga dengan adanya Hey Bandung dan Hey Cimahi bisa kasih dampak buat kota. Kalau dinas sudah mulai notice, berarti kita enggak sia-sia,” ujar Fajar.

Di tengah perubahan lanskap media digital, Hey Bandung menunjukkan bagaimana homeless media berkembang dari sekadar akun repost menjadi entitas yang terstruktur, strategis, dan adaptif terhadap dinamika algoritma.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Bandung 13 Jun 2026, 19:45

Gaya Hidup Serba Cepat, Begini Cara Wanita Modern Pilih Tas Multifungsi yang Sesuai Jati Diri

Wanita urban masa kini cenderung mencari keseimbangan antara fungsionalitas yang tinggi dan pesan personal yang ingin mereka sampaikan kepada dunia melalui penampilan mereka.

Tren terbesar yang mendominasi panggung mode sehari-hari saat ini adalah tingginya permintaan terhadap tas yang bersifat multifungsi atau versatile. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 19:34

Dari Tjilakiplein ke Taman Lansia Kota Bandung

Perkembangan Taman Lansia dari masa Kolonial Belanda hingga masa kini yang menjadi taman ramah bagi lanjut usia yang inklusif.

Warga saat berada di Taman Lansia, Kota Bandung, Jumat 30 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 18:11

CRISPR-Cas9: Teknologi Penghasil Beras Unggul yang Dikembangkan Peneliti di China

Bisakah padi lokal yang berbulir kecil “diubah” menjadi bulir panjang? Pertanyaan ini mungkin terlihat seperti fiksi ilmiah.

Ilustrasi beras bulir panjang bersih dan minim zat kapur. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 17:17

Urgensi Drone untuk Mitigasi dan Penanggulangan Gempa

Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama dengan industri drone yang sudah memiliki sertifikasi atau mendapatkan pengesahan Design Organization Approval (DOA).

Ilustrasi drone untuk menanggulangi bencana gempa bumi. (Sumber: Meta AI | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 12 Jun 2026, 16:46

Itinerary Wisata Bandung 1–2 Hari, Jelajah Kota Kembang dalam Dua Zona yang Berbeda

Panduan itinerary Bandung 1–2 hari dengan rute wisata pusat kota dan Lembang. Cocok untuk liburan singkat tanpa menghabiskan banyak waktu di jalan.

Suasana Bandung dari ketinggian. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 16:16

Banjir Bandung: Bencana Kebijakan, Bukan Bencana Alam

Banjir tahunan di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang sudah bukan kejutan lagi, banjir datang setiap musim hujan, dan merendam puluhan ribu jiwa.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 15:32

Bojongmalaka, Tanjung yang Ditumbuhi Pohon Malaka

Pohon malaka itu batangnya bengkok-bengkok, tingginya antara 10 m sampai 19m.

Pohon malaka yang sedang berbuah lebat di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. (Foto: Ganjar Wigun)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 14:47

Disabilitas Antara Kemanusiaan dan Egaliter

Kaum disabilitas acapkali hanya dijadikan jargon politik, bahwa manusia adalah setara.

Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:21

Mandi Kembang sebagai Cara Perempuan Masa Kini Mengapresiasi Tubuh

Tren amandazahraism sebagai sarana pelestarian budaya, menjadikan mandi bunga yang dulunya dianggap mistis dan kolot sebagai bentuk self-care.

Ilustrasi mandi kembang. (Sumber: "Spa in DVN" by Dennis Wong)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:09

Mengenal Dunia Pelayanan Sosial Melalui Magang Berdampak

Mahasiswa Pendidikan Masyarakat UPI melaksanakan Program Magang Mandiri Berdampak di Dinas Sosial Kota Bandung.

Kegiatan Penjemputan Mahasiswa Magang oleh Pihak Kampus & Pihak Mitra.
Ikon 12 Jun 2026, 10:50

Ubertos Mall di Timur Kota Bandung yang Mengalami Pasang Surut

Perjalanan Ubertos dari era BTP, sempat bangkit usai rebranding lalu kembali menghadapi penurunan.

Ubertos Mall. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 10:19

Ketika Makan Sehat Menjadi Kemewahan

Meski “Isi Piringku” menjadi pedoman gizi seimbang, penerapannya masih terhambat oleh keterbatasan ekonomi, rendahnya literasi gizi, dan akses pangan sehat yang belum merata.

 (Sumber: Ayo Sehat - Kemenkes)
Beranda 12 Jun 2026, 09:55

Potret Gejolak Ekonomi, Nestapa Ojol hingga Perajin Tahu Tempe di Bandung

Potret gejolak ekonomi di Bandung, dari ojol yang terbebani kenaikan harga BBM hingga perajin tahu tempe yang terjepit mahalnya kedelai impor akibat pelemahan rupiah.

Kenaikan harga kedelai impor membuat keuntungan perajin tahu dan tempe terus menyusut. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:42

Sejarah SS1 Sebagai Senapan Utama Tni dan Simbol Nation Building

Melihat sejarah adopsi senapan utama TNI yang digunakan hingga sekarang.

SS1-V2 (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:00

Kecemasan Mahasiswa Perantau, Kenaikan BBM Memicu Efek Domino

Kenaikan harga BBM di Cirebon memicu kecemasan di kalangan mahasiswa,terutama yang merantau.

Illustrasi. (Sumber AI)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 08:37

Mengulik Sejarah Benteng Vastenburg dan Perkembangannya Menjadi Tempat Rekreasi

Benteng Vastenburg dahulu hampir menjadi benteng yang terbengkalai.

 (Sumber: sinar.big.go.id)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 20:52

Moro Langlayangan

Layangan yang tersangkut di atap jemuran rumah sore itu. Bila bagi seorang anak, hanyalah galabag yang berhasil didapatkan.

Anak-anak bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 11 Jun 2026, 20:34

Edukasi Tata Kelola Kopi, Bekali Kopi Dampingi Petani di Lembang Tanpa Beli Lahan

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka.

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)