Kang Deddy, Yeuh … KBU dan KBS Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan Senin 12 Jan 2026, 15:06 WIB
Satu sudut Bandung Utara, Bojong Koneng Atas. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Satu sudut Bandung Utara, Bojong Koneng Atas. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Kawasan Lembang (Kabupaten Bandung Barat) dan Ciwidey (Kabupaten Bandung) dalam satu dekade terakhir mengalami lonjakan pembangunan destinasi wisata yang sangat pesat.

Di balik ramainya villa, kafe, dan wahana wisata di Lembang dan Ciwidey, tersimpan persoalan yang jarang dibicarakan secara terbuka: kerusakan ekologis yang berjalan pelan namun pasti. Kawasan Bandung Utara (KBU) dan Kawasan Bandung Selatan (KBS), yang selama ini menjadi penyangga air, hutan, dan kehidupan Bandung Raya, kini berubah menjadi ladang eksploitasi ruang atas nama pariwisata. Tanah ditutup beton, lereng dipotong, hutan terfragmentasi, dan sampah menumpuk tanpa sistem pengelolaan yang memadai. Jika dibiarkan, bukan hanya lanskap pegunungan yang hilang, tetapi juga cadangan air, keanekaragaman hayati, dan keselamatan jutaan warga di wilayah hilir. Artikel ini mengajak pemerintah, khususnya Gubernur Jawa Barat, untuk melihat lebih dekat krisis yang sedang tumbuh diam-diam di jantung kawasan penyangga Jawa Barat. Wahana bermain, villa, hotel, restoran, hingga kafe tumbuh hampir tanpa jeda, mengubah wajah kawasan pegunungan yang sebelumnya didominasi hutan, perkebunan, dan lahan resapan.

Pertumbuhan ini memang memberikan dampak ekonomi jangka pendek. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan besar: sejauh mana pembangunan wisata tersebut direncanakan secara ekologis, legal, dan berkelanjutan?

Kawasan Strategis yang Rentan

Lembang dan Ciwidey berada dalam wilayah yang dikenal sebagai Kawasan Bandung Utara (KBU) dan Kawasan Bandung Selatan (KBS), dua zona penyangga ekologis utama bagi Cekungan Bandung. Kawasan ini berfungsi sebagai:

• daerah resapan air tanah,

• penyangga iklim mikro,

• habitat flora dan fauna pegunungan,

• serta benteng alami terhadap banjir, longsor, dan kekeringan.

Alih fungsi lahan yang tidak terkendali di wilayah ini berpotensi merusak sistem ekologis yang selama puluhan tahun menjaga keseimbangan lingkungan Bandung Raya.

Masalah Tata Ruang dan Legalitas

Banyak lokasi wisata berdiri tanpa kejelasan status tata ruang: apakah berada di kawasan konservasi, hutan lindung, kawasan resapan air, atau zona budidaya terbatas. Ketidakjelasan ini membuka ruang terjadinya pelanggaran terhadap:

• rencana tata ruang wilayah (RTRW),

• daya dukung dan daya tampung lingkungan,

• serta prinsip pembangunan berkelanjutan.

Tanpa audit tata ruang dan perizinan yang transparan, pembangunan wisata berpotensi menjadi praktik eksploitasi ruang yang dilegalkan oleh kelonggaran pengawasan.

Dampak Ekologis yang Mengkhawatirkan

Dampak Ekologis Terpadu: Air, Tanah, dan Keanekaragaman Hayati dalam Satu Krisis

Ekspansi pariwisata di KBU dan KBS tidak hanya menimbulkan dampak sektoral yang berdiri sendiri, melainkan memicu rangkaian krisis ekologis yang saling terkait antara sistem hidrologi, stabilitas geologis, dan keberlanjutan keanekaragaman hayati. Hilangnya daya resapan air, rusaknya struktur tanah pegunungan, serta degradasi habitat satwa liar merupakan tiga gejala dari satu proses besar: transformasi lanskap alam menjadi ruang komersial yang melampaui daya dukung ekologisnya.

Secara alami, kawasan Lembang dan Ciwidey berfungsi sebagai “menara air” bagi Cekungan Bandung. Curah hujan tinggi yang turun di wilayah ini diserap oleh lapisan tanah vulkanik yang poros, ditahan oleh vegetasi hutan, lalu disimpan sebagai cadangan air tanah yang mengalir perlahan ke mata air dan sungai di wilayah hilir. Mekanisme ini menjaga keseimbangan antara ketersediaan air, stabilitas tanah, dan keberlanjutan ekosistem.

Namun, pembangunan masif hotel, villa, wahana wisata, restoran, dan infrastruktur pendukung telah mengubah mekanisme tersebut secara fundamental. Betonisasi dan pengaspalan menutup permukaan tanah, memutus jalur infiltrasi air hujan, dan mengubah air dari sumber kehidupan menjadi limpasan permukaan yang destruktif. Air yang tidak lagi terserap mengalir cepat membawa partikel tanah, mempercepat erosi, dan membebani sungai-sungai di hilir dengan debit mendadak.

Penurunan daya resapan ini bukan hanya ancaman lingkungan abstrak, melainkan persoalan nyata bagi keberlanjutan hidup masyarakat. Ketergantungan Bandung Raya terhadap air tanah sangat tinggi. Ketika kawasan hulu kehilangan kemampuannya mengisi ulang cadangan air, maka krisis air bersih, penurunan muka tanah, hingga konflik pemanfaatan air menjadi konsekuensi yang hampir tak terelakkan.

Krisis hidrologis ini berjalan beriringan dengan kerusakan struktur tanah. Untuk membuka ruang bagi bangunan dan akses kendaraan, banyak lereng dipotong, diratakan, atau ditimbun. Vegetasi penahan tanah ditebang, akar-akar yang selama ratusan tahun mengikat partikel tanah dicabut, dan kontur alami diubah menjadi bidang-bidang artifisial.

Tanah pegunungan yang kehilangan penopang biologis dan keseimbangan geologisnya menjadi rapuh. Pada musim hujan, air yang tidak terserap akan meresap ke lapisan tanah yang telah terganggu, menambah beban dan tekanan internal. Kombinasi antara limpasan permukaan, kejenuhan tanah, dan lemahnya kohesi menciptakan kondisi ideal bagi longsor.

Dalam banyak kasus, longsor di kawasan wisata bukanlah peristiwa alam murni, melainkan hasil akumulasi dari keputusan tata ruang yang keliru. Risiko ini semakin tinggi karena sebagian pembangunan berada di zona rawan: lereng curam, tanah vulkanik muda, dan wilayah dengan aktivitas patahan mikro. Ketika kawasan seperti ini dibebani bangunan berat, kolam buatan, dan lalu lintas kendaraan besar, potensi bencana meningkat secara eksponensial.

Kerusakan air dan tanah kemudian menjalar ke dimensi ekologis yang lebih luas: kehancuran habitat satwa liar. Hutan dan semak pegunungan yang dulu menjadi ruang hidup berbagai spesies burung endemik, mamalia kecil, reptil, dan serangga penyerbuk kini terfragmentasi oleh bangunan dan jalan. Habitat yang terpecah membuat populasi satwa terisolasi, sulit berkembang biak, dan rentan punah secara lokal.

Gangguan ini tidak hanya berupa hilangnya ruang hidup, tetapi juga perubahan drastis dalam kualitas lingkungan. Kebisingan kendaraan dan musik wisata, pencahayaan buatan pada malam hari, serta pencemaran air dan tanah mengacaukan pola migrasi, reproduksi, dan pencarian makan satwa. Beberapa spesies terpaksa turun ke permukiman warga, memicu konflik manusia–satwa yang sering berujung pada pengusiran atau pembunuhan.

Banjir di Lembang pada pertengahan Oktober 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Banjir di Lembang pada pertengahan Oktober 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Ketika satu komponen ekosistem runtuh, komponen lain ikut terguncang. Hilangnya serangga penyerbuk memengaruhi regenerasi tumbuhan. Menurunnya populasi burung dan mamalia kecil mengganggu rantai makanan. Dalam jangka panjang, kawasan pegunungan kehilangan ketahanannya sebagai sistem ekologis yang utuh.

Yang jarang disadari, seluruh rangkaian kerusakan ini berlangsung secara gradual dan sering tersembunyi di balik narasi “kemajuan pariwisata”. Bencana baru terasa ketika banjir bandang melanda wilayah hilir, ketika longsor merenggut korban, atau ketika mata air mengering dan krisis air meluas.

Dampak sosialnya pun tidak kecil. Masyarakat lokal, petani, dan kelompok rentan di desa-desa sekitar kawasan wisata sering menjadi pihak pertama yang menanggung risiko ekologis, sementara manfaat ekonomi terbesar justru dinikmati oleh investor dan pelaku usaha skala besar. Ketimpangan ini menambah lapisan masalah baru: ketidakadilan ekologis.

Jika pola pembangunan seperti sekarang terus berlangsung, maka dalam satu dekade ke depan KBU dan KBS berpotensi kehilangan fungsi dasarnya sebagai kawasan penyangga kehidupan. Daya resapan air akan terus menurun, bencana hidrometeorologi menjadi lebih sering, keanekaragaman hayati menyusut drastis, dan lanskap pegunungan berubah menjadi ruang rapuh yang sewaktu-waktu dapat runtuh secara ekologis maupun sosial.

Oleh sebab itu, evaluasi pariwisata tidak boleh dibatasi pada jumlah kunjungan atau kontribusi terhadap pendapatan daerah. Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah pembangunan yang terjadi masih menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, atau justru sedang menggerogoti fondasi ekologis yang menopang kehidupan jutaan orang di Bandung Raya?

Ekspansi wisata memecah habitat alami satwa seperti burung endemik, mamalia kecil, dan berbagai spesies serangga penyerbuk. Fragmentasi habitat menyebabkan:

• menurunnya populasi satwa,

• konflik manusia–satwa,

• hilangnya keanekaragaman hayati lokal.

Ketika ekosistem terganggu, rantai kehidupan ikut terguncang.

Ledakan Sampah dan Limbah

Kapasitas pengelolaan sampah di kawasan pegunungan tidak dirancang untuk menampung lonjakan wisatawan. Akibatnya:

• sampah plastik mencemari sungai dan hutan,

• limbah cair mengalir ke tanah tanpa pengolahan memadai,

• kualitas air permukaan dan air tanah menurun.

Dalam 10 tahun ke depan, tanpa intervensi serius, kawasan ini berpotensi berubah menjadi kantong pencemaran ekologis.

Tekanan Lalu Lintas dan Polusi

Analisis dampak lalu lintas (andalalin) sering diabaikan. Jalan sempit pegunungan dipaksa menampung ribuan kendaraan wisata setiap akhir pekan, yang berdampak pada:

• kemacetan struktural,

• peningkatan emisi karbon,

• kebisingan yang mengganggu satwa dan masyarakat lokal.

Ancaman Jangka Panjang

Jika tren ini terus dibiarkan, KBU dan KBS berisiko mengalami:

• degradasi hutan secara permanen,

• menurunnya fungsi ekologis sebagai kawasan penyangga,

• meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi,

• krisis air bersih,

• serta kerusakan sosial akibat konflik ruang.

Ironisnya, kehancuran ekologis justru akan menggerus daya tarik wisata itu sendiri.

Tanggung Jawab Negara dan Seruan Publik

Pemantauan dan pengawasan pembangunan bukanlah pilihan, melainkan kewajiban negara. Pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat harus bertanggung jawab memastikan bahwa setiap pembangunan wisata:

• sesuai tata ruang,

• lolos kajian AMDAL yang ketat,

• memiliki sistem pengelolaan sampah dan sanitasi yang layak,

• serta tidak melampaui daya dukung lingkungan.

Lebih dari itu, pemerintah perlu mengubah paradigma dasar dalam sistem perizinan. Perizinan tidak boleh dipandang sebagai instrumen pemasukan atau sumber pendapatan daerah semata—sebuah cara “menjual” ruang kepada investor—karena logika ini sangat rentan mendorong praktik transaksional dan korupsi, sekaligus melemahkan fungsi pengawasan.

Perizinan harus dikembalikan pada hakikatnya sebagai alat pengendalian ekologis dan sosial: untuk membatasi, mengarahkan, dan bila perlu menolak pembangunan yang melampaui kapasitas lingkungan. Tanpa perubahan paradigma ini, regulasi hanya akan menjadi formalitas administratif, sementara kerusakan ekologis terus berlangsung di lapangan.

Kami mendorong Gubernur Jawa Barat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh destinasi wisata di KBU dan KBS dengan melibatkan ahli lingkungan, tata ruang, hidrologi, kehutanan, serta kebencanaan.

Evaluasi ini penting bukan untuk mematikan pariwisata, melainkan untuk menyelamatkannya agar tidak menjadi bom waktu ekologis.

Baca Juga: Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

Pariwisata seharusnya menjadi jembatan antara manusia dan alam, bukan alat perusak yang dibungkus label rekreasi. Tanpa regulasi yang tegas dan pengawasan yang konsisten, wisata yang tumbuh sporadis di Lembang dan Ciwidey hanya akan meninggalkan warisan krisis bagi generasi mendatang.

Pilihan kita hari ini menentukan apakah KBU dan KBS akan tetap menjadi paru-paru Bandung, atau berubah menjadi monumen kegagalan tata kelola lingkungan. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 16:38 WIB

Saat Angka Pengangguran Masih Tinggi, Keterampilan Jadi Harapan Baru

Salah satu penyebab utama tingginya pengangguran adalah ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar.
Pelatihan perbaikan AC dan handphone Ini ditujukan bagi masyarakat tidak mampu agar mereka memiliki keterampilan praktis yang bisa langsung diaplikasikan. (Sumber: Dok BSI Maslahat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:07 WIB

Es Pisang Ijo Saparua: Perpaduan Sederhana Rasa Luar Biasa

Rekomendasi es viral yang enak di Kota Bandung sambil olahraga pagi menjelang siang.
Foto diambil langsung di Saparua Sport sambil menikmati indahnya pemandangan. (Foto: Rizki Hidayat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:47 WIB

‘Kojo’ Persib Beckham Putra Kembali jadi Pahlawan dan Ulangi Selebrasi ‘Ngahodhod Katirisan’

Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23.
Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:06 WIB

Kang Deddy, Yeuh … KBU dan KBS Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Perizinan tidak boleh dipandang sebagai instrumen pemasukan atau sumber pendapatan daerah semata—sebuah cara “menjual” ruang kepada investor—karena logika ini sangat rentan menyimpang.
Satu sudut Bandung Utara, Bojong Koneng Atas. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 13:28 WIB

Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

Kebutuhan akan algoritma adalah keniscayaan dengan literasi numerasi sebagai fondasinya untuk memaknai angka di balik fenomena sosial
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Beranda 12 Jan 2026, 12:30 WIB

Setelah Sukses di Bandung, ISMN Sambangi Semarang Perkuat Jejaring dengan 50 Media Sosial Lokal

Sebelumnya, sekitar 50 pengelola akun informasi lokal, kreator digital, influencer, dan praktisi media berkumpul dalam ISMN Meet Up Bandung 2025 di Nara Park, Kota Bandung, Selasa, 2 Desember 2025.
Indonesia Social Media Network (ISMN) Meet Up 2026 di Semarang digelar Selasa, 13 Januari 2026.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 11:49 WIB

Premanisme, Irama Sosial Bandung, dan Mengenang ‘Preman Pensiun’

Di luar fiksi, realitas komunitas preman di Bandung memang masih menjadi isu sosial yang diperhatikan pihak berwajib dan masyarakat.
Kang Mus alias Epi Kusnandar. (Sumber: Bion Studio)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 10:36 WIB

Menyingkap Sisi Tersembunyi Bandung di Pameran Selepas Reda

Liputan pameran “Selepas Reda” menyoroti karya seniman muda UPI yang membaca ulang Bandung melalui dialektika alter ego, menghadirkan refleksi tentang kota, identitas, dan realitas sosialnya.
Bandung berdiri di atas harapan, kekacauan, luka-luka kecil, dan pertanyaan yang tidak kunjung selesai. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 09:34 WIB

Berhenti Sejenak karena Jalan Rusak dan Memimpikan Transportasi Publik Lebih Baik

Jalan-jalan yang rusak di berbagai tempat memperparah masalah.
Kemacetan Panjang di jalan Soekarno Hatta (05/12/2025). (Sumber: dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 08:13 WIB

Di Tiap Sudut Kota Bandung, Pungli dan Juru Parkir Liar Jadi Bisnis

Dengan tarif yang tidak masuk akal menghantui sebagian besar warga hingga bantuan yang tidak dibutuhkan kadang terasa mengganggu aktivitas.
Potret juru parkir ilegal yang sedang menjaga lahan minimarket di daerah Pasar Kordon (1/12/2025). (Sumber: dokumentasi pribadi | Foto: Nurmeila Elfreda.)
Beranda 11 Jan 2026, 20:53 WIB

Ketika Seni Menjadi Bahasa Mitigasi: Upaya Sesar Lembang Kalcer Menjinakkan Ketakutan Bencana

Sesar Lembang Kalcer memanfaatkan seni dan aktivasi komunitas sebagai bahasa mitigasi untuk membangun kesadaran bencana tanpa menebar ketakutan di Bandung.
Anak-anak berlarian di atas sorot lampu yang menyapu rumput di Titik Kumpul–Backyard, Bandung, sebagai bagian dari aktivasi seni Sesar Lembang Kalcer dalam menyampaikan literasi mitigasi bencana secara ramah.
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 20:12 WIB

Ketika Satu Menit Bisa Mengubah Hati

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, satu menit mungkin terasa remeh.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, satu menit mungkin terasa remeh. Tapi di tangan yang tepat, satu menit bisa jadi pengingat, bahkan titik balik untuk yang sedang hilang arah (Sumber: dokumentasi penulis | Foto: FN)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 18:06 WIB

Kuliah di Bandung, di Menara Gading WEIRD: Catatan untuk 2026

Kawasan kampus yang unggul literasi dan reputasi, tetapi berjarak dari realitas sosial-ekologis kota. Kita menagih kembali tanggung jawab etis akademik.
Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 14:32 WIB

Resolusi Menjaga Kesehatan Mata dalam Keluarga dan Tempat Kerja

Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa.
Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa. (Sumber: Pexels/Omar alnahi)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 13:09 WIB

Wargi Bandung 'Gereget' Pelayanan Dasar Masyarakat Tidak Optimal

Skeptis terhadap kinerja Pemerintah Kota Bandung demi pelayanan yang lebih baik.
Braga pada malam hari dan merupakan salah satu icon Kota Bandung, Rabu (3/12/2024). (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nayla Andini)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 11:01 WIB

Kabupaten Brebes Pasar Raya Geowisata Kelas Dunia

Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah, memenuhi banyak kriteria untuk menjadi destinasi geowisata.
Fauna awal yang menjelajah Brebes sejak 2,4 juta tahun yang lalu. (Sumber: Istimewa)
Ayo Jelajah 11 Jan 2026, 11:00 WIB

Riwayat Bandit Kambuhan yang Tumbang di Cisangkuy

Cerita kriminal 1941 tentang Soehali residivis yang tewas tenggelam saat mencoba melarikan diri dari pengawalan.
Ilustrasi
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 09:51 WIB

Merawat Tradisi, Menebar Kebaikan

Jumat Berkah bukan sekadar soal memberi dan menerima, menjadi momentum yang tepat untuk terus menebar kebaikan dan kebenaran.
Pelaksanaan Jumat Berkah dilakukan secara bergantian oleh masing-masing DWP unit fakultas, pascasarjana, dan al-jamiah (Sumber: Humas UIN SGD | Foto: Istimewa)