Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ditulis oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil diterbitkan Senin 12 Jan 2026, 18:27 WIB
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)

Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)

AYOBANDUNG.ID -- Gen Z bergaji UMR menghadapi paradoks besar. Di satu sisi mereka mendambakan rumah pertama sebagai simbol stabilitas, di sisi lain realitas harga properti yang terus naik dan daya beli yang terbatas membuat mimpi itu terasa menjauh.

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. Data IDN Research Institute melalui Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025 menunjukkan bahwa 39 persen Milenial dan Gen Z merasa kesulitan menabung untuk down payment (DP) dan biaya terkait pembelian rumah.

Gambaran ini semakin nyata ketika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis Indeks Harga Properti Perumahan 2025, di mana harga rumah nasional tetap tumbuh meski terbatas, dengan indeks naik sekitar 0,84 persen secara tahunan. Pertumbuhan yang terlihat kecil ini justru menegaskan bahwa harga rumah tidak pernah benar-benar turun, melainkan terus merangkak naik, meski daya beli masyarakat melemah.

Di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan melalui Permenaker No. 16 Tahun 2024 menetapkan kenaikan upah minimum 2025 sebesar rata-rata 6,5 persen. Angka ini memang memberi sedikit ruang bagi pekerja muda, namun tetap jauh tertinggal dibandingkan kenaikan harga properti di kota-kota besar.

Riset Inventure Indonesia bahkan mengungkapkan bahwa 65 persen Gen Z pesimis mampu membeli rumah dalam tiga tahun mendatang, dengan 80 persen di antaranya menilai harga rumah sudah terlalu tinggi untuk dijangkau. Pesimisme ini mencerminkan kondisi riil di lapangan di mana gaji UMR yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sementara cicilan rumah membutuhkan komitmen jangka panjang.

Dalam situasi ini, gaya investasi menjadi salah satu jalan keluar yang mulai dilirik Gen Z. Pasalnya, dengan strategi investasi yang tepat, konsistensi menabung, serta dukungan kebijakan pemerintah, peluang itu tetap ada.

Research Analyst Nanovest, Edo Ardiansyah, menekankan pentingnya perencanaan finansial sejak awal. Ia mencontohkan, Gen Z dengan penghasilan Rp 5-6 juta menyisihkan 30 persen gaji setiap bulan adalah langkah realistis. Jika mampu, lebih baik sampai 50 persen, karena target DP rumah biasanya cukup besar.

Edo menyarankan time frame 3–5 tahun untuk mengumpulkan DP, dengan setoran rutin setiap bulan. Instrumen investasi yang dipilih pun harus sesuai profil risiko dan jangka waktu. Dia memberikan contoh alokasi portofolio jangka menengah yakni 50 persen saham, 30 persen emas digital, dan 20 persen crypto bagi yang siap risiko tinggi.

Namun Edo menekankan bahwa kunci keberhasilan bukan hanya pada instrumen, melainkan niat, dana darurat, konsistensi, dan kesesuaian risiko.

ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)

"Dengan disiplin menabung minimal 30 persen dari gaji, dalam 3–5 tahun biasanya cukup untuk mengumpulkan DP rumah pertama, apalagi jika return dari instrumen berjalan optimal," kata Edo.

CEO Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menambahkan optimisme serupa. Menurutnya, mencapai DP rumah pertama sangat mungkin diwujudkan, bahkan dengan gaji UMR, asalkan konsisten menabung dan berinvestasi.

“Earning power kita akan meningkat seiring waktu, sehingga nominal yang terasa berat hari ini bisa menjadi porsi yang lebih ringan di masa depan,” ujarnya.

Dayu mencontohkan, menabung Rp2 juta per bulan mungkin terasa berat sekarang, tapi 2–3 tahun ke depan saat penghasilan meningkat, angka itu akan terasa lebih kecil.

Dia mengakui, dengan harga rumah yang terus meningkat, target kepemilikan rumah pertama memang terlihat sulit, tetapi dengan konsistensi menabung dan berinvestasi, hal ini sangat mungkin diwujudkan.

“Kuncinya adalah mindset yang kuat di awal untuk bisa mencapai impian. Setelah DP terkumpul, langkah berikutnya adalah memilih KPR yang sesuai. Penting selalu memeriksa syarat dan ketentuan agar tidak salah langkah,” pungkasnya.

Potensi Gen Z sebenarnya cukup besar. Mereka melek digital, akrab dengan instrumen investasi modern, dan terbiasa mencari informasi finansial melalui aplikasi. Tantangannya adalah volatilitas pasar, disiplin menabung, serta gap antara kenaikan UMR dan harga rumah.

Data Pinhome Indonesia Residential Market Report 2024 & Outlook 2025 menunjukkan pencarian rumah sederhana tumbuh 149 persen, menandakan minat Gen Z terhadap hunian tetap tinggi. Namun, pesimisme tetap membayangi karena harga rumah di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya terus melampaui laju kenaikan pendapatan.

Kondisi riil di kalangan Gen Z bergaji UMR adalah tarik-menarik antara mimpi dan realitas. Mereka ingin rumah pertama sebagai simbol stabilitas, tetapi harus berhadapan dengan gaya hidup konsumtif, cicilan gadget, dan biaya hidup yang terus naik.

Oleh karenanya, strategi investasi menjadi jalan tengah baik dalam memilih saham untuk pertumbuhan, emas digital untuk stabilitas, dan crypto untuk peluang tinggi. Semua itu membutuhkan disiplin, keberanian mengambil risiko, dan mindset jangka panjang.

Dengan kombinasi kebijakan pemerintah yang menjaga daya beli, serta kesadaran finansial yang semakin matang, Gen Z tetap memiliki peluang untuk mewujudkan rumah pertama mereka.

Alternatif kebutuhan hunian atau produk serupa:

  1. https://s.shopee.co.id/7VA5fbyDHm
  2. https://s.shopee.co.id/7KqfTLbV44
  3. https://s.shopee.co.id/8V2crYrRPq
  4. https://s.shopee.co.id/4LD3twb9jV
  5. https://s.shopee.co.id/4q9KUuqX7m

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Jan 2026, 20:01 WIB

Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai Upaya Memperkuat Sistem Tata Kelola Pemerintahan

RUU Perampasan Aset hadir sebagai instrumen yang dapat menutup celah tindak korupsi.
Ilustrasi kriminalitas. (Sumber: Pexels | Foto: Kindel Media)
Ayo Jelajah 12 Jan 2026, 19:17 WIB

Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Operasi besar polisi kolonial memburu komplotan komunis di Bandung dan Priangan pada 1927 yang membuat kota hidup dalam kecurigaan.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 18:47 WIB

Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

Di balik hiruk-pikuk jalan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi seni.
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 18:27 WIB

Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 16:38 WIB

Saat Angka Pengangguran Masih Tinggi, Keterampilan Jadi Harapan Baru

Salah satu penyebab utama tingginya pengangguran adalah ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar.
Pelatihan perbaikan AC dan handphone Ini ditujukan bagi masyarakat tidak mampu agar mereka memiliki keterampilan praktis yang bisa langsung diaplikasikan. (Sumber: Dok BSI Maslahat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:07 WIB

Es Pisang Ijo Saparua: Perpaduan Sederhana Rasa Luar Biasa

Rekomendasi es viral yang enak di Kota Bandung sambil olahraga pagi menjelang siang.
Foto diambil langsung di Saparua Sport sambil menikmati indahnya pemandangan. (Foto: Rizki Hidayat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:47 WIB

‘Kojo’ Persib Beckham Putra Kembali jadi Pahlawan dan Ulangi Selebrasi ‘Ngahodhod Katirisan’

Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23.
Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:06 WIB

Kang Deddy, Yeuh … KBU dan KBS Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Perizinan tidak boleh dipandang sebagai instrumen pemasukan atau sumber pendapatan daerah semata—sebuah cara “menjual” ruang kepada investor—karena logika ini sangat rentan menyimpang.
Satu sudut Bandung Utara, Bojong Koneng Atas. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 13:28 WIB

Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

Kebutuhan akan algoritma adalah keniscayaan dengan literasi numerasi sebagai fondasinya untuk memaknai angka di balik fenomena sosial
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Beranda 12 Jan 2026, 12:30 WIB

Setelah Sukses di Bandung, ISMN Sambangi Semarang Perkuat Jejaring dengan 50 Media Sosial Lokal

Sebelumnya, sekitar 50 pengelola akun informasi lokal, kreator digital, influencer, dan praktisi media berkumpul dalam ISMN Meet Up Bandung 2025 di Nara Park, Kota Bandung, Selasa, 2 Desember 2025.
Indonesia Social Media Network (ISMN) Meet Up 2026 di Semarang digelar Selasa, 13 Januari 2026.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 11:49 WIB

Premanisme, Irama Sosial Bandung, dan Mengenang ‘Preman Pensiun’

Di luar fiksi, realitas komunitas preman di Bandung memang masih menjadi isu sosial yang diperhatikan pihak berwajib dan masyarakat.
Kang Mus alias Epi Kusnandar. (Sumber: Bion Studio)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 10:36 WIB

Menyingkap Sisi Tersembunyi Bandung di Pameran Selepas Reda

Liputan pameran “Selepas Reda” menyoroti karya seniman muda UPI yang membaca ulang Bandung melalui dialektika alter ego, menghadirkan refleksi tentang kota, identitas, dan realitas sosialnya.
Bandung berdiri di atas harapan, kekacauan, luka-luka kecil, dan pertanyaan yang tidak kunjung selesai. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 09:34 WIB

Berhenti Sejenak karena Jalan Rusak dan Memimpikan Transportasi Publik Lebih Baik

Jalan-jalan yang rusak di berbagai tempat memperparah masalah.
Kemacetan Panjang di jalan Soekarno Hatta (05/12/2025). (Sumber: dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 08:13 WIB

Di Tiap Sudut Kota Bandung, Pungli dan Juru Parkir Liar Jadi Bisnis

Dengan tarif yang tidak masuk akal menghantui sebagian besar warga hingga bantuan yang tidak dibutuhkan kadang terasa mengganggu aktivitas.
Potret juru parkir ilegal yang sedang menjaga lahan minimarket di daerah Pasar Kordon (1/12/2025). (Sumber: dokumentasi pribadi | Foto: Nurmeila Elfreda.)
Beranda 11 Jan 2026, 20:53 WIB

Ketika Seni Menjadi Bahasa Mitigasi: Upaya Sesar Lembang Kalcer Menjinakkan Ketakutan Bencana

Sesar Lembang Kalcer memanfaatkan seni dan aktivasi komunitas sebagai bahasa mitigasi untuk membangun kesadaran bencana tanpa menebar ketakutan di Bandung.
Anak-anak berlarian di atas sorot lampu yang menyapu rumput di Titik Kumpul–Backyard, Bandung, sebagai bagian dari aktivasi seni Sesar Lembang Kalcer dalam menyampaikan literasi mitigasi bencana secara ramah.
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 20:12 WIB

Ketika Satu Menit Bisa Mengubah Hati

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, satu menit mungkin terasa remeh.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, satu menit mungkin terasa remeh. Tapi di tangan yang tepat, satu menit bisa jadi pengingat, bahkan titik balik untuk yang sedang hilang arah (Sumber: dokumentasi penulis | Foto: FN)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 18:06 WIB

Kuliah di Bandung, di Menara Gading WEIRD: Catatan untuk 2026

Kawasan kampus yang unggul literasi dan reputasi, tetapi berjarak dari realitas sosial-ekologis kota. Kita menagih kembali tanggung jawab etis akademik.
Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 14:32 WIB

Resolusi Menjaga Kesehatan Mata dalam Keluarga dan Tempat Kerja

Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa.
Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa. (Sumber: Pexels/Omar alnahi)