Kang Deddy, Yeuh … KBU dan KBS Sedang Tidak Baik-Baik Saja

8 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Satu sudut Bandung Utara, Bojong Koneng Atas. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Satu sudut Bandung Utara, Bojong Koneng Atas. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Kawasan Lembang (Kabupaten Bandung Barat) dan Ciwidey (Kabupaten Bandung) dalam satu dekade terakhir mengalami lonjakan pembangunan destinasi wisata yang sangat pesat.

Di balik ramainya villa, kafe, dan wahana wisata di Lembang dan Ciwidey, tersimpan persoalan yang jarang dibicarakan secara terbuka: kerusakan ekologis yang berjalan pelan namun pasti. Kawasan Bandung Utara (KBU) dan Kawasan Bandung Selatan (KBS), yang selama ini menjadi penyangga air, hutan, dan kehidupan Bandung Raya, kini berubah menjadi ladang eksploitasi ruang atas nama pariwisata. Tanah ditutup beton, lereng dipotong, hutan terfragmentasi, dan sampah menumpuk tanpa sistem pengelolaan yang memadai. Jika dibiarkan, bukan hanya lanskap pegunungan yang hilang, tetapi juga cadangan air, keanekaragaman hayati, dan keselamatan jutaan warga di wilayah hilir. Artikel ini mengajak pemerintah, khususnya Gubernur Jawa Barat, untuk melihat lebih dekat krisis yang sedang tumbuh diam-diam di jantung kawasan penyangga Jawa Barat. Wahana bermain, villa, hotel, restoran, hingga kafe tumbuh hampir tanpa jeda, mengubah wajah kawasan pegunungan yang sebelumnya didominasi hutan, perkebunan, dan lahan resapan.

Pertumbuhan ini memang memberikan dampak ekonomi jangka pendek. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan besar: sejauh mana pembangunan wisata tersebut direncanakan secara ekologis, legal, dan berkelanjutan?

Kawasan Strategis yang Rentan

Lembang dan Ciwidey berada dalam wilayah yang dikenal sebagai Kawasan Bandung Utara (KBU) dan Kawasan Bandung Selatan (KBS), dua zona penyangga ekologis utama bagi Cekungan Bandung. Kawasan ini berfungsi sebagai:

• daerah resapan air tanah,

• penyangga iklim mikro,

• habitat flora dan fauna pegunungan,

• serta benteng alami terhadap banjir, longsor, dan kekeringan.

Alih fungsi lahan yang tidak terkendali di wilayah ini berpotensi merusak sistem ekologis yang selama puluhan tahun menjaga keseimbangan lingkungan Bandung Raya.

Masalah Tata Ruang dan Legalitas

Banyak lokasi wisata berdiri tanpa kejelasan status tata ruang: apakah berada di kawasan konservasi, hutan lindung, kawasan resapan air, atau zona budidaya terbatas. Ketidakjelasan ini membuka ruang terjadinya pelanggaran terhadap:

• rencana tata ruang wilayah (RTRW),

• daya dukung dan daya tampung lingkungan,

• serta prinsip pembangunan berkelanjutan.

Tanpa audit tata ruang dan perizinan yang transparan, pembangunan wisata berpotensi menjadi praktik eksploitasi ruang yang dilegalkan oleh kelonggaran pengawasan.

Dampak Ekologis yang Mengkhawatirkan

Dampak Ekologis Terpadu: Air, Tanah, dan Keanekaragaman Hayati dalam Satu Krisis

Ekspansi pariwisata di KBU dan KBS tidak hanya menimbulkan dampak sektoral yang berdiri sendiri, melainkan memicu rangkaian krisis ekologis yang saling terkait antara sistem hidrologi, stabilitas geologis, dan keberlanjutan keanekaragaman hayati. Hilangnya daya resapan air, rusaknya struktur tanah pegunungan, serta degradasi habitat satwa liar merupakan tiga gejala dari satu proses besar: transformasi lanskap alam menjadi ruang komersial yang melampaui daya dukung ekologisnya.

Secara alami, kawasan Lembang dan Ciwidey berfungsi sebagai “menara air” bagi Cekungan Bandung. Curah hujan tinggi yang turun di wilayah ini diserap oleh lapisan tanah vulkanik yang poros, ditahan oleh vegetasi hutan, lalu disimpan sebagai cadangan air tanah yang mengalir perlahan ke mata air dan sungai di wilayah hilir. Mekanisme ini menjaga keseimbangan antara ketersediaan air, stabilitas tanah, dan keberlanjutan ekosistem.

Namun, pembangunan masif hotel, villa, wahana wisata, restoran, dan infrastruktur pendukung telah mengubah mekanisme tersebut secara fundamental. Betonisasi dan pengaspalan menutup permukaan tanah, memutus jalur infiltrasi air hujan, dan mengubah air dari sumber kehidupan menjadi limpasan permukaan yang destruktif. Air yang tidak lagi terserap mengalir cepat membawa partikel tanah, mempercepat erosi, dan membebani sungai-sungai di hilir dengan debit mendadak.

Penurunan daya resapan ini bukan hanya ancaman lingkungan abstrak, melainkan persoalan nyata bagi keberlanjutan hidup masyarakat. Ketergantungan Bandung Raya terhadap air tanah sangat tinggi. Ketika kawasan hulu kehilangan kemampuannya mengisi ulang cadangan air, maka krisis air bersih, penurunan muka tanah, hingga konflik pemanfaatan air menjadi konsekuensi yang hampir tak terelakkan.

Krisis hidrologis ini berjalan beriringan dengan kerusakan struktur tanah. Untuk membuka ruang bagi bangunan dan akses kendaraan, banyak lereng dipotong, diratakan, atau ditimbun. Vegetasi penahan tanah ditebang, akar-akar yang selama ratusan tahun mengikat partikel tanah dicabut, dan kontur alami diubah menjadi bidang-bidang artifisial.

Tanah pegunungan yang kehilangan penopang biologis dan keseimbangan geologisnya menjadi rapuh. Pada musim hujan, air yang tidak terserap akan meresap ke lapisan tanah yang telah terganggu, menambah beban dan tekanan internal. Kombinasi antara limpasan permukaan, kejenuhan tanah, dan lemahnya kohesi menciptakan kondisi ideal bagi longsor.

Dalam banyak kasus, longsor di kawasan wisata bukanlah peristiwa alam murni, melainkan hasil akumulasi dari keputusan tata ruang yang keliru. Risiko ini semakin tinggi karena sebagian pembangunan berada di zona rawan: lereng curam, tanah vulkanik muda, dan wilayah dengan aktivitas patahan mikro. Ketika kawasan seperti ini dibebani bangunan berat, kolam buatan, dan lalu lintas kendaraan besar, potensi bencana meningkat secara eksponensial.

Kerusakan air dan tanah kemudian menjalar ke dimensi ekologis yang lebih luas: kehancuran habitat satwa liar. Hutan dan semak pegunungan yang dulu menjadi ruang hidup berbagai spesies burung endemik, mamalia kecil, reptil, dan serangga penyerbuk kini terfragmentasi oleh bangunan dan jalan. Habitat yang terpecah membuat populasi satwa terisolasi, sulit berkembang biak, dan rentan punah secara lokal.

Gangguan ini tidak hanya berupa hilangnya ruang hidup, tetapi juga perubahan drastis dalam kualitas lingkungan. Kebisingan kendaraan dan musik wisata, pencahayaan buatan pada malam hari, serta pencemaran air dan tanah mengacaukan pola migrasi, reproduksi, dan pencarian makan satwa. Beberapa spesies terpaksa turun ke permukiman warga, memicu konflik manusia–satwa yang sering berujung pada pengusiran atau pembunuhan.

Banjir di Lembang pada pertengahan Oktober 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Banjir di Lembang pada pertengahan Oktober 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Ketika satu komponen ekosistem runtuh, komponen lain ikut terguncang. Hilangnya serangga penyerbuk memengaruhi regenerasi tumbuhan. Menurunnya populasi burung dan mamalia kecil mengganggu rantai makanan. Dalam jangka panjang, kawasan pegunungan kehilangan ketahanannya sebagai sistem ekologis yang utuh.

Yang jarang disadari, seluruh rangkaian kerusakan ini berlangsung secara gradual dan sering tersembunyi di balik narasi “kemajuan pariwisata”. Bencana baru terasa ketika banjir bandang melanda wilayah hilir, ketika longsor merenggut korban, atau ketika mata air mengering dan krisis air meluas.

Dampak sosialnya pun tidak kecil. Masyarakat lokal, petani, dan kelompok rentan di desa-desa sekitar kawasan wisata sering menjadi pihak pertama yang menanggung risiko ekologis, sementara manfaat ekonomi terbesar justru dinikmati oleh investor dan pelaku usaha skala besar. Ketimpangan ini menambah lapisan masalah baru: ketidakadilan ekologis.

Jika pola pembangunan seperti sekarang terus berlangsung, maka dalam satu dekade ke depan KBU dan KBS berpotensi kehilangan fungsi dasarnya sebagai kawasan penyangga kehidupan. Daya resapan air akan terus menurun, bencana hidrometeorologi menjadi lebih sering, keanekaragaman hayati menyusut drastis, dan lanskap pegunungan berubah menjadi ruang rapuh yang sewaktu-waktu dapat runtuh secara ekologis maupun sosial.

Oleh sebab itu, evaluasi pariwisata tidak boleh dibatasi pada jumlah kunjungan atau kontribusi terhadap pendapatan daerah. Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah pembangunan yang terjadi masih menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, atau justru sedang menggerogoti fondasi ekologis yang menopang kehidupan jutaan orang di Bandung Raya?

Ekspansi wisata memecah habitat alami satwa seperti burung endemik, mamalia kecil, dan berbagai spesies serangga penyerbuk. Fragmentasi habitat menyebabkan:

• menurunnya populasi satwa,

• konflik manusia–satwa,

• hilangnya keanekaragaman hayati lokal.

Ketika ekosistem terganggu, rantai kehidupan ikut terguncang.

Ledakan Sampah dan Limbah

Kapasitas pengelolaan sampah di kawasan pegunungan tidak dirancang untuk menampung lonjakan wisatawan. Akibatnya:

• sampah plastik mencemari sungai dan hutan,

• limbah cair mengalir ke tanah tanpa pengolahan memadai,

• kualitas air permukaan dan air tanah menurun.

Dalam 10 tahun ke depan, tanpa intervensi serius, kawasan ini berpotensi berubah menjadi kantong pencemaran ekologis.

Tekanan Lalu Lintas dan Polusi

Analisis dampak lalu lintas (andalalin) sering diabaikan. Jalan sempit pegunungan dipaksa menampung ribuan kendaraan wisata setiap akhir pekan, yang berdampak pada:

• kemacetan struktural,

• peningkatan emisi karbon,

• kebisingan yang mengganggu satwa dan masyarakat lokal.

Ancaman Jangka Panjang

Jika tren ini terus dibiarkan, KBU dan KBS berisiko mengalami:

• degradasi hutan secara permanen,

• menurunnya fungsi ekologis sebagai kawasan penyangga,

• meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi,

• krisis air bersih,

• serta kerusakan sosial akibat konflik ruang.

Ironisnya, kehancuran ekologis justru akan menggerus daya tarik wisata itu sendiri.

Tanggung Jawab Negara dan Seruan Publik

Pemantauan dan pengawasan pembangunan bukanlah pilihan, melainkan kewajiban negara. Pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat harus bertanggung jawab memastikan bahwa setiap pembangunan wisata:

• sesuai tata ruang,

• lolos kajian AMDAL yang ketat,

• memiliki sistem pengelolaan sampah dan sanitasi yang layak,

• serta tidak melampaui daya dukung lingkungan.

Lebih dari itu, pemerintah perlu mengubah paradigma dasar dalam sistem perizinan. Perizinan tidak boleh dipandang sebagai instrumen pemasukan atau sumber pendapatan daerah semata—sebuah cara “menjual” ruang kepada investor—karena logika ini sangat rentan mendorong praktik transaksional dan korupsi, sekaligus melemahkan fungsi pengawasan.

Perizinan harus dikembalikan pada hakikatnya sebagai alat pengendalian ekologis dan sosial: untuk membatasi, mengarahkan, dan bila perlu menolak pembangunan yang melampaui kapasitas lingkungan. Tanpa perubahan paradigma ini, regulasi hanya akan menjadi formalitas administratif, sementara kerusakan ekologis terus berlangsung di lapangan.

Kami mendorong Gubernur Jawa Barat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh destinasi wisata di KBU dan KBS dengan melibatkan ahli lingkungan, tata ruang, hidrologi, kehutanan, serta kebencanaan.

Evaluasi ini penting bukan untuk mematikan pariwisata, melainkan untuk menyelamatkannya agar tidak menjadi bom waktu ekologis.

Baca Juga: Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

Pariwisata seharusnya menjadi jembatan antara manusia dan alam, bukan alat perusak yang dibungkus label rekreasi. Tanpa regulasi yang tegas dan pengawasan yang konsisten, wisata yang tumbuh sporadis di Lembang dan Ciwidey hanya akan meninggalkan warisan krisis bagi generasi mendatang.

Pilihan kita hari ini menentukan apakah KBU dan KBS akan tetap menjadi paru-paru Bandung, atau berubah menjadi monumen kegagalan tata kelola lingkungan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)