Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

Ainna Raihana Hanifah
Ditulis oleh Ainna Raihana Hanifah diterbitkan Senin 12 Jan 2026, 17:26 WIB
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)

Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)

Hari-hari belakangan, kita semakin sering melihat orang membawa tumbler ke mana pun, ke kantor, kampus, warung kopi, bahkan saat naik transportasi publik. Tumbler, dulu sekadar tempat minum, kini telah menjadi simbol gaya hidup modern, peduli lingkungan, dan praktis. Bagi sebagian orang, memiliki tumbler bermerek kadang dengan desain menarik atau nama brand popular merupakan ekspresi diri, mencerminkan kesadaran terhadap sampah plastik, keinginan hidup sehat, atau sekadar tren estetika.

Namun, tren ini tak lepas dari implikasi sosial ketika tumbler yang dibeli dengan uang, kadang bahkan dianggap sebagai barang “status” masuk ke ruang publik dan menjadi bagian dari mobilitas massal. Kasus hilangnya tumbler milik Anita Dewi di KRL baru-baru ini menjadi semacam “cermin” dari fenomena itu.

Tumbler sebagai gaya hidup baru bisa jadi membawa efek konsumtif dan konflik sosial, bila kita lupa konteks penggunaannya. Tren membeli tumbler meskipun memiliki nilai positif seperti mengurangi sampah plastik  berpotensi melahirkan kebiasaan konsumtif dan bahkan menimbulkan kontroversi sosial, ketika tumbler dianggap sebagai barang simbolik, bukan alat sederhana.

Sebelum kasus hilangnya tumbler seorang penumpang di KRL, banyak dari kita memilih tumbler karena terasa ekonomis dan ramah lingkungan. Daripada beli air mineral berulang-ulang, membawa minum sendiri dalam tumbler bisa lebih hemat dan mengurangi sampah plastik. Secara ideal, ini adalah perubahan kebiasaan positif.

Namun realitas menunjukkan hal yang berbeda ketika tumbler menjadi bagian dari identitas sosial, bukan sekadar untuk minum, tapi untuk “dipamerkan” warna, desain, merek. Akibatnya, tumbler berubah dari alat fungsional menjadi objek konsumsi. Lalu timbulah perilaku membeli tumbler baru, koleksi, atau mengganti secara berkala agar tetap “update”. Efeknya bukannya lebih sederhana, gaya hidup malah semakin konsumtif.

Dan ketika benda konsumtif itu hilang atau rusak  seperti pada kasus hilangnya tumbler seorang penumpang di KRL, konsekuensinya bisa jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan botol minum. Petugas layanan publik dan pengguna bisa terlibat konflik. Tumbler bukan hanya “barang pribadi”, tetapi bagian dari narasi sosial gaya hidup modern, identitas pengguna, dan ironisnya status harga terutama bila tumbler bermerek mahal atau populer.

Kasus ini bermula ketika seorang penumpang KRL rute Tanah Abang-Rangkasbitung. Ia turun di Stasiun Rawa Buntu sekitar pukul 19.40 WIB dan tak sadar cooler bag miliknya tertinggal di gerbong wanita. Di dalam tas tersebut terdapat tumbler bermerek dengan logo Kopi Tuku

Setelah melapor, petugas KAI menemukan cooler bag dan memfoto kondisi tas beserta isinya sebagai bukti bahwa barang masih lengkap. Tas kemudian dititipkan sesuai prosedur. Namun ketika penumpang tersebut akhirnya mengambil tasnya di Stasiun Rangkasbitung keesokan harinya, tumbler yang semula ada sudah hilang sedangkan barang lain dalam tas tetap utuh.

Di taman kota, ruang kerja, hingga jalur lari pagi, tumbler bukan lagi sekadar wadah air minum, tapi jadi penanda gaya hidup yang aktif, sadar lingkungan, dan estetis. (Sumber: Freepik)
Di taman kota, ruang kerja, hingga jalur lari pagi, tumbler bukan lagi sekadar wadah air minum, tapi jadi penanda gaya hidup yang aktif, sadar lingkungan, dan estetis. (Sumber: Freepik)

Penumpang tersebut merasa dirugikan dan menyalahkan petugas agar bertanggung jawab. Unggahan kritiknya di media sosial viral, memancing banyak opini publik. Petugas yang menerima tas, bernama Argi, sempat dikabarkan akan dipecat karena dianggap lalai, meskipun kemudian pihak KAI membantah telah memecatnya.

Meski sempat memanas, akhirnya terjadi mediasi. penumpang tesrsebut dan suami menyampaikan permintaan maaf atas gegap gempita di media sosial, menyesali reaksi berlebihan yang mempengaruhi banyak pihak.

Kasus ini menunjukkan bagaimana sebuah tumbler barang yang bagi banyak orang biasa saja  bisa memicu kontroversi luas, konflik, kecaman, hingga ancaman terhadap karier seseorang. Hal ini jauh melampaui makna fungsional tumbler.

Kasus ini mengingatkan bahwa ketika benda fungsional digeser menjadi simbol gaya hidup, maka benda itu menjadi bagian dari dinamika sosial dan konsumerisme. Bukan hanya soal tumbler semata, tetapi bagaimana masyarakat kita memaknai barang, memproyeksikan status, dan berinteraksi dalam ruang publik.

Baca Juga: Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Jika kita tidak waspada, tren “tumbler” bisa jadi memicu perilaku membeli berlebihan, sikap konsumtif, serta ekspektasi sosial yang tidak sehat. Benda kecil bisa berkembang menjadi sumber konflik konflik identitas, persepsi, hingga kesalahpahaman di ruang publik.

Tumbler pada dasarnya bisa menjadi bagian dari gaya hidup lebih ramah lingkungan asalkan kita menggunakan dengan bijak, sesuai kebutuhan, dan tidak menganggapnya sebagai simbol status. Untuk mencapai itu, kita perlu menyadari bahwa nilai sebuah tumbler tidak terletak pada merek, warna, atau harga, tetapi pada fungsinya: menjaga kesehatan, mengurangi sampah sekali pakai, dan mempermudah aktivitas sehari-hari.

Kasus tumbler hilang milik penumpang KRL ini adalah pelajaran bahwa ketika gaya hidup melewati batas fungsi dan memasuki ranah simbolik serta konsumtif  konflik dan kontroversi bisa muncul. Semoga kita bisa mengambil hikmah: menjadikan tumbler bukan sebagai “aksesori sosial”, melainkan sebagai alat praktik sehari-hari yang sederhana dan bermanfaat. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ainna Raihana Hanifah
Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Jan 2026, 20:01 WIB

Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai Upaya Memperkuat Sistem Tata Kelola Pemerintahan

RUU Perampasan Aset hadir sebagai instrumen yang dapat menutup celah tindak korupsi.
Ilustrasi kriminalitas. (Sumber: Pexels | Foto: Kindel Media)
Ayo Jelajah 12 Jan 2026, 19:17 WIB

Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Operasi besar polisi kolonial memburu komplotan komunis di Bandung dan Priangan pada 1927 yang membuat kota hidup dalam kecurigaan.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 18:47 WIB

Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

Di balik hiruk-pikuk jalan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi seni.
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 18:27 WIB

Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 16:38 WIB

Saat Angka Pengangguran Masih Tinggi, Keterampilan Jadi Harapan Baru

Salah satu penyebab utama tingginya pengangguran adalah ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar.
Pelatihan perbaikan AC dan handphone Ini ditujukan bagi masyarakat tidak mampu agar mereka memiliki keterampilan praktis yang bisa langsung diaplikasikan. (Sumber: Dok BSI Maslahat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:07 WIB

Es Pisang Ijo Saparua: Perpaduan Sederhana Rasa Luar Biasa

Rekomendasi es viral yang enak di Kota Bandung sambil olahraga pagi menjelang siang.
Foto diambil langsung di Saparua Sport sambil menikmati indahnya pemandangan. (Foto: Rizki Hidayat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:47 WIB

‘Kojo’ Persib Beckham Putra Kembali jadi Pahlawan dan Ulangi Selebrasi ‘Ngahodhod Katirisan’

Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23.
Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:06 WIB

Kang Deddy, Yeuh … KBU dan KBS Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Perizinan tidak boleh dipandang sebagai instrumen pemasukan atau sumber pendapatan daerah semata—sebuah cara “menjual” ruang kepada investor—karena logika ini sangat rentan menyimpang.
Satu sudut Bandung Utara, Bojong Koneng Atas. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 13:28 WIB

Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

Kebutuhan akan algoritma adalah keniscayaan dengan literasi numerasi sebagai fondasinya untuk memaknai angka di balik fenomena sosial
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Beranda 12 Jan 2026, 12:30 WIB

Setelah Sukses di Bandung, ISMN Sambangi Semarang Perkuat Jejaring dengan 50 Media Sosial Lokal

Sebelumnya, sekitar 50 pengelola akun informasi lokal, kreator digital, influencer, dan praktisi media berkumpul dalam ISMN Meet Up Bandung 2025 di Nara Park, Kota Bandung, Selasa, 2 Desember 2025.
Indonesia Social Media Network (ISMN) Meet Up 2026 di Semarang digelar Selasa, 13 Januari 2026.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 11:49 WIB

Premanisme, Irama Sosial Bandung, dan Mengenang ‘Preman Pensiun’

Di luar fiksi, realitas komunitas preman di Bandung memang masih menjadi isu sosial yang diperhatikan pihak berwajib dan masyarakat.
Kang Mus alias Epi Kusnandar. (Sumber: Bion Studio)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 10:36 WIB

Menyingkap Sisi Tersembunyi Bandung di Pameran Selepas Reda

Liputan pameran “Selepas Reda” menyoroti karya seniman muda UPI yang membaca ulang Bandung melalui dialektika alter ego, menghadirkan refleksi tentang kota, identitas, dan realitas sosialnya.
Bandung berdiri di atas harapan, kekacauan, luka-luka kecil, dan pertanyaan yang tidak kunjung selesai. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 09:34 WIB

Berhenti Sejenak karena Jalan Rusak dan Memimpikan Transportasi Publik Lebih Baik

Jalan-jalan yang rusak di berbagai tempat memperparah masalah.
Kemacetan Panjang di jalan Soekarno Hatta (05/12/2025). (Sumber: dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 08:13 WIB

Di Tiap Sudut Kota Bandung, Pungli dan Juru Parkir Liar Jadi Bisnis

Dengan tarif yang tidak masuk akal menghantui sebagian besar warga hingga bantuan yang tidak dibutuhkan kadang terasa mengganggu aktivitas.
Potret juru parkir ilegal yang sedang menjaga lahan minimarket di daerah Pasar Kordon (1/12/2025). (Sumber: dokumentasi pribadi | Foto: Nurmeila Elfreda.)
Beranda 11 Jan 2026, 20:53 WIB

Ketika Seni Menjadi Bahasa Mitigasi: Upaya Sesar Lembang Kalcer Menjinakkan Ketakutan Bencana

Sesar Lembang Kalcer memanfaatkan seni dan aktivasi komunitas sebagai bahasa mitigasi untuk membangun kesadaran bencana tanpa menebar ketakutan di Bandung.
Anak-anak berlarian di atas sorot lampu yang menyapu rumput di Titik Kumpul–Backyard, Bandung, sebagai bagian dari aktivasi seni Sesar Lembang Kalcer dalam menyampaikan literasi mitigasi bencana secara ramah.
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 20:12 WIB

Ketika Satu Menit Bisa Mengubah Hati

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, satu menit mungkin terasa remeh.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, satu menit mungkin terasa remeh. Tapi di tangan yang tepat, satu menit bisa jadi pengingat, bahkan titik balik untuk yang sedang hilang arah (Sumber: dokumentasi penulis | Foto: FN)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 18:06 WIB

Kuliah di Bandung, di Menara Gading WEIRD: Catatan untuk 2026

Kawasan kampus yang unggul literasi dan reputasi, tetapi berjarak dari realitas sosial-ekologis kota. Kita menagih kembali tanggung jawab etis akademik.
Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 14:32 WIB

Resolusi Menjaga Kesehatan Mata dalam Keluarga dan Tempat Kerja

Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa.
Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa. (Sumber: Pexels/Omar alnahi)