Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

3 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Kini hampir semua organisasi mulai dari komunitas, perusahaan, hingga institusi pemerintah dipandu oleh mesin algoritma. Semua berlomba menciptakan data, mengejar atensi, dan menghadirkan momentum. Ada asumsi yang diam-diam dipercaya yaitu jika tidak ikut bermain, maka akan terseret menjadi pasar, bahkan sekadar objek dari mesin algoritma itu sendiri.

Namun di balik kompetisi tersebut, ketergantungan pada layanan cloud asing justru semakin besar. Ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan keputusan berisiko bagi masa depan. Potensi kebocoran data, raibnya saldo tabungan, hingga arus opini menyesatkan menjadi ancaman nyata ketika algoritma berada di tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.

Laporan UNCTAD Digital Economy Report 2024 mencatat sekitar 70 persen data dunia dikuasai oleh empat perusahaan raksasa: Google, Amazon, Meta, dan Microsoft. Dominasi ini tidak lagi semata urusan bisnis global, tetapi menjadi persoalan kedaulatan dan tata kelola birokrasi pemerintah.

Di tengah situasi tersebut, kebijakan publik justru sering lahir dari tekanan politik, persepsi sesaat, atau peristiwa viral. Perhatian menguat belakangan, itulah yang biasa disebut kebijakan reaktif. Kebijakan semacam ini cenderung datang terlambat dan keliru membaca akar persoalan.

Fenomena bencana besar di sejumlah wilayah Sumatera dan Aceh, korban jiwa di kawasan wisata, atau saat kasus keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Semuanya menjadi atensi nasional ketika mencuat ke ruang publik, dan ketika kerugian sosial tak lagi bisa diabaikan

Kita bisa melihat polanya berulang. Ketika bangunan sekolah atau pesantren ambruk dan ramai di media sosial, respons pemerintah baru menguat setelah isu meluas. Ketika ada kasus penolakan pasien miskin yang menyentuh emosi publik, seruan audit rumah sakit baru terdengar meningkat. Fenomena-fenomena ini menjadi tanda bahwa dashboard implementasi kebijakan belum bekerja optimal.

Padahal, secara teoritis, kebijakan yang berkualitas lahir dari siklus yang utuh: analisis, formulasi, implementasi, dan evaluasi. Masalahnya, memahami siklus kebijakan saja tidak cukup jika pengambilan keputusan masih dikuasai oleh emosi kolektif dan tekanan popularitas.

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)

Dalam konteks inilah literasi numerasi menjadi kemampuan fundamental. Literasi numerasi harus berpadu dengan kesadaran kritis untuk membaca harapan, melihat peluang, hingga menetralisir hoaks. Tanpa kemampuan membaca angka di balik peristiwa sosial, kebijakan rawan tidak efisien dan mudah salah sasaran. Seperti dicatat Pickering (2025), lemahnya analisis numerik membuat kebijakan lebih sibuk merespons gejala, bukan mencegah risiko.

Di sisi lain, masyarakat yang tidak bersahabat dengan literasi numerasi akan sulit membedakan mana data dan klaim politik. Akibatnya, publik apalagi generasi muda yang akrab dengan gawai menjadi rentan terpapar misinformasi dan narasi menyesatkan.

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) memperparah keadaan. Rasa takut ketinggalan tren, momentum, atau informasi membuat banyak orang termasuk generasi milenial, terus memburu data tanpa sempat mengolah maknanya. Informasi dikonsumsi cepat, dibagikan lebih cepat, tetapi jarang dipahami secara utuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengikis ketahanan negara.

Catatan Lemhannas menunjukkan Indeks Ketahanan Nasional Indonesia tahun 2024 berada di angka 2,87 dengan kategori “cukup tangguh”. Namun dari delapan aspek yang diukur, dimensi sosial dan budaya justru berada pada kategori “kurang tangguh”. Ini menandakan literasi publik, kekompakan sosial, dan ketahanan budaya masih menjadi pekerjaan rumah.

Berkaca pada peristiwa demonstrasi Agustus 2025  berbagai angka bermunculan. Tanggal kejadian, pihak yang terlibat, keterlibatan pelajar, jumlah korban, nilai kerugian, hingga dampak fiskal. Selanjutnya, ruang digital juga lagi ramai dengan kabar generasi muda yang terpapar perilaku ekstrem melalui media sosial, game online, dan lingkungan virtual.

Lemahnya literasi numerasi, membuat publik mudah terseret arus opini tanpa sempat memeriksa pola, sumber, dan tujuan informasi.

Dalam konteks Kota Bandung, kemampuan membaca data secara jernih, baik di tingkat birokrasi maupun masyarakat sangat penting. Dengan pemahaman ini, narasi yang muncul di ruang publik tidak hanya sekadar kompetitif, tetapi juga wujud kepedulian warga terhadap pembangunan kota. Cara warga menyaring dan membagikan informasi di dunia digital adalah cermin keramahan warga Bandung yang kritis, tapi tetap santun dan juga humoris.

Pada akhirnya, teknologi, media sosial, kecerdasan buatan, hingga dashboard kebijakan hanyalah alat bantu. Di balik setiap angka ada kebijakan, dan di balik setiap kebijakan ada manusia yang terdampak. Jika gagal membaca angka dengan akal sehat dan empati, maka kita hanya akan menjadi penonton dalam hiruk-pikuk digital yang kita ciptakan sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 16:51

Membuka Monitor Oktober 1983: Saat Si Unyil, Gombloh, dan Bintang Idola Menemani Hari-Hari Kita

Majalah Monitor edisi Oktober 1983 mengajak kita pulang sejenak ke masa ketika hiburan tak datang setiap saat dalam genggaman, tetapi justru dinanti dengan penuh antusias.

Majalah Monitor edisi Oktober 1983, majalah hiburan dan keluarga dengan sampul mojang Bandung, Reita Soebita. (Foto: Kin Sanubary)