Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

3 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan Senin 12 Jan 2026, 13:28 WIB
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Kini hampir semua organisasi mulai dari komunitas, perusahaan, hingga institusi pemerintah dipandu oleh mesin algoritma. Semua berlomba menciptakan data, mengejar atensi, dan menghadirkan momentum. Ada asumsi yang diam-diam dipercaya yaitu jika tidak ikut bermain, maka akan terseret menjadi pasar, bahkan sekadar objek dari mesin algoritma itu sendiri.

Namun di balik kompetisi tersebut, ketergantungan pada layanan cloud asing justru semakin besar. Ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan keputusan berisiko bagi masa depan. Potensi kebocoran data, raibnya saldo tabungan, hingga arus opini menyesatkan menjadi ancaman nyata ketika algoritma berada di tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.

Laporan UNCTAD Digital Economy Report 2024 mencatat sekitar 70 persen data dunia dikuasai oleh empat perusahaan raksasa: Google, Amazon, Meta, dan Microsoft. Dominasi ini tidak lagi semata urusan bisnis global, tetapi menjadi persoalan kedaulatan dan tata kelola birokrasi pemerintah.

Di tengah situasi tersebut, kebijakan publik justru sering lahir dari tekanan politik, persepsi sesaat, atau peristiwa viral. Perhatian menguat belakangan, itulah yang biasa disebut kebijakan reaktif. Kebijakan semacam ini cenderung datang terlambat dan keliru membaca akar persoalan.

Fenomena bencana besar di sejumlah wilayah Sumatera dan Aceh, korban jiwa di kawasan wisata, atau saat kasus keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Semuanya menjadi atensi nasional ketika mencuat ke ruang publik, dan ketika kerugian sosial tak lagi bisa diabaikan

Kita bisa melihat polanya berulang. Ketika bangunan sekolah atau pesantren ambruk dan ramai di media sosial, respons pemerintah baru menguat setelah isu meluas. Ketika ada kasus penolakan pasien miskin yang menyentuh emosi publik, seruan audit rumah sakit baru terdengar meningkat. Fenomena-fenomena ini menjadi tanda bahwa dashboard implementasi kebijakan belum bekerja optimal.

Padahal, secara teoritis, kebijakan yang berkualitas lahir dari siklus yang utuh: analisis, formulasi, implementasi, dan evaluasi. Masalahnya, memahami siklus kebijakan saja tidak cukup jika pengambilan keputusan masih dikuasai oleh emosi kolektif dan tekanan popularitas.

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)

Dalam konteks inilah literasi numerasi menjadi kemampuan fundamental. Literasi numerasi harus berpadu dengan kesadaran kritis untuk membaca harapan, melihat peluang, hingga menetralisir hoaks. Tanpa kemampuan membaca angka di balik peristiwa sosial, kebijakan rawan tidak efisien dan mudah salah sasaran. Seperti dicatat Pickering (2025), lemahnya analisis numerik membuat kebijakan lebih sibuk merespons gejala, bukan mencegah risiko.

Di sisi lain, masyarakat yang tidak bersahabat dengan literasi numerasi akan sulit membedakan mana data dan klaim politik. Akibatnya, publik apalagi generasi muda yang akrab dengan gawai menjadi rentan terpapar misinformasi dan narasi menyesatkan.

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) memperparah keadaan. Rasa takut ketinggalan tren, momentum, atau informasi membuat banyak orang termasuk generasi milenial, terus memburu data tanpa sempat mengolah maknanya. Informasi dikonsumsi cepat, dibagikan lebih cepat, tetapi jarang dipahami secara utuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengikis ketahanan negara.

Catatan Lemhannas menunjukkan Indeks Ketahanan Nasional Indonesia tahun 2024 berada di angka 2,87 dengan kategori “cukup tangguh”. Namun dari delapan aspek yang diukur, dimensi sosial dan budaya justru berada pada kategori “kurang tangguh”. Ini menandakan literasi publik, kekompakan sosial, dan ketahanan budaya masih menjadi pekerjaan rumah.

Berkaca pada peristiwa demonstrasi Agustus 2025  berbagai angka bermunculan. Tanggal kejadian, pihak yang terlibat, keterlibatan pelajar, jumlah korban, nilai kerugian, hingga dampak fiskal. Selanjutnya, ruang digital juga lagi ramai dengan kabar generasi muda yang terpapar perilaku ekstrem melalui media sosial, game online, dan lingkungan virtual.

Lemahnya literasi numerasi, membuat publik mudah terseret arus opini tanpa sempat memeriksa pola, sumber, dan tujuan informasi.

Dalam konteks Kota Bandung, kemampuan membaca data secara jernih, baik di tingkat birokrasi maupun masyarakat sangat penting. Dengan pemahaman ini, narasi yang muncul di ruang publik tidak hanya sekadar kompetitif, tetapi juga wujud kepedulian warga terhadap pembangunan kota. Cara warga menyaring dan membagikan informasi di dunia digital adalah cermin keramahan warga Bandung yang kritis, tapi tetap santun dan juga humoris.

Pada akhirnya, teknologi, media sosial, kecerdasan buatan, hingga dashboard kebijakan hanyalah alat bantu. Di balik setiap angka ada kebijakan, dan di balik setiap kebijakan ada manusia yang terdampak. Jika gagal membaca angka dengan akal sehat dan empati, maka kita hanya akan menjadi penonton dalam hiruk-pikuk digital yang kita ciptakan sendiri. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Bayu Hikmat Purwana
Analis Kebijakan dengan bidang kepakaran pengembangan kapasitas ASN di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Talenta ASN Nasional LAN RI

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 13:19

Ibadah Qurban atau Ibadah Udhiyyah? Yuk Kenali Istilah yang benar dalam Islam

Seringkali terdengar ibadah qurban pada momentum Idul Adha, apa arti sebenarnya?

Hewan udhiyyah di Indonesia adalah sapi, kambing, domba, kerbau (Sumber: Pixeabay | Foto: Paskvi)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 12:31

Menolak Lupa: Surat Samantha untuk Perdamaian Dunia

Kisah seorang anak yang memberi pesan bahwa perdamaian dunia adalah hak mutlak setiap umat manusia

Samantha Smith (Sumber: Kennebec Journal)
Beranda 27 Mei 2026, 10:59

Sambut Idul Adha, PLN Nusantara Power Pastikan PLTA Cirata Beroperasi Prima

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Beranda 27 Mei 2026, 10:38

Kalau Tidak Ada Ketupat, Rasanya Bukan Lebaran

Lapak-lapak kecil di Jalan Gurame memperlihatkan satu hal sederhana beberapa tradisi ternyata masih bertahan.

Rio penjual ketupat musiman di Jalan Gurame, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 10:06

Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

Pemusatan terminal ke Leuwipanjang patut diapresiasi karena membawa janji modernisasi.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)