Potensi Desa Wisata Jawa Barat Menjadi Tulang Punggung Ekonomi Kreatif Berkelanjutan

Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ditulis oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil diterbitkan Sabtu 22 Nov 2025, 18:11 WIB
Ratusan desa wisata telah terdaftar di Jawa Barat, menandakan geliat masyarakat desa dalam mengembangkan potensi lokal yang berbasis budaya dan alam. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ratusan desa wisata telah terdaftar di Jawa Barat, menandakan geliat masyarakat desa dalam mengembangkan potensi lokal yang berbasis budaya dan alam. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.ID -- Desa wisata di Jawa Barat tengah menjadi sorotan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Dengan jumlah desa wisata yang terus bertambah, Jawa Barat kini menempati posisi penting dalam peta pariwisata nasional.

Data resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui platform Jejaring Desa Wisata (Jadesta) mencatat ratusan desa wisata telah terdaftar di provinsi ini, menandakan geliat masyarakat desa dalam mengembangkan potensi lokal yang berbasis budaya dan alam.

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Jawa Barat, Koko Koswara, menilai bahwa kunci utama pengembangan desa wisata terletak pada kesesuaian dengan budaya. Dia menegaskan bahwa potensi desa wisata bukan sekadar destinasi, melainkan ruang hidup yang harus menjaga identitas lokal.

“Sebenarnya desa wisata itu punya potensi yang luar biasa tapi satu kuncinya harus sesuai dengan budaya. Karena desa wisata yang bagus itu menurut saya ya dia yang mempertahankan budaya,” ujarnya saat berbincang dengan Ayobandung.

Koko menambahkan bahwa segmen pasar desa wisata adalah masyarakat menengah ke atas. Mereka mencari pengalaman otentik yang tidak bisa ditawarkan oleh kota modern.

“Kenapa? Karena masyarakat segmen ini udah bosen dengan modernisasi, hirup pikuk kota. Dia akhirnya pilih kembali ke alam, pengen menikmati ibaratnya mandi di sungai, nanam padi,” katanya.

Fenomena ini sejalan dengan tren wisata berbasis pengalaman yang kini menjadi daya tarik global. Badan Pusat Statistik Jawa Barat dalam laporan Statistik Potensi Desa 2024 mencatat lebih dari 600 desa telah dikembangkan menjadi desa wisata dari total 5.311 desa.

Angka ini menunjukkan bahwa desa wisata bukan hanya wacana, melainkan strategi nyata dalam memperluas basis ekonomi kreatif. Dengan dukungan pemerintah daerah, desa wisata berpotensi menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi berbasis masyarakat.

Namun, Koko mengingatkan adanya tantangan besar yang harus diantisipasi yakni modernisasi yang tak terkontrol dan jiwa konsumtif. Tantangan ini pun menuntut kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian budaya.

“Rata-rata di sektor desa wisata itu karena pengaruh informasi yang begitu deras dari gadget dan medsos mungkin ya, jadi jiwa konsumtifnya itu terbangun. Jadi kadang-kadang merekamenilai maju itu harus gaya. Jangan sampai masyarakat yang ada di desa wisata itu tertarik atau terganggu dengan hal-hal yang sifatnya konsumtif,” tegasnya.

Koko menegaskan, budaya dan alam harus tetap menjadi daya tarik utama. Desa wisata yang mampu menjaga keaslian akan lebih diminati wisatawan. Hal ini terbukti dari tren wisata alam yang terus meningkat.

Ratusan desa wisata telah terdaftar di Jawa Barat, menandakan geliat masyarakat desa dalam mengembangkan potensi lokal yang berbasis budaya dan alam. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ratusan desa wisata telah terdaftar di Jawa Barat, menandakan geliat masyarakat desa dalam mengembangkan potensi lokal yang berbasis budaya dan alam. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kemenparekraf dalam laporan 2025 menegaskan bahwa program Wisata Bersih dan Desa Wisata menjadi terobosan nasional untuk meningkatkan citra pariwisata Indonesia. Jawa Barat, dengan kekayaan budaya Sunda dan bentang alamnya, memiliki peluang besar untuk menjadi model nasional.

Koko juga menyoroti tren generasi muda, khususnya Gen Z, yang gemar olahraga di luar ruangan hingga alam bebas. Fenomena ini membuka peluang bagi desa wisata untuk mengintegrasikan olahraga dengan alam, seperti trekking, bersepeda, atau yoga di sawah.

“Contoh misalkan sekarang anak-anak gen Z, dia sukanya olahraga, bergayanya olahraga. Akhirnya tumbuh tuh sektor pariwisatanya menggiatkan olahraga,” jelasnya.

Integrasi antara olahraga dan alam bukan hanya menjawab tren, tetapi juga memperkuat daya tarik desa wisata sebagai destinasi yang sehat dan berkelanjutan. Koko pun menilai desa wisata yang mampu membaca tren pasar akan lebih adaptif dan relevan.

Dampak sosial-ekonomi dari pengembangan desa wisata juga signifikan. Portal Data Desa Jawa Barat mencatat bahwa desa wisata berkontribusi pada penurunan pengangguran, peningkatan angka sekolah, dan pengurangan stunting. Hal ini menunjukkan bahwa desa wisata bukan hanya tentang pariwisata, tetapi juga kesejahteraan masyarakat desa.

Konsep ekonomi hijau juga menjadi bagian penting dari desa wisata. Kemenparekraf menekankan bahwa desa wisata adalah ujung tombak pariwisata hijau berkelas dunia. Dengan menjaga lingkungan dan budaya, desa wisata di Jawa Barat dapat menjadi contoh praktik pariwisata berkelanjutan.

Sinergi antara pemerintah desa dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) menjadi krusial. Tanpa kolaborasi, desa wisata akan sulit berkembang. Pokdarwis sebagai motor penggerak lokal harus diberdayakan agar mampu mengelola potensi desa secara profesional.

Koko juga mengatakan, selain alam, desa wisata di Jawa Barat juga memiliki kekuatan di sektor gastronomi dan budaya. Kuliner khas Sunda, seni pertunjukan tradisional, hingga kerajinan tangan lokal menjadi daya tarik tambahan yang memperkaya pengalaman wisatawan.

Dengan basis budaya dan alam, desa wisata mampu menggerakkan subsektor ekonomi kreatif seperti kriya, kuliner, seni pertunjukan, hingga fesyen berbahan lokal. Hal ini memperluas peluang usaha bagi masyarakat desa dan memperkuat identitas ekonomi kreatif Jawa Barat.

Koko menegaskan,desa wisata bukan hanya destinasi, tetapi juga identitas Jawa Barat sebagai provinsi dengan kekayaan budaya Sunda yang mendalam. Melalui desa wisata, Jawa Barat dapat menegaskan dirinya sebagai rumah bagi para kreator, konservasionis, dan wirausaha perempuan.

Tak hanya itu, Koko menegaskan bahwa tren wisata akan terus bergerak. Oleh karenanya, dia menekankan bahwa desa wisata harus adaptif, namun tetap menjaga akar budaya. Perubahan tren harus dilihat sebagai peluang, bukan ancaman. Dengan demikian, desa wisata akan tetap relevan di tengah dinamika pariwisata global.

“Tren pariwisata pasti akan ada perubahan. Kalau ada perubahan artinya pariwisata bergerak. Kalau tidak ada perubahan, tidak bergerak. Dan sekarang tren kembali ke alam, tren kembali pada budaya lokal, itu sedang naik daun,” ujar Koko.

Alternatif produk wisata alam atau kebutuhan serupa:

  1. https://s.shopee.co.id/AKSxgckoBw
  2. https://s.shopee.co.id/1qUPZEKArM
  3. https://s.shopee.co.id/9KaQUp0BKP
  4. https://s.shopee.co.id/3Azn9W13cf
  5. https://s.shopee.co.id/8052uRz74f

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Jan 2026, 14:34 WIB

'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Mengapa anak muda memilih "kebahagiaan kecil" yang mahal saat impian besar seperti rumah makin mustahil dicapai gaji UMR.
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 09:34 WIB

Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 07:50 WIB

Ngopi, Duduk, dan Biarkan Pikiran Bernapas

Bagi Kopi menawarkan ruang sederhana dan hangat di tengah malam yang tenang.
Sederhana saja, secangkir kopi dan ketenangan di Bagi Kopi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 20:01 WIB

Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai Upaya Memperkuat Sistem Tata Kelola Pemerintahan

RUU Perampasan Aset hadir sebagai instrumen yang dapat menutup celah tindak korupsi.
Ilustrasi kriminalitas. (Sumber: Pexels | Foto: Kindel Media)
Ayo Jelajah 12 Jan 2026, 19:17 WIB

Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Operasi besar polisi kolonial memburu komplotan komunis di Bandung dan Priangan pada 1927 yang membuat kota hidup dalam kecurigaan.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 18:47 WIB

Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

Di balik hiruk-pikuk jalan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi seni.
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 18:27 WIB

Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 16:38 WIB

Saat Angka Pengangguran Masih Tinggi, Keterampilan Jadi Harapan Baru

Salah satu penyebab utama tingginya pengangguran adalah ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar.
Pelatihan perbaikan AC dan handphone Ini ditujukan bagi masyarakat tidak mampu agar mereka memiliki keterampilan praktis yang bisa langsung diaplikasikan. (Sumber: Dok BSI Maslahat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:07 WIB

Es Pisang Ijo Saparua: Perpaduan Sederhana Rasa Luar Biasa

Rekomendasi es viral yang enak di Kota Bandung sambil olahraga pagi menjelang siang.
Foto diambil langsung di Saparua Sport sambil menikmati indahnya pemandangan. (Foto: Rizki Hidayat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:47 WIB

‘Kojo’ Persib Beckham Putra Kembali jadi Pahlawan dan Ulangi Selebrasi ‘Ngahodhod Katirisan’

Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23.
Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:06 WIB

Kang Deddy, Yeuh … KBU dan KBS Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Perizinan tidak boleh dipandang sebagai instrumen pemasukan atau sumber pendapatan daerah semata—sebuah cara “menjual” ruang kepada investor—karena logika ini sangat rentan menyimpang.
Satu sudut Bandung Utara, Bojong Koneng Atas. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 13:28 WIB

Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

Kebutuhan akan algoritma adalah keniscayaan dengan literasi numerasi sebagai fondasinya untuk memaknai angka di balik fenomena sosial
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Beranda 12 Jan 2026, 12:30 WIB

Setelah Sukses di Bandung, ISMN Sambangi Semarang Perkuat Jejaring dengan 50 Media Sosial Lokal

Sebelumnya, sekitar 50 pengelola akun informasi lokal, kreator digital, influencer, dan praktisi media berkumpul dalam ISMN Meet Up Bandung 2025 di Nara Park, Kota Bandung, Selasa, 2 Desember 2025.
Indonesia Social Media Network (ISMN) Meet Up 2026 di Semarang digelar Selasa, 13 Januari 2026.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 11:49 WIB

Premanisme, Irama Sosial Bandung, dan Mengenang ‘Preman Pensiun’

Di luar fiksi, realitas komunitas preman di Bandung memang masih menjadi isu sosial yang diperhatikan pihak berwajib dan masyarakat.
Kang Mus alias Epi Kusnandar. (Sumber: Bion Studio)