Hey Bandung: Menguji Kekuatan dan Dampak Homeless Media dari Sudut Pandang Warga

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Pengelola Hey Bandung Fajar Asmara, Fajar Matasa, dan Firman Hendika. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Pengelola Hey Bandung Fajar Asmara, Fajar Matasa, dan Firman Hendika. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID – Di tengah derasnya informasi soal Kota Bandung dan sekitarnya yang bergerak cepat setiap detik, Hey Bandung memilih berdiri di jalur berbeda. Mereka bukan media arus utama dengan ID pers dan ruang redaksi resmi, tetapi juga bukan sekadar akun komunitas tingkat kelurahan. Mereka menyebut diri sebagai homeless media — bergerak tanpa keredaksian, namun tetap terstruktur.

Hey Bandung mulai berjalan sejak Agustus 2025. Di balik operasionalnya ada tiga orang yang menggerakkan produksi konten: Fajar Asmara (33) sebagai Head News, Fajar Matasa (31) editor, dan Firman Hendika (28) editor. Dalam tim kecil ini, mereka mengatur ritme produksi, melakukan verifikasi informasi, hingga membaca pola algoritma media sosial.

Ketiganya merupakan mantan pekerja agensi di Jakarta yang memutuskan kembali ke Bandung. Tantangan awalnya datang dari seorang klien yang mempertanyakan apakah homeless media bisa dikelola secara serius dan memberikan dampak nyata.

“Awalnya kami memang orang agensi. Terus ada klien yang nanya, bisa enggak sih ngejalanin homeless media tapi dikelola serius?” ujar Fajar.

Dari percobaan itu, lahirlah jaringan Hey yang tak hanya mencakup Bandung, tetapi juga Cimahi, Jogja, dan Semarang. Sementara kota lain seperti Jakarta, Depok, Malang, hingga Surabaya dikelola oleh tim berbeda. Meski belum memiliki badan hukum pers resmi, pola kerja mereka tetap dibangun dengan sistem yang rapi.

Sudut Pandang Warga sebagai Fondasi

Berbeda dari media arus utama yang mengandalkan struktur peliputan formal, Hey Bandung mengolah informasi dari berbagai sumber, lalu memosisikan diri sebagai warga.

“Kalau ada isu dari Pemkot, kami ambil sudut pandangnya sebagai warga. Misalnya mau bikin underpass, warga mikirnya apa? Macetnya gimana? Solusinya apa? Jadi bukan cuma rilis pemerintah,” katanya.

Isu jalan berlubang, kabel semrawut, sampah menumpuk, hingga proyek pembangunan menjadi konten rutin. Justru persoalan yang luput dari media besar sering kali menjadi perhatian pengikut mereka.

“Kita peras isu itu sampai mentok. Jalan bolong ya kita angkat terus. Kabel semrawut ya kita bahas terus, selama itu memang keresahan warga.”

Untuk memperkaya perspektif, mereka kerap menghubungi aktivis atau narasumber terkait, seperti saat membahas alih fungsi lahan di Bandung Utara. Namun tanpa ID pers resmi, akses ke lembaga formal tidak selalu mudah.

“Kalau mau wawancara ke polisi atau lembaga resmi memang susah. Kita kan enggak punya ID pers. Jadi ya pintar-pintarnya cari sudut lain.”

Baca Juga: Pagi Mengurus Ternak, Siang Mengurus Viewers, Cerita Homeless Media @infolembang_update

Menghindari Sensasi, Menjaga Batas

Sebagai media berbasis Instagram dan TikTok, Hey Bandung menetapkan batasan internal dalam produksi konten. Visual kekerasan dan konten sadis dihindari.

“Dari awal kita sudah sepakat, yang sadis-sadis enggak usah. Kronologi boleh, tapi visual kekerasannya enggak. Kita enggak mau main di situ,” ujar Fajar Matasa.

Mereka juga pernah menerima permintaan take down konten. Responsnya cenderung pragmatis.

“Kalau diminta take down ya sudah. Kita enggak ada backing, enggak ada organisasi. Jadi ya santai saja, enggak usah cari ribut.”

Posisi sebagai “warga” dianggap memberi fleksibilitas.

“Kita cuma nyeritain apa adanya. Kalau ternyata ada yang tersinggung dan memang harus dihapus, ya kita hapus. Sesederhana itu.”

Baca Juga: Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

Melatih Algoritma, Bukan Sekadar Mengikuti

Sejak awal peluncuran, Hey Bandung menerapkan strategi agresif untuk membangun distribusi konten. Pada masa awal, mereka bisa mengunggah hampir 20 konten per hari.

“Awal-awal kita geber. Setengah jam sekali posting. Tujuannya buat ngelatih algoritma supaya Instagram baca kita sebagai media,” ujar Fajar Matasa.

Kini mereka menetapkan ritme yang lebih terukur: pukul 08.00, 10.00, 12.00, 14.00, 18.00, hingga malam hari, dengan maksimal tujuh konten per hari—minimal empat video dan tiga karusel.

“Kita konsisten jamnya. Algoritma sekarang enggak bisa ditebak, jadi yang bisa kita kontrol ya konsistensi,” tambah Fajar Asmara.

Dalam proses produksi, mereka juga memanfaatkan kecerdasan buatan untuk merangkum informasi. Namun, gaya bahasa tetap disesuaikan secara manual.

“AI bantu rangkum, tapi tone tetap kita yang jaga. Enggak bisa dilepas begitu saja,” ujar Firman Hendika.

Baca Juga: Modal Kolaborasi dan Relasi, Cerita SeputarSoettaBdg Bertahan di Tengah Riuhnya Media di Bandung

Model Bisnis dan Uji Coba Klien

Meski jumlah pengikut Instagram dan TikTok Hey Bandung telah mencapai puluhan ribu, mereka mengakui belum sepenuhnya bertahan dari iklan.

“Kalau murni dari iklan masih belum. Situasi ekonomi juga lagi berat, pemerintah banyak pembatasan anggaran,” ujarnya.

Sumber pemasukan datang dari kerja sama brand, program afiliasi, serta promosi UMKM. Model berbagi hasil dengan klien awal juga masih berjalan sebagai bentuk uji coba.

“Klien kami memang lagi uji coba. Mereka pengin tahu sekuat apa homeless media sekarang, karena faktanya banyak orang lebih percaya ke akun kayak gini dibanding media besar,” terang Firman Hendika.

Ke depan, mereka melihat homeless media sebagai alternatif ruang promosi yang lebih terjangkau bagi pelaku UMKM.

“Kalau ada makanan baru di Bandung, orang Bandung langsung tahu. Dampaknya bisa lebih langsung dibanding selebgram yang mahal,” kata Fajar Asmara.

Baca Juga: Saat Homeless Media jadi Rujukan Warga, Cerita di Balik Admin Akun Instagram info.sekeloa

Menguji Cara Hidup dari Media

Tim Hey Bandung mengaku pernah membangun media komunitas sebelumnya, namun tantangan terbesarnya adalah keberlanjutan finansial.

“Berat banget. Lima tahun kita coba di media komunitas. Susah hidup dari situ. Makanya sekarang kita cari cara gimana media bisa hidup sendiri,” kata Fajar Asmara.

Bagi mereka, Hey Bandung bukan sekadar akun informasi, melainkan sebuah eksperimen untuk melihat apakah media tanpa rumah redaksi bisa tetap profesional, konsisten, dan berkelanjutan.

“Harapannya sederhana. Semoga dengan adanya Hey Bandung dan Hey Cimahi bisa kasih dampak buat kota. Kalau dinas sudah mulai notice, berarti kita enggak sia-sia,” ujar Fajar.

Di tengah perubahan lanskap media digital, Hey Bandung menunjukkan bagaimana homeless media berkembang dari sekadar akun repost menjadi entitas yang terstruktur, strategis, dan adaptif terhadap dinamika algoritma.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)