Hari-hari belakangan, kita semakin sering melihat orang membawa tumbler ke mana pun, ke kantor, kampus, warung kopi, bahkan saat naik transportasi publik. Tumbler, dulu sekadar tempat minum, kini telah menjadi simbol gaya hidup modern, peduli lingkungan, dan praktis. Bagi sebagian orang, memiliki tumbler bermerek kadang dengan desain menarik atau nama brand popular merupakan ekspresi diri, mencerminkan kesadaran terhadap sampah plastik, keinginan hidup sehat, atau sekadar tren estetika.
Namun, tren ini tak lepas dari implikasi sosial ketika tumbler yang dibeli dengan uang, kadang bahkan dianggap sebagai barang “status” masuk ke ruang publik dan menjadi bagian dari mobilitas massal. Kasus hilangnya tumbler milik Anita Dewi di KRL baru-baru ini menjadi semacam “cermin” dari fenomena itu.
Tumbler sebagai gaya hidup baru bisa jadi membawa efek konsumtif dan konflik sosial, bila kita lupa konteks penggunaannya. Tren membeli tumbler meskipun memiliki nilai positif seperti mengurangi sampah plastik berpotensi melahirkan kebiasaan konsumtif dan bahkan menimbulkan kontroversi sosial, ketika tumbler dianggap sebagai barang simbolik, bukan alat sederhana.
Sebelum kasus hilangnya tumbler seorang penumpang di KRL, banyak dari kita memilih tumbler karena terasa ekonomis dan ramah lingkungan. Daripada beli air mineral berulang-ulang, membawa minum sendiri dalam tumbler bisa lebih hemat dan mengurangi sampah plastik. Secara ideal, ini adalah perubahan kebiasaan positif.
Namun realitas menunjukkan hal yang berbeda ketika tumbler menjadi bagian dari identitas sosial, bukan sekadar untuk minum, tapi untuk “dipamerkan” warna, desain, merek. Akibatnya, tumbler berubah dari alat fungsional menjadi objek konsumsi. Lalu timbulah perilaku membeli tumbler baru, koleksi, atau mengganti secara berkala agar tetap “update”. Efeknya bukannya lebih sederhana, gaya hidup malah semakin konsumtif.
Dan ketika benda konsumtif itu hilang atau rusak seperti pada kasus hilangnya tumbler seorang penumpang di KRL, konsekuensinya bisa jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan botol minum. Petugas layanan publik dan pengguna bisa terlibat konflik. Tumbler bukan hanya “barang pribadi”, tetapi bagian dari narasi sosial gaya hidup modern, identitas pengguna, dan ironisnya status harga terutama bila tumbler bermerek mahal atau populer.
Kasus ini bermula ketika seorang penumpang KRL rute Tanah Abang-Rangkasbitung. Ia turun di Stasiun Rawa Buntu sekitar pukul 19.40 WIB dan tak sadar cooler bag miliknya tertinggal di gerbong wanita. Di dalam tas tersebut terdapat tumbler bermerek dengan logo Kopi Tuku
Setelah melapor, petugas KAI menemukan cooler bag dan memfoto kondisi tas beserta isinya sebagai bukti bahwa barang masih lengkap. Tas kemudian dititipkan sesuai prosedur. Namun ketika penumpang tersebut akhirnya mengambil tasnya di Stasiun Rangkasbitung keesokan harinya, tumbler yang semula ada sudah hilang sedangkan barang lain dalam tas tetap utuh.

Penumpang tersebut merasa dirugikan dan menyalahkan petugas agar bertanggung jawab. Unggahan kritiknya di media sosial viral, memancing banyak opini publik. Petugas yang menerima tas, bernama Argi, sempat dikabarkan akan dipecat karena dianggap lalai, meskipun kemudian pihak KAI membantah telah memecatnya.
Meski sempat memanas, akhirnya terjadi mediasi. penumpang tesrsebut dan suami menyampaikan permintaan maaf atas gegap gempita di media sosial, menyesali reaksi berlebihan yang mempengaruhi banyak pihak.
Kasus ini menunjukkan bagaimana sebuah tumbler barang yang bagi banyak orang biasa saja bisa memicu kontroversi luas, konflik, kecaman, hingga ancaman terhadap karier seseorang. Hal ini jauh melampaui makna fungsional tumbler.
Kasus ini mengingatkan bahwa ketika benda fungsional digeser menjadi simbol gaya hidup, maka benda itu menjadi bagian dari dinamika sosial dan konsumerisme. Bukan hanya soal tumbler semata, tetapi bagaimana masyarakat kita memaknai barang, memproyeksikan status, dan berinteraksi dalam ruang publik.
Baca Juga: Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian
Jika kita tidak waspada, tren “tumbler” bisa jadi memicu perilaku membeli berlebihan, sikap konsumtif, serta ekspektasi sosial yang tidak sehat. Benda kecil bisa berkembang menjadi sumber konflik konflik identitas, persepsi, hingga kesalahpahaman di ruang publik.
Tumbler pada dasarnya bisa menjadi bagian dari gaya hidup lebih ramah lingkungan asalkan kita menggunakan dengan bijak, sesuai kebutuhan, dan tidak menganggapnya sebagai simbol status. Untuk mencapai itu, kita perlu menyadari bahwa nilai sebuah tumbler tidak terletak pada merek, warna, atau harga, tetapi pada fungsinya: menjaga kesehatan, mengurangi sampah sekali pakai, dan mempermudah aktivitas sehari-hari.
Kasus tumbler hilang milik penumpang KRL ini adalah pelajaran bahwa ketika gaya hidup melewati batas fungsi dan memasuki ranah simbolik serta konsumtif konflik dan kontroversi bisa muncul. Semoga kita bisa mengambil hikmah: menjadikan tumbler bukan sebagai “aksesori sosial”, melainkan sebagai alat praktik sehari-hari yang sederhana dan bermanfaat. (*)
