Tangis Rindu dan Getirnya Kematian di Balik Lagu Hallo Bandoeng

5 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Sampul lagu Hallo Bandoeng. (Repro dari Wikimedia)
Sampul lagu Hallo Bandoeng. (Repro dari Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID – Sebelum orang ramai saling mengirim emoji lewat WhatsApp, pernah ada masa ketika suara dari seberang samudra adalah kemewahan tak terperi. Tahun 1927, suara pertama dari Belanda akhirnya menjangkau Indonesia, atau Hindia-Belanda, lewat gelombang udara. Hallo Bandoeng! Hier Den Haag! begitu sapaan pembuka yang mencatat sejarah.

Teknologi ini bukan sembarang transmisi. Ia adalah komunikasi dua arah pertama lewat radio antara Den Haag dan Bandung. Lahir dari kerja keras para insinyur Belanda di Stasiun Radio Malabar, Gunung Puntang, sambungan itu menghubungkan dua dunia yang terpisah 11.000 kilometer lebih jauhnya—tanpa kabel, tanpa kapal, hanya gelombang suara dan rindu-rindu yang menggumpal.

Dari sambungan itu pula, terbit sebuah lagu berjudul Hallo Bandoeng, yang kelak dikenal orang Indonesia sebagai Halo Bandung. Tapi jangan keliru, lagu ini bukan mars patriotik ciptaan Ismail Marzuki. Ini lagu lain, lebih tua, lebih melankolis, dan lebih menyayat.

Penciptanya seorang penyanyi Belanda bernama Willy Derby, atau Willem Frederik Christiaan Dieben. Dirilis pada 1929, lagu Hallo Bandoeng menjadi semacam balada diaspora kolonial yang jauh dari rumah, dan juga jadi pengantar kabar dari mereka yang tak akan pernah pulang.

Rindu yang Terlalu Dalam dan Tangisan Terakhir di Kantor Telegraf

Willem Frederik Christiaan Dieben, penyanyi yang lebih dikenal dengan nama panggung Willy Derby, menciptakan lagu Hallo Bandoeng pada tahun 1929. Bukan tentang medan perang atau heroisme, lagu ini justru mengangkat sebuah kisah kecil yang universal: kerinduan seorang ibu kepada anaknya.

Di usia senjanya, si ibu menabung selama berbulan-bulan hanya untuk satu hal—mendengar suara putranya yang tinggal jauh di Hindia-Belanda. Maka ia pun berdiri gemetar di kantor telegraf. Lagu ini dibuka dengan baris lirik yang menggambarkan suasana itu: ’t Kleine moedertje stond bevend / Op het telegraafkantoor, atau dalam terjemahannya, “Ibu bertubuh kecil itu gemetar / Di kantor telegraf.” Sang petugas pun menenangkan, berkata: Juffrouw, aanstonds geeft Bandoeng gehoor—“Nyonya, sebentar lagi Bandoeng akan menjawab.”

Bayangkan seorang perempuan tua di Rotterdam atau Den Haag. Ia berdiri gemetar di kantor telegraf, menunggu sambungan radio dari anaknya yang tinggal di Bandung. Dengan tubuh yang lemah namun hati yang penuh harap, si ibu meraih mikrofon. Tiba-tiba, keajaiban pun terjadi. Ia mendengar suara lembut putranya menembus ribuan kilometer jarak: Ja moeder, ik ben het…—“Ya Ibu, inilah aku.”

Tangisnya pun pecah. Air mata kebahagiaan meledak dari rindu yang lama dipendam. Percakapan pun mengalir. Si anak bercerita tentang kehidupan barunya di seberang lautan. Ia menyebutkan istrinya yang berkulit sawo matang, dan tentang anak-anak mereka yang setiap malam mendoakan sang nenek yang belum pernah mereka jumpai.

Lagu ini terus membangun suasana haru lewat momen-momen sederhana yang sangat manusiawi. Salah satu bagian paling menyentuh adalah ketika sang anak berkata, “Wacht eens, moeder,” zegt hij lachend, “‘k Bracht mijn jongste zoontje mee.” (“Tunggu sebentar, Bu,” kata putranya sambil tertawa, “Aku akan membawa putra bungsuku”).

Dan sesaat kemudian, suara mungil cucu itu terdengar dari ujung lain dunia: “Opoelief, tabe, tabe.” (“Nenek tersayang, tabik, tabik”). Kata “tabe” berasal dari “tabik,” salam dalam bahasa Minangkabau dan Melayu yang dulu populer sebagai bentuk penghormatan. Dalam konteks lagu ini, “tabe” menjadi sapaan penuh kasih dari seorang cucu kepada nenek yang belum pernah ia peluk, sapaan yang hangat namun memilukan.

Sayang kebahagiaan itu justru menjadi beban emosional yang terlalu besar. Di tengah rasa haru yang menggelegak, tubuh si ibu tak sanggup lagi menahan. Ia menangis tersedu, memegang mikrofon, lalu terjatuh. Suara putranya terus memanggil, tapi tak lagi mendapat jawaban. Hanya isak tangis yang terdengar. Dan akhirnya, suara radio mengabarkan kenyataan pahit itu: “Hallo, hallo” klinkt over verre zee / Zij is niet meer…—“Halo, halo,” terdengar di laut yang jauh / Namun sang ibu sudah tiada.” Sementara si cucu, yang tak tahu apa yang baru saja terjadi, masih berkata polos: “Tabe…”

Lagu ini, meski sederhana, menyentuh sisi terdalam manusia. Ia bukan sekadar nostalgia radio atau kenangan teknologi kolonial. Ia adalah elegi. Sebuah nyanyian tentang cinta yang menembus benua, tentang harapan yang akhirnya terhenti, dan tentang rindu yang tidak pernah sempat terobati.
Willy Derby, lewat Hallo Bandoeng, membuktikan bahwa kisah paling memilukan bisa lahir dari hal yang paling sunyi, kerinduan seorang ibu untuk mendengar suara anaknya. Dan bahwa kadang, sebaris ucapan sederhana seperti “Hallo Bandoeng” bisa menyimpan perasaan yang tak terucapkan.

Tahun 1979, versi baru dari lagu ini muncul, dinyanyikan oleh Wieteke van Dort. Ia membawa versi yang lebih lembut, lebih sunyi, seolah menyampaikan bahwa rindu bisa terus hidup bahkan ketika orang yang kita rindukan sudah tiada.

Bukan Sekadar Lagu Pop Kolonial

Hallo Bandoeng bukan sekadar lagu pop di era kolonial. Ia jadi suara batin banyak orang Belanda yang tinggal di Hindia-Belanda. Lagu ini begitu populer, bahkan disebut oleh De Indische Courant pada 1931 sebagai lagu yang "sentimental, kata demi kata" namun selalu menyenangkan untuk didengar.

Dalam dunia tanpa internet dan Zoom, lagu itu menjadi jembatan perasaan. Willy Derby bahkan melakukan tur ke Hindia-Belanda pada 1931, membawakan lagu ini di hadapan para perantau yang sesekali ingin memeluk tanah kelahirannya lewat nada dan suara. Bukan hal biasa, ketika seorang penyanyi dari negeri penjajah menyentuh hati para warga koloninya.

Berdasarkan catatan Huygens Institute, Derby tak hanya membawakan Hallo Bandoeng, tapi juga lagu lain seperti Brief from India dan Slamat Tidoer. Lagu-lagu itu disiarkan oleh PHOHI (Philips Omroep Holland-Indië), menyebar ke telinga-telinga yang merindu rumah tapi tak bisa pulang.

Dan yang menarik, meski lagu ini sangat “Belanda”, Derby tak segan menyisipkan kata-kata Indonesia seperti “tabe”, dan “slamat tidoer”, cara ia memberi penghormatan pada budaya koloni yang mulai menyerap dalam kehidupan orang Eropa saat itu.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)