Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan Senin 12 Jan 2026, 13:28 WIB
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Kini hampir semua organisasi mulai dari komunitas, perusahaan, hingga institusi pemerintah dipandu oleh mesin algoritma. Semua berlomba menciptakan data, mengejar atensi, dan menghadirkan momentum. Ada asumsi yang diam-diam dipercaya yaitu jika tidak ikut bermain, maka akan terseret menjadi pasar, bahkan sekadar objek dari mesin algoritma itu sendiri.

Namun di balik kompetisi tersebut, ketergantungan pada layanan cloud asing justru semakin besar. Ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan keputusan berisiko bagi masa depan. Potensi kebocoran data, raibnya saldo tabungan, hingga arus opini menyesatkan menjadi ancaman nyata ketika algoritma berada di tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.

Laporan UNCTAD Digital Economy Report 2024 mencatat sekitar 70 persen data dunia dikuasai oleh empat perusahaan raksasa: Google, Amazon, Meta, dan Microsoft. Dominasi ini tidak lagi semata urusan bisnis global, tetapi menjadi persoalan kedaulatan dan tata kelola birokrasi pemerintah.

Di tengah situasi tersebut, kebijakan publik justru sering lahir dari tekanan politik, persepsi sesaat, atau peristiwa viral. Perhatian menguat belakangan, itulah yang biasa disebut kebijakan reaktif. Kebijakan semacam ini cenderung datang terlambat dan keliru membaca akar persoalan.

Fenomena bencana besar di sejumlah wilayah Sumatera dan Aceh, korban jiwa di kawasan wisata, atau saat kasus keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Semuanya menjadi atensi nasional ketika mencuat ke ruang publik, dan ketika kerugian sosial tak lagi bisa diabaikan

Kita bisa melihat polanya berulang. Ketika bangunan sekolah atau pesantren ambruk dan ramai di media sosial, respons pemerintah baru menguat setelah isu meluas. Ketika ada kasus penolakan pasien miskin yang menyentuh emosi publik, seruan audit rumah sakit baru terdengar meningkat. Fenomena-fenomena ini menjadi tanda bahwa dashboard implementasi kebijakan belum bekerja optimal.

Padahal, secara teoritis, kebijakan yang berkualitas lahir dari siklus yang utuh: analisis, formulasi, implementasi, dan evaluasi. Masalahnya, memahami siklus kebijakan saja tidak cukup jika pengambilan keputusan masih dikuasai oleh emosi kolektif dan tekanan popularitas.

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)

Dalam konteks inilah literasi numerasi menjadi kemampuan fundamental. Literasi numerasi harus berpadu dengan kesadaran kritis untuk membaca harapan, melihat peluang, hingga menetralisir hoaks. Tanpa kemampuan membaca angka di balik peristiwa sosial, kebijakan rawan tidak efisien dan mudah salah sasaran. Seperti dicatat Pickering (2025), lemahnya analisis numerik membuat kebijakan lebih sibuk merespons gejala, bukan mencegah risiko.

Di sisi lain, masyarakat yang tidak bersahabat dengan literasi numerasi akan sulit membedakan mana data dan klaim politik. Akibatnya, publik apalagi generasi muda yang akrab dengan gawai menjadi rentan terpapar misinformasi dan narasi menyesatkan.

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) memperparah keadaan. Rasa takut ketinggalan tren, momentum, atau informasi membuat banyak orang termasuk generasi milenial, terus memburu data tanpa sempat mengolah maknanya. Informasi dikonsumsi cepat, dibagikan lebih cepat, tetapi jarang dipahami secara utuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengikis ketahanan negara.

Catatan Lemhannas menunjukkan Indeks Ketahanan Nasional Indonesia tahun 2024 berada di angka 2,87 dengan kategori “cukup tangguh”. Namun dari delapan aspek yang diukur, dimensi sosial dan budaya justru berada pada kategori “kurang tangguh”. Ini menandakan literasi publik, kekompakan sosial, dan ketahanan budaya masih menjadi pekerjaan rumah.

Berkaca pada peristiwa demonstrasi Agustus 2025  berbagai angka bermunculan. Tanggal kejadian, pihak yang terlibat, keterlibatan pelajar, jumlah korban, nilai kerugian, hingga dampak fiskal. Selanjutnya, ruang digital juga lagi ramai dengan kabar generasi muda yang terpapar perilaku ekstrem melalui media sosial, game online, dan lingkungan virtual.

Lemahnya literasi numerasi, membuat publik mudah terseret arus opini tanpa sempat memeriksa pola, sumber, dan tujuan informasi.

Dalam konteks Kota Bandung, kemampuan membaca data secara jernih, baik di tingkat birokrasi maupun masyarakat sangat penting. Dengan pemahaman ini, narasi yang muncul di ruang publik tidak hanya sekadar kompetitif, tetapi juga wujud kepedulian warga terhadap pembangunan kota. Cara warga menyaring dan membagikan informasi di dunia digital adalah cermin keramahan warga Bandung yang kritis, tapi tetap santun dan juga humoris.

Pada akhirnya, teknologi, media sosial, kecerdasan buatan, hingga dashboard kebijakan hanyalah alat bantu. Di balik setiap angka ada kebijakan, dan di balik setiap kebijakan ada manusia yang terdampak. Jika gagal membaca angka dengan akal sehat dan empati, maka kita hanya akan menjadi penonton dalam hiruk-pikuk digital yang kita ciptakan sendiri. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Bayu Hikmat Purwana
Analis Kebijakan dengan bidang kepakaran pengembangan kapasitas ASN di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Talenta ASN Nasional LAN RI

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)