Banyak yang bilang Gen Z itu generasi yang paling santai. Katanya, hobi kita cuma foya-foya, scrolling media sosial, dan pamer hidup estetik. Padahal kalau mau jujur, di balik filter foto yang cantik, banyak dari kita yang pundaknya sedang memikul beban seberat baja: menjadi tulang punggung keluarga.
Mungkin ada sebagian kecil yang punya privilege, tapi bagi mayoritas dari kita, bisa bertahan hidup dan memastikan dapur rumah tetap mengepul saja sudah menjadi pencapaian yang luar biasa.
Menjadi tulang punggung itu istilah kerennya sih Sandwich Generation, tapi intinya ya kita kejepit di tengah-tengah. Di sinilah mental kita benar-benar diuji. Banyak impian yang seharusnya sudah mulai kita rintis, entah itu mengejar passion atau sekadar mengambil kursus keahlian terpaksa dikubur dalam-dalam atau setidaknya "dihibernasikan" dahulu.
Bukan bermaksud menyalahkan keadaan atau orang tua, tapi kita harus berani jujur bahwa ada mata rantai yang harus diputus. Kita adalah generasi yang akhirnya harus 'menambal' lubang finansial masa lalu agar anak-cucu kita nanti tidak perlu merasakan sesak yang sama. Kita memilih lelah sekarang, supaya mereka bisa bermimpi besok.
Terjebak di Dunia Kerja yang Menguras Logika

Beban keluarga ini semakin terasa berat karena realita dunia kerja yang tidak jarang membuat kita harus mengelus dada. Banyak dari kita terpaksa bertahan di tempat kerja yang kurang nyaman karena satu alasan: rasa takut. Kita takut jika nekat resign, cicilan rumah tangga atau biaya pendidikan anggota keluarga tidak terbayar.
Sakitnya lagi, mau sehebat apa pun kemampuan kita, kadang semua itu mentah hanya karena kita bukan "siapa-siapa" di mata sistem yang lebih mementingkan koneksi daripada prestasi. Akhirnya, banyak dari kita yang mencari "jalan ninja". Saya sendiri, dan beberapa rekan, rela meluangkan waktu di sela-sela kesibukan utama untuk mencari penghasilan tambahan melalui berbagai platform digital demi menambah uang transportasi yang sering kali tidak tertutup oleh gaji utama. Melelahkan? Pasti. Tapi hanya diam meratapi nasib jelas bukan pilihan.
Lama-kelamaan, standar kebahagiaan kita pun perlahan bergeser menjadi sangat sederhana, bahkan terlalu sederhana. Kita merasa cukup hanya dengan melihat orang tua tersenyum saat tagihan listrik atau kebutuhan bulanan terpenuhi.
Namun tanpa sadar, ada harga mahal yang harus dibayar: kita kehilangan jati diri. Pernahkah kita merasa tidak tahu lagi apa makanan favorit kita, apa hobi yang benar-benar membuat kita senang, atau kapan terakhir kali kita merasa tenang tanpa memikirkan angka di saldo ATM? Tiap kali tanggal gajian tiba, kita bahkan ragu untuk membeli satu barang keinginan (sebagai bentuk self-reward), karena pikiran sudah lebih dulu sibuk menghitung sisa saldo untuk kebutuhan sana-sini.
Baca Juga: Transaksi Non-Tunai dan Ketidaksetaraan Digital
Bagi kamu yang sekarang sedang berada di posisi sulit ini: Saya mengerti rasanya. Menjadi tulang punggung itu memang tidak pernah mudah, tapi percayalah roda kehidupan itu terus berputar. Bertahan adalah keputusan yang hebat, tapi jangan sampai kita benar-benar "menyerah" pada keadaan.
Teruslah asah kemampuan dan tingkatkan nilai dirimu. Tidak apa-apa jika sekarang pundakmu masih terasa berat, tapi sesekali, tolong berikan napas untuk dirimu sendiri. Beli es kopi kesukaanmu, tidur lebih awal, atau sekadar matikan notifikasi sejenak. Kita berhak bahagia, bukan hanya sebagai "penambal" beban keluarga, tapi sebagai manusia yang memiliki jiwanya sendiri. (*)
