AYOBANDUNG.ID -- Menjelang pergantian tahun, Jawa Barat kembali bersiap menjadi panggung besar bagi jutaan wisatawan. Dari Bandung hingga Pangandaran, geliat pariwisata akhir tahun selalu menjadi momentum penting yang menggerakkan ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
Akhir tahun 2025 menghadirkan optimisme baru. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang tercatat lebih tinggi dari rata-rata nasional memberi dorongan bagi sektor pariwisata untuk tampil lebih percaya diri. Data ini menjadi modal penting dalam menghadapi lonjakan wisatawan di libur panjang akhir tahun.
Sekretaris Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Jawa Barat, Koko Koswara, menegaskan bahwa tren perayaan tahun baru selalu menghadirkan pola konsumsi yang beragam. Ada yang memilih perjalanan ke luar negeri, ada pula yang cukup dengan pesta sederhana di rumah. Semua bentuk perayaan itu, pada hakikatnya, tetap berkontribusi pada pergerakan ekonomi.
Menurut Koko, masyarakat dengan kemampuan finansial tinggi cenderung memilih perjalanan ke luar negeri untuk mencari tantangan baru. Bagi kelas menengah, paket liburan di hotel atau destinasi lokal menjadi pilihan favorit. Industri perhotelan dan restoran pun memanfaatkan momentum ini dengan menawarkan promo akhir tahun, gala dinner, hingga pesta kembang api. Strategi ini terbukti efektif menarik wisatawan domestik.
“Sama lah yang namanya merayakan tahun baru. Kadang-kadang kita merayakan euphoria, kebahagiaan. Nah kebahagiaan itu banyak caranya,” ujarnya saat berbincang dengan Ayobandung.
Sementara itu, masyarakat dengan anggaran terbatas tetap bisa menikmati suasana pergantian tahun melalui aktivitas sederhana. Tradisi bakar jagung atau botram bersama keluarga di alam terbuka menjadi bentuk wisata murah meriah yang tetap menghidupkan semangat kebersamaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pariwisata tidak selalu identik dengan kemewahan. Aktivitas sederhana seperti makan bersama di luar rumah atau botram di alam terbuka juga termasuk bagian dari pariwisata.
“Wisata itu kebutuhan. Bahkan pariwisata yang paling sederhana pun seperti makan di luar rumah, itu sudah termasuk pariwisata,” jelas Koko.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat optimisme pelaku industri. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional, menjadi sinyal positif bagi sektor pariwisata.
Kota Bandung pun masih menjadi magnet utama. Dengan kombinasi wisata kuliner, belanja, dan alam, Bandung selalu ramai dikunjungi. Namun, tren terbaru menunjukkan destinasi lain seperti Garut, Cirebon, dan Sukabumi mulai mencuri perhatian berkat promosi digital dan penguatan daya tarik lokal.
“Yang pasti naik, tahun baru itu semua destinasi wisata naik. Setiap tahun baru itu, tidak hanya Kota Bandung, kota-kota bahkan yang memang selama ini laju pertemuan pariwisatanya stagnan atau turun juga pada setiap tahun baru itu naik. ,” ungkapnya.
Namun Koko mengakui, tantangan terbesar bagi Jawa Barat adalah pemerataan destinasi. Tidak semua daerah memiliki fasilitas memadai atau daya tarik wisata yang kuat. Pemerintah daerah bersama pelaku industri pun dituntut untuk memperkuat infrastruktur dan memperluas akses agar wisatawan tidak hanya menumpuk di kota besar.
Koko menyampaikan, infrastruktur menjadi faktor penentu. Meski pembangunan jalan tol dan akses transportasi sudah membantu mempercepat perjalanan, masih ada daerah yang kesulitan menarik wisatawan karena keterbatasan fasilitas. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan pelaku industri untuk memperkuat daya saing destinasi.
“Cuma naiknya tergantung destinasi wisata yang banyak atau tidaknya. Kalau banyak, contoh Bandung kan potensial, Jakarta potensial, Bali apalagi,” kata Koko.
Kendati demikian, Koko menjelaskan, wisata berbasis budaya dan komunitas menjadi peluang besar. Festival seni Sunda, kuliner tradisional, hingga wisata edukasi berbasis kearifan lokal semakin diminati. Tren ini menunjukkan bahwa wisatawan kini mencari pengalaman autentik, bukan sekadar hiburan instan.
Namun, lonjakan wisatawan di akhir tahun juga membawa konsekuensi lingkungan. Masalah sampah dan kerusakan ekosistem menjadi isu serius yang harus diantisipasi. Kesadaran wisata berkelanjutan perlu terus digalakkan agar potensi alam Jawa Barat tetap terjaga.
Digitalisasi pariwisata turut memainkan peran penting. Promosi melalui media sosial, platform reservasi online, dan kampanye kreatif membuat destinasi baru lebih mudah dikenal. Hal ini membuka peluang bagi daerah yang sebelumnya kurang terekspos untuk tampil di panggung nasional.
UMKM lokal juga merasakan dampak positif. Dari pedagang kaki lima hingga pengrajin, momentum akhir tahun memberi peluang besar untuk meningkatkan penjualan. Aktivitas sederhana seperti makan di luar rumah atau membeli produk lokal tetap menggerakkan roda ekonomi.
Menariknya, Koko menyebutkan, pergerakan ekonomi tidak selalu bergantung pada aktivitas wisata di luar rumah. Konsumsi domestik seperti pembayaran listrik atau belanja kebutuhan rumah tangga juga meningkat, menunjukkan bahwa pergantian tahun memiliki efek luas terhadap ekonomi masyarakat.
“Itu kan ekonomi tetap bergerak. Apakah akan ada pergerakan? Ada walaupun tidak keluar rumah, yaitu bayar listrik naik. Jadi gak hanya sebatas pengeluaran atau okupansi hotel,” ujarnya.
Dengan segala potensi dan tantangan, Koko menilai, Jawa Barat memiliki peluang besar untuk menjadikan momentum akhir tahun sebagai ajang regenerasi pariwisata. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, komunitas lokal, dan wisatawan menjadi kunci keberhasilan.
"Harapan besarnya terletak pada kemampuan Jawa Barat untuk menjaga keseimbangan antara euforia perayaan, keberlanjutan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Jika semua pihak mampu bersinergi, maka pariwisata Jabar akan semakin kokoh,” ujarnya.
Alternatif produk wisata alam atau kebutuhan serupa:
