Satu Video, Ribuan Citra Polisi Ambruk

3 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Kapolri (kiri) dan Presiden Prabowo dalam HUT Bhayangkara ke-79, kemarin (Sumber: Setneg | Foto: Setneg)
Kapolri (kiri) dan Presiden Prabowo dalam HUT Bhayangkara ke-79, kemarin (Sumber: Setneg | Foto: Setneg)

Tujuh puluh sembilan tahun sudah institusi Polri berdiri. Sejak 30 Oktober 1951, Polri tercatat sebagai salah satu lembaga negara pertama yang memiliki divisi hubungan masyarakat (humas).

Namun justru di usia matangnya, Polri dihadapkan pada tantangan komunikasi yang semakin kompleks, bahkan cenderung paradoks: membangun citra puluhan tahun bisa ambruk hanya karena satu video viral berdurasi 30 detik.

Kasus terbaru terjadi akhir Juni lalu. Seorang anggota polisi terekam sedang "nyawer" penyanyi di Bogor. Cuplikan itu langsung menyebar luas, mengundang cemoohan, dan mengikis kembali kepercayaan publik yang susah-payah dibangun.

Fenomena ini memperlihatkan celah besar antara pesan institusional dan persepsi masyarakat yang dibentuk lewat pengalaman, emosi, dan viralitas konten media sosial.

Di era post-truth, di mana emosi mengalahkan fakta, dan algoritma lebih dipercaya ketimbang klarifikasi resmi, kehadiran Humas Polri menjadi semakin strategis namun juga semakin rentan. Polri tak hanya dituntut tegas dalam penegakan hukum, tapi juga tangkas dalam pengelolaan narasi publik.

Masalahnya, kepercayaan publik kini tak lagi lahir dari bukti hukum objektif, melainkan dari eksposur media yang sensasional. “No viral, no justice” menjadi realitas sehari-hari.

Citra Polri menjadi rapuh. Mudah naik karena satu keberhasilan, tapi mudah runtuh karena satu insiden viral. Ini menandakan pergeseran indikator legitimasi dari kinerja ke persepsi, dari substansi ke simbol. Di titik ini, strategi komunikasi Polri perlu ditinjau ulang secara menyeluruh.

Sayangnya, komunikasi publik Polri belum sepenuhnya adaptif. Pemanfaatan media digital masih didominasi pendekatan konvensional. Penggunaan data analitik untuk memantau opini publik belum maksimal. Kolaborasi dengan media massa dan kreator digital pun masih minim.

Di sisi lain, personel humas, khususnya di tingkat daerah, masih banyak yang belum dibekali dengan keterampilan jurnalistik, narasi digital, atau pemahaman lanskap media sosial.

Padahal, Polri memiliki struktur besar. Data 2024 mencatat 464.248 anggota yang tersebar di 34 Polda dan 615 Polres. Tanpa sistem komunikasi yang solid, potensi distorsi pesan sangat besar. Ketika pesan dari pusat tak tersampaikan secara utuh ke bawah, yang muncul adalah kebingungan publik dan erosi kepercayaan.

Selamat Hari Bhayangkara ke-79. Saatnya komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tapi membangun harapan. (Sumber: Unsplash/Madrosah Sunnah)
Selamat Hari Bhayangkara ke-79. Saatnya komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tapi membangun harapan. (Sumber: Unsplash/Madrosah Sunnah)

Menghadapi tantangan ini, Polri tidak cukup hanya merespons isu. Humas harus lebih proaktif, menyusun narasi berbasis data dan empati.

Cerita keberhasilan polisi perlu dikemas lebih humanis, inspiratif, dan emosional. Media sosial bisa menjadi jembatan utama, bukan sekadar etalase formal. Konten yang menyentuh hati akan jauh lebih mengena ketimbang sekadar slogan kaku seperti “melindungi dan mengayomi.”

Pembenahan internal juga krusial. Pelatihan komunikasi bagi personel humas perlu diperluas. Tak hanya kemampuan teknis, tapi juga etika komunikasi dan keterampilan mendengarkan masyarakat.

Kita bisa belajar dari Selandia Baru saat pandemi: satu suara, satu narasi, satu gaya komunikasi. Atau dari Norwegia yang membangun sistem komunikasi lintas lembaga dan daerah sehingga kebijakan disampaikan seragam dan punya legitimasi bersama.

Di luar itu, Polri harus mulai membangun ekosistem komunikasi yang terbuka. Literasi digital publik perlu ditingkatkan, kolaborasi dengan media dan komunitas digital diperkuat, dan mekanisme umpan balik publik dibuka seluas-luasnya. Edukasi bukan hanya dilakukan saat krisis terjadi, tetapi sebagai bagian dari strategi komunikasi jangka panjang.

Dan yang tak kalah penting, semua ini harus ditopang oleh komitmen kepemimpinan yang visioner. Tanpa keberanian mengubah cara lama yang reaktif, komunikasi Polri akan terus tertinggal. Humas bukan lagi sekadar pelengkap, tapi harus jadi ujung tombak institusi dalam merawat kepercayaan publik yang makin menipis.

Selamat Hari Bhayangkara ke-79. Saatnya komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tapi membangun harapan. (*)

Tonton Podcast Ayotalk dari Ayobandung:

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)