AYOBANDUNG.ID -- Gen Z bergaji UMR menghadapi paradoks besar. Di satu sisi mereka mendambakan rumah pertama sebagai simbol stabilitas, di sisi lain realitas harga properti yang terus naik dan daya beli yang terbatas membuat mimpi itu terasa menjauh.
Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. Data IDN Research Institute melalui Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025 menunjukkan bahwa 39 persen Milenial dan Gen Z merasa kesulitan menabung untuk down payment (DP) dan biaya terkait pembelian rumah.
Gambaran ini semakin nyata ketika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis Indeks Harga Properti Perumahan 2025, di mana harga rumah nasional tetap tumbuh meski terbatas, dengan indeks naik sekitar 0,84 persen secara tahunan. Pertumbuhan yang terlihat kecil ini justru menegaskan bahwa harga rumah tidak pernah benar-benar turun, melainkan terus merangkak naik, meski daya beli masyarakat melemah.
Di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan melalui Permenaker No. 16 Tahun 2024 menetapkan kenaikan upah minimum 2025 sebesar rata-rata 6,5 persen. Angka ini memang memberi sedikit ruang bagi pekerja muda, namun tetap jauh tertinggal dibandingkan kenaikan harga properti di kota-kota besar.
Riset Inventure Indonesia bahkan mengungkapkan bahwa 65 persen Gen Z pesimis mampu membeli rumah dalam tiga tahun mendatang, dengan 80 persen di antaranya menilai harga rumah sudah terlalu tinggi untuk dijangkau. Pesimisme ini mencerminkan kondisi riil di lapangan di mana gaji UMR yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sementara cicilan rumah membutuhkan komitmen jangka panjang.
Dalam situasi ini, gaya investasi menjadi salah satu jalan keluar yang mulai dilirik Gen Z. Pasalnya, dengan strategi investasi yang tepat, konsistensi menabung, serta dukungan kebijakan pemerintah, peluang itu tetap ada.
Research Analyst Nanovest, Edo Ardiansyah, menekankan pentingnya perencanaan finansial sejak awal. Ia mencontohkan, Gen Z dengan penghasilan Rp 5-6 juta menyisihkan 30 persen gaji setiap bulan adalah langkah realistis. Jika mampu, lebih baik sampai 50 persen, karena target DP rumah biasanya cukup besar.
Edo menyarankan time frame 3–5 tahun untuk mengumpulkan DP, dengan setoran rutin setiap bulan. Instrumen investasi yang dipilih pun harus sesuai profil risiko dan jangka waktu. Dia memberikan contoh alokasi portofolio jangka menengah yakni 50 persen saham, 30 persen emas digital, dan 20 persen crypto bagi yang siap risiko tinggi.
Namun Edo menekankan bahwa kunci keberhasilan bukan hanya pada instrumen, melainkan niat, dana darurat, konsistensi, dan kesesuaian risiko.

"Dengan disiplin menabung minimal 30 persen dari gaji, dalam 3–5 tahun biasanya cukup untuk mengumpulkan DP rumah pertama, apalagi jika return dari instrumen berjalan optimal," kata Edo.
CEO Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menambahkan optimisme serupa. Menurutnya, mencapai DP rumah pertama sangat mungkin diwujudkan, bahkan dengan gaji UMR, asalkan konsisten menabung dan berinvestasi.
“Earning power kita akan meningkat seiring waktu, sehingga nominal yang terasa berat hari ini bisa menjadi porsi yang lebih ringan di masa depan,” ujarnya.
Dayu mencontohkan, menabung Rp2 juta per bulan mungkin terasa berat sekarang, tapi 2–3 tahun ke depan saat penghasilan meningkat, angka itu akan terasa lebih kecil.
Dia mengakui, dengan harga rumah yang terus meningkat, target kepemilikan rumah pertama memang terlihat sulit, tetapi dengan konsistensi menabung dan berinvestasi, hal ini sangat mungkin diwujudkan.
“Kuncinya adalah mindset yang kuat di awal untuk bisa mencapai impian. Setelah DP terkumpul, langkah berikutnya adalah memilih KPR yang sesuai. Penting selalu memeriksa syarat dan ketentuan agar tidak salah langkah,” pungkasnya.
Potensi Gen Z sebenarnya cukup besar. Mereka melek digital, akrab dengan instrumen investasi modern, dan terbiasa mencari informasi finansial melalui aplikasi. Tantangannya adalah volatilitas pasar, disiplin menabung, serta gap antara kenaikan UMR dan harga rumah.
Data Pinhome Indonesia Residential Market Report 2024 & Outlook 2025 menunjukkan pencarian rumah sederhana tumbuh 149 persen, menandakan minat Gen Z terhadap hunian tetap tinggi. Namun, pesimisme tetap membayangi karena harga rumah di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya terus melampaui laju kenaikan pendapatan.
Kondisi riil di kalangan Gen Z bergaji UMR adalah tarik-menarik antara mimpi dan realitas. Mereka ingin rumah pertama sebagai simbol stabilitas, tetapi harus berhadapan dengan gaya hidup konsumtif, cicilan gadget, dan biaya hidup yang terus naik.
Oleh karenanya, strategi investasi menjadi jalan tengah baik dalam memilih saham untuk pertumbuhan, emas digital untuk stabilitas, dan crypto untuk peluang tinggi. Semua itu membutuhkan disiplin, keberanian mengambil risiko, dan mindset jangka panjang.
Dengan kombinasi kebijakan pemerintah yang menjaga daya beli, serta kesadaran finansial yang semakin matang, Gen Z tetap memiliki peluang untuk mewujudkan rumah pertama mereka.
Alternatif kebutuhan hunian atau produk serupa:
